
Author POV
Sophie mengerucutkan bibirnya kesal. Ares membuatnya terlambat menghadiri acara pernikahan Elara, mantan istri suaminya. Ares beralasan sakit perut, padahal pria itu sedang mengumpulkan mental di dalam toilet.
Bahkan Ares tidak menyadari penampilan Sophie yang mencolok. Pria itu terlalu fokus pada bagaimana akan bersikap nanti di hadapan pengantin. Tangannya mendadak menjadi dingin.
"Kita terlambat! Padahal aku ingin melihat saat-saat pengantin berjalan menuju altar," cicitnya merajuk.
"Tidak apa-apa, intinya kita datang ke acara itu," sahut Ares datar.
Sophie memutar bola matanya malas, dia kesal karena jika terlambat para tamu tidak akan menyadari kedatangannya, mereka semua pasti focus hanya pada pengantinnya saja.
Mereka berdua tiba ketika prosesi ucap janji berlangsung. Meski mantan istrinya menggunakan veil yang menyamarkan wajahnya, Ares bisa membayangkan bagaimana cantiknya Elara saat ini.
Sophie tersenyum melihat prosesi itu, dengan ini mantan istri suaminya tidak akan menjadi penghalang lagi. Dan hati Ares pasti lambat laun hanya ada dirinya, Sophie begitu percaya diri. Sedangkan Ares menatap nanar pasangan yang sedang menyematkan cincin pada masing-masing jari manis mereka. Melihat orang yang hampir setengah hidupnya berada di sampingnya kini telah menjadi milik orang lain.
Ares memilih memalingkan muka ketika pasangan pengantin itu berciuman dan berakhir dengan riuh tepuk tangan para tamu.
"Aku ke toilet dulu," bisik Ares pada Sophie.
Sophie mengangguk, wanita itu terkagum-kagum dengan megahnya acara. Dalam hati dia menginginkan hal yang sama nanti, saat Ares menikahinya secara resmi.
Beruntung sekali kamu Elara, lepas dari Ares malah mendapat seorang Charles yang tidak kalah kaya. Lihat saja, nanti aku akan mengadakan pesta lebih megah dari pada dirimu, bitc*h!
Sophie memilih berkeliling, dengan sengaja dia berjalan di tengah ruangan agar semua tamu melihat dirinya. Tersenyum manis menyapa para tamu yang menatapnya heran.
"Siapa dia? Sepertinya tidak asing,"
"Dia istri barunya Tuan Ares, kau lihat itu? Aku ingin tertawa melihat banyak bunga menempel di gaunnya,"
"Cantik seh... tapi kalah anggun dengan Nyonya Elara... apa Tuan Ares buta?"
"Pria malang, pasti dia terkena sihir hingga mau menikahi wanita macam itu,"
"Hei, wanita itu berjalan kemari,"
Para tamu wanita yang berbisik kini terdiam saat Sophie menghampiri mereka.
"Selamat siang, Nyonya-nyonya... perkenalkan... saya Sophie... istri Ares Dawson Atmaja," Sophie mengulurkan tangan dengan percaya diri.
Salah satu tamu wanita menelisik Sophie dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukannya menyambut uluran tangan Sophie, tamu wanita itu mengeluarkan kata yang membuat wajah Sophie memerah.
"Aku tidak tau jika pelakor mempunyai wajah setebal dirimu, hingga dengan santai menghadiri acara pernikahan orang yang telah kau hancurkan rumah tangganya," sarkasnya.
Sophie mengepalkan tangan karena kesal, dia tidak terima dihina di depan umum. "Jaga mulutmu! Ares menceraikan Elara karena wanita itu mandul. Untuk apa mempertahankan wanita tidak sempurna?" Sophie berdecih memandang tamu wanita di depannya dengan cemooh. "Sebaiknya kalian jaga para suami kalian, bukan tidak mungkin kalian akan bernasib sama dengan wanita itu..."
Para tamu wanita itu terhenyak dengan semua ucapan Sophie. "Dasar wanita murahan, tidak seharusnya kau ada di sini," sahut tamu wanita lainnya.
"Kenapa tidak boleh? Elara sendiri yang mengundangku, dia mengakui kelemahannya, karena itu mengundangku dengan suka rela," jawab Sophie dengan lantang.
Keributan yang dilakukan Sophie menarik perhatian Ares yang baru saja kembali dari toilet. "Ada apa ini?"
Sophie merubah ekspresinya menjadi memelas seolah tertindas. "Tuan... mereka menggangguku, mereka menyalahkan aku akan perceraianmu dengan Elara... apa karena aku orang miskin, jadi mereka bisa menindasku dan merendahkanku?" Sophie menangis tersedu-sedu.
Para tamu wanita terkejut dengan perubahan Sophie, padahal tadi wanita itu berkata kasar dan menantang. Namun, kemudian saat Ares datang wanita itu berubah menjadi kucing kecil yang teraniaya.
Dasar rubah, tidak heran jika Tuan Ares terpedaya.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?" Suara Ares dingin mengancam. Para tamu wanita itu sontak menjadi membisu karena takut.
Elara POV
Prosesi ucap janji sudah terlewati, aku dan Charles telah resmi menjadi suami istri. Senyuman terus terpancar dari kami berdua.
Ekor mataku melirik ke arah kerumunan tamu wanita. Dari jauh aku melihat sosok yang tidak asing, Sophie. Ternyata wanita itu datang, aku tergelak dalam hati melihat gaun yang dikenakannya. Mengapa Ares tidak menegurnya? Atau memberi saran apa yang pantas untuk wanita itu kenakan. Aku menghela nafas hingga membuat Charles memperhatikanku.
"Kenapa?"
Aku tersadar dan menoleh pada suamiku.
Ya ampun... dia sekarang suamiku.
"Hm... tidak apa-apa, aku ingin menghampiri tamu sebentar. Kamu tunggu saja di sini," jawabku. Charles mengangguk, dia pun langsung dihampiri para rekan bisnisnya.
Langkahku yang pelan menjadi cepat kala melihat Ares yang datang dan mulai meninggikan suaranya.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?"
Aku melihat para tamu wanita yang tertunduk. Aku pun mendekati mereka.
"Ada apa Ares? Mengapa kau berteriak pada tamuku?"
"Sebaiknya kau memilah siapa yang kau undang, dengan begitu kita akan tau seberapa bermartabatnya dirimu," sarkasnya sambil memeluk Sophie yang menangis.
Ada apa ini? Mengapa Sophie menangis, dan... apa katanya? Dia mempermasalahkan martabatku?
"Tuan Ares yang terhormat, tidak cukupkah dengan masalah yang sudah kudapatkan dari dirimu selama ini? Hingga di acara pernikahanku pun kau mempermalukanku?" Aku tidak terima, mengapa selalu aku yang disalahkan di matanya.
"Mereka menggangguku karena aku miskin, aku bukan dari kalanganmu Nyonya Elara... aku tidak tau jika kau mengundangku hanya untuk dipermalukan," isak Sophie hingga bibirnya bergetar.
Mata para tamu wanita membulat, pasalnya sedari tadi Sophie memanggil Elara tanpa embel-embel Nyonya.
Benar-benar licik!
"Ssttss... sudah, kita pulang saja," ucap Ares menenangkan. Pria itu merangkul Sophie hendak pergi, namun sebelumnya pria itu kembali menyakitiku dengan lisannya. "Ternyata keputusanku menceraikanmu adalah yang paling tepat, kita memang tidak cocok."
Salah satu tamu wanita tidak terima. "Tuan Ares, semuanya tidak se-"
Aku menahannya dan menggelengkan kepala. Percuma... tidak akan didengar.
"Tapi Nyonya, semua yang wanita itu bilang adalah kebohongan," sergah tamu wanita itu.
"Aku tau... biarkan saja, maafkan aku karena kalian jadi terganggu oleh drama hidupku," aku berusaha menahan mataku yang mulai berkabut.
"Nyonya... seandainya saya tau akan begini, kami tidak akan berbicara apapun pada wanita itu."
Aku mengangguk. "Tidak apa-apa, lupakan saja... kumohon tersenyumlah... jangan buat aku menjadi menyedihkan di hari pernikahanku," pintaku. Para tamu wanita mengangguk dengan enggan. Mereka masih merasa tidak enak dan bersalah padaku.
Aku menatap nanar Ares yang meninggalkan acara. Biarlah... dengan begini aku benar-benar tidak menyisakan lagi perasaan apapun untukmu karena semua telah habis oleh rasa sakit yang kau torehkan dalam hatiku. Begitu pun dirimu yang kini membenciku karena telah mengganggu istri tercintamu.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, enjoy!
Aku nyesek seh part ini, karena Ara masih diganggu adja ma Sophie... plus galau juga karena lv karyaku yang turun satu angka membuatku tidak semangat... huaaaaaa