A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 41



Author POV


Rumah Sakit ***


Ares telah sadarkan diri dari pingsannya pagi ini setelah seharian penuh dirinya seolah enggan untuk bangun dari mimpi buruknya. Kini kenyataan menjadi begitu menakutkan, berharap yang selama ini terjadi adalah sebuah mimpi. Pria itu diam saja, tidak menampakkan ekspresi apapun dan hal itu membuat Deni lebih waspada. Takut Tuannya melakukan hal yang di luar nalar.


Deni yang baru diangkat sebagai assisten pribadi dari seorang magang marketing tidaklah mengerti urusan rumah tangga Ares yang sebenarnya. Dia selama ini hanya mendengar dari kabar yang beredar dikhalayak, pelan-pelan Deni mencoba mengerti situasi semenjak kelahiran Tuan muda hingga kini. Tuannnya masih misterius menurutnya tapi meskipun begitu semenjak dilantik menjadi tangan kanan Ares, pria itu telah berjanji pada diri sendiri untuk setia mengabdi pada Tuannya.


"Deni," panggil Ares yang tiba-tiba hampir membuat Deni Tersentak.


"Ya, Tuan?"


"Apa kau mengabarkan orang rumah jika aku pingsan?"


Deni mengangguk. "Iya, Tuan saya menyampaikan pesan untuk Nyonya jika Tuan berada di Rumah Sakit," jelasnya.


Ares terdiam sesaat, sebelum tersenyum tipis. "Sophie..." gumamnya lirih. "Terima kasih Deni, bisa kau belikanku makanan?" pintanya.


Deni melihat perubahan raut wajah Tuannya. "Tuan ingin makan apa?" tanyanya.


"Aku ingin Pop Corn," Ares menatap jendela Rumah Sakit. Dia melihat anak-anak yang bermain di taman sambil melompat. Anak siapa itu, othor pun tidak tau.


Dahi Deni mengerut. Apa dia tidak salah dengar? Tuannya ingin makan Pop Corn?


"Maaf Tuan?" Deni meyakinkan kembali.


"Apa ada yang salah dengan Pop Corn?" ucap Ares datar.


Sang asisten pun gelagapan. "Tentu saja tidak, Tuan! Saya akan segera membawanya!" Deni langsung melesat pergi untuk membeli Pop Corn pesanan Ares.


Ares memandang pintu yang tertutup dengan tatapan aneh, seringai tipis tersungging di bibirnya.


Selang 15 menit Deni pergi, Sophie pun sampai di Rumah Sakit. Dengan raut wajah khawatir dia memasuki ruangan rawat inap Ares. Pria itu sedang duduk sambil mengupas apel di tangannya. Kehadiran istrinya menarik atensi Ares dan menghentikan kegiatannya.


"Tuan... apa anda baik-baik saja? Aku dengar jika Tuan pingsan?" ucapnya dengan wajah sendu.


Wanita dengan paras lembut itu menghampiri Ares dan duduk di kursi samping ranjang. Ares tidak menjawab, matanya mengikuti setiap pergerakan Sophie. Sophie meraih apel dan pisau yang ada di tangan Ares.


"Biar aku yang mengupasnya, Tuan!" tawar wanita itu.


Namun entah bagaimana pisau itu menggores tangan Sophie hingga berdarah.


"Akkhhh!" pisau pun terjatuh ke lantai.


Ares melihat ekspresi meringis Sophie, kemudian ia mengambil tisu dan meraih tangan Sophie yang terluka.


"Apakah sakit?" ucapnya sambil membersihkan darah segar yang mengalir.


Sophie mengangguk menunduk sebelum akhirnya mendongak dan melihat wajah suaminya yang terlihat asing. Ares tampak khawatir, tapi sebelumnya Sophie bisa melihat sebuah kilatan di manik suaminya. Wanita itupun terpaku sesaat. Ares menekan luka Sophie hingga wanita itu memekik.


"Aduuhh!"


"Tahan sebentar agar darahmu berhenti keluar," jelas Ares.


Ares pun melepas tekanan pada tangan Sophie, wanita itu memegang sendiri luka yang ada di tangannya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri hingga membuat ruangan lengang untuk sesaat. Kedatangan Deni berhasil membuyarkan suasana yang mencekam menurut Sophie.


"Tuan, saya mendapatkan Pop Corn pesanan anda!" Deni menerobos masuk tanpa tau jika ada Sophie di sana. "Pagi, Nyonya!" sapanya kikuk.


Sophie membalas sapaan Deni. "Pagi juga, Deni," Sophie melihat Deni yang mendekati Ares. Pria itu menyerahkan kantong kecil pada suaminya.


"Terima kasih, Deni," ucap Ares.


"Sama-sama, Tuan," Deni mengangguk.


Deni memperhatikan Sophie yang sibuk menekan lukanya. "Tangan Nyonya kenapa?"


Ekor mata Deni melirik Ares yang sedang membuka bungkusan Pop Corn. "Tuan, apa saya panggilkan Dokter untuk Nyonya?"


Pria itu mengangguk dengan mulutnya yang mengunyah Pop Corn. "Ya, tolong panggilkan Dokter! Kasihan istriku kesakitan," kata-kata Ares sungguh tidak biasa bagi Sophie. Tidak ada emosi apapun, ada apa dengan suaminya ini?


Setelah Deni pergi untuk memanggil Dokter, Ares menyosorkan Pop Corn pada Sophie. "Kau mau?"


Sophie terhenyak karena lamunannya, dan menggeleng. "Tidak, Tuan!"


Ares menyimpan Pop Corn itu di meja samping kemudian mengambil gelas berisi air putih. "Berikan aku berkas yang harus aku tanda tangani," ucapnya sebelum meminum air putih.


Sophie mengeryit bingung. "Apa?"


Air di dalam gelas itu habis tak bersisa, dengan sedikit hentakan Ares menaruhnya hingga menimbulkan bunyi.


"Bukankah kau membutuhkan tanda tanganku untuk membeli rumah baru?" jelas Ares.


Sophie baru mengerti maksud Ares. "Tuan mau membelinya? Kemarin Tuan bilang-"


"Aku akan melakukan apapun untuk istriku," sela Ares sambil tersenyum.


Rasa khawatir yang sempat bercokol di pikirannya langsung sirna ketika melihat senyuman Ares seperti biasa. Wanita itu bernafas lega, ternyata tidak terjadi apa-apa pada suaminya. Mungkin sikap anehnya tadi karena pengaruh obat. Sophie mengangguk dengan binar di wajahnya, dia senang akhirnya bisa memberikan apa yang Romi mau. Hingga pria itu tidak akan mengganggu hidup bahagianya lagi dengan Ares.


"Besok akan aku siapkan, Tuan terima kasih!" Sophie menghambur ke pelukan Ares yang sempat terhenyak sesaat. Pria itu tidak membalas pelukan, hanya tersenyum manis menanggapi Sophie yang memeluknya.


Deni datang bersama Dokter, mengganggu acara pelukan Sophie pada Ares. "Maaf Tuan dan Nyonya, kami bisa kembali lagi nanti," ucapnya dengan wajah memerah.


"Tidak perlu, segera obati istriku!" titah Ares membuat Sophie tersenyum bahagia.


🍁🍁🍁


Kediaman Ares Dawson Atmaja.


Keesokan harinya Ares sudah kembali ke kediamannya, sekarang pria itu sering mendatangi kamar utama. Yaitu kamar dirinya bersama Elara. Memandang foto pernikahan yang terpasang kokoh di tengah ruangan, Elara sangat cantik dan anggun dengan gaun pengantin yang membalut tubuh tinggi semampainya.


"Ara..." Ares mengusap foto itu.


Rasa sakit selalu menyusup ke dalam jantungnya ketika nama itu disebutkan. Dan seolah tidak terasa, Ares ingin terus merasakannya merasakan bathinnya tersiksa akan penyesalan.


Samar-samar Ares sadar dengan panggilan seseorang di luar kamar. Dengan cepat dia bersembunyi agar tidak ada orang yang tau jika dirinya di dalam kamar Elara. Setelah yakin jika tidak ada yang memanggilnya lagi, Ares segera meninggalkan kamar itu.


Ares memilih menuruni tangga menuju ruang tamu, dan di tengah perjalanan Sophie mendekatinya.


"Tuan, aku mencarimu dari tadi," serunya riang.


Senyuman tipis Ares berikan. "Maaf, aku tertidur di ruang kerja," jawabnya.


Sophie mangut-mangut. "Padahal tadi aku memanggil-manggil di depan ruang kerja Tuan, tapi Tuan tidak bersuara. Apa Tuan mimpi indah?"


"Ya, indah sekali, sahutnya cepat. Ada Apa?" tanyanya sambil memainkan rambut Sophie.


"Berkasnya sudah siap, Tuan tinggal tanda tangan," ucapan Sophie menghentikan kegiatan Ares.


Pria itu menyeringai namun tidak terlihat. "Baik, mari kita ke ruangan kerjaku!" ajak Ares.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Aku lagi bakal sibuk pindah-pindahan neh, kemungkinan akan menunda up part selanjutnya, mohon bersabar ya reader sayang, dan doakan aku pindah2annya cepat selesai semangat terus!


Love u all!