
Author POV
Cafe***
Januar mulai mendekati perusahaan Lukoil, dia menyamar sebagai perusahaan baru yang merambah di bidang pertambangan minyak bumi. Proposal pengajuan kerjasama telah dia berikan dan hari ini dia akan bertemu dengan Manager perusahaan tersebut untuk penandatanganan berkas.
Seorang wanita tinggi semampai berdiri anggun di hadapan Januar, nafas Januar tertahan kala wanita itu melepaskan kacamata hitamnya.
“Dengan Tuan Simon dari Umbrella Corporation?” Tanya wanita itu sambil mengeryitkan dahi. “Apa anda pecinta Resident Evil?” kekehnya membuyarkan lamunannya yang melanglang buana.
“Ah… yup! Saya suka Jill Valentine, dan anda mirip sekali dengan dia,” ucap Januar ngawur.
Begini jadinya jika Januar sudah terpesona pada seseorang yang menurutnya menarik, sepertinya misi kali ini akan berakhir tidak baik.
Wanita itu tergelak tidak tertahankan. “Hahahah, anda sangat lucu. Tapi… bolehkah saya duduk dulu, kakiku mulai pegal karena terlalu lama berdiri.”
Januar salah tingkah dan segera bangkit dari duduknya, pria itu menggeret kursi mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
“Terima kasih,”
“Sama-sama.” Wanita itu tersenyum dan berhasil menancapkan panah cupid pada jantung Januar.
JLEB
Sebastian yang duduk tidak jauh dari tempat Januar berada hanya bisa mengusap wajah kasar. “Bisa gawat kalau begini!” gumamnya.
Entah mengapa pula Januar memilih nama sebuah perusahaan dalam video games sebagai perusahaan samarannya. Tidak hanya wibu, Januar juga seorang gamer sejati. Seleranya tidak biasa, dan kali ini pria itu tidak berkutik di hadapan wanita perwakilan Lukoil yang bagai jelmaan dari tokoh 2D dalam game. Tidak sampai di situ, Januar menyamar dengan nama lain, yaitu Simon.
“Perkenalkan, saya Rachel! General Manager Lukoil!” ucapnya seraya mengulurkan tangan pada Januar.
Januar menyambut dan mengecup punggung tangan wanita itu, Sebastian sampai berdiri dari duduknya dengan mata melotot. Gerakannya menarik perhatian Rachel dan Januar, Sebastian hanya berdehem lalu kembali duduk.
“Kau mengenalnya?” Tanya Rachel pada Januar.
“Nope!” jawabnya cepat sambil mengedikkan bahu.
Sebastian hanya bisa menahan dongkol di seberang sana. Dia akan mengadukan segala tingkah Januar pada Charles.
“Lihat dia! Asik pacaran sedangkan yang lain sibuk mencari adiknya,” gerutu Sebastian.
Januar mengabaikan segala kode dan peringatan dari Sebastian, dia sibuk mengamati wanita cantik di hadapannya ini. Entah apa yang Januar pikirkan? Apa dia lupa misi utamanya menyamar?
“Tuan Simon, pihak kami tertarik dengan tawaran kerja sama anda meski kami masih menyangsikan perusahaan anda yang bisa di bilang baru. Kami tidak bisa mengambil resiko… tapi semua itu bisa dipertimbangkan jika anda mau menaruh 70% saham anda pada kami sebagai jaminan,” Rachel berkata dengan lugas.
“Baik, saya setuju!” jawabnya cepat.
Wanita itu tampak terkejut, Januar langsung mengiyakan tawarannya yang bisa saja merugikan pihak Januar.
“Apa?”
“Saya bilang, saya setuju. Saya akan menaruh 70% saham perusahaan saya pada perusahaan anda, Nona Rachel,” jelas Januar.
“Woa, saya pikir pertemuan ini akan berakhir alot. Terima kasih atas kerjasamanya!” Rachel tersenyum puas.
Januar pun menandatangani berkas kerjasama antar perusahaannya dengan Lukoil. Saat Rachel ingin pamit Januar mengajak untuk bertemu kembali di lain hari, wanita itu menyetujuinya dan memberi nomor ponselnya untuk mengatur waktu pertemuan selanjutnya.
Sebastian segera mendekati Januar ketika wanita itu telah pergi. “Tuan, apa Tuan lupa dengan tujuan bekerjasama dengan mereka?”
“Tidak, aku tidak lupa. Tenang saja Sebastian, apa kau tau siapa Rachel?”
Sebastian menggeleng dengan wajah polos.
“Dia adik Isac, sebelum aku mendirikan perusahaan ini. Aku terlebih dahulu menyelidiki Isac, dan aku menemukan sesuatu yang menarik. Ternyata Isac memiliki adik beda ibu di tanah air,” terang Januar membuat Sebastian melongo.
Dia sama sekali tidak tau, apalagi terlihat seberapa fasih Nona Rachel berbahasa Indonesia membuatnya Sebastian tidak menyangka jika mereka berdua bersaudara.
“Lalu? Apa yang akan Tuan lakukan? Tuan sepertinya menyukai Nona Rachel,” selidik Sebastian.
“R. A. H. A. S. I. A.” serunya sambil berlalu.
🍁🍁🍁
Elara POV
Dua hari berlalu sejak aku masuk rumah sakit, dan aku tidak menemukan keberadaan Ares yang sempat mengejutkanku. Aku mengamati sekitar, Perawat serta Dokter berkebangsaan asing. Jika aku tidak salah dengar dari bahasanya, aku kini berada di Negeri Tirai Besi atau Negeri Beruang Putih (Rusia). Ares membawaku ke Luar Negeri, Pria itu sudah hilang akal. Apa yang sebenarnya ada di kepalanya?
Aku memutar otak agar tau di mana letak keberadaanku sekarang, agar aku bisa menghubungi Charles sesegera mungkin. Tapi bagaimana caranya? Aku tau semua yang disekelilingku adalah orang suruhan Ares, jadi tidak mungkin mengorek informasi dari mereka. Yang ada malah membuat pertahanan mereka menjadi semakin ketat.
Seorang pria yang aku lihat selalu datang memberikan instruksi pada setiap bodyguard yang berjaga di depan pintu kamarku. Wajahnya tidak asing, siapa?
“Nyonya, waktunya minum obat,” tegur perawat dengan bahasa Inggris.
Mereka mengetahui aku yang tidak mahir bahasa Rusia. Aku hanya mengangguk dan meminum obatku. Aku berusaha mencuri pandang pada pria yang selalu berbincang dengan bodyguard. Mungkin aku bisa meminta bantuannya. Setidaknya, kami satu kebangsaan. Aku akan membujuknya dan memohon jika perlu.
Pria itu bersitatap dengan diriku, aku tersenyum dan mengangguk. Pria itu membalas senyumanku namun, tidak lama segera pergi meninggalkanku dengan segala harapan. Sungguh aku bagai dalam sangkar emas, semua yang aku butuhkan semua berlimpah tapi hatiku hampa.
Aku mengaduk-aduk makanan yang sebenarnya sangat menggugah selera, tapi nafsu makanku menyusut kala mengingat suamiku yang jauh di Belahan Bumi lain. Aku merindukan pria mudaku, aku sangat merindukannya… air mataku menetes membasahi selimut rumah sakit.
“Charles…” bisikku dengan tubuh bergetar.
Sungguh… tidak bolehkah aku bahagia bersama orang yang aku cintai? Aku lelah… Tuhan…
“Nyonya…”
Aku mendongak kala mendengar panggilan seseorang. Pria itu, yang tadi membalas senyumanku kini ada di hadapanku.
“Makanlah, kasihan bayi anda nanti akan kekurangan gizi.”
“Kamu?”
“Saya Deni, Asisten Tuan Ares yang baru,” jelasnya.
Aku melebarkan mata. “Di mana Romi?”
“Beliau sudah lama diberhentikan karena penggelapan dana di cabang Bali, Nyonya.”
“Jadi sekarang kamu orang kepercayaan Ares?”
Deni mengangguk, aku langsung menggapai tangannya. Mengiba dengan wajah memelas.
“Tolong, tolong aku… aku ingin pulang, bisakah kau membantuku?”
Pria itu terhenyak dengan sikapku yang tiba-tiba. “Nyonya… maaf,” Deni berusaha menarik tangannya.
“Setidaknya kau menolong bayiku, kumohon…”
Deni melepaskan tanganku darinya. “Maaf Nyonya… saya tidak mungkin mengkhianati Tuan Ares,jaga diri anda baik-baik,” pria itu beringsut menjauh dan beranjak pergi.
“Apa aku terlihat baik-baik saja? Bagaimana jadinya seorang anak tanpa kehadiran Ayahnya? Apa kau tidak iba? Tidakkah kau merasa kasihan padaku? Sebagai sesama manusia?” teriakku padanya yang di ambang pintu.
Pria itu menunduk dan berkata lirih. “Maafkan saya Nyonya!”
Deni meninggalkan aku begitu saja, membuat amarahku memuncak. Apa salahku hingga diperlakukan seperti ini?
“DIMANA KAU ARES? KELUAR! PULANGKAN AKU!” aku berteriak ke arah CCTV yang terpasang di sudut ruangan.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Moga ceritaku tetap menghibur meski saat mengetik pikiranku mengambang kemana-mana. Terima kasih untuk kalian yang masih setia bersamaku dengan do’a dan semangat, aku sangat terharu… terima kasih banyak… love u all.