
Author POV
Malam itu anak buah Bobi keluar markas untuk mencari makanan yang di pesan Bos mereka melalui pesan singkat. Di tengah perjalanan salah satu dari mereka mulai merasakan hal yang janggal.
"Kalian tidak merasa aneh? Bos menyuruh kita membeli nasi rames, bukannya Bos tidak suka nasi rames?!"
Mobil yang sedang mereka kendarai berhenti karena sang supir menginjak pedal rem secara mendadak.
"Kita putar balik! Pasti ada yang tidak beres!" Serunya dan memutar kemudi untuk kembali ke markas mereka.
Sesampainya di sana, mereka segera memasuki markas dengan mengendap-endap. Mobil sengaja di parkir di tempat yang cukup jauh agar tidak diketahui keberadaan mereka. Masing-masing dari mereka sudah memegang sebuah pistol.
Dilain tempat Romi dan Sophie baru saja keluar dari ruang bawah tanah, tanpa diketahuinya jika mereka sudah diintai oleh anak buah Bobi dari balik tembok. Mereka saling memberi isyarat agar salah satunya pergi menuju kamar Bos mereka, sedangkan sisanya mengikuti pergerakan Sophie dan Romi.
Salah satu anak buah Bobi memasuki kamar Bosnya yang terlihat lengang. Matanya tertuju pada ranjang yang seperti menutupi sesuatu. Dengan Penasaran anak buah Bobi menyibak selimut itu dan...
"BOS!!!"
🍁🍁🍁
Sophie dan Romi berjalan menuju parkiran. Terdapat sebuah mobil Jeep di sana. Romi menengadahkan tangan meminta kunci pada Sophie.
"Mana kuncinya?"
Sophie yang sempat termenung tiba-tiba gelagapan. Wanita itu masih sempat memikirkan Ares yang seharusnya dilupakannya.
"Ah... iya, sebentar... ada di dalam ransel," ucapnya kikuk membuat Romi mendengus kesal.
Karena terburu-buru, bukannya ketemu... kuncinya malah semakin dalam tercampur dengan buntalan uang dolar. Romi menahan amarah melihat tingkah Sophie yang tidak kenal tempat dan keadaan. Dengan kasar Romi merebut ransel itu.
"Kemari, biar aku saja yang mencarinya!" Desisnya.
Sophie menunduk takut. "Ma-maaf."
Ketika Romi sibuk mencari kunci mobil, Sophie menoleh ke belakang melihat sekitar. Siapa sangka setelah itu tubuh Sophie langsung bergetar, matanya membelalak sempurna. Dia menggeleng tidak percaya.
"Tidak... tidak mungkin..."
Sebuah seringai terlihat menyeramkan membuat wanita itu semakin bergidik ngeri. Kakinya melangkah kebelakang dengan sangat berat. Diwaktu bersamaan sebuah suara letusan senjata api mengejutkan Romi yang akhirnya berhasil mendapatkan kunci.
DOOR!!!
"AAKKHHH!!!"
Teriakan kesakitan lolos dari mulut Sophie. Betisnya berlubang oleh peluru yang bersarang disana mengeluarkan banyak darah segar mengucur deras.
"Aaakkhhh...!" Sophie merintih dan tersungkur di tanah.
Romi terperanjat, ransel ditangannya terlepas. Pria yang baru saja melepaskan peluru ternyata Bobi, terlihat noda darah di dadanya namun, tidak terdapat pisau di sana.
Bobi berjalan mendekati Sophie dan menjambak rambutnya. "Kau pikir, pisau buah dapat menembus jantungku?"
Wanita itu hanya bisa meringis dengan jambakan Bobi, rasa sakit di kakinya lebih mendominasi.
"Kini aku ada alasan untuk menghabisimu, sikapmu yang menerimaku secara terbuka membuatku lebih waspada," Bobi menghempas jambakan membuat wanita itu kembali terjerebab. Pria itu menodongkan pistol tepat di hadapan wajah Sophie.
"Padahal aku menyukaimu... tapi kau berani menikamku, dengan terpaksa..." Romi menarik pelatuk pada pistolnya dan...
DOORR!!!
timah panas itu bersarang ditanah, Bobi sengaja melesetkan tembakannya dan hanya menggores telinga Sophie.
Telinga wanita itu berdengung dengan sangat hebat, darah bercucuran membasahi tanah menjadi pemandangan mengerikan.
Romi yang hampir terkesima diam-diam meraih tas, dia memanfaatkan perhatian Bobi yang terpusat pada Sophie. Dengan langkah cepat pria itu berlari dari sana menghindari tembakan peluru yang dilancarkan oleh anak buah Bobi.
"HEI, BERHENTI!"
DOOR...DOORR.. DOORRR!
Romi berlari menuju semak-semak ilalang yang tingginya hampir setinggi orang dewasa. Berlari tanpa tentu arah dengan kecepatan penuh.
"Bos! Romi kabur!" Seru salah satu anak buahnya
"KEJAR DIA! teriak Bobi. "HABISI KALAU PERLU!" ucapan terakhir membuat Sophie semakin ketakutan. Dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
Bobi kembali menatap cemooh pada Sophie yang masih kesakitan. "Lihat! Pria itu meninggalkanmu, tanpa peduli bagaimana nasibmu di tanganku. Aku akan membuatmu menderita karena telah berani menusukku, bahkan kau akan berharap untuk tidak pernah dilahirkan di dunia ini!"
Bobi menyeret Sophie yang meraung kesakitan ke dalam kamarnya, kakinya terantuk lantai keramik tanpa ampun. Bobi tertawa melihat wanita itu menangis memohon ampun.
"Sakitt!!... ampunn...!!" rintihnya mengiba.
"Harusnya kau berhenti ketika membekapku dengan bantal, DASAR WANITA SUNDAL!"
🍁🍁🍁
Romi terus berlari, menyeret kakinya yang penuh luka akibat tidak memakai alas kaki. Dia menginjak berbagai ranting dan juga terdapat pecahan beling di balik semak-semak itu.
"Aku tidak boleh tertangkap, aku harus membalas semuanya pada Ares!" gumamnya memberikan semangat pada diri dengan dendam kesumat.
Romi bersembunyi di bawah pohon beringin besar, bertiarap memanipulasi pandangan dengan gelapnya malam. Menahan nafas dan tidak bergerak.
"Sialan! Ke mana perginya?"
"Aku yakin, dia belum jauh! Ayo cari lagi!"
Anak buah Bobi melewati pohon beringin setelah mereka yakin tidak ada keberadaan Romi di sana, Romi tidak bergerak hingga anak buah Bobi cukup jauh berjalan meninggalkan tempatnya.
Romi bernafas lega, membalikkan tubuh telentang agar dapat menghirup oksigen lebih banyak.
Pria itu terkikik geli menertawakan anak buah Romi yang berhasil dikelabuinya.
"Hihihi, dasar orang-orang bodoh! Tidak percuma aku sering menonton film wrongturn." Pria itu menerawang menatap bulan purnama yang terlihat besar. "Tapi Bobi memang tidak bisa dianggap remeh, dia bangkit dari kematian begitu saja."
Romi meraih ransel dan tersenyum lebar. "Aku harus berterima kasih pada Susi, aku tidak akan menyia-nyiakan segala pengorbanannya."
Dengan uang itu Romi akan mengejar Ares dan melacak pria itu melalui ponsel Bobi. Romi menghubungi seseorang melalui ponsel Bobi.
[Buatkan aku paspor baru dan lacak nomor tersebut, aku akan membayarmu 100ribu dolar! Jangan sampai kau meninggalkan jejak!]
Seusai menghubungi seseorang, Romi menghancurkan ponsel Bobi dengan batu. Romi segera pergi meninggalkan tempat itu.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Buat kalian yang kecewa dengan alurnya...aku mohon maaf, terima kasih atas kritik dan sarannya yang secara tidak langsung memberikan aku ide baru yang belum sempat terpikirkan. Sekali lagi makasih banyak... love u all... !