
Elara POV
Kediaman Evans Scoot.
Hari ini aku bangun cukup pagi, sebaiknya aku segera mandi sebelum pria yang sedang mendengkur halus di sampingku terjaga. Bisa panjang urusan!
Aku tersenyum menatap diri pada cermin kamar mandi, aku memperhatikan setiap tanda merah yang menghiasi tubuhku. Ketika aku menyentuhnya terbayanglah kilasan kejadian tadi malam setelah pengakuan perasaanku pada Charles. Sudah bisa dibayangkan apa yang terjadi selanjutnya, membuat wajahku memanas.
Charles menyentuhku... membawaku ke dalam kenikmatan yang belum pernah ku rasakan. Apa ini pengaruh hatiku yang sudah mulai mencintainya, hingga setiap sentuhannya begitu memabukkan. Aku menyukainya... aku menyukai Charles lebih dari sebelumnya. Jantungku berdegud dengan kencang, seperti seorang belia yang baru mengenal cinta.
Aku mengatur nafas untuk menenangkan jantungku yang bergemuruh, setelah tenang aku memilih melanjutkan acara mandiku.
Hampir 1 jam aku sibuk untuk bersiap-siap dengan pakaian kantorku. Ekor mataku melirik pada sosok yang masih setia dalam mimpi indahnya, sepertinya kemarin malam dia kelelahan. Aku terkikik geli.
Suara ketukan pintu terdengar, aku langsung berjalan untuk membukanya. Terlihat Martha yang berada di depan pintu dengan wajah merona. Ada apa?
"Kenapa wajahmu, Martha?"
Martha yang sadar akan pertanyaanku malah menunduk. "Hm... tidak apa-apa Nyonya. Di depan ada Tuan Sebastian, beliau mencari Nyonya," ucapnya pelan.
"Ah... suruh dia menungguku sebentar lagi," sahutku yang diangguki olehnya.
Aku kembali memasuki kamar, aku mendapati Charles yang sudah bangun dari tidurnya. Dia duduk di sisi ranjang menatapku dengan tatapan aneh.
"Siapa yang menunggumu, Ara?"
"Sebastian... dia memang kadang menjemputku untuk ke kantor, ada apa?" aku melangkah ke arah meja rias dan merias wajahku. Aku memilih warna peace untuk perona bibirku.
Charles mengikuti setiap pergerakanku hingga membuatku risih. Aku bisa melihatnya dari pantulan cermin. Aku menoleh padanya dengan melipat lenganku.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Dia tidak menyahut, Charles malah beranjak dari duduknya dan menghampiriku dengan keadaan naked. Ya ampun, sesuatu kebiasaan yang tidak baik untuk jantungku.
"Charles, pakai ba-"
Pria itu membungkamku dengan pangutannya, bibirku dilum*at hingga lipstickku berantakan.
"Hmpp... Charles!" aku melepas ciuman itu dengan mata membulat. "Kamu belum gosok gigi!" keluhku.
Charles terkekeh sambil mengusap bibirku yang membengkak. "Tunggu sebentar, aku gosok gigi dulu," dia pergi begitu saja meninggalkan aku yang kesal karena riasanku rusak.
🍁🍁🍁
Setelah drama pagi yang terjadi di kamar, aku akhirnya bisa berangkat ke kantor setelah kesepakatan aneh yang diberikan Charles. Dia melarangku memakai perona bibir, alhasil wajahku jadi pucat pasi seperti orang sakit. "Pakai lipstiknya saat bersamaku saja," pintanya dengan memelas.
"Berpenampilan baik itu juga salah satu attitude dalam berbisnis, aku tidak mungkin menemui clien dalam keadaan seperti orang sakit," sahutku memberinya pengertian.
Pria itu malah mengerucutkan bibirnya dengan wajah masam. Oh... ya ampun suamiku ini membuatku semakin gemas.
"Baik, begini saja! Aku akan ikut mengantarmu ke kantor. Dan ingat... pakai lipstiknya saat diruanganmu, di ruanganmu!" ucapnya dengan sedikit penekanan.
Aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00. "Ok!" jawabku mantap.
Sudahlah, yang penting aku bisa ke kantor dengan segera. Dan beginilah akhirnya, aku duduk di kursi penumpang seorang diri, sedangkan Sebastian dan Charles duduk di kursi depan. Aku bisa melihat ekspresi Sebastian dan Charles yang sama-sama datar dari kaca spion. Aku mengulum senyum menanggapi segala tingkah suami baruku ini. Posessif yang unik, dia selalu merayu dengan manik biru memelas. Membuatku tidak bisa untuk mengatakan tidak.
🍁🍁🍁
Author POV
Rumah Sakit ***
Ares sudah berada di Rumah Sakit pagi-pagi sekali, pria itu tidak langsung ke ruangan Sophie. Tapi pergi menuju ruangan incubator bayinya. Ares bermaksud untuk melihat bayi itu lebih dekat, rasa mengganjal yang ia rasakan semenjak melihat warna rambut bayi itu kian mengganggunya. Untuk saat ini dia bisa bernafas lega, paras bayi itu mirip istrinya. Meski tidak ada yang mirip dengannya, setidaknya bayi itu serupa dengan ibunya.
"Tuan ingin menggendongnya?" tawar suster yang menjaga ruangan.
"Hades... namamu Hades," bisiknya sambil tersenyum.
Perasaan Ares menjadi lebih baik setelah menggendong Hades, puteranya. Dia memasuki ruangan Sophie dengan raut wajah sumringah. Sophie yang melihat hal itu pun akhirnya melontarkan kata.
"Suasana hati Tuan sepertinya sedang baik," wanita itu tersenyum manis seperti biasanya.
Terlihat lengkungan tipis di bibir Ares. "Ya, hatiku senang setelah menggendong anak kita," sahutnya.
"Tuan sudah menggendongnya? Aku belum melihatnya dari kemarin," ujarnya dengan raut sedih.
"Suster bilang, nanti siang Hades akan diantar ke ruanganmu," Ares mengambil apel dan mengupasnya.
"Hades?"
"Ya, namanya Hades. Bagaimana?"
Sophie berseru riang. "Aku suka, nama yang bagus!"
Ares mengulas senyum sambil menyodorkan potongan Apel yang sudah dikupasnya. "Makanlah!"
Sophie menerima apel itu dan memakannya, "Terima kasih, Tuan."
Tidak lama Sophie mengingat sesuatu, dengan ragu dia menyampaikannya pada Ares. "Tuan aku ingin membeli rumah, bisakah aku meminta tanda tanganmu sebagai persetujuan?"
"Rumah?" Ares mengeryit.
Sophie mengangguk. "Iya Tuan, aku ingin membeli rumah salah satu saudaraku untuk membantunya, dia butuh uang dan menawarkan rumah sebagai gantinya," jelasnya.
"Berapa yang dibutuhkan saudaramu? Aku bisa memberikannya tanpa harus membeli rumahnya," sahut Ares membuat Sophie ciut.
Alasan apalagi yang bisa ia minta agar Ares mau menandatangani berkas dari Romi?
"Hm... begitu ya, nanti akan aku tanyakan lagi Tuan," ucap Sophie kikuk.
Ares bukanlah orang bodoh yang bisa begitu saja menandatangani sesuatu tanpa membacanya. Sophie harus mencari cara yang lain, apa memalsukan tanda tangannya? Wanita itu mendadak pening. Dia takut akan ancaman Romi yang akan membongkar semua kebohongannya. Dia tidak siap untuk kehilangan semuanya.
🍁🍁🍁
Waktu pun berputar dengan cepat, 1 bulan telah berlalu. Ares menjalani hidupnya yang terlihat sempurna namun terasa hampa, Sophie yang mendapati bayinya dengan rambut berwarna coklat terang berdalih jika itu pengaruh dari nenek kakeknya yang memiliki warna rambut serupa. Meski terasa ada yang aneh, Ares memilih untuk tidak mempermasalahkannya.
Hades tumbuh dengan baik dalam 1 bulan ini, bayi itu sudah tidak berada di incubator. Sophie dan Hades sudah berada di kediaman Ares seperti biasa, hanya saja mereka terus di awasi dengan dokter pribadi setiap harinya. Paras bayi itu semakin terlihat jelas, menyerupai Sophie Ibunya.
Sedangkan wanita itu terus terbanyangi rasa ketakutan karena belum berhasil mendapatkan apa yang di minta Romi.
Malam itu Ares pulang larut malam, tidak biasanya kakinya mengarah melewati kamar dirinya bersama Elara dahulu. Pria itu memandang sejenak sebelum akhirnya memasukinya. Ares dapat menghirup aroma Elara yang tertinggal samar membuat hatinya ngilu secara tiba-tiba.
Mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan, di mana dulu mereka menghabiskan malam bersama. Ares menghela nafas berat. Dia mendekati ranjang dan duduk di pinggirnya, matanya terpaku pada laci nakas yang sedikit terbuka. Samar terlihat sebuah amplop di sana, Ares mengambilnya. Terdapat dua amplop dengan logo rumah sakit yang tidak asing, rumah sakit keluarganya.
"Apa ini?"
Dibukannya salah satu amplop tersebut, tertera nama mantan istrinya, Elara.
Matanya menelisik setiap kata,tangannya bergetar dengan bibirnya yang mengatup rapat. Secara tergesa dia pun membuka amplop yang lain, amplop dengan nama dirinya.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Eng, ing, eng tunda dulu ya.... HAHAHAHAHAHAHAHAHA... *tertawajahat!