
Malam harinya......
Anna,David,Alena dan Angelina sedang makan malam bersama. Anna menjadi kepikiran pada Alva, selama ini, Alva kurang menyukai masakan orang lain kecuali masakan Anna, masakan Alva sendiri dan masakan keluarga Alva.
" kak, kamu kenapa ? kok nggak makan lagi ?" tanya David menyadari Anna yang sedari tadi termenung.
" eh iya"
" kak Anna kenapa ?" tanya Angelina.
" aku cuma kepikiran sama papa alena"
" kak Anna lagi marahan sama kak Alva ?" tanya David penasaran.
" nggak biasanya kak Anna nyebut kak Alva dengan kalimat papa Alena, kecuali kalau lagi marahan " ucap Angelina.
" iya Tante, papa dan mama sering berteriak " ucap Alena polos.
" kamu dan Alva berantem an ?" tanya Yura, ibu David, yang baru datang bersama suaminya.
" eh Tante, nggak kok Tan, aku cuma kesal aja sama Alva yang selalu mempermasalahkan soal makanan " jelas Anna tersenyum.
" oh gitu " sahut Yura tersenyum lalu ikut makan malam bersama mereka.
Jam 22.00.....
Karena terlalu sibuk mengobrol dengan Yura dan Angelina, Anna jadi lupa waktu untuk pulang. Bahkan Anna baru menyadari kalau hpnya mati karena habis baterai.
Sekarang Anna sudah berdiri di depan rumah Alva. Anna cemas jika Alva belum tidur dan sedang menunggunya saat ini.
" ayo ma, kita masuk, Alena udah ngantuk "
Anna mengangguk lalu mereka dengan perlahan masuk ke dalam rumah. Anna dan Alena bahkan melepaskan sepatu mereka agar tidak menimbulkan bunyi yang dapat terdengar oleh Alva si telinga tajam itu.
Anna mengantarkan Alena lebih dulu ke kamar Alena. Setelah menggantikan pakaian Alena, Anna pun pergi menuju kamarnya.
Rasa takut mulai menyelimuti Anna. Dia merasa pasti ada seseorang yang berada di kamar sedang menatap tajam ke arah pintu yang belum kunjung Anna buka.
Anna menarik nafas dalam lalu membuka pintu. Benar saja, Alva ada disana, sedang duduk di atas kasur sembari menatap tajam ke arah Anna yang berdiri kaku di pintu yang terbuka.
Keesokan harinya......
Anna, Alva, rose dan Alena sedang sarapan bersama. Tak ada yang berbicara karena sikap Alva yang dingin. Alena pun ikut terdiam saat melihat ayahnya yang bersikap cuek.
" Alena, ayo cepat habiskan sarapannya "
" kenapa ma ?" tanya Alena bingung.
" kita akan berkunjung ke rumah kakek Alex, kamu mau ikut kan ?"
" mau ma " sahut Alena antusias.
" tapi kenapa kamu nggak minta izin dulu sama aku ?" Alva mulai berkomentar tentang keputusan Anna
" apa aku nggak boleh ketemu papaku ?" tanya Anna membuat Alva bungkam.
" bukankah om Alex itu bukan ayahmu kak ? kenapa kau masih menganggap pria tua dan brengsek itu sebagai ayahmu ?" sindir rose membuat Alva menatapnya tajam, Alva menkode rose agar tidak melukai hati Anna.
" karena aku menghargai orang yang telah merawat ku saat aku sendiri tak memiliki siapapun, bukan seperti orang yang selalu berusaha menghancurkan hidup orang lain dan menghancurkan hubungan orang lain " balas Anna tersenyum sinis pada rose.
" kau ?!" bentak rose membuat Alena dan yang lain kaget karena suara tiba tiba rose.
" jangan membentak secara tiba tiba rose, apa kau tidak diajari kesopanan ? oh aku lupa, kau kan memang orang yang tidak punya malu dan sopan santun "
" apa kau mencari masalah baru lagi denganku ?"
" aku mau sih, tapi ada Alena, aku tidak ingin dia menyimpan kenangan buruk karena kau dan Alva yang suka berteriak, ayo Alena, kita bersiap untuk pergi " ucap Anna lalu pergi bersama Alena.
Skip....
Anna dan Alena telah berada di rumah Alex. Kali ini Angelina, Diana dan anak Diana ada di rumah Alex, jadi Alena tidak merasa kesepian.
Tadi saat Anna akan berangkat ke rumah Alex, Alva sempat mencegah mereka dan memohon pada Anna agar Alva yang mengantar Alena dan Anna ke rumah Alex, bukan supir.
" an, kau ingin bicara dengan papa kan ? ayo kita berbincang di taman belakang, biar Alena dijaga oleh Angelina " ucap Alex.