
Elara POV
Kediaman Evans Scoot
"Ara... kita makan sate yuk!" ajak Charles dengan nada manja.
Aku memutar mata malas, sejak aku mengalami ngidam belum lama ini sikap Charles menjadi semakin aneh. Harusnya aku yang bermanja-manja, tapi malah sebaliknya. Aku memang mengalami morning sickness, tapi untuk keinginan memakan sesuatu malah tidak ada. Biasa saja... aku tidak ingin apa-apa.
Tapi suamiku ini malah menginginkan berbagai macam makanan, contohnya kemarin. Dia ingin makan soto kudus yang di masak di tempat asalnya, jika tidak pria itu merajuk hingga menangis. Aku harus menenangkannya, seorang ibu hamil!
"Apa kau tidak tau, jika ibu hamil dilarang memakan sesuatu yang di bakar langsung di atas api?"
"Benarkah? Padahal aku ingin sekali memakan itu," keluhnya.
"Ya sudah, kau saja yang memakannya!" jawabku asal.
Hari ini aku merasa lebih lelah dari biasanya, pinggangku terasa sakit.
Charles terdiam, aku melirik pria itu yang ternyata sedang menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kau marah padaku? Aku memang bukan calon papa yang baik, tidak seharusnya kau menikahi pria sepertiku!" suaranya bergetar.
Ya tuhan, aku ingin menghilang. Apa kata orang nanti jika melihat hal ini, aku seperti menganiaya seorang pria berbadan besar. Andai ia sadar itu!
"Aku tidak marah, sudah jangan bersedih," sergahku. Namun pria itu masih bergeming dengan wajahnya yang semakin memelas menyedihkan.
"Aku tau, Ara jika kau belum mencintaiku, makanya-"
"Baik-baik, kita makan sate. Aku akan menemanimu makan sate, Ok!" sela ku saat semua ucapannya semakin melantur dan membuatku pening.
Wajahnya langsung berbinar dan tersenyum sumringah. Dia mengangguk membuatku menghela nafas. "Terima kasih, sayang! Aku tau kau mencintaiku," selorohnya sambil memelukku.
Sabar Ara... ingat jika dia adalah suamimu, ayah dari anakmu. Batinku dalam hati.
Entah bawaan bayi atau apa, aku menjadi sering sebal melihat Charles, apapun yang diperbuatnya membuatku kesal. Kadang aku merasa kasihan dengan dirinya yang sering mendapatkan sikap dingin dariku.
Aku membalas pelukannya.
"Maaf jika aku menjadi menyebalkan, apa kau ingin meninggalkanku karena itu?"
Charles melepas pelukan dengan kerutan di dahinya, wajahnya terlihat sedih kembali. "Kau bicara apa? Aku tidak suka kamu berkata seperti itu, jangan diulangi!"
"Aku sering mengacuhkanmu, tidak jarang aku menjawab semua perkataanmu dengan ketus, aku tidak tau kenapa, aku sebal dan kesal denganmu," ucapku lirih, tanpa terasa aku menitikkan airmata.
"Stss... tidak apa-apa! aku tau pasti baby kita yang kesal padaku, dengan begitu nanti dia akan mirip denganku," Charles berkata dengan percaya diri, dia mengusap air mataku dan mengecup setiap kelopak mataku dengan lembut.
Ah... bagaimana aku tidak meleleh jika dia selalu bersikap manis padaku?
"Kau narsis!" kekehku.
"Tentu saja," Charles beranjak berdiri dan menuntunku untuk ikut bersamanya. "Ayo kita makan sate!" serunya membuatku terkikik geli.
Aku pikir dia akan lupa dengan makanan itu, ternyata tidak.
🍁🍁🍁
Author POV
Kediaman Ares Dawson Atmaja
Sophie tersenyum manis ketika Ares membubuhkan tanda tangan di berkas yang diberikannya. Dengan ini semua beres. Wanita itu tidak akan di ganggu lagi oleh Romi, pria itu menjanjikan sejumlah uang yang cukup besar untuk dirinya dan Ares hidup nanti. Yang terpenting sekarang adalah segala rahasianya tidak akan pernah terbongkar. Sophie akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Ares, bersama anak mereka. Itu pikirnya...
Ares mengangguk, dia membuka laci meja kerjanya. "Kapan kau akan mengurus berkas itu?" tanya Ares.
"Hm... besok aku akan menyerahkan berkasnya pada saudaraku," sahut Sophie.
"Akan aku siapkan uangnya besok," Pria itu menatap pigura di dalam laci sebelum menutupnya. "Apa kau ingin aku temani?"
Sophie langsung tersentak ketika Ares menawarkan diri, dia menggeleng kikuk. "Tidak, tidak perlu Tuan! Aku bisa sendiri."
"Baiklah, aku akan pergi ke kantor sekarang," Ares beranjak dari kursi kerjanya.
"Iya... Tuan, hati-hati di jalan." Wanita itu berjalan mengiringi Ares yang keluar dari ruangan kerjanya.
Sophie merasakan sikap aneh Ares yang tidak seperti biasanya. Karena setiap berangkat, Ares pasti akan mengecup keningnya. Tapi sekarang pria itu meninggalkannya begitu saja.
"Tuan..." panggil Sophie.
Ares menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Sophie. "Ada apa?"
"Sepertinya Tuan melupakan sesuatu," Sophie berkata dengan raut sedih lalu menunjuk keningnya.
Pria itu terdiam sebelum akhirnya tersenyum tipis sambil berkata. "Maaf, aku lupa," Ares mendekati Sophie dan mengecup singkat wanita itu. Kembali Sophie menahan langkahnya.
"Hades belum," tambahnya.
Wajah Ares tampak menunjukkan raut datar dan kembali tersenyum samar. Sophie menuntun pria itu menuju kamar bayi, langkah Ares terhenti di depan pintu kamar. Menelisik setiap sudut ruangan yang di cat dengan warna biru langit, banyak hiasan yang terpasang di dinding, memberikan kesan nyaman dan ceria.
Sophie menggendong bayi yang baru berumur satu bulan itu dengan tubuh gemuk berisi, bayi yang menggemaskan siapa saja yang melihat.
"Hades, lihat Ayah! Ayo beri semangat Ayah agar semangat bekerja," ucap Sophie pada baby Hades.
Ares memperhatikan atraksi mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan, Ares pun memasuki kamar itu. Dibelainya pipi baby Hades yang chubi, dan tangannya terhenti di kepala baby itu. Rambut coklat terang yang selalu mengusik hatinya. Dengan perlahan Ares mendaratkan kecupan di kening baby Hades. Sophie tidak bisa menyembunyikan perasaan terharunya, dia sangat bahagia.
🍁🍁🍁
Ares menatap kosong gawainya yang menampilkan berbagai berita tentang kehamilan mantan istrinya. Wajah Elara dengan berbagai macam outfit berseliweran di dunia maya. Wanita itu semakin cantik dari hari ke hari membuat hati Ares sesak.
Pria itu kini hanya bisa menyesali apa yang sudah terjadi, dengan sadar telah melepaskan sesuatu yang sangat berharga di hidupnya. Nyatanya, hatinya memang hanya terisi wanita yang menurutnya kaku itu. Ares masih mencintai mantan istrinya, Elara.
"Aku baru menyadarinya, jika kau sangat berarti... dan aku masih sangat mencintaimu... Ara..." suaranya lirih dan pedih.
Deni tidak mendengar apa yang dikatakan Ares namun, pria itu tau jika Tuannya sedang tidak baik-baik saja. Sophie sempat menanyakan sebab Ares tidak sadarkan diri pada dirinya. Tapi seperti tau apa yang di pikirkan Ares, Deni memilih bungkam dan menggeleng tidak tahu.
Mobil Ares berhenti menandakan bahwa mereka telah sampai pada tempat tujuan, pria itu pun menuruni mobil dengan wajah tanpa ekspresi. Seorang pria tinggi besar dengan kepala plontos menghampiri lalu memberi hormat.
Deni sempat bergidik ngeri saat melihat pria itu. Untuk apa Tuannya pergi ke tempat sepi begini, sebuah ruko berlantai tiga yang terbengkalai. Lokasinya berada di pinggiran kota, Deni hampir tidak menyadari jika ada deretan ruko di daerah itu.
"Tuan Ares, silahkan masuk! Tuan Bobi telah menunggu di dalam,"
Ares mengangguk dan memasuki ruko tersebut, Deni mengekori Tuannya mesti dengan takut-takut. Bisa di lihat jika mereka bukanlah orang-orang biasa. Apa mereka mafia? Deni hanya bisa berharap hingga pulang nanti tubuhnya masih utuh dan tidak babak belur.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Makasih untuk kalian yang masih setia menungguku yang tidak jelas ini, berusaha mengetik agar hutangku pada kalian terlunasi. Semoga tidak membosankan, dan selamat membaca .... love u all!