
Elara POV
Mataku membulat mendengar apa yang Martha katakan, dia tau jika aku adalah orang yang disukai oleh Sebastian.
"Ba-bagaimana kau bisa tau?" tanyaku penasaran.
Gadis itu terkekeh, senyumannya manis sekali, sayang sekali jika Sebastian tidak menyadarinya.
"Tentu saja aku tau, Nyoya. Tuan Sebastian selalu menatap Nyonya dengan lembut, bahkan tidak jarang menjemput Nyonya berangkat kerja," jelas Martha.
Aku menelisik Martha dengan seksama. "Jadi... kamu mengamati pria itu," ucapanku membuatnya gelagapan.
"Tidak... tidak seperti itu, semua yang melihat sikapnya pasti akan tau," kilahnya.
Aku meraih dagunya hingga Martha mendongak. "Kenyataannya adalah aku sudah bersuami, tidak ada salahnya jika kau mendekatinya," aku berdecak. "Kau gadis manis yang cantik, dia akan rugi jika mengabaikanmu. Jika aku pria aku akan mempersuntingmu," selorohku.
Martha tersipu malu menerima pujianku. "Nyonya sekarang pandai merayu, apa semua karena Tuan Charles?" kekehnya.
"Sepertinya begitu, sebelum tidur dia selalu mengucapkan kata cinta hingga aku salah tingkah. Dan mengirimiku setangkai bunga mawar beserta makanan saat makan siang, aku... mendapatkan jutaan cinta darinya yang tidak pernah Ares berikan padaku," aku tersenyum tipis.
Meski aku pernah merasakan sakit namun, semua itu terbayar sudah dengan kebahagiaanku saat ini. Aku mensyukuri hikmah dibalik tragedy yang menimpaku. Hingga saat ini aku berharap Ares dapat hidup dengan baik. Sejak aku menikah, aku sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi. terakhir aku mendengar kabar wanitanya yang melahirkan. Aku meringis di dalam hati, menyayangkan jika kenyataannya anak itu bukan anak Ares.
"Nyonya, aku senang melihat senyumanmu setiap hari. Kalian berdua membuatku iri," Martha membuyarkan lamunanku yang menerawang.
"Jika iri, segeralah mencari calon suami. Sudah ada di depan mata, jangan disia-siakan," bujukku kembali. "Baik, kita sudahi membicarakan priamu! Sebaiknya kamu menyiapkan makan malam yang enak untukku dan dia," aku mendorongnya menuju pintu kamar.
Martha hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum pergi meninggalkan aku sendiri di kamar. Aku menyalakan ponselku yang sempat mati karena kehabisan baterai. Terdapat pesan dari suamiku Charles.
[Kau sudah pulang?]
[Sudah,]
[Dengan siapa?]
[Sebastian mengantarku,]
[Pria itu sangat gigih ya?!๐คจ]
[Jangan berlebihan,]
[Aku melihat semua di matanya, dia menginginkanmu, Ara!]
[Tapi aku tidak!]
[Benarkah? Siapa yang kau inginkan?]
[๐]
[Siapaaaa?]
[Kamu,]
Aku segera mematikan ponselku setelah mengirim pesan yang membuatku malu sendiri, aku tidak terbiasa ini benar-benar memalukan. Aku hanya mengikuti Charles, dan aku menyukai caranya. Dia yang selalu mendambakanku dengan kata-kata manisnya, hingga aku terbiasa dan ikut melakukan hal sama.
Aku mengibaskan tangan pada wajahku yang panas, sepertinya karena cuaca hari ini lumayan terik.
Aku memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyambut Charles saat pulang nanti. Aku ingin membalas segala sikap manisnya, tidak salah kan?
Berjalan menuju walk ini closet untuk memilih gaun malam, pria itu sangat berusaha dengan membelikanku lebih dari selusin gaun malam dengan berbagai warna.
"Dasar mesum!"
Mataku tertuju pada kumpulan lingeri sexy. Bagaimana bisa dia mengetahui berbagai macam model? Apa jangan-jangan dia sering membelikan ini pada beberapa mantannya? Tiba-tiba aku merasa kesal. Aku kembali meragukan keperjakaannya, benarkah aku yang pertama?
Saat aku sibuk dalam pemikiran burukku tentangnya, aku merasakan sesuatu yang hangat menerpa tengkukku. Aku terhenyak ketika tangan kekar merengkuhku dari belakang. Aku menoleh dan menghela nafas lega saat tau siapa pelakunya.
"Charles, kau sudah pulang?"
"Kenapa ponselnya dimatikan?" bisik Charles di telingaku. "Aku langsung pulang karena kau menginginkanku," pria itu benar-benar membuatku malu.
"Hentikan! Itu salah ketik," sergahku dengan wajah merah padam. Aku berusaha melepas pelukannya.
Charles mengeratkan pelukannya sambil terkekeh. "Aku tau kau bohong, mengapa harus malu mengutarakan perasaanmu?"
Charles melepas pelukan yang membuatku heran. "Jadi, kau tidak ingin bersamaku... ya sudah.. aku pergi," pria itu memutar tubuh hendak meninggalkanku.
Apa dia marah? aku panic sendiri, mengapa begitu sulit untuk mengakuinya. Aku langsung menahan tangannya agar dia tidak pergi.
"Maaf, aku... aku memang ingin bersamamu, hanya kamu," cicitku tanpa berani melihat wajahnya.
Charles yang tadinya berwajah sendu langsung berbinar. Aku merasakan tubuhku yang melayang karena pria itu mebopongku.
"Apa yang kau lakukan?" pekikku.
"Kita mandi bersama," sahutnya dengan seringai.
"Di luar ada Sebastian, tidak enak jika kita meninggalkannya terlalu lama!"
"Aku tidak perduli," jawabnya asal dan membawaku ke dalam kamar mandi kemudian menguncinya.
"Charles, aaaakkkhhh!!!"
๐๐๐
Author POV
Sudah lebih dari satu jam Sebastian menunggu tuan rumahnya di meja makan. Sesekali pria itu melirik pada Martha yang setia berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Kau tidak pegal berdiri terus menerus?"
Martha sempat terkesiap dengan pertanyaan Sebastian.
"Ah... ini sudah salah satu tugas saya, apa Tuan menginginkan sesuatu?"
Sebastian menggeleng, diperhatikannya Martha lebih seksama. Gadis yang cantik, wajahnya tidak membosankan untuk dilihat. Martha yang diperhatikan terus oleh Sebastian, menjadi salah tingkah.
"A-pa ada yang aneh dengan saya?"
"Tidak, maaf saya sudah lancang mengamatimu, saya hanya ingin mengenal siapa orang yang begitu setia melayani Nyonya Elara. Kau bahkan mengikuti Nyonya setelah perceraian beliau." jawab Sebastian.
Martha menunduk malu sambil menyelipkan anak rambut pada telinganya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Haruskah dia jujur jika dia pun mengamati pria di hadapannya ini?
"Tidak apa-apa, semua karena saya menyayangi Nyonya seperti saudara sendiri. Saya sangat mengaguminya." Martha memberanikan diri untuk melihat Sebastian yang ternyata masih menatapnya. "Sa-saya juga minta maaf, saya juga sering mengamati Tuan diam-diam," ucap Martha pelan.
Ekspresi Sebastian sulit untuk dibaca. Pria itu tidak menunjukkan reaksi apapun. "Aku tau, aku menyadari itu," Sebastian beranjak dari kursinya.
"Tuan mau kemana?"
"Aku pikir, Nyonya Elara dan Tuan Charles tidak bisa diganggu saat ini," Sebastian tersenyum menawan. "Kau bisa mengantarku sampai teras?"
Martha terperangah dengan permintaan Sebastian, mimpi apa dia semalam sampai pria pujaannya ingin ditemani hingga teras rumah? Bahkan berbicara panjang lebar sebanyak ini hanya ada dalam angan-angannya saja.
Sebastian mengibaskan tangan di hadapan Martha yang masih diam. "Martha? Apa kau tidak bisa? Jika kau sibuk aku bisa ke-"
"Mari... mari saya antar, Tuan!" sahutnya cepat meski dengan wajah yang memerah.
Sebastian mengulum senyum simpul, dia pun mengangguk. "Ayo,"ajaknya.
๐๐๐
Kediaman Ares Dawson Atmaja
Sophie mengirim pesan pada Romi untuk pertemuannya besok. dia sudah tidak sabar untuk menyelesaikan misinya agar hidupnya tenang bersama Ares. Dipandangnya Hades yang sedang tertidur pulas.
"Maafkan Ibu yang sempat mencelakaimu dulu, Ibu akan menebusnya... kita akan hidup bahagia bersama Ayah," gumamnya sambil mengelus rambut Hades.
"Aku akan merubah warna rambutmu, kau adalah anak Ares Dawson Atmaja, bukan yang lain!" bisiknya mendesis.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Selamat pagi dan terus semangat ya reader... untuk yang bekerja jangan lupa maskernya dan selalu mencuci tangan. Untuk yang di rumah, jangan lupa mengerjakan semua pekerjaan sebelum asik menjelajahi dunia novel, salam sayang dari othor galau, love u all...!