A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 43



Warning, 21++... harap bijak dalam membaca.


Author POV


Ares melempar dua lembar foto di atas meja Bobi. Bobi mengeryit melihat kedua foto tersebut.


"Apa kau pernah bekerja dengan salah satu orang di dalam foto itu?" Tanya Ares sambil menyilangkan kakinya angkuh.


Bobi memperhatikan foto itu dan memandang Ares dengan kekehan. "Aku selalu menjaga privasi setiap clien, itu adalah ketentuan dariku," pria itu menyenderkan tubuh di kursinya.


Ares memberi kode pada Deni untuk memberikan 1 koper hitam dan membukanya di hadapan Bobi. Koper berisikan uang dolar terpampang jelas menyilaukan mata Pria dengan tindikan di salah satu telinganya.


"1 juta dolar, aku minta informasi tentang dirinya dan sebuah misi untukmu," ujar Ares tanpa basa basi.


Lengkungan lebar diberikan Bobi, digapainya koper itu dan mengambil setiap buntalan uang tersebut. Mengecek uang itu palsu atau bukan. Mata Ares berkilat dengan sikap pria di hadapannya ini.


"Kau pikir aku menipumu? Kau tentu tau siapa aku! Aku bisa membuang uang itu atau menyebarkannya di jalan raya," sarkas Ares menghentikan kegiatan Bobi.


Pria itu segera menaruh kembali uang tersebut dan menutup koper. "Maaf Tuan, saya sama sekali tidak mau menyinggung anda," Bobi menyuruh anak buahnya mengambil koper itu dan menyimpannya di salah satu kamar di sana. "Tolong jangan marah," ucapnya menenangkan Ares.


Ares masih dengan wajah datarnya mengintimidasi. "Katakan, apa yang mereka perbuat?"


Bobi mengambil sebatang rokok dan menawarkan pada Ares yang langsung menggeleng. Setelah menyalakan rokok tersebut pria itu menceritakan semuanya.


"Hanya satu yang menjadi clienku," ujar Bobi.


"Pria atau wanita?" Tanya Ares.


"Pria," Bobi menghembuskan asap lewat hidungnya. "Dia memintaku melenyapkan seorang dokter," ucapannya membuat Ares mengepalkan tangan.


Bisa di tebak siapa Dokter yang Bobi maksud, Dokter Gilang adalah orang yang menjadi korban hingga meninggal dunia. Ares menahan amarahnya yang tiba-tiba memuncak. Orang itu dengan sengaja menghubungi Bobi yang notabene terbiasa dengan hal seperti itu, semua tindak tanduknya rapi hingga tidak pernah berurusan dengan pihak berwajib. Bobi adalah salah satu sindikat pembunuh bayaran profesional, banyak pengusaha hingga orang-orang penting yang memakai jasanya untuk memuluskan tujuan mereka dengan menghilangkan setiap pesaing.


"Kau punya bukti?"


"Tidak ada bukti, itu hanya akan membawaku dalam masalah nanti."


"Aku ingin menjeratnya dalam jeruji besi!"


"Untuk apa jauh-jauh mencari jeruji? Aku punya banyak di gudang bawah tanah," Bobi menyeringai. "Kau bisa bebas menyiksanya hingga kau puas dan merasa semua cukup adil."


Ares mendelik kurang suka dengan apa yang dikatakan Bobi.


"Semua yang mendatangiku adalah orang-orang yang merasa hidupnya tidak adil, karena itu mereka meminta keadilan dengan caraku," jelasnya santai sambil mengambil salah satu foto. "Kasihan sekali mereka membuat masalah denganmu.


"Kau mengenal wanitanya?"


"Ya, aku pernah melihat mereka berdua di sebuah cafe setelah misiku selesai. Aku pikir mereka sepasang kekasih," selorohnya tanpa tau mata tajam Ares yang menusuk.


Sophie ternyata memiliki hubungan yang tidak diketahuinya selama ini dengan Romi, mereka berdua... harusnya Ares menyadari itu sejak awal. Ketika dirinya tidur dengan sophie disebuah club malam, Romi baru menampakkan hidungnya saat keesokan harinya. Romi pula yang mengatur tempat untuk mengadakan pertemuan di club itu.


Sialan!!!


Ares hanya bisa mengumpat dalam hati, menahan sesak ketika mengingat jika baby Hades bukan miliknya. Bagaimana seorang mandul sepertinya akan memiliki anak?


Ares beranjak dari kursinya untuk pergi meninggalkan tempat itu namun, sebelum itu dia berkata. "Aku ikuti saranmu, lakukan seperti katamu kepada mereka berdua," setelah itu Ares berjalan kembali tanpa menoleh.


"Siap Tuan Ares!"


🍁🍁🍁


Uniclever


Sebastian menunggu atasannya di lobby kantor, itu adalah rutinitas kesukaannya sejak kembali menjadi Asisten pribadi Elara. Biarlah cintanya bertepuk sebelah tangan, karena dengan melihat wajah sang pujaan sudah membuatnya senang. Tapi itu tidak berlangsung lama ketika matanya menangkap sosok di samping atasannya.


Siapa lagi kalau bukan Charles? Pria itu sudah beberapa kali mengantar istrinya ke kantor. Padahal kantor mereka berlainan arah. Dia tau banyak pria modus di sekeliling istrinya, Charles tidak mau ambil resiko jika Aranya akan terkena kedipan mata dari pria lain. Salah satunya adalah asisten pribadi Elara, Sebastian... pria berkacamata yang sialannya cukup tampan menurut Charles.


Charles sudah menyalakan sinyal waspada ketika melihat siluet seorang Sebastian, pria dengan watak setia membuatnya geram. Meski sudah ada benihnya di dalam rahim Elara, entah mengapa pria itu seakan belum bisa tenang. Kadang tingkahnya membuat Elara risih.


Elara POV


"Pagi, Sebastian!" Sapaku.


"Pagi, Nyonya... dan Tuan," Sebastian tersenyum ramah.


Charles berdehem malas membalas sapaan Sebastian, aku hanya bisa meringis tidak enak pada asistenku.


Pria itu diam dengan wajah masam, kemudian merangkulku dalam pelukannya. "Aku akan mengantarmu sampai ruangan! banyak serigala berbulu domba di sini," sarkasnya membuatku membulatkan mata.


"Charles!" Tegurku.


"Stss... ayo!" Tanpa banyak kata, suamiku ini menarikku menuju lift. Ketika kami berdua memasuki lift, Charles mengangkat tangannya menahan Sebastian yang akan ikut masuk juga.


"Kau naik yang berikutnya, Ok!" Lift pun tertutup.


Aku menghentak tangan Charles yang merangkulku. "Apa-apaan seh kamu, kekanakan sekali!"


"Apanya?"


"Ya, itu... kenapa harus melarang Sebastian memasuki lift?" Protesku.


"Karena aku ingin mencumbumu di sini!"


Charles menggapaiku dan menghimpitku ke sudut lift, bibirnya sudah sibuk menghisap lidahku. Aku yang masih terkejut berusaha meronta.


"Hmmpphh..."


Tanganku yang mendorong kini malah menariknya. Charles benar-benar lihai membuatku mabuk kepayang, tapi ini tidak benar. Kami berciuman panas di lift!.


"Hentikan... ah..."


Charles meremas payudaraku, yang entah mengapa membuatku keenakan. Kenapa aku begini? Apakah ini bawaan bayi? Yang jelas memang akhir-akhir ini aku menjadi lebih bergairah.


"Apa? Kau bilang apa??" Bisiknya.


Tangannya menyusup ke dalan rokku, dan mengusap lembut intiku. Ini tidak bisa di teruskan, bagaimana jika ada orang lain yang melihat kami?


"Charles... please.. stop!" Aku merintih.


"Aku akan berhenti, Ara... jika kau bilang menginginkan aku..."


Aku menggigit bibir bawahku, apa-apaan dia memberikan pilihan yang tidak bisa di pilih. Charles tidak kunjung berhenti, tangannya sudah berhasil meremas dan memainkan putingku secara langsung tanpa terhalang apapun. Lidahnya menjelajahi telingaku, aku tidak bisa menahannya lagi.


"Charles... ah... Ok...!"


"Ok apa?"


"Aku ingin... kamu," ucapku dengan wajah memerah.


Charles tersenyum sumringah dan menghentikan kegiatannya, merapikan bajuku sebelum pintu lift akhirnya terbuka. Bertepatan dengan itu Charles menggendongku dan keluar dari lift dengan tergesa menuju ruanganku.


Aku memekik karena gerakan mengejutkannya dan memilih melingkarkan tanganku pada lehernya agar aku tidak terjatuh.


🍁🍁🍁


Pintu ruanganku terkunci rapat, Sebastian berdiri di sana dan mengetuknya beberapa kali namun, aku tidak membukanya. Bukannya tidak mau, tapi aku tidak bisa. Aku masih dalam kungkungan Charles yang seperti singa lapar.


"Ah... ah... ah... " aku mendesah di setiap hentakan nikmat Charles.


"Suaramu indah, teriaklah Ara... sebut namaku," pintanya.


"Hmm... Charles... " aku menahan tubuhku yang terus terdorong membelakanginya. Posisi ini membuatku merasakan milik Charles begitu dalam.


"Ara... kau milikku, hanya aku!" Charles menggeram diikuti hentakan keras bersamaan gelombang yang mendatangi kami berdua.


Aku terkulai lemas, dengan sisa kenikmatan yang masih kurasakan. Pria itu masih menyatu denganku, mengeluarkan banyak benih hingga membasahi lantai.


Charles menghujaniku dengan kecupan disepanjang bahu hingga puncak kepalaku. "Aku... sangat mencintamu, Ara..."


Aku mengangguk dengan mata terpejam. Mulutku menganga karena nafas tersengal. Tidak lama aku pun tertidur karena kelelahan.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Olah raga pagi... ayo kita olah raga!