A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 54



Author POV


Suara detak jarum jam terdengar menggema mengisi keheningan di ruangan itu menemani seorang pria dewasa yang menjalin jemari menggenggam erat tangan wanita di hadapannya. Mata wanita itu terpejam rapat seolah ada lem yang merekat hingga tidak terlihat tanda-tanda jika akan terjaga. Gumaman pada diri sendiri kini mengalahkan suara jarum jam yang sedari tadi mendominasi.


“Kau akan baik-baik saja, aku janji… Ara,” Ares mengecupi punggung tangan yang terkulai. “Maafkan aku… aku sungguh minta maaf,” dia menyeka sedikit air yang menyeruak dari pelupuk mata.


Deni memasuki kamar rawat inap itu dengan raut iba. Iba karena Tuannya yang kini menjadi pria penuh obsesi pada wanita bersuami, dan iba kala cintanya yang sudah mati. Bagaimana tidak, wanita yang terus digenggam tangannya itu kini telah bahagia dengan pria lain. Itu semua karena ulah Tuannya sendiri. Jika ingin menyesali semua, rasanya sudah terlambat. Apa yang Tuannya harapkan sekarang?


“Tuan…” panggil Deni.


Ares segera menoleh dengan gelisah. “Deni, mana Dokternya? Kapan Ara akan siuman?”


“Tuan… barusan Dokter baru keluar ruangan, dan keadaan Nyonya Elara bukankah Tuan sudah tau?” Deni mendekat. “Nyonya stress hingga mengalami keram perut, beruntung kita segera melarikannya ke rumah sakit. Jika tidak-“


“Ara akan baik-baik saja, dia wanita kuat. Aku tau itu!”


“Ya, Nyonya memang wanita kuat. Tapi sekarang beliau sedang hamil muda. Tidak boleh menerima tekanan baik psikis maupun fisik, Tuan… sebaiknya kita pulangkan Nyonya jika anda memang benar-benar mencintainya.”


Pria itu menggeleng dengan matanya yang tajam.”Jangan bahas cinta! Kau sama sekali tidak mengerti!”


“Saya memang tidak mengerti cinta, tapi saya tau rasanya menyesal. Tidak bisakan membiarkan Nyonya bahagia dengan hidupnya sekarang?” ucap Deni serius.


“Jadi kau pikir Ara tertekan karena keberadaanku?” Ares tidak terima.


“Sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir baik,” jawabnya lugas.


“Aku hanya ingin menebus kesalahanku, aku memang egois! Aku tidak sanggup untuk kehilangannya lagi. Aku akan menjaga jarak dan mengamatinya dari jauh, asalkan Ara masih tetap dalam jangkauanku.”


Deni mendesah pelan, bagaimana caranya lagi untuk meyakinkan Tuannya jika yang dilakukannya kali ini adalah kesalahan. Jelas apa yang telah terjadi di depan matanya, Tuannya memang tidak ingin menerima masukan. Sikap keras kepalanya belum luntur juga meski telah mengalami berbagai kegagalan.


“Tuan jelas tau, bukan itu yang saya maksud,” Deni berusaha kembali membujuk Ares. Namun, pria itu seolah menutup telinga.


“Pergilah, biarkan aku sendiri!”


Deni hanya bisa pasrah, apakah dia akan menyerah? Tentu saja tidak, Deni akan terus mencari cara dan merubah pemikiran Tuannya. Terlalu banyak hal yang di sesali Tuannya, jangan sampai dia hidup dalam penyesalan hingga akhir hayat.


Deni akhirnya memilih pergi tanpa kata, berlaku sedikit tidak sopan agar Tuannya sadar.


Nyatanya Ares tidak menghiarukan semua, di matanya kini hanya ada Ara. Hidup kembali bersama mantan istrinya… ah tidak, Elara masihlah istrinya, Nyonya Atmaja!


Dengan lembut Ares membelai rambut coklat milik Elara, menatap lamat-lamat wajah cantik dihadapannya yang telah dia sia-siakan. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan betapa menyesalnya pria itu, meski wanita pujaan dalam genggamannya tapi hatinya telah pergi sejak lama meninggalkan Ares.


“Ara…” Nama yang selalu menyejukkan kala disebutkan, nama yang mengisi penuh hatinya yang gersang. Ares tidak akan sanggup kehilangan lagi, mungkin dia akan mati.


🍁🍁🍁


Kediaman Evans Scoot


Charles sampai ke kediamannya kemarin malam, saat ini dia sedang memutar otak agar dapat mengetahui keberadaan Elara, istrinya. Sebastian yang terus meminta maaf telah melakukan hal sebisanya, meski amarah menggunung di ubun-ubun kepala Charles namun, dia menghargai usaha asisten istrinya itu.


Kabar mengejutkan tentang Gloomy perusahaan Atmaja yang diakuisisi membuat Charles makin geram. Pria itu sangat rapi sekali menghapus jejaknya. Ares lenyap bagai di telan bumi, bahkan seluruh maskapai dan landasan pesawat tidak ditemukan adanya keberangkatan dirinya. Atau memang sengaja dimanipulasi. Ares seolah telah merencanakannya dengan matang untuk menculik mantan istrinya.


Kecurigaan berpusat pada Direktur perusahaan Likoil yang mengakuisisi Gloomy, percakapan terakhir Sebastian membuat pria itu yakin jika Tuan yang bernama Isac itu mengetahui keberadaan Ares.


“Kirim beberapa orang untuk memata-matai Isac, aku yakin dia ada hubungan dengan menghilangnya Ares,” pintanya pada Ardan.


“Baik Tuan!” Ardan segera pergi untuk melaksanakan perintah Charles.


Tidak lama Martha datang dengan mata sembab, sepertinya gadis itu menangis semalaman setelah mengetahui Nyonya-nya menghilang dibawa kabur Ares. Kepalanya menunduk saat menaruh nampan berisi dua cangkir kopi, Sebastian sempat memperhatikan gadis itu.


Dengan isyarat tubuh Sebastian mengajak gadis itu keluar ruangan setelah selesai melaksanakan tugasnya. Charles sama sekali tidak menyadari kepergian dua orang tersebut, Charles sedang sibuk menelpon seseorang lewat ponselnya.


Ketika mereka telah keluar ruangan Martha langsung memegang tangan Sebastian dengan raut wajah memelas.


“Tolong, temukan Nyonya…” gadis itu menitikkan air mata. “Baru sebentar aku melihat senyum bahagianya di rumah ini… Nyonya sudah-“


Sebastian membawa Martha ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung yang bergetar. “Stss… Kita akan melihat senyum itu lagi, percayalah!”


Tangis itu bukannya mereda malah semakin pecah, Martha menangis sesegukan. Gadis itu sungguh ingin meraung memanggil nama majikannya namun, urung karena takut mengganggu Tuannya yang jelas lebih terpukul dari dirinya.


Sebastian menyesal, andai dia menghubungi Charles lebih dahulu sebelum memasuki Café, andai dia berinisiatif meminta para bodyguard Nyonya-nya untuk mengikuti dari jauh, andai… kini hanya tinggal andai…


Setelah tangis gadis itu mereda, Martha mohon pamit pada Sebastian dan mengucapkan terima kasih karena telah menghiburnya. Sebastian tidak mengeluarkan kata, hanya tersenyum tipis dan mengangguk tanda mengerti. Pria itu kembali memasuki ruangan menunggu intruksi dari Charles padanya.


Charles memutar-mutar ballpoint kemudian mengetuk-ngetuknya ke meja. Terlintas sesuatu di benaknya. Dia menoleh pada Sebastian yang baru saja menutup pintu.


“Darimana?” mata Charles mengikuti pergerakan Sebastian.


“Saya… ke toilet,” jawabnya kikuk.


Charles manut-manut kemudian mengeryitkan dahi. Untuk apa Sebastian ke luar? Di dalam sini juga ada kamar mandi. Namun, Charles menepis pikiran itu, terserah dia mau ke kamar mandi mana. Ada yang lebih penting dari itu.


“Sebastian, saat kau ke rumah Ares… apa kau bertemu dengan istrinya? Sophie?”


Pria itu menggeleng pelan. “Tidak Tuan, Security itu hanya bilang jika Tuan Ares pindah rumah. Mungkin bersama dengan istrinya,” Sebastian melebarkan mata. “Saya baru ingat, pagi ini terdengar kabar jika mereka telah bercerai lewat media online!”


“Ares… memperlakukan wanita layak sampah yang seenaknya dia buang dan dipungut kembali,” Charles meremas ballpoint hingga patah. “Lacak keberadaan Sophie, barangkali kita dapat menemukan petunjuk dari dirinya!”


Sebastian mengangguk lalu pergi entah kemana, Charles kembali menghubungi Januar yang juga sibuk menyebarkan anak buah ke setiap maskapai guna mengorek informasi.


[Ada kabar baik?] tanya Charles penuh harap.


[Belum, si brengsek itu benar-benar licin seperti ular. Ayah ibu ku uring-uringan seharian ini! aku kewalahan untuk menenangkan mereka, apalagi Ara sedang hamil muda,] keluhnya di seberang sana. [Charles, sebaiknya kau melakukan kerja sama dengan Likoil. Ajukan penanaman modal dalam sector mereka,] tambahnya.


[Apa mereka tidak akan curiga? Sebastian kemarin mengancam pria itu, dan dia sempat membawa namaku untuk menggertak.] Charles mengurut pelipisnya yang pening.


[Hm, baiklah. Biar aku saja yang menghadapinya, ada untungnya aku tidak memegang jabatan apapun di Uniclever hingga namaku tidak cukup dikenal,] gurau Januar berusaha mencairkan suasana. [Jangan menyerah! Aku yakin Ara menunggumu untuk menemukannya,] pungkasnya menghibur.


Charles terdiam sesaat dan tersenyum tipis. [Ya, aku akan menemukannya! Pasti!]


Panggilan pun terputus, Charles menengadahkan kepala memandang langit-langit yang berubah menjadi bayangan istrinya.


“Ara… tunggu aku, jaga Mama ya Nak!” gumamnya lirih.


Tbc.


Please rate, vote dan like yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Kesibukan aku makin bertambah kala diberikan 1 tanggung jawab tambahan dengan mengurus keponakan suamiku yang kurang perhatian orang tua. Bocah SMA yang hampir rusak masa depannya, karena orang tuanya yang berpisah. Sejak SMP dia tidak menjalani hari selayaknya anak-anak seumurannya, dan berlangsung lama hingga kini terbiasa pulang ke rumah jam 2 pagi. Bisa dibayangkan aku yang sudah memiliki 4 orang anak dan bertambah lagi 1 bocah yang beranjak dewasa. Sesibuk apa aku? aku tidak bisa menjabarkannya, bahkan untuk menyuap nasi untuk diri sendiri pun kadang aku lupa.