A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 36



Author POV


Rumah Sakit ***


Sesampainya di Rumah Sakit, Sophie langsung di masukkan ke ruang IGD. Sophie mengalami Gawat Janin, gawat janin adalah suatu keadaan dimana janin tidak menerima oksigen cukup. Pola jantung janin pada monitor janin elektronik menunjukkan bahwa bayi dalam bahaya kecuali ia dilahirkan dengan cepat. Salah satu cara untuk mengatasi kondisi ini adalah kelahiran secara caesar.


Dengan penuh rasa khawatir Ares menunggu lampu operasi padam. Deni yang berada di sampingnya terus memberikan semangat.


"Tenang Tuan, Nyonya pasti baik-baik saja," ucap Deni selaku asisten barunya.


Ares menjambak rambutnya frustrasi, dia berfikir jika kejadian tadi malam lah yang menyebabkan Sophie melahirkan sebelum waktunya. Usia kandungan Sophie belum genap 8 bulan.


Selang dua jam, operasi pun usai. Dengan jantung berdebar Ares bangkit dari duduknya memburu dokter yang baru keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaannya Istri dan bayi saya?"


Dokter wanita yang sudah paruh baya tersebut tersenyum ramah. Seburuk apapun rumor dan gosip yang menyebar tentang seorang Ares, tidak menutup matanya akan rasa khawatir pria itu pada istrinya. Ternyata pria itu tidak seperti kabar yang beredar luas. Dokter itu tidak tahu saja, jika yang melahirkan adalah istri ke-2 dari Ares.


"Istri dan bayi laki-laki anda baik-baik saja, beruntung anda segera membawanya ke rumah sakit," jelasnya. "Namun, karena usia bayi yang belum saatnya keluar, mengharuskannya untuk berada di incubator," tambahnya.


Ares bernafas lega. "Terima kasih Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya," angguknya sambil tersenyum.


"Tentu saja Tuan, kalau begitu saya permisi," Dokter itu pun pamit undur diri.


Deni mendekati Ares. "Selamat Tuan, anda sudah menjadi Ayah."


"Terima kasih, Deni... aku sangat senang, Sophie memberikanku seorang putera," Ares berkata dengan sumringah.


"Mari saya antar melihat bayinya," usul asisten Ares diangguki pria itu.


Kedua pria itu berjalan menuju ruangan khusus incubator. Di balik kaca besar itu terlihat beberapa incubator yang berjejer rapi. Deni menghampiri suster dan menanyakan letak incubator bayi Ares. Suster pun memasuki ruangan itu dan berdiri di samping incubator bayi Ares. Manik coklat itu memperhatikan dengan penuh haru, bayi mungil yang masih berwarna merah itu begitu menarik perhatiannya.


Rambut bayi itu lebat, namun ada satu yang mengganjal bagi Ares. Rambut bayi itu berwarna coklat terang, sedangkan dirinya dan Sophie berwarna hitam pekat.


Apa itu warna asli rambut Sophie?


Ares tertegun sesaat mencoba mengamati wajah bayi itu. Kurang jelas, mungkin karena jarak pandang Ares yang cukup jauh dari keberadaan incubator bayinya. Ares berusaha menepis pikirannya yang tidak beralasan.


Deni yang melihat Bosnya terdiam akhirnya bertanya.


"Ada apa Tuan?"


Ares tersadar dari lamunan, dia menoleh pada Deni dengan kikuk. "Ti-tidak apa-apa, aku sebaiknya menemui Sophie," Ares pun akhirnya pergi dari tempat itu. Deni mengekorinya dari belakang.


🍁🍁🍁


Sophie masih tertidur efek dari bius pasca operasi caesar yang dijalaninya. Ares dengan setia menunggu wanita itu di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Ares meminta Deni untuk pulang ke rumah, mengambilkan beberapa pakaian ganti dirinya dan Sophie.


Ares kembali memikirkan bayinya barusan, dan memandang rambut Sophie yang tergerai. Mengambil dan mengusapnya hingga gerakan itu membuat Sophie terjaga.


Mata wanita itu mengerjap, Sophie langsung tersenyum melihat Ares ternyata menjaganya. Segala perhatian Ares selama ini sudah berhasil mengambil hatinya, Sophie mencintai pria itu sejak Ares menghabiskan malam bersamanya. Ares hanya miliknya, dia tidak ingin berbagi dengan siapapun. Meski kenyataannya, dia lah yang merebut Ares dari istri pertamanya, Elara.


"Tuan..." panggilnya.


"Kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu?" tanya Ares.


"Aku baik-baik saja selama ada Tuan," jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Aku senang mendengarnya," Ares merapikan rambut Sophie. "Anak kita laki-laki, dan sehat... terima kasih," ucapnya tulus.


Sophie mengangguk dan memegang tangan Ares. "Aku yang berterima kasih karena Tuan menyayangiku dan anak kita," jelasnya.


Ares tersenyum, tiba-tiba dia ingin menanyakan hal yang mengganjal hatinya sedari tadi. "Sophie... apakah ini warna asli rambutmu?"


Sophie mengeryit lalu terkekeh. "Ada apa Tuan? Tentu saja ini warna asli rambutku, apakah buruk? Tuan ingin aku mewarnainya?"


Pria itu tampak terdiam, dia kembali memikirkan hal yang lain. Dia mengalihkan pandangan kemudian menatap Sophie lekat. Dipandangnya sang istri, kemudian dia menggeleng menepis pikiran gila di kepalanya.


Tidak mungkin kan, jika itu bukan bayi ku?


Sophie melihat ekspresi aneh Ares. "Tuan... kenapa?"


Ares menelisik Sophie kemudian mengusap wajahnya pelan. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu," Ares memalingkan wajah mencari objek lain selain Sophie. "Apa kau lapar? Aku akan membelikanmu makanan," pria itu pun pergi tanpa mendengar jawaban dari istrinya.


"Tuan..." Sophie menatap kesal pintu yang tertutup. "Aku tidak lapar," keluhnya.


🍁🍁🍁


"Tuan tadi keluar kamar," jelas sang bodyguard.


Deni mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, pasalnya ada kabar penting yang harus disampaikan pada Tuannya. Pria itu pun tidak tinggal diam, dia segera memutar langkah untuk mencari Ares sambil menempelkan ponsel di telinganya.


Tidak lama panggilannya pun terangkat.


[Ada apa?] tanya Ares di seberang sana.


[Tuan! Anda di mana?] seru Deni panik.


[Aku sedang membelikan makanan untuk Sophie,]


[Sebaiknya Tuan menyuruh bodyguard saja, karena saat ini kita sedang terdesak.]


Ares mengeryit, mengapa asistennya berkata sepanik itu.


[Ada apa sebenarnya, jangan bertele-tele! Katakan sekarang!]


Deni menarik nafas dalam sebelum berkata. [The Charles Schwab Corporation menarik investasinya pagi tadi, mereka tidak perduli meski dikenakan pinalti yang cukup besar.]


Mendengar kabar tersebut Ares langsung tersentak. [APA?]


[Karena itu, kami mengharapkan kehadiran anda untuk menghadapi keluhan para dewan direksi.]


Tangan pria itu mengepal, apa maksud dari suami barunya Elara itu? Apa ada campur tangan mantan istrinya terkait keputusan sepihak dari suaminya tersebut?


Ares mematikan ponsel dan meremasnya. Jika terbuat dari kaca, mungkin ponsel itu sudah hancur berkeping-keping.


"Sialan!!!"


Mobil pun berbalik arah menuju Gloomy Corporation.


🍁🍁🍁


Elara POV


Kediaman Evans Scoot.


Aku bangun saat matahari sudah di atas kepala. Semua ini karena ulah pria itu, Charles yang masih menyerangku saat pagi tadi. Pinggangku rasanya seperti encok, sakit!


Tante Widi tersenyum sumringah melihatku berjalan menghampirinya.


"Ini dia pengantin baru kita," guraunya membuatku tersipu malu.


"Tante, hentikan," jawabku sambil memegangi kedua pipiku yang merona.


"Panggil Ibu, karena sekarang kamu menantuku," sanggahnya.


Aku mengangguk. "I-iya Bu," suaraku pelan.


Tante Widi, eh maksudku ibu mertuaku memelukku erat. Aku sampai tersentak karena kaget. Pelukan hangat yang membuatku nyaman, aku membalas pelukan itu.


Ibu Widi mengurai pelukan dan menggenggam tanganku. "Ibu sekarang tidak sendiri lagi, karena ada kamu di sini menemani Ibu."


"Aku juga senang karena sekarang mempunyai Ibu lebih dari satu," selorohku membuat Ibu Widi tertawa.


"Kalau begitu, kita harus menghabiskan quality time sebagai Ibu mertua dan menantu, bagaimana?" Tawar Ibu Widi.


"Siapa takut?" Jawabku antusias.


🍁🍁🍁


Author POV


Martha yang memperhatikan majikannya sedari tadi, tersenyum bahagia.


"Aku akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu, Nyonya." Martha mengusap pipinya yang basah. "Melihat Nyonya bisa kembali bersinar sudah lebih dari cukup, rasanya aku tidak menginginkan apa-apa lagi," gumamnya.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih bai k lagi, Enjoy!


Ini ngetik banyak ketunda kerjaan + layanin misua yang baru pulang kerja, mohon dimaklum yang readerku sayang...