A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 58



Elara POV


Aku telah kembali ke kediaman Ares yang entah berada di mana. selama perjalanan aku tidak dapat melihat sekitar dikarenakan kaca mobil yang hitam pekat. Pria itu, pria brengsek yang benar-benar berniat mengurungku di kediamannya. Untuk apa?


Terakhir kali aku memberontak perutku menjadi keram, aku berusaha menahan diri. Menjaga emosiku agar stabil. Kali ini aku mengalah, mengikuti semua tingkah Ares yang semakin seenaknya. Apa dia mengira aku seekor burung yang bisa dikungkung begitu saja di dalam kastilnya, jangan bercanda?


Pagi ini samar-samar aku mendengar suara tangis seorang bayi, aku menyibak selimut dan beranjak dari ranjang. Berjalan menyusuri lorong yang terlihat lengang. Langkahku terhenti di depan pintu kamar dengan cat abu-abu. Suara itu semakin jelas, tangis bayi yang mengusik jiwa keibuanku. Aku memutar kenop pintu yang tidak terkunci, pemandangan aneh terpampang jelas di balik pintu itu.


Sebuah kamar besar dengan tempat tidur bayi yang terletak di sudut ruangan. Cat putih polos menambah hambar suasana, hanya ada bupet kayu mahoni yang terlihat sedikit mengurangi kehampaan di kamar itu. Aku melangkahkan kaki mendekati tempat tidur bayi dengan suara tangis yang masih terdengar. Sosok bayi laki-laki dengan wajah memerah desertai deraian airmata, apa mungkin bayi ini lapar? Atau popoknya basah?


Aku menghela nafas kesal menoleh ke sana ke mari, ke mana perginya semua pelayan di rumah ini? Apa mereka tidak mendengar suara tangis bayi ini?


Aku kembali memusatkan perhatian pada bayi dengan paras yang tidak asing. Paras seseorang yang tidak asing untukku, tidak akan pernah aku lupa. Sophie... wanita yang berhasil menghancurkan rumah tanggaku. Rambut lebat coklat terang milik bayi itu memanggilku untuk mengelusnya. Bayi gempal yang sangat lucu, bayi itu langsung terdiam menatapku yang mengelusnya. Aku tersenyum dan mengangkatnya, menggendong dengan hati-hati.


Ini pertama kalinya aku menggendong seorang bayi. Mata bulat nan besar menelisikku dengan seksama, bibir mungilnya tampak mengulum seolah menguyah sesuatu, tangannya yang buntat meraih rambutku dan memainkannya. Aku terkekeh dan mengumam.


“Kemana ibu mu baby boy?”


“Aku sudah menceraikannya,” sebuah suara yang membuatku terhenyak terdengar dari belakangku.


Aku menatap malas Ares yang berjalan mendekat dengan senyum memuakkan. Aku mengindahkannya dan kembali membelakanginya setelah sempat menoleh padanya tadi.


“Tidak heran... kau sangat mudah memutuskan sesuatu,” sarkasku mengusik Ares hingga membuatnya menghentikan langkah.


“Ara...”


“Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu, kita sudah tidak sedekat dulu,” pintaku datar.


Aku tidak tau ekspresinya seperti apa dan aku tidak perduli, aku memilih memandang bayi lucu miliknya. Ah... apa benar bayi ini anaknya?


“Dia anak Sophie dengan Romi, aku sudah tau tentang keadaanku dari surat yang kau tinggalkan di laci kamarmu,” Ares seperti mengetahui pertanyaan dalam benakku.


Aku terdiam, tidak ingin mengeluarkan respon apapun. Haruskah aku bersorak menertawakan kenyataan yang akhirnya ia ketahui setelah perseteruan kami di masa lalu.


Ares yang tidak mendapatkan sepatah kata pun dariku menekuk kakinya, bersimbuh di atas lantai membuatku terhenyak.


“Ares!”


“Aku tau, kata maaf tidaklah cukup untuk mengahpus segala dosaku padamu. Segala penghinaan dan pengkhianatan yang aku lakukan tidak sebanding dengan rasa sakitku sekarang, aku hanya berharap dapat menebusnya...”


“Berdiri!” selaku.


“Ara,” Ares mendongak menatapku.


“Aku bilang BERDIRI!” aku menekan setiap kata.


Bayi itu ternyata tertidur mendengarkan kami yang hampir bertengkar di pagi hari. Bayi yang aneh, aku membaringkannya kembali pada box bayi dengan perlahan agar dia tidak terjaga. Setelah yakin jika bayi itu tertidur pulas aku memberikan kode pada Ares yang telah berdiri untuk mengikuti keluar kamar. Setelah kami berada di luar kamar dengan pntu yang tertutup rapat aku segera berbalik menghadap pria yang telah menculikku.


“Dengar Ares, mari buat semua menjadi mudah,” aku menahan diri agar tidak meledak dengan mengatur nafas. “Kembalikan aku, lalu kita jalani hidup kita masing-masing tanpa menyakiti dan dendam... Ok?”


Pria itu tidak bergeming, hanya memandangku dengan tatapan sendu. Aku kembali memanggilnya meyakinkan jika dia mendengarkan semua yang aku katakan barusan.


“Ares? Bagaimana?”


“Ara... jika saat itu aku tidak menceraikanmu, apa kau akan terus di sisiku?”


Aku menggeleng heran. “Untuk apa kau menanyakan hal yang telah lalu, Ares?”


Pria itu diam seolah menunggu jawabanku. Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. aku melontarkan jawaban yang mampu membuatnya bergetar.


Raut wajah Ares sulit diartikan, apa ini sebuah penyesalan teramat sangat. Buliran kristal luruh begitu saja dari maniknya, pria itu menunduk dengan tubuh bergetar. Pemandangan yang memilukan, Ares yang selama ini ku kenal angkuh dan dingin itu kini terlihat rapuh dengan segala kekurangannya.


Aku mendekatinya dan memeluk tubuh tinggi kekar itu. Tidak ada apapun lagi yang ku rasakan seperti dulu saat bersentuhan dengannya.


“Ikhlaskan semua, Ares... mungkin semua ini memang takdir hidup kita.”


“Maaf... Ara... Maafkan aku...” pria itu balas memelukku dengan erat, meski awalnya aku terperanjat karena itu.


Aku mengangguk dan menepuk punggungnya menenangkan. “Semua akan baik-baik saja.”


🍁🍁🍁


Aku membanting pintu kamarku kesal. Aku pikir bujukanku tadi berhasil membuat Ares luluh, padahal aku sudah memberinya pelukan persahabatan tapi nyatanya malah membuatku semakin sulit meninggalkan tempat ini.


“Sabar Ara... tenang...” aku mengatur nafasku yang sempat memburu.


“Arrrggg, Sialan!” aku menepuk mulutku dengan tangan. “Tidak boleh mengumpat, nanti bayiku dengar,” ucapku lirih.


Aku memilih menggulung tubuhku dengan selimut, sebaiknya aku tidur. Memikirkan cara agar Ares mau memulangkanku, bukan apa... aku tidak memiliki apapun untuk kabur dari sini. Yang letaknya aku pun tidak tau pasti. Aku tidak berani ambil resiko untuk luntang lantung tidak tentu arah berkeliaran di luar sana. Apa lagi ini di negeri orang, ditambah aku sedang hamil muda sekarang.


Flashback On.


“Maafkan aku Ara... aku semakin sulit untuk melepasmu,” ucapan Ares membuatku membulatkan mata. Aku melepas pelukan Ares secara kasar.


“Apa kau bilang? Ku pikir kau mengerti... dan akan memulangkanku,” seruku panik.


Pria itu menggeleng dia menggapai rambutku dan menghirupnya, aku menepis tangannya.


“Jauhkan tanganmu, ini tidak lucu Ares!”


“Aku tidak pernah main-main untuk menebus kesalahanku,” jawabnya serius.


“Kau cukup memulangkanku, itu cukup untuk menebus kesalahanmu padaku,” aku berusaha kembali membujuknya.


"Cukup sekali aku kehilanganmu, aku tidak mau mengulanginya," sergahnya terdengar lucu untukku.


"Nyatanya kau memang sudah kehilanganku sejak kau menceraikanku, apa yang kau harapkan dari semua ini? Aku sudah mencintai pria lain, hatiku bukan milikmu lagi!" Aku mengucapkan kata itu dengan lugas, agar Ares sadar. Apa yang dia lakukan sekarang adalah sebuah kesia-siaan.


"Tidak apa-apa... itu memang balasan yang pantas untukku. Aku akan menerimanya, sepertimu waktu itu, menerima aku yang membawa Sophie ke rumah. Aku kini tau bagaimana sakitnya," Ares tersenyum miris.


Aku tidak percaya, pemikiran macam apa itu? Ares sudah tidak waras, dia sakit!


"Kau harus memeriksakan kepalamu ke rumah sakit, isi otakmu bermasalah!" Aku meninggalkannya yang berdiri mematung.


Flashback Off


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertkan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


setelah beberapa purnama aku baru bisa up lagi, duh jadi malu liat kommen yang menghitung hari menungguku. makasih yaaaa... dan ikuti terus kisah Acha...


Ares mesti diapain ya??