A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 23



Author POV


The Charles Schwab Corporation.


Kursi kerja itu berputar membuat pusing sang asisten. Charles tersenyum jumawa mengingat tadi Ara mengecup pipinya di hadapan orang banyak.


"Hmmm... bahkan aku dapat menghirup harum manis buah cherry dari tubuhnya," gumamnya dengan wajah mesum. Dia melompat dari kursinya lalu mendekati asistennya yang terkejut. "Ara akan menikahiku!"


"Ara, siapa Tuan? Pacar Tuan yang baru?" ucap Ardan selaku asisten Charles.


Charles memukul kepala Ardan dengan majalah bisnis. "Aku tidak punya pacar baru! Aku hanya punya calon istri, Elara Nasution!"


"Nyonya Elara istrinya Tuan Ares?" Pria itu terkesiap.


Kembali majalah itu mendarat di kepalanya, kali ini dengan lebih keras. "Jangan kau sebut nama si brengsek itu, pria pecundang itu tidak pantas mendampingi Elara!" sungutnya. "Mereka sudah bercerai, jangan pernah kau hubungkan mereka lagi di hadapanku, mengerti?!" Charles menggeram hingga Ardan menelan saliva karena takut.


"Ba-baik Tuan," cicitnya sambil mengusap kepalanya yang ngilu.


Charles tidak pernah menyesal telah melakukan hal nekat, katakanlah jika ia berbohong tentang malam itu. Malam di mana Elara menidurinya, padahal tidak. Dia hanya bersandiwara, untuk menjerat Elara dalam dekapannya. Disaat dia sibuk mencari cara bagaimana mendapatkan wanita itu, Tuhan malah memberinya jalan tanpa diduga.


Mereka dipertemukan ketika Elara sakit hati karena diceraikan, pucuk dicinta ulam pun tiba. Tentu saja pria itu tidak akan menyianyiakan kesempatan emas itu, dengan bermodal cubitan diri sendiri di sekujur tubuh, Elara mempercayainya jika wanita itu telah mengambil keperjakaannya. Kini warna cubitan itu mulai membiru membuat tubuh Charles seperti macan tutul.


Dia beraba setiap tanda sambil membayangkan hal yang tidak-tidak. "Akan nikmat sekali jika ini ulahmu, Ara. Sayangnya bukan, yang kini kurasakan hanya ngilu," keluhnya di depan cermin. "Tapi tidak apa-apa... yang penting kau akan menikahiku," serunya sambil bersenandung.


Ardan hanya bisa menahan ngeri melihat Tuannya yang berbicara dan tertawa sendiri. Wajah berseri-seri Tuannya belum pernah ia lihat sebelumnya.


Semoga bukan hal buruk yang akan terjadi, batinnya.


🍁🍁🍁


Elara POV


Kediaman Satya Nasution


Aku sibuk membantu Ibu memilih menu dinner malam ini, kami akan makan malam bersama setelah sekian lama. Sejak aku menikah dengan Ares, aku jarang sekali mengunjungi orang tuaku. Semua karena waktuku yang tersita oleh perusahaan dan Ares. Dialah poros hidupku selama ini. Keluargaku pun memakluminya karena memang itu sudah kewajibanku sebagai Istri sekaligus Nyonya Atmaja.


Mereka semua belum aku beritahu perihal perceraianku hari ini dengan Ares. Aku berencana mengabarkannya nanti, saat makan malam berlangsung.


"Pria yang mengantarmu tadi putera Evans Scoot ya? Suami Widiawati, sahabat Ayahmu?" tanya Ibu sambil memperhatikan para pelayan yang menata meja makan.


"Iya Bu," sahutku.


"Kenapa bukan Ares yang mengantarmu?" pancing Ibu.


"Nanti kita bahas saat makan saja ya, Bu! Aku ingin tidur di pangkuan Ibu, boleh?"


Wajah Ibu tampak menegang kemudian ia tersenyum. "Kamu ini, seperti anak kecil saja," Ibu menuntunku menuju sofa.


Ibu duduk lalu menarikku untuk duduk di sampingnya, merebahkan kepalaku di pangkuannya. Aku memejamkan mata, ini sungguh nyaman... sudah lama aku tidak setenang ini. Aku memeluk kaki Ibu, tak terasa air mataku menetes. Tangan hangat yang sering kurasakan dari Ibu mertuaku kembali ku rasakan. Aku rindu dirinya... aku rindu Ibu mertuaku.


"Ara, kamu kenapa?" Ibu merasakan tubuhku yang bergetar. Aku menggeleng dan semakin mengeratkan pelukanku.


"Aku tidak apa-apa Ibu, biarkan begini sebentar saja," pintaku yang akhirnya membuat Ibu terdiam namun, tetap mengelus lembut kepalaku.


🍁🍁🍁


"Aku dan Ares sudah bercerai," ucapanku menghentikan kegiatan makan Ayah, Ibu dan Kakakku.


"Apa katamu?" tanya Ayah. Ibu menatap bingung padaku.


Aku melihat mereka satu persatu. Dengan lantang aku kembali mengucapnya. "Aku sudah bercerai hari ini dengan Ares," bantingan sendok terdengar dari arah Ayahku.


"Apa-apaan ini? Kalian memutuskan begitu saja tanpa membicarakannya dengan Ayah!" Ayah menggeram.


"Bagus, tinggalkan saja pria pecundang seperti dia. Aku mendukungmu, Ara!" seloroh Januar sambil mengacungkan jempol.


"Januar!" hardik Ayah membuat Kakak diam.


"Ares yang menceraikanku," jawabku lirih.


Ayah berdiri dari duduknya, ia seperti hendak pergi ke suatu tempat namun, aku menghadangnya.


"Ayah, aku sudah bersedia. Biarkan saja, aku tidak apa-apa," sanggahku.


"Dia pikir siapa dia? Semua ini pasti karena gundik itu, biar Ayah beri dia pelajaran. Kemarin Ayah diam karena kamu meyakinkan Ayah, dan ini akhirnya?!" Satya ingin meledak rasanya. Membakar perusahaan mantan menantunya sepertinya adalah ide bagus.


Aku mencekal dan melontarkan kata yang dapat membuat Ayah diam. "Bukan salah wanita itu, jika bukan tuan rumah yang mengijinkannya masuk. Tidak mungkin semua ini terjadi, ini pilihan Ares. Dan aku menghargainya, biarkan dia... karena kali ini kita sudah tidak berhubungan lagi dengan Atmaja."


Ayah memelukku erat. "Ayah tau seberapa berartinya keluarga itu untukmu, andai Ares melihat baktimu sebagai seorang menantu... dia tidak akan sekeji ini," aku membalas pelukannya.


"Aku akan berusaha mengikhlaskannya, mungkin ini memang jalan Tuhan... Ayah, aku hanya butuh dukungan kalian..." Ayah mengangguk. Aku tersenyum sambil melepas pelukan. "Ayo kembali makan, masih ada yang ingin aku sampaikan pada Ayah, Ibu dan Kakak."


"Apa itu?" tanya Ibu penasaran.


Aku menuntun Ayah kembali ke kursinya. "Aku akan menikah minggu ini," jawabku.


"APA?!" ucap Ayah, Ibu dan Kakak serentak. Aku hanya bisa tersenyum kikuk menanggapinya.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya.


Berita tentang perceraianku tersebar luas di dunia maya. Tinggal menunggu tersebar pula di media elektronik maupun cetak. Entah siapa yang membocorkannya, mungkin pihak Ares sudah tidak sabar untuk mengganti posisiku dengan wanita itu.


Martha sibuk membahasnya membuatku pusing. "Nyonya, wanita itu selama tidak ada Nyonya selalu seenaknya. Apa lagi sekarang setelah Nyonya tidak ada, sudah jadi bos besar di sana," sungutnya.


"Biarkan saja," jawabku asal.


"Sungguh malang nasib Tuan... Tuan pasti akan menyesal telah melepaskan Nyonya," celotehnya sambil menyisir rambutku.


"Martha... bagaimana menurutmu dengan Charles," ucapanku berhasil membuat gadis itu bungkam. Aku terkikik geli melihat matanya yang membola.


"Tuan Charlea yang mengantar Nyonya?"


Aku mengangguk. Setelah mengantarku kemarin, aku belum melihatnya lagi. Aku juga lupa untuk meminta kontaknya. Aku belum berterima kasih karena bantuannya, sehingga aku tidak tampak menyedihkan di hadapan Ares dan wanita itu.


"Tuan Charles itu... tampan... bagaimana menjabarkannya ya Nyonya, saya saja sampai terpesona. Nyonya benar-benar akan menikah dengannya?"


"Dia melamarku 1 minggu sebelum perceraian, aku tidak tau Martha... hanya saja aku harus mempertanggung jawabkan sesuatu dan aku harus menikahinya," hatiku masih gamang.


"Kalau aku jadi Nyonya seh tidak masalah kehilangan Tuan Ares, lalu menikah dengan Tuan Charles. Ibaratnya menghempaskan barang bekas ke tempat sampah dan membeli barang baru yang masih gress!" ucapnya berapi-api. "Jadi tidak ada alasan untuk Nyonya bersedih... Nyonya dapat perjaka!"


Kata perjaka itu membuatku teringat kejadian malam itu, benarkah aku merenggutnya? Aku memalingkan wajahku yang memanas, bayangan sesuatu yang besar itu terlintas begitu saja.


Ya ampun, seharusnya aku tidak berbicara apapun dengan Martha!


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Makasih yang setia nungguin aku...


Ayo Tim Ara ❤ Charles mana suaranya?


Adakah Tim Ara ❤ Ares disini?


Or maybe ada juga Tim Ares ❤ Sophie?


Tim Ara ❤ Sebastian kali ada gitu?