A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 38



Author POV


Gloomy Corporation.


Suara pintu terbuka kasar terdengar memenuhi ruangan.


BRAK


Ares berjalan dengan langkah lebar menuju meja kerjanya dan membanting semua barang yang ada disana.


AAAAARRRGGGG!!!


BRUAKK!!!


BRENGSEK!!!


Umpatan meluncur bebas dari bibir ares. Tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras. Maniknya pun memerah menandakan seberapa marah dirinya. Charles membuatnya kesal, pria itu... dengan berani melontarkan kata yang membuat jantungnya serasa di remas.


"Aku akan membuatnya hamil, kita lihat nanti,"


Kata itu terngiang membuat telinganya sakit. Ares meremas baju di dadanya hingga kusut, dia berusaha menahan perasaan yang kian hari menyiksanya. Perasaan kehilangan yang selama ini disangkalnya.


Deni meringis melihat ruang Tuannya yang seperti kapal pecah. Deni melangkah memasuki ruangan, maksud hati agar bisa meredakan amarah Ares yang memuncak.


"Tuan..."


"Pergi, aku sedang ingin sendiri," ucapnya lirih.


Deni yang tidak berani mengambil resiko akan amarah Ares memilih menurut dan meninggalkan pria itu.


Saat pintu ruangannya tertutup, tubuh Ares merosot, pria itu terduduk di lantai dengan kepala yang tertunduk. Mengapa hatinya tidak tenang, bukankah semua ini keputusannya. Bahkan di akhir pertemuannya dengan Elara dia melontarkan kata bahwa dirinya mengambil langkah yang benar dengan menceraikan wanita itu. Tapi mengapa? Hanya kekalutan yang kini menyelimuti dirinya?


Getaran gawainya menarik atensinya, sebuah nama yang dia harapkan mampu menenangkan hatinya yang gundah gulana. Nyatanya, tidak. Datar dan hampa, itu yang dia rasakan saat ini.


[Halo,] sapa Ares pada penelpon di seberang sana.


[Tuan, anda pergi begitu saja dan tidak kunjung kembali. Ada apa?]


Ares terdiam, dia lupa jika meninggalkan Sophie yang katanya akan dibelikan makanan olehnya.


[Kau sudah makan?]


[Sudah, barusan salah satu bodyguard membawakanku makanan. Bukannya Tuan sendiri yang ingin membelinya, mengapa jadi orang lain yang mengantarnya?]


[Aku ada urusan mendadak di kantor, jadi langsung pergi tanpa pamit padamu. Aku meminta bodyguard membelikanmu makanan,]


[Iya, tidak apa-apa Tuan. Apa Tuan akan kembali ke sini? Aku kesepian,]


Wanita itu berusaha membujuk Ares yang masih dalam keadaan gamang. Tidak ada sahutan membuat Sophie kembali memanggilnya.


[Tuan...?]


[Ah... ya?] Sahut Ares yang baru saja termenung.


[Tuan akan menemaniku di sini?]


[Baik... aku akan ke sana setelah pekerjaan selesai, beristirahatlah!] pinta Ares.


[Iya Tuan, aku akan istirahat.]


[Bagus, kalau begitu aku tutup dulu,] Ares memutus panggilan dan menghempas ponselnya ke sofa. Menengadahkan pandangan pada langit-langit ruangan sambil memejamkan mata.


🍁🍁🍁


Rumah Sakit ***


Sophie menatap datar ponselnya. Suara suaminya begitu biasa, apa begini respon seorang yang telah menjadi Ayah? Wanita itu menghela nafas lelah. Merebahkan diri pada ranjang rumah sakit yang sudah mulai membuatnya bosan. Sophie ingin keluar, setidaknya jalan-jalan dan berbelanja. Menghabiskan uang suaminya yang tidak kunjung berkurang. Menikahi pria kaya adalah keputusan paling relevan selama hidupnya meski dia sama sekali tidak menyangka akan dinikahi pria seperti Ares.


Tidak berapa lama datanglah seseorang membuat wanita itu terperanjat.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Desis wanita itu.


Orang itu menyampirkan jasnya pada kursi lalu dilipatnya kemeja hingga ke siku. Romi datang dengan pakaian serba hitam. Wajah lokal yang tidak bisa di bilang buruk rupa, wajahnya cukup baik untuk sekedar menemani pergi ke acara pernikahan mantan kekasih. Seringai terlihat melengkung di bibir pria itu.


"Kenapa kau begitu? Aku hanya ingin menjenguk Nyonya Atmaja yang baru saja melahirkan penerus," dia mendaratkan bokongnya di kursi samping ranjang Sophie.


Mata Sophie memandangnya dengan nyalang, entah mengapa dia takut jika sudah berdekatan dengan pria itu. Romi hendak menyentuh perut Sophie hingga wanita itu terkesiap. Sophie berusaha menghindar membuat Romi terkekeh.


"Uh... jual mahal sekali kamu sekarang,"


"Apa mau mu? Berhenti menggangguku!"


Romi mencengkeram pipi Sophie. "Hei... jangan sombong, kau lupa apa yang sudah ku perintahkan? Apa ingin ku bongkar semua agar suamimu mencampakkanmu?"


Sophie tersenyum di tengah ringisan karena cengkeraman Romi. "Kamu di turunkan dari jabatan karena kesalahanmu sendiri, mengapa kesal padaku?"


Manik hitam itu berkilat. "Masih pandai bersilat lidah, dasar ular." Dihempaskan wajah wanita itu.


"Kau tidak akan berani, kau pun akan terseret. Kau biang keladi semua ini!"


Romi tergelak. "Hahahaha, iya... tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah berfoya-foya dengan uang hasil korupsiku, sedangkan kamu? Bagaimana nasibmu setelah itu? Anakmu? Kau mau tinggal di jalanan? Kembali menjual diri?"


"Tutup mulutmu! Apa bedanya jika aku menyerahkan semua padamu, Ares akan miskin. Apa untungnya bagiku?"


"Hm... betul juga. Kau memang pandai jika urusan uang ya! Aku akan memberikan bagianmu, tenang saja!"


Sophie terdiam, itu memang rencana awalnya. Menguras habis harta Ares dan meninggalkannya. Tapi kini Sophie telah mencintai suaminya, untuk meninggalkan pria itu adalah hal terakhir yang akan dia ambil. Saat ini dia hanya ingin menjalani hidup bahagianya bersama Ares.


"Kau mencintainya?" Pertanyaan itu menyadarkan Sophie dari lamunan.


"Aku..." ucapnya tertahan.


"Kalau begitu kau harus menemaninya saat jatuh miskin, karena dari awal bukan itu kesepakatannya. Pilih mana? Aku bongkar semua dan kehilangan cinta suamimu atau... memberikan berkas itu padaku, aku akan memberikan bagianmu. Kurasa cukup untuk hidupmu bersama suamimu tercinta nanti," bujuk Romi membuat Sophie bimbang.


Romi beranjak dari duduknya dan meraih jas lalu mengenakannya. "Pikirkan dengan baik, kau dan aku akan berakhir bahagia atau hancur bersama semua tergatung pilihanmu," ucap pria itu kemudian pergi meninggalkan Sophie.


Wanita itu meremas selimut hingga kusut. Hatinya dan pikirannya berkecamuk. "Apa yang harus aku lakukan?" Lirihnya.


🍁🍁🍁


Elara POV


Kediaman Charles Scoot


Waktu telah menunjukkan pukul 19.00, aku baru saja selesai mandi setelah seharian berkeliling menemani Ibu mertuaku berbelanja. Rasanya senang sekali, aku sampai lupa waktu saking keasyikan. Kami bagai teman sebaya, Ibu bahkan mengajakku menonton film drama romantis yang seharusnya aku tonton bersama Charles.


Ngomong-ngomong, kemana suamiku itu ya?


Aku kembali melihat jam di atas nakas, takut jika aku salah melihat. Benar pukul 19.00, tapi pria itu belum menampakkan batang hidungnya. Dasar gila kerja, padahal kami masih pengantin baru. Mengapa dia tidak mengajukan cuti?


Aku memilih untuk berganti baju, aku membuka paper bag pemberian Ibu Widi. Tadi beliau berpesan untuk mengenakannya malam ini, aku mengeryit ketika potongan baju itu ku keluarkan.


Ini... ya ampun.... lingerie!


Aku memasukkan kembali ke dalam paper bag. Aku mengibaskan tangan pada wajahku yang menghangat.


"Tidak, aku tidak boleh memakainya. Jika tidak... aku akan kembali habis malam ini," gumamku sambil mengusap tengkuk yang meremang.


Aku marasakan sesuatu yang hangat menerpa tengkukku hingga akhirnya aku menoleh dan saat itu juga aku terkesiap. Charles menghambur memelukku yang hanya memakai handuk.


"Ara..."


"Charles, kau mengagetkanku!"


Pria itu terkekeh dan melepas pelukan. Pria itu merapikan anak rambutku yang menjuntai. "Kau cantik sekali, lelahku langsung hilang setelah bertemu denganmu," ucapan pria itu langsung membuat wajahku memerah.


"Dasar gombal!" Aku menepuk bahunya gemas.


"Kemari," Charles menuntunku menuju ranjang. Aku meringis karena takut akan adegan selanjutnya.


Tanpa diduga pria itu merebahkan kepalanya di atas pangkuanku setelah sebelumnya memintaku duduk di sisi ranjang.


"Kau sakit?" Aku menempelkan telapak tanganku pada keningnya.


Charles menggeleng, dia malah membalik tubuh untuk mencium perutku dan berbisik.


"Tumbuhlah sayang, papa menantikanmu,"


Aku terperanjat, apa Charles sangat mengharapkan kehadiran seorang anak? Hatiku pun menciut.


"Ara... kau pasti akan menjadi seorang Ibu, kita hanya butuh waktu dan terus berusaha," Charles berkata dengan manik mengunciku.


Aku memalingkan muka. "Jangan terlalu berharap, bukankah kau mendengar kabar jika aku-"


Charles menaruh telunjuknya di bibirku menghentikanku berbicara. "Aku tidak percaya gosip, aku percaya dirimu. Kamu pernah bilang pada Ibu jika hasil tes kesuburanmu baik, dan kalaupun memang kabar itu benar. Kita bisa memakai berbagai cara di dunia ini agar kamu bisa menjadi seorang Ibu. Bayi tabung atau semacamnya, atau kita mengambil bayi di panti asuhan, apapun itu. Tidak ada yang tidak mungkin."


Aku mengangguk sambil menahan air mataku yang tertumpuk di pelupuk mata.


Pria itu bangkit dan memelukku. Aku merangkul lengan kekarnya yang selalu membuatku merasa aman.


"Aku harap ini air mata terakhirmu, jangan bersedih lagi atau rendah diri. Kau begitu sempurna untukku, cam kan itu Ara... kau adalah kesempurnaan hidupku," kembali ucapannya membuatku begitu berharga.


Aku meraih wajahnya agar menatapku dengan mata yang basah. "Terima kasih... aku rasa... aku sudah jatuh cinta padamu... Charles."


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Huaaahhh... sempet gak neh up... hahahaha