
Seminggu telah berlalu, sampai saat ini Alva belum melakukan tindakan apapun untuk mengambil Alena dari Anna. Dan Anna juga telah mengurus semua keperluan yang akan dibutuhkan agar dirinya dan Alena bisa tinggal bebas di negeri lain.
Bimo yang merasa kalau rose membuat Alva berubah secara sikap dan perilaku, membuatnya memihak pada Anna dan membantu Anna mengurus surat yang dibutuhkan Anna di negara yang akan Anna tempati.
Hari ini Anna memutuskan untuk berbincang pada keluarganya dan keluarga Alva tentang keberangkatannya bersama Alena untuk pindah.
Keluarga Alva menyetujui permintaan mantan menantu mereka dan sekarang mereka telah berada di rumah keluarga Chandra.
" jadi apa yang akan kau katakan Anna ?" tanya Sintia.
" aku ingin pindah ke Paris bersama Alena, aku tidak ingin Alva benar benar mengambil Alena dariku"
" tapi bagaimana dengan bayi dikandungan mu Anna ?" tanya Reza.
" aku bisa mengurusnya pa, aku mohon agar kalian semua merahasiakan ini dari Alva, aku tak sanggup lagi disini, itu hanya akan menambah beban hatiku "
" kau sudah memikirkan semua resikonya an ?" tanya Reza.
" ya, aku sudah memikirkan semua ini matang matang, jadi, apa aku diizinkan untuk tinggal menetap di Paris ?"
Sintia menatap Anna tak percaya. Dia pikir dirinya bisa menemani mantan menantunya melahirkan, tapi impiannya hanya menjadi angan angan.
" apa kau tidak bisa pergi setelah melahirkan bayimu ?"
" kalau aku menunggu kelahiran anakku, maka Alva pasti akan banyak kesempatan selama aku belum melahirkan untuk mengambil Alena ma, lagipula aku akan datang berkunjung kesini setelah aku benar benar yakin bahwa disana adalah tempat yang nyaman untuk kami "
" baiklah jika itu pilihanmu, kami hanya bisa mendukung dan mendoakan mu Anna " ucap Reza setelah beberapa saat terdiam.
" bagaimana dengan yang lain ?" tanya Anna
" ini hidupmu, benar kata Reza, kami hanya bisa mendukung keputusanmu dan mendoakan agar kau baik baik saja " sahut Alex.
" terima kasih "
2 hari kemudian.......
Anna baru siap merapikan barang miliknya dan Alena. Rencananya besok Anna akan berangkat ditemani Aldi dan Diana yang akan menjaga Anna.
" udah siap semua ?" tanya Diana yang baru masuk ke kamar.
" eh kak Diana, udah dong kak, Kakak ada perlu apa kesini ?"
" kakak cuma mau bantu kamu aja, tapi kamu nya udah siap lebih dulu sebelum kakak datang "
" hehe.. oh iya kak, Rafa mana ?" tanya Anna yang tak melihat keponakan kecilnya.
" perjalanan ke sana kan nggak lama, bawa makanan rumah aja udah cukup untuk ganjal perut lapar "
" kan lama di pesawatnya an "
" ok, aku kalah adu mulut sama kakak "
" adikku kok ngambek sih " ucap Diana tertawa.
" ngomong ngomong kakak udah siap beresin barang ? "
" udah, kan ada kakakmu yang beresin, kakak tinggal siapin bekal buat besok aja "
" uuu...so sweet nya "
" oh iya an, tadi dia Dateng ke sini "
" siapa dia ?"
" ayah Alena "
" benarkah ? kapan dia datang ? apa dia membuat keributan disini ? apa dia sudah tau kalau aku dan Alena akan pindah ?"
" ayo duduk dulu, kau pasti lelah " Diana menarik Anna menuju sofa.
" ada apa kak ? kenapa wajah kakak jadi murung ?"
" dia datang ke rumah ini saat kau dan Alena sedang pergi berbelanja tadi "
" apa yang dia katakan kak ?"
" dia ingin membawa mu ke dokter untuk pemeriksaan "
" maksudnya ?"
" sepertinya Alva curiga pada bentuk tubuhmu yang berubah drastis dari saat terakhir kalian bertemu saat sidang cerai "
" apa ?!"
" maka dari itu kita harus berangkat malam ini juga agar Alva tidak bisa membawamu paksa ke dokter "
Anna terdiam lalu menatap Diana yang menatapnya seolah memohon agar setuju.