A Husband's Regret

A Husband's Regret
Part 52



Elara POV


Seorang pelayan menaruh minuman yang kami pesan. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


“Minumlah,” Ares berkata sambil menyesap kopinya.


Aku pun ikut menikmati Vanilla latte dengan creamer extra. Ares menatapku aneh, aku terusik.


“Ada apa?” tanyaku setelah menaruh cangkir itu di atas meja.


Ares menggeleng, dia hanya tersenyum tipis.


Ah, sudahlah. Pria ini semakin aneh menurutku.


Aku mengeluarkan sebuah kotak dan menaruhnya di hadapan Ares. “Aku ingin mengembalikannya, aku rasa istrimu lebih layak untuk memilikinya dibandingkan aku.”


Ares meraih kotak itu dan membukanya. Maniknya menajam seketika. “Ara, aku memberikan ini memang khusus untukmu!” ucapnya tidak suka.


“Maaf jika aku menyinggungmu, tapi aku sungguh tidak ingin memilikinya.” Aku berkata jujur.


Ares mengepalkan tangannya, matanya tampak memerah. Dia menghelan nafas tertahan. “Aku tau… aku banyak salah padamu, Ara… aku minta maaf,” Ares meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku terhenyak dengan sikapnya yang tiba-tiba.


“Ares,”


“Ara… aku masih mencintaimu… tidak… selama ini memang hanya kamu di hatiku. Tapi harga diriku terlalu tinggi hingga menganggap remeh perasaan ini yang semakin hari mencekikku. Aku terlambat menyadarinya, aku menyesal Ara… sungguh!”


Aku membelalakkan mataku, Apa yang dia bicarakan? Aku berusaha menarik tanganku namun, Ares menahannya.


“Ares, kau sadar aku siapa sekarang?” desisku.


“Kau Nyonya Atmaja!” serunya lantang.


Aku terkekeh. “Itu dulu, sebelum kau menceraikanku. Ares! Apa kau tidak ingat? KAU YANG MENCERAIKAN AKU!” aku berteriak.


Mengapa dia harus kembali mengorek luka yang telah susah payah aku obati?


“Ya, aku salah! Aku orang paling bodoh di dunia ini, beri aku kesempatan, Ara!” nadanya masih tegas namun rautnya memelas.


“Aku bukan barang yang bisa seenaknya kau buang lalu kau ambil lagi!” aku menarik paksa tanganku dan berhasil.


“Kau bilang, kau memaafkan aku,” ucapnya lirih.


Aku mengusap tanganku yang dicekalnya cukup keras hingga memerah. “Aku memang sudah memafkanmu, tapi bukan berarti aku akan kembali padamu!” Aku beranjak dari dudukku hendak pergi namun Ares menahanku dengan kata-katanya.


“Charles hendak membeli Atmaja, kau tau?”


Aku membulatkan mata. “Apa? Tidak mungkin, aku tau Charles seperti apa, dia tidak akan menghancurkan Atmaja yang begitu berarti bagiku!”


“Atmaja selalu ada di hatimu, Ara!” Ares tersenyum dengan mata yang basah. Apa tidak salah? Ares menangis.


Aku berdecih. “Atmaja yang berarti untukku adalah mendiang Ibumu, bukan kamu!” ucapku penuh penekanan.


“Aku tau, itu sudah cukup. Terima kasih… dan maafkan aku, Ara.”


Aku menggeleng tidak habis pikir, sebaiknya aku pergi. sudah tidak ada urusan lagi aku dengan pria egois seperti dirinya. Beberapa langkah aku berjalan kepalaku mendadak pusing. Aku terhuyung sambil berpegangan pada kursi. Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan Sebastian namun, pria itu tidak ditemukan. Kemana dia?


“Sebastian…” ucapku lirih dengan rasa kantuk yang amat hebat. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku menoleh ke belakang. Melihat Ares yang menatapku sendu hingga akhirnya pandanganku menjadi gelap gulita.


🍁🍁🍁


Author POV


30 menit sebelum kejadian Elara tidak sadarkan diri.


Sebastian berjalan menuju meja lain yang tidak jauh dari meja Nyonya-nya. Dia merasakan ada yang janggal dengan mantan Tuannya. Baru 5 menit Sebastian mengamati interaksi Elara dengan Ares, pria itu mendapatkan panggilan dari sebuah nomor tidak dikenal.


“Siapa?” Sebastian sempat menoleh ke arah Ares sebelum dirinya beranjak dari kursi dan berjalan menuju toilet Café.


Sebastian mengangkat panggilan itu namun, orang di seberang sana tidak mengucapkan sepatah kata pun. “Halo? Siapa ini? Halo?”


Sebastian menatap kesal ponselnya dan mematikan sambungan. “Orang iseng tidak jelas!” gerutunya.


Pria itu melihat sekitar, matanya jatuh pada pelayan yang mengantar minuman pesanan Nyonya-nya Elara. Dikerahnya terdapat sebuah lencana kecil yang tidak asing untuknya.


Sebastian ingat di mana dia melihat lencana itu, lencana yang dikenakan oleh seluruh anak buah Ares. Pikiran pria itu menjadi kalut, jangan-jangan Tuan Ares merencanakan sesuatu yang tidak baik pada Nyonya-nya mengingat barusan mantan Tuannya itu hanya seorang diri. Pria itu memanipulasi dan bertindak seolah tidak berbahaya, padahal menyimpan perangkap di segala penjuru ruangan Café.


Sebastian segera memutar tubuh untuk kembali memasuki ruangan namun, tiba-tiba ada yang memukul punggungnya dengan keras.


BUGH!


Sebastian pun seketika tersungkur tidak sadarkan diri.


[Tuan, Asistennya telah dilumpuhkan,] ucap seorang pria besar yang telah memukul Sebastian lewat headseatnya.


Ares meraih Elara yang hampir terjatuh ke lantai. Digendongnya wanita itu dengan perlahan, merapikan rambut Elara yang berantakan. Maniknya menatap dalam wanita yang terpejam dalam gendongannya.


“Maaf Ara, aku terpaksa… aku akan menebus semua kesalahanku padamu,” Ares mengecup kening Elara dan membawanya pergi dari Café itu.


Deni berjalan setengah berlari menghampiri Ares yang hendak memasuki mobil.


“Tuan, haruskah sampai sejauh ini?”


“Aku harap kau mengerti aku, Deni. Siapkan pesawat dalam waktu 30 menit, aku tidak mau sampai terlambat!” Pria itu berkata dengan dingin.


“Lalu, bagaimana dengan Nyonya Sophie?”


Mata Ares berkilat membuat Deni merinding. “Jangan pernah sebut nama wanita itu lagi di depanku, mengerti?!”


Deni mengangguk seketika karena intimidasi Ares, pria itu pun menghubungi seseorang guna mempersiapkan penerbangan yang diinginkan Tuannya.


Ares mengeratkan pelukan sepanjang jalan perjalanan menuju landasan penerbangan pribadinya. Dikecupinya tangan Elara yang memerah karena cekalannya tadi. “Maafkan aku, Ara… maaf.”


Sedangkan Elara benar-benar tidak bergeming seperti putri tidur yang tidak dapat bangun tanpa ciuman sang pangeran.


🍁🍁🍁


Bandara, Semarang.


Charles baru saja sampai Semarang, hatinya mendadak tidak enak. Bahkan saat di pesawat tadi cangkir yang dipakainya retak hingga kopi pesanannya bercucuran kemana-mana. Di tekannya tombol dial otomatis memanggil Elara istrinya. Sudah panggilan ke-10 yang tidak terjawab dan berakhir dengan ponsel yang tidak aktif.


“Ada apa ini? tidak biasanya Ara tidak mengangkat telponnya,” rasa khawatir semakin merasuk ke dada.


Dengan terburu-buru pria itu menelpon ke nomor kediamannya. Namun, informasi jika istrinya belum pulang membuatnya semakin kalut.


“Ardan! Tunda keberangkatan kita ke pabrik. Kamu kirim seseorang menuju sana terlebih dahulu mewakiliku, aku merasakan ada yang tidak beres dengan istriku,” jelasnya diangguki Ardan yang segera menghubungi anak buahnya.


Tidak akan ada yang beres jika menyangkut mantan suami istrinya itu. Charles menjambak rambutnya frustasi, bagaimana menghubungi istrinya. Sejenak ia teringat Sebastian, baru dirinya akan menghubungi pria itu ternyata yang bersangkutan lebih dahulu menghubunginya.


[Halo, Sebastian!]


[Tuan,Nyonya!]


[Ada apa dengan istriku?] suara Charles meninggi bercampur khawatir.


[Saya benar-benar minta maaf Tuan, saya lengah,] sesal Sebastian.


[KATAKAN APA ADA DENGAN ARA?] Charles berteriak.


[Nyonya, menghilang! Beliau… di bawa Tuan Ares,]


PRAK!


Suara ponsel terjatuh mengambil atensi Ardan yang sedang menelpon. Tampak tubuh Tuannya yang bergetar sebelum pria itu berteriak.


“AKU AKAN MEMBUNUHMU, ARES!!!”


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Hm… kerasa teganggnya gak?? Klo kurang tegang coba cek token listrik yang tinggal sekarat, dijamin tegang deh… hehehehehe… peace ah reader sayang, love you all…!