A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 44



Author POV


Charles keluar dari ruangan Istrinya dan mendapati Sebastian yang masih setia berdiri di depan pintu.


"Kembalilah ke ruanganmu, istriku sedang tidur," ucapnya ketus.


"Tidur?"


"Ya, tidur karena kelelahan melayaniku!"


Perkataan Charles yang blak-blakkan membuat wajah Sebastian merah padam. Tanpa banyak kata pria berkaca mata itu pergi setelah memberi salam pada Charles.


"Mencoba mencari celah? Tidak akan ku biarkan," gumam Charles dengan seringai.


Sambil bersiul Charles pergi meninggalkan kantor istrinya menuju The Charles Schwab Corporation. Hari ini dia mendapat kabar dari Ardan jika Gloomy Corp melakukan akuisisi ke beberapa perusahaan lain. Salah satunya anak perusahaan Charles. Sampai saat ini Elara belum tau akan kerja sama yang dibatalkan secara sepihak oleh suaminya pada perusahaan Ares.


"Apa maunya orang itu?" Charles menatap datar pada ponselnya, membaca kembali pesan dari asistennya.


🍁🍁🍁


The Charles Schwab Corporation


"Tuan!"


"Jangan di sini, di ruanganku saja," sahut Charles cepat saat mendapati Ardan yang memburunya sejak di lobby.


Mereka pun sampai di ruangan Charles, Charles membaca berkas yang diberikan Ardan.


"Tolak pembelian saham dari Gloomy, berapapun harganya!" pria itu melempar asal berkas ke mejanya.


"Sepertinya mereka mengincar perusahaan kita yang kurang pengawasan. Dan... kebetulan memang perusahaan itu yang paling jauh lokasinya dari kantor pusat," jelas Ardan.


"Itu bukan alasan, pasti ada yang telah mengkhianatiku! Berikan nama-nama pengurus yang bertanggung jawab!" Charles menggeram.


"Baik, Tuan!" Ardan segera melesak pergi untuk membuat daftar nama-nama yang akan mendapat masalah dari Tuannya.


"Jika bukan karena Ara, sudah ku ratakan perusahaanmu Ares!"


Padahal pria itu sudah tidak ingin berurusan dengan mantan suami istrinya itu, apa sebenarnya yang Ares pikirkan? Bukankah mereka sudah hidup masing-masing, untuk apa saling bersitegang? Charles merasa di remehkan dengan apa yang Ares lakukan, mengakuisisi perusahaannya? Jangan bercanda!


Gloomy tidak terkalahkan saat bersatu dengan Uniclever, tapi kini mereka sudah berpisah. Ares terlalu sombong dan tidak sadar diri, masih menganggap dirinya di atas angin. Orang seperti itu harus diberikan pelajaran.


🍁🍁🍁


Gloomy Corporation


Ares tersenyum mendapat penolakan dari perusahaan Charles, sebaliknya pria itu menyerang balik dengan tawaran pembelian perusahaan padanya dengan harga fantastis.


"Aku tau, kau jauh di atasku, tapi bukan itu tujuanku," Ares menyesap wine sambil memejamkan matanya.


Yang terlintas dalam benaknya selalu bayangan Elara mantan istrinya. Tangannya meremas gelas hingga retak, Ares menahan sakit yang menjadi makanannya sehari-hari. Semakin hari rasa itu semakin bertambah, hingga membuatnya sulit bernafas. Bahkan pria itu tidak cukup berani untuk sekedar bertatap muka dengan Elara, rasa malu dan bersalahnya membucah membengkak hingga siap untuk meledak kapan saja.


"Kenapa begitu sakit... Ara... aku kesakitan," ratap Ares.


Terkenang saat wanita itu merawatnya kala sakit, dengan sabar Elara menemaninya semalaman menunggu suhu panas di tubuhnya turun. Wanita tidak lembut itu, yang sulit untuk bermanja itu selalu menemaninya di saat susah hingga dirinya membawa Sophie ke rumah. Betapa brengseknya... dirinya!


Ares menatap dirinya di pantulan kaca, dengan penuh amarah melemparkan gelas pada kaca itu hingga hancur berkeping-keping.


PRANKK!!!


"KAU BRENGSEK ARES, SIALAN!!! KAU YANG MEMBUAT ARAKU PERGI!!!"


"AAARRRGGGGGG!!!"


Teriakan Ares membuat Deni memasuki ruangan dengan panik.


"Tuan!" serunya menghampiri, dilihatnya tangan Ares yang berlumuran darah.


Ares menangis sambil menyebut nama mantan istrinya, ini adalah pemandangan yang paling memilukan bagi Deni.


"Araa... Ara..."


"Tuan... ikhlaskan semuanya, anda cukup meminta maaf pada Nyonya. Saya yakin perasaan anda akan lebih tenang setelah itu," bujuk Deni.


Ares menatap Deni dan mencengkeram tangannya. "Apa Ara akan memaafkanku? Apa dia akan kembali padaku?"


Asisten Ares itu hanya bisa meringis bingung. Apa yang harus dikatakannya?


Mendengar nama Sophie membuat Ares semakin mengeratkan cengkeramannya. "Apa jika Sophie hilang, Ara akan kembali?"


"Tuan! Anda harus sadar, Nyonya Elara sudah menikah!" Teriak Deni.


Pria itu terhenyak dengan suara Deni yang meninggi, Ares melepas cengkramannya. Deni menyadari sikapnya yang di luar batas.


"Maafkan saya Tuan," ucapnya menyesal.


Ares menggeleng. "Tidak, kau tidak salah. Sudah seharusnya aku meminta maaf pada Ara, ya... kau benar. Kata maaf sudahlah cukup untukku," Ares beranjak menuju kamar mandi dengan gontai.


🍁🍁🍁


Elara POV


Kediaman Evans Scoot


Aku pulang lebih awal karena ulah Charles yang menyerangku tadi pagi, aku jadi tidak menghadiri rapat. Untungnya Sebastianmampu menangani semua, bahkan saat ini dia dengan baik hati menawarkan tumpangan padaku yang merasa pegal di sekujur tubuh.


"Terima kasih, Sebastian! Masuklah dulu, kita makan malam bersama," tawarku.


Sebastian mengangguk dan mengikutiku memasuki rumah. Martha yang melihatku segera menghampiri dan meraih tas ku.


"Nyonya, anda su-dah pulang," ucapnya kikuk saat melihat Sebastian berjalan di belakangku.


Aku melihat wajah pelayanku yang memerah dengan kepala tetunduk. Aku tersenyum simpul sambil melirik ke arah Sebastian. Ah... sepertinya Martha menyukai asistenku.


"Sebastian, kau sudah kenal dengan Martha?" tanyaku basa-basi.


Sebastian yang tadinya terdiam segera menatap Martha karena pertanyaanku.


"Ya, Nyonya, kami sering berpapasan saat saya menjemput anda," jawabnya.


Aku gemas sendiri, Sebastian sangat tidak peka. Dan Martha hanya diam saja seperti patung tidak bernyawa. Aku merangkul Martha dan membawanya pergi ke kamarku, sebelum itu aku menyuruh Sebastian untuk menunggu di ruang tamu.


Aku menutup pintu kamar dan menatap penuh selidik pada pelayan pribadiku itu. Martha yang ditatap sedemikian rupa menjadi risih.


"Nyonya, mengapa menatapku seperti itu?" tanyanya dengan kikuk.


"Apa kau menyukai Sebastian?" pertanyaanku itu langsung membuat mata Martha melebar. Aku dapat melihat gurat merah di pipinya yang semakin jelas. Sungguh menggemaskan!


"A-apa yang Nyonya bicarakan?"


"Ayolah, aku tau dari sikapmu itu, kau mau aku jodohkan dengannya?" tawarku.


"Ti-tidak, jangan melakukan hal yang tidak penting untukku Nyonya!"


Aku memicingkan mata. "Siapa bilang tidak penting? Kau sangat berarti untukku Martha!" ucapku penuh penekanan.


Martha malah terharu dan memelukku hingga aku tersentak karena perlakuannya yang tiba-tiba.


"Terima kasih Nyonya, menjadi orang berarti untukmu sudah membuatku sangat bahagia," ucapnya jujur.


Aku melepas pelukan dan memandangnya serius. "Kau berhak merasakan hal yang namanya jatuh cinta, aku tidak melarangmu. Lakukan semua menurut kata hatimu, kau menyukainya? Jujur padaku!"


Martha yang terdiam lalu mengangguk pelan, aku tersenyum senang. Akhirnya, gadis yang menghabiskan hampir separuh hidupnya denganku ini menemukan pujaan.


"Aku akan membantumu, dan kau juga harus berusaha mendekatinya," aku meyakinkan Martha.


"Tapi aku malu Nyonya, aku tau jika Tuan Sebastian menyukai orang lain," ucapnya lirih.


"Kau tau dari mana? Memang siapa yang disukainya?" tanyaku asal. Aku tidak berharap Martha tau siapa yang disukai oleh Sebastian, karena itu akan membuatku tidak enak hati.


Gadis itu memandangku dengan senyuman. "Wanita itu sangat cantik dan elagan, aku tidak ada apa-apanya," Martha meraih tanganku dan mengusapnya. "Karena wanita itu adalah Nyonya."


Tbc.


Please rate, vote dan likenya, yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Hampir ngeblank lagi pas ngetik, entah pikiranku kemana-mana. Hidup selalu ada saja masalah, dan aku rasa aku author yang banyak ngeluhnya


Maafkan aku ya readerku sayang, moga kalian tidak jenuh padaku. Selamat membaca, love u all!