A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 51



Elara POV


“Selamat pagi Nyonya,” Sapa Sebastian.


Pria itu menggunakan jas berwarna biru tua dengan dasi abu-abu. Jika diperhatikan, gaya rambutnya sedikit berbeda. Hm… tidak seperti biasanya, rambutnya bahkan klimis dan tertata rapi. Ekor mataku melirik Martha yang tertunduk dengan semburat merah di pipinya. Apa aku telah tertinggal sesuatu?


Aku perlu memastikan sesuatu, batinku.


“Pagi Sebastian, kau terlihat… berbeda,” ujarku jujur.


Pria itu tersipu malu, dengan mengusap tengkuknya kikuk. “Itu… hanya perasaan Nyonya saja,” sergahnya membuatku semakin penasaran.


“Begitukah?” Aku manut-manut. “Sepertinya aku melupakan sesuatu, Sebastian kau bisa menungguku?”


“Tentu saja Nyonya,” sahutnya cepat.


Aku tersenyum dan mengusap bahu Martha sebelum aku pergi. Gadis itu menoleh heran melihatku mengerlingkan mata padanya. Aku tidak benar-benar pergi, nyatanya aku bersembunyi di balik gorden tidak jauh dari ruang tamu tempat Sebastian menungguku. Aku menajamkan indera pendengaranku agar bisa menguping pembicaraan mereka. Martha yang merasa risih sendiri memilih untuk pergi menyusulku namun, Sebastian menahannya.


“Kau mau kemana?”


“Saya… saya mau menyusul Nyonya… barangkali beliau butuh bantuan saya,” jawab gadis itu.


“Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu.”


“Anda ingin bertanya apa?”


Sebastian tampak menghirup banyak udara sebelum mencetuskan niatnya. “Jika kau tidak sibuk, maukah kau menemaniku mencari kado ulang tahun Nyonya pekan ini?”


Martha terkesiap, dia terkejut dengan permintaan Sebastian yang memintanya menemani mencari kado untuk Nyonya-nya. Hatinya miris, bahkan dirinya hampir melupakan hari bersejarah untuk majikannya itu. Ada rasa syukur di hati gadis itu ketika diingatkan oleh Sebastian. Dia tersenyum riang.


“Saya bersedia, Tuan!”


Sebastian mengangguk senang. “Terima kasih.”


Aku menghela nafas lelah, aku pikir akan ada adegan romantic tentang mengutarakan perasaan salah satu dari mereka. Tapi ternyata mereka malah membicarakan masalah ulang tahunku. Sungguh, aku mengharapkan kapal cinta mereka berlabuh sebagai kado dari pada sebuah barang. Tapi itu tidaklah etis, memaksakan perasaan mereka yang aku tidak tau seperti apa. Dengan langkah gontai aku mendekati mereka, wajahku muram membuat mereka berdua kebingungan.


“Nyonya, apa ada sesuatu? Apa ada yang tidak bisa anda temukan? Biar saya-“


Aku mengangkat tanganku menyela perkataan beruntun Martha. “Sudah ketemu, kamu tidak perlu khawatir. Sebastian, mari kita berangkat sekarang!” pintaku.


Sebastian yang tidak kalah heran hanya bisa mengangguk. “Baik, Nyonya!”


Martha terus menatapku yang meninggalkannya, hatinya tidak tenang. “Ada apa dengan Nyonya?”


🍁🍁🍁


Aku melamun tidak tentu arah, mengapa mereka berdua hanya memikirkan diriku? Tidakkah mereka juga ingin bahagia, aku kesal sendiri. Aku melihat Sebastian yang focus menyetir mobil, dengan gemas aku menanyakan hal pribadi padanya.


“Sebastian, mengapa kau tidak berkencan? Percuma mengharapkanku yang sudah jelas mencintai orang lain, kamu harus move on!” ucapku terus terang membuat pria itu menginjak rem mendadak.


CKIITTT!


“Sebastian!” seruku kaget.


“Ma-maaf Nyonya, perkataan anda membuat saya terkejut,” pria itu terbata.


“Aku hanya jujur padamu, aku menjadikanmu asisten karena kau memang pantas mengemban pekerjaan ini. jangan berharap hal lain,” aku sama sekali tidak memikirkan jika perkataanku mungkin menyakiti hatinya.


“Saya senang anda perhatian dengan saya Nyonya, tapi… itu tidak perlu. Hati saya hanya saya sendiri yang menentukan kemana akan berlabuh,” pria itu tersenyum dengan percaya diri.


“Kau tidak menyukai Martha?” selidikku.


“Martha gadis yang cantik dan manis, saya akan memikirkannya,” jawaban yang membuatku geram.


“Hanya akan?”


“Nyonya, jangan memaksa saya,” sahutnya masih dengan senyuman yang membuatku ingin melemparnya ke jalan.


Oh, dasar pria. Suka jual mahal, jika wanita sudah menyerah baru kalian tau rasa!


Sebastian masih tersenyum geli melihatku dari kaca mobil. Aku mengabaikan dirinya hingga kami sampai ke tempat tujuan. Tempat di mana aku akan bertemu dengan Ares.


Sebastian menahanku untuk masuk Café, matanya melihat curiga di sekitar Café.


“Nyonya, apa sebaiknya saya menguhubungi Tuan Charles agar mengirim beberapa bodyguard ke sini?”


Aku memutar mata malas, yang benar saja. Memangnya Ares akan menangkapku? Aku hanya ingin mengembalikan barang padanya. Itu terlalu berlebihan, aku sendiri yang menolak Charles ketika dirinya menawarkan bodyguard untuk menemaniku.


“Sebastian, kamu terlalu banyak berfikiran negatif. Jika kamu tidak tenang, sebaiknya kau ikut masuk ke dalam,” tawarku agar dia berhenti mengeluh.


“Nyonya tidak lupa kan jika Tuan Ares selalu membawa anak buah begitu banyak di setiap kesempatan,”


“Aku tidak takut! lagipula apa salahku padanya hingga dia tega menyiksaku dengan para bodyguardnya?”


“Tapi Nyonya-“


Aku menarik tangan Sebastian dan merangkulnya. Pria itu diam seketika. “Diam dan jaga aku, Ok!”


Pria itu mengangguk patuh. Aku pun memasuki Café itu dengan Sebastian di sampingku. Café itu terlihat lengang, apa Ares menyewanya untuk dirinya sendiri? Sudah wataknya untuk tidak berbagi, dia masih seperti itu. Aku dapat melihat pria rupawan itu, yang sangat mencolok di tengah Café. Tapi ada yang lain, pria itu hanya seorang diri. Mana asistennya? Romi?


Manik hitam itu mengikutiku dari kejauhan. Tatapan yang tidak dapat ku artikan, pandangannya terhenti pada rangkulanku terhadap Sebastian. Aku tersenyum simpul saat sampai di hadapannya.


“Selamat pagi, Tuan Ares. Boleh aku duduk?” tanyaku.


Ares terdiam sesaat, aku baru menyadari arah pandangannya pada rangkulanku. “Dia sekarang asistenku, maaf telah mengambil dia darimu,” candaku.


Ares tersenyum. “Duduklah Ara, lama tidak bertemu kau semakin berubah,” tatapan matanya melembut.


Aku melepas rangkulanku pada Sebastian lalu pria itu menarik kursi untukku.” Terima kasih, Sebastian.” Aku duduk berseberangan dengan Ares. “Mungkin karena suamiku yang pandai bergurau, aku jadi tidak terlalu kaku sekarang,” ucapku lugas.


Aku melihat raut mukanya yang menegang, entah apa dia merasa tersindir, memang kenyataanya begitu.


“Dia pria beruntung,” aku mengerutkan kening. Ada apa dengan Ares, tidak seperti biasanya dia memuji seseorang. Apa dia salah makan pagi ini?


“Tidak! aku yang beruntung karena memilikinya,” dengan penuh percaya diri aku membanggakan suamiku.


Ares mengangguk tanpa mengeluarkan kata, mungkin aku terlalu banyak bicara.


Aku memberi kode agar Sebastian duduk disampingku namun, saat pria itu hendak mendaratkan bokongnya di kursi, Ares berkata.


“Bisa kau tinggalkan aku berdua dengan Ara?” pintanya dengan nada datar.


Sebastian terpaku dan menoleh padaku. Aku menatap heran Ares. “Ada apa? Mengapa Sebastian harus pergi?”


“Ada hal penting yang harus aku katakan padamu,” jawabnya serius.


Baiklah, sepertinya Ares meminta sebuah privasi. Akan ku berikan, aku mengangguk pada Sebastian. Pria itu kembali berdiri tapi tidak beranjak pergi dari sana.


“Aku baik-baik saja, kau bisa menungguku di meja lain, bukan begitu Ares? Sebastian tidak perlu meninggalkan ruangan ini kan?” aku memiringkan kepala menanti jawabannya.


“Ya, tidak perlu keluar ruangan.”


Sebastian menurut dan berjalan menuju meja lain.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Nungguin ya? Aku terlalu banyak alasan. Tapi beneran deh, aku lagi ada masalah keluarga. Mau ngetik pikiran kemana-mana. Gak mau mengecewakan kalian, aku jadi bikin kalian menunggu lama. Aku kasih 2 part hari ini, love you all...!