A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 46



Author POV


Keesokan harinya Sophie sampai lima belas menit lebih awal dari waktu yang disepakati, wanita itu tampil beda hari ini. biasanya dia memakai make up yang cukup tebal namun, hari ini dia hanya mengenakan bedak tipis dengan lip tint merah muda, membuat wajahnya terlihat lebih segar.


Sophie mengenakan dress Sabrina berwarna kuning kunyit busuk. Bahunya terpampang jelas dengan leher jenjang menopang kecantikannya yang alami. Kehadiran sosok yang sedari tadi ditunggunya mulai terlihat, Romi datang dengan senyum licik. Pria itu menelisik penampilan Sophie hari ini dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Nyonya Atmaja sekarang terlihat berbeda, ya," sarkas Romi sambil meraih dahu Sophie dengan telunjuknya.


Sophie mendelik, dengan kasar ia menepis tangan Romi. Romi berdecih lalu duduk di hadapan wanita itu.


"Kita selesaikan sekarang juga, mana surat perjanjian yang harusku tanda tangani? Berikan padaku!" ucap Sophie ketus.


"Sudah tidak sabar ya untuk lepas dariku? Kau lupa jika Hades-"


"Cepat!" sela Sophie menatap tajam Romi.


Romi mengangkat tangannya. "Ok! Kita langsung transaksi," pria itu mengeluarkan map dari tas kerjanya, diletakkannya di hadapan Sophie. "Ini surat pernyataan jika aku akan meberikanmu bagian 30% dari semua saham Ares," Sophie melotot.


"Apa kau bilang? Hanya segitu?" Sophie histeris. Dilemparnya kertas itu kembali ke hadapan Romi. "Aku tidak mau!"


Romi mencengkeram tangan Sophie hingga wanita itu memekik. "Harusnya kau berterima kasih padaku, tanpaku kau tidak akan pernah ada di sini! Ingat asalmu yang mencari uang lewat lendir!" mata Sophie memerah. Romi selalu menghinanya, tidak pernah ada kata-kata yang baik yang keluar dari mulutnya.


"Haruskah kau selalu mengatakan hal itu?!" desis Sophie.


"Aku hanya membantumu, kadang manusia lupa jika sudah hidup enak, bukankah begitu?" Romi menyalakan rokok dan memandang cemooh pada Sophie. "Bahkan kau belum pernah menengok dia sejak kau titipkan di panti asuhan," tambahnya membuat Sophie bungkam.


Sophie memiliki seorang anak yang mungkin sudah berumur lima tahun, anak yang hadir akibat pergaulan bebasnya ketika duduk di bangku SMA. Sophie tidak sempat menyelesaikan pendidikannya karena insiden itu, bahkan pria yang menghamilinya pun pergi begitu saja keluar kota karena tidak mau bertanggung jawab.


Karena malu dan dirinya yang belum siap mengurus seorang anak, anak itu akhirnya dititipkan di sebuah panti asuhan. Pihak keluarga Sophie yang dalam keadaan kekurangan di bidang finansial hanya bisa pasrah. Sophie pun memilih menjadi pelayan di sebuah club karena ajakan temannya dan berakhir menjadi seorang call girl sebagai sampingan. Romi salah satu dari pria yang sering menyewanya.


"Aku minta kau tidak ikut campur dalam urusanku lagi," suara wanita itu bergetar.


"Ya, mari kita akhiri hari ini," sahut Romi dan menyodorkan kembali kertas itu. "Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi," Sophie sempat terdiam sebelum tangannya meraih kertas itu dengan perlahan.


Dibacanya berulang-ulang kertas itu, dan kembali melihat ke arah Romi. Pria itu mengangguk, membujuk Sophie lewat isyarat agar lekas menanda tanganinya. Sophie pun membubuhkan tinta hitam di atas kertas itu. Romi menengadahkan tangan meminta sesuatu pada Sophie.


"Berkasnya?"


Sophie menyerahkan map berisi berkas di sana, Romi mengeceknya dan tersenyum.


"Kau memang pintar membujuk, tidak salah aku memilihmu. Mau bermalam dulu denganku sebagai kenang-kenangan?" senyuman Romi terlihat memuakkan di mata Sophie.


Baru mereka akan beranjak pergi, segerombolan pria tinggi besar mendatangi mereka. Sophie dan Romi dibekap dengan sapu tangan pada hidung dan mulutnya hingga tidak sadarkan diri. Salah satu pria tersebut menghubungi seseorang.


[2 merpati sudah ada di tangan kita,]


[Bagus! Bawa ke hotel ***, kita buat pertunjukkan di sana,] sahut suara di seberang sana. setelah itu sambungan terputus.


Pria yang dihubungi itu mengambil dua gelas kosong dan menuangkan wine. Setelah itu dia menyerahkan satu gelas itu pada Ares. "Kau mau melihat prosesnya?" tawar Bobi.


"Tidak! Terima kasih," ucap Ares datar.


Ares tidak menjawab, dia menatap gelas berisi wine itu dalam diam. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Deni memandang khawatir pada Tuannya.


"Berhenti melihatku seperti itu, jika kau tidak mau ku kirim ke Antartika," ucap Ares membuat Deni tersentak.


"Maaf Tuan!" Deni membungkuk hormat.


Bobi terkikik geli, namun tawanya tertahan ketika mata Ares menatapnya tajam. Bobi pun memilih menunduk sambil menyesap winenya.


Ares berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Bobi yang melihat itu pun bertanya. "Mau kemana Tuan Ares?"


"Kau cukup beritahu aku saat semua sudah selesai, aku ingin mencari angin segar," Ares berkata tanpa menoleh dan kembali melangkahkan kaki meninggalkan tempat Bobi.


🍁🍁🍁


Dari jarak cukup jauh manik itu terus mengamati. Sambil tersenyum miris menahan nyeri di dada di balik jas Armani mahalnya. Sakit tidak berdarah itu sangat menyiksa. Bagaimana tidak, sosok yang diperhatikan sedang merangkul manja pada seseorang yang ia harap adalah dirinya.


Elara yang tidak pernah memperlihatkan sisi itu, atau mungkin dia tidak menyadari jika beberapa kali mantan istrinya itu sempat berusaha bermanja padanya. Namun, sikap Ares yang datar membuat Elara urung dan takut membebani. Hingga akhirnya, Elara menjadi bersikap sama dengannya.


Bukan... bukan itu intinya, seperti apapun sikap Elara, bukan alasan untuknya berpaling. Andai Ares mau membicarakannya secara terbuka, saling mencari solusi bukan menghakimi mungkin... Elara masih di sisinya.


Kini pria itu hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan, dengan sadar memilih jalan yang dia tapaki saat ini. dengan sadar mendorong Elara menjauh darinya.


"Deni, apa aku seorang pria bodoh di matamu?"


Deni menoleh pada Ares yang menatap lurus pada sosok mantan istrinya di seberang sana. Deni melihat ke arah pandangan Tuannya. Dengan berat ia menghela nafas.


"Tuan,"


"Jangan katakan hal lain padaku, aku hanya bertanya. Kau cukup menjawabnya," sela Ares yang tau Deni akan berkata apa.


"Kalau pun Tuan Bodoh, itu semua sudah terjadi," Deni menatap takut pada Ares saat melontarkan kata itu.


"Kau benar," Ares terkekeh sendiri. "Mengapa kita baru bertemu? Aku terus berandai... jika kau yang menjadi asistenku sejak lama, aku mungkin..."


"Tuan,"


"Aku merindukannya... sangat merindukannya. Kau tau? Aku hampir mati rasanya, melihat dia dengan pria lain. Aku tau dia bahagia sekarang, dibanding denganku yang selalu membuatnya merana. Aku menyesalinya, Deni... aku sangat menyesal. Dan aku merutuki hati yang masih berharap padanya, aku yang tidak pantas ini," Ares berucap lirih dengan segala kekurangannya.


Dirinya yang rapuh yang tidak pernah diperlihatkan pada siapapun, Deni orang pertama yang mengetahui itu.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Aku maksain ngetik neh meski badanku lagi rentek semua. Ini semua buat kamu... ya kamu reader!