
Author POV
Krasnodar, Rusia.
Tanpa diketahui oleh Elara, ternyata buah kesemek tumbuh subur di Rusia. Tepatnya di Wilayah Krasnodar, di Krimea, di bagian selatan Wilayah Stavropol.Β Nama lain buah ini adalah Oriental persimmon. Dalam waktu dua jam Ares telah mendapatkan buah itu, pria itu bersenandung di sepanjang jalan sambil memandangi buah tersebut.
"Ara pasti senang," gumamnya sumringah.
Ares menaiki mobil hendak kembali ke kastilnya namun, sebuah berita yang disampaikan anak buahnya membuat kantong yang dipegangnya terlepas.
"Tuan! Barusan Bobi memberitahukan, jika Romi berhasil kabur!"
"Apa? Kabur?"
"Iya, Tuan. Bahkan dia berhasil menggasak habis brangkas milik Bobi," jelas Deni.
Ares terdiam sejenak hingga kemudian mendadak maniknya melebar seketika. Dia mengingat seminggu yang lalu ada panggilan salah sambung ke ponselnya.
"Deni! Beritahukan penjaga di kastil untuk perketat penjagaan, firasatku Romi menuju ke sana!" Seru Ares tegas.
Pria itu segera memasuki mobil dan melajukan kuda besinya dengan kecepatan penuh.
Deni yang terkejut segera mengikuti Ares dengan mobil lain setelah menghubungi penjaga di kastil. Tidak lupa, mengambil kantong berisi buah kesemek yang tadi sempat terjatuh.
"Kuharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk hari ini," monolog Deni pesimis.
πππ
Elara POV
Kastil Ares
Sementara Ares sibuk mencari buah yang aku minta, aku memanfaatkannya dengan berkeliling mengitari kastil. Aku ditemani Mona yang mengekoriku sedari tadi.
Aku mengedarkan pandangan, berusaha mencari penampakan sebuah landasan heli. Tapi sejauh mata memandang aku hanya mendapatkan hutan pinus mengelilingi kastil.
Dari mana Ares mendapatkan kastil ini? Tidak mungkin kan dia membangunnya, kastil ini terlihat lebih tua dari usia dirinya. Selama kami bersama, Ares tidak pernah ke Rusia. Dan kenapa pula membangunnya di tengah hutan, benar-benar aneh! batinku.
Aku menatap Mona yang mendadak gugup. Apa aku mengorek informasi darinya saja?
"Mona..."
"Ya, Nyonya!"
"Aku ingin menanyakan sesuatu... aku harap kau menjawabnya dengan jujur, mengingat semua kesalahan yang telah kau lakukan padaku..." ucapku tegas mengintimidasi.
Wajah Mona pias, dia menunduk takut sambil membungkuk berulang kali.
"Maafkan saya Nyonya... saya benar-benar minta maaf, ampun Nyonya..."
Aku mendekatinya dan menyentuh bahunya dengan lembut.
"Aku akan memaafkanmu, asal kau mau menjawab pertanyaanku... bagaimana?"
Mona mengangguk mantap dengan wajah memerah menahan tangis.
"Bagus," aku menepuk bahunya. "Beritahu aku, di mana letak landasan heli?"
Entah mengapa aku sangat yakin jika Charles menjemputku melalui jalur udara.
"Nyonya..." Mona mendongakkan kepala dengan panik.
Aku menggenggam tangan Mona yang terasa dingin. "Tolong, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu saat ini!" Mohonku.
Mona diam, sepertinya dia sedang mengalami perang batin sambil sesekali menatapku. Aku tidak tinggal diam, aku berusaha terus membujuknya.
"Kau cukup mengantarku hingga pintu keluar, lalu memberitahuku ke arah mana tempat landasan itu... Mona, aku akan sangat berterima kasih padamu! Karena ini menyangkut hidupku dan anak yang sedang ku kandung," aku mengusap perutku.
Mona masih membisu, aku menatapnya penuh harap. Gadis itu tidak bergeming, aku menghela nafas lelah.
"Baiklah, jika kau tidak bisa-"
"Mari ikut saya Nyonya!"
"A-apa?"
Mona mengangguk dan kembali berjalan mendahuluiku, aku tersenyum haru dan mengikutinya dari belakang.
πππ
Author POV
Romi berjalan dengan peluh keringat, sudah hampir seharian dia berjalan di kaki Gunung Elbrush. Beruntung kastil di sana hanya ada 1 hingga warga lokal tau dan tidak asing dengan tempat yang Romi tuju.
Dari jauh, atap kastil mulai terlihat, Romi semakin melebarkan langkah agar cepat sampai dan membuat perhitungan dengan Ares.
Sengaja dia melalui jalan setapak agar anak buah Ares tidak sadar akan keberadaanya. Selama mengikuti Ares sebagai asisten membuatnya tau celah di mana saat mereka lengah.
Di lain tempat, tepatnya di udara terlihat 3 buah heli mengudara. Januar yang melihat penampakan sebuah kastil dari atas berseru senang dan mengarahkan mereka semua pada sebuah landasan yang terlihat jelas tidak jauh dari kastil tersebut.
"Charles! Itu kastilnya, kau lihat? Ada sebuah landasan heli di sana!"
"Ardan, hubungi yang lain untuk mendarat sekarang juga!" titah Charles segera.
"Baik, Tuan!" Sahut Ardan.
Januar tampak mengeluarkan senjata api, Charles tersentak.
"Mau apa kau?"
"Aku tau Ares seperti apa, tidak mungkin kita disambut ramah saat mendarat nanti," ucapnya sambil mengecek peluru pada pistolnya.
"Ku pikir, cukup bodyguard yang menggunakannya," sahut Charles tenang.
Januar berdecih. "Bodyguard kadang kurang peka, sebaiknya kau berjaga-jaga!" Pria itu menyodorkan pistol tersebut pada Charles. "Ambillah!"
Charles tampak ragu, namun saat melihat heli yang akan mendarat, tangannya pun terulur untuk menggapai senjata itu.
πππ
Elara POV
Aku menodongkan pisau pada leherku saat mencapai pintu utama kastil, para bodyguard panik namun tidak sepanik Mona.
"Nyonya! Tolong turunkan pisau itu," gadis itu memelas.
Bodyguard tampak ingin mendekatiku namun, aku merapatkan pisau itu hingga tergores di kulit leherku. Rasa perih seolah tidak aku rasakan, aku hanya ingin keluar dari sini.
"Buka pintunya, dan suruh yang lain menjauh dari landasan! Jika tidak, aku akan menggorok leherku di depan kalian!" ancamku membuat Mona makin histeris.
"Jangan Nyonya, Tuan pasti akan membunuh kami jika Nyonya terluka!" Gadis itu menggeleng berusaha menahan tindakanku lalu menoleh dengan mata melotot pada para bodyguard. "Kau dengar apa kata Nyonya? Cepat buka pintunya! Suruh yang lain meninggalkan landasan!" suaranya melengking membuat yang mendengarnya ikut panik.
"Ta-tapi-"
"Kau mau di bunuh oleh Tuan Ares karena Nyonya terluka?"
"Itu..."
"CEPAT!" bentak Mona.
"Ba-baik!" Sang bodyguard pun membuka pintunya.
Aku berjalan sambil terus menempelkan belati pada leherku, aku berbisik pada Mona yang menemaniku hingga ambang pintu.
"Terima kasih," ucapku sambil tersenyum sebelum aku berlari dengan cepat menuju landasan.
Mona mengangguk samar dengan senyum tipis. "Hati-hati, Nyonya..." suaranya pelan namun, aku masih mendengarnya.
Suara baling-baling itu terdengar jelas, aku semakin melebarkan langkahku. Jantungku berdetak kencang, tidak pernah aku seperti ini sebelumnya. Merasakan rindu yang siap meledak, di balik pohon pinus yang aku lewati aku mendambakan sosok itu. Sosok yang hampir 1 bulan mengisi mimpi-mimpiku dikala malam.
Sudut mataku berair, menitikkan air yang berderai deras. Punggungnya terlihat, saat wajah itu menoleh aku langsung berseru memanggil namanya.
"Charles!!!"
Pria itu melebarkan mata, ekspresi yang terkesiap dan berganti senyuman penuh kelegaan menambah tampan parasnya. Suaranya entah mengapa terdengar merdu ditelinga saat namaku disebutkan.
"Ara!!!"
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Sudah dua kali aku tertidur, awal ngetik di laptop gagal sampai akhirnya aku ngetik di hp, ini juga sambil ngantuk2. Maaf telat lagi, ah... bosan sepertinya reader mendengar alasanku. Tapi yang jelas aku sudah berusaha untuk melanjutkan novel ini. Beberapa part menuju End. Di part ini pasti yang paling di tunggu2. Moment pertemuan 2 insan yang terpisah karena ulah Ares bin sanusi. Hahahaha