
"Ingat apa yang sudah ku katakan padamu, Ra!" ucap Jeck tanpa menoleh ke arah Aura yang kini tengah duduk di sampingnya. Keduanya tengah dalam perjalanan menuju ke OHS dengan menggunakan mobil Jeck.
"Apa?" tanya Aura dengan alis yang terangkat sebelah.
Raut wajah konyol tak lagi dapat Jeck cegah,
"Astaga. Jangan bilang bahwa sejak tadi kau tak mendengar apa yang ku katakan?" kesal Jeck.
"Mmm... kurasa," jawab Aura acuh tak acuh. Kembali ia alihkan pandangannya kearah jendela, menikmati pemandangan sepanjang jalan. Entah kenapa ia menjadi enggan berbicara sejak insiden kecelakaan itu.
Helanan nafas terdengaar dari Jeck, sejujurnya ia sedikit khswatir akan keadaan Aura saat in,
"Aiss... pokoknya jangan mudah percaya kepada orang lain, jangan dekat-dekat dengan lelaki lain, dan jangan pulang sendirian, ingat aku belum mengambil mobilmu!" ujar Jeck panjang.
"Ya..aku dengar."
Hanya tiga kata itu yang Aura lontarkan pada Jeck dengan kedua mata yang ia rotasikan, tentu saja. Ayolah, Jeck dalam mode cerewet itu sangat menyebalkan lebih menyebalkan dari pada ketika ia kalah balapan.
Kedua matanya memang menyorot ke depan, namun bibirnya masih berbicara pada Aura,
"Dan aku tak tahu kau akan berada di kelas mana, tapi aku berharap kau sekelas dengan ku agar aku mudah menjagamu!" terus saja Jeck menambah wanti-wantinya.
"Ya."
"Dan satu lagi!" ujar Jeck melirik ke arah Aura.
Delikan kesal Aura layangkan pada Jeck,
"Astaga. Apa lagi Jeck?" kini Aura yang di buat kesal akan tingkah jeck yang sejak tadi terus berbicara, berbanding terbalik dengan dirinya yang sejakk taadi diam saja.
"Kenapa kau memakai kacamata itu?"
Akhirnya keluar sudah pertanyaan yang sejak tadi Jeck tahan. Sejak mereka keluar dari rumah, Aura tak melepas kaca mata itu.
"Bukankah sudah ku katakan apa rencanaku?" jawab Aura.
Ingatkan ia untuk memukul kepala Jeck setibanya mereka di sekolah,
"Ya, aku tahu tapi apa ini tidak mengambil resiko. Kau bisa saja di bully karna penampilan cupumu?" tanya Jeck dengan nada bingung sekaligus khawatir. Entah bagaimana ucapan yang Jeck lontarkan barusan mampu membuat Aura menarik sudut bibirnya, tersenyum.
Dengan santaii Aura melirik Jeck,
"Entahlah. Bukankah kau akan selalu menjagaku?" ujar Aura sambil memiringkan tubuhnya menghadap kearah. Jeck, membuat ia dapat melihat bagaimana tampannya Jeck ketika sedang serius.
Sebuah lirikan sinis Aura dapatkan dari Jeck,
"Ya, tetapi tidak setiap waktu." ujar Jeck dengan raut wajah kesal. Ia memang berjanji akan selalu menjaga Aura tapi tidak setiap saat.
"Terserahlah," acuh Aura kembali menghadap ke arah jendela. Ia sedang dalam fase merajuk pada Jeck.
Lima menit setelahnya tak ada satupun suara terdengar keluar dari bibir keduanya, mereka fokus pada pikiran masing-masing.
"Ck, sial. Aku ada di planet mana? Kenapa ada sistem aku merajuk ia balas mendiamiku? Mendokusai!" batin Aura kesal. Tidakkah Jeck peka dengan keadaan saat ini?
°°°
"Baiklah. Kita sudah sampai," ujar Jeck ketika mobil Aston Martin yang di kendarai jeck mulai memasuki gerbang OHS.
"Tidak buruk!" batin Aura menilai sekolah yang akan ia tempati. Tampaknya OHS atau Olymphus Hight School merupakan salah satu sekolah elit setelah PHS tempat Aura dulu bersekolah. Bahkan gerbangnya saja hampir 5 meter, ia sempat berfikir bagaimana anak berandalan bisa melompatinya?
"Hmm," guman Aura menanggapi ucapan Jeck barusan. Ia masih fokus pada bangunan yang ada di hadapannya saat ini.
Ceklek
"Kyaa!"
Tepat setelah Jeck menapakkan kakinya di lantai parkiran OHS, suara teriakan yang berasal dari segerombolan gadis-gadis berseragam sama dengan Jeck maupun Aura terdengar nyaring dan keras. Rasa-rasanya telinga akan tuli bila mendengarnya setiap hari, tapi apakah Jeck selalu mendengar mereka berteriak setiap ia datang?
"Jeck~kau sangat tampan!"
"Oh tidak...Jeck jadilah kekasihku."
"Aku mencintaimu Jeck."
Mungkin seperti itulah beberapa kalimat yang gadis-gadis itu ucapkan dengan suara yang naik tiga atau empat oktav ketika mengucapkannya. Sangat berisik.
"Kyaaa!!"
Teriak gadis-gadis itu heboh ketika melihat pujaan hati mereka tampak mengelilingi mobil, guna membukakan pintu penumpang yang ada di sebelah kanan pintu kemudi.
"Siapa yang di bawa jeck?" pekik salah satu gadis diantara gerombolan itu membuat yang lain ikut menoleh kearah Jeck sembari menanti sosok yang di bawa pujaan hati. Sebab tak biasanya pujaan hati mereka ini mau membawa seseorang menggunakan mobilnya, bahkan para sahabatnya pun jarang.
Ceklek
Pintu itu terbuka menampilkan seorang gadis dengan rambut ungu dengan gradiasi pink di ujungnya yang ia ikat ponytayl dan juga kaca mata kotak yang menutupi manik safir jernih itu. Penampilan yang culun namun juga terlihat manis membuat beberapa pemuda terpesona melihat Aura, namun berbeda dengan para gadis yang tampak memandang sinis dan juga jijik kearah Aura.
"Siapa gadis culun itu?" ujar salah satu gadis disana.
"Apa ia kekasih Jeck?" tambah gadis lainnya. Bisikan tak suka terdengar ketika semuanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
"Oh tidak, aku tak rela!!" pekik gadis lain dengan ekspresi kaget dan juga kesal. Siapa juga yang rela bila pemuda yang ia sukai telah memilliki kekasih? Jeck hanya milik mereka.
Sebuah tatapan sinis lagi tajam terllayang ke arah Aura,
"Cih, ****** sialan!" umpat seorang gadis dengan rambut pink gelap. Raut kebencian jelas terpancar di matanya. Menatap Aura bagai sebuah ancaman, disaat jelas-jelas Aura tak melakukan apapun.
"Cihh."
"Ada apa?" tanya Jeck ketika ia mendengar Aura berdecih dengan raut wajah yang terlihat kesal. Entah kenapa mood Aura tampak mudah sekali berubah, moodsweaming kah?
"Kau tak bilang bahwa kau siswa populer," ujar Aura dengan lirikan tajam yang ia layangkan kepada Jeck, menciptakan kerutan samar di dahi Jeck.
"Adakah yang salah?" tanya Jeck dalam hati.
"Hmm... apa ada masalah?" tanya Jeck terlihat biasa saja tanpa tahu bahwa sebuah masalah akan menghampiri Aura.
"Tahu begini aku pergi sendirian saja!" ujar Aura sebelum meninggalkan Jeck dengan raut kesal yang masih terpasang di wajah manisnya. Tidakkah Jeck paham dengan apa yang ia pikirkan? Kalau tidak, bukankah Jeck sangat keterlaluan.
"Dasar tiddak peka!" gerutu Aura di dalam hati. Niat awal menghindari masalah tapi apa? Masalah justru datang lebih cepat dari yang ia perkirakan. Merepotkan, itu yang akan Shikamaru katakan bila ia nyata.
"Kenapa?" tanya Jeck setelah berhasil menyamakan langkah kakinya dengan Aura, tak cukup sulit memang sebab kaki Aura yang lebih kecil darinya memudahkan ia mengejar langkah Aura. Aura tampak mungil bila sedang bersanding dengannya.
"Akan sangat merepotkan bila mereka semua menyerangku sehabis ini. Terutama gadis yang ada di sana!" ucap Aura sambil melirik ke arah gerombolan gadis-gadis yang sejak tadi menatap sinis dirinya lalu menatap ke arah gadis berambut pink pudar. Jangan anggap remeh kemampuannya, bahkan dari posisinya saat ini ia dapat mendengar umpatan yang baru saja gadis itu lontarkan untuknya. Ah, ini akan sangat merepokan. Benar kata Shikamaru bahwa wanita itu merepotkan, kecuali dirinya itu sudah pasti.
Tatapan keduanya beradu, mungkin gadis itu pikir Aura akan takut padanya. Ceh, ia pikir dirinya akan takut melihat tatapannya itu? Big no, bahkan ia merasa tertantang karna hal itu,
"Rasa-rasanya ia ingin membunuhku dengan tatapannya itu!"
Begitulah kiranya komentar yang Aura layangkan begitu melihat tatapan tajam gadis berambut pink pucat itu untuknya. Ck, menggelikan.
Tatapan tak suka Jeck layangkan pada Aura, memberikan gestur seolah ia merasa terusik dengan ucapan Aura barusan. Bukannya membalas, Aura seakan acuh bahkan dengan santainya ia berpura-pura tak menyadari makna tersirat dari tatapan itu.
"Hhhhhh... sebelum ia membunuhmu. Ia yang akan ku bunuh duluan karna berani menyentuhmu!" ujar Jeck dengan tawa yang membuat beberapa gadis memekik kaget dan juga ada beberapa yang pingsan. Bukankah itu terlalu lebay? Andai mereka tahu tawa jenis apa yang baru saja Jeck alunkan, ku rasa mereka akan merinding ketakutan. Ck, perempuan dan segala kebucinannya. Sungguh meggelikan.
"Astaga Jeck tertawa!" seru salah seorang dari segerombol gadis di sana.
"Sial!! Apa yang si cupu itu lakukan hingga Jeck yang dingin bisa tertawa?" celetus salah satu gadis lainnya tampak terdengar di telinga Aura. Membuat Aura mengerutkan dahinya bingung, Jeck yang melihat ekspresia Aura barusan otomatis bertanya.
"Ada apa?" tanya Jeck memiringkan kepalanyaa ke arah Aura, dengan posisi wajahnya yang berada tepat di depan wajah Aura. Posisi ini membuat seluruh siswa yang melihatnya memekik terkejut, keduanya tampak seperti tengah berciuman.
Tatapan penuh selidik Aura layangkan pada Jeck, tangan kanannya spontan menarik dasi yang terpasang rapi di leher Jeck membuatnya terpaksa merunduk lebih dekat ke arah Aura,
"Apa kau bersikap dingin di sekolah?" tanya Aura menuntut jawaban dari Jeck.
Kerutan samar kembali menghiasi kening Jeck, ingatkan dia untuk menghitung sudah berapa kali ia mengerutkan keningnya agar ia dapat memastikan berapa kerutan samar di wajahnya,
"Ya," jawab Jeck.
"Double kill!" umpat Aura membuat Jeck semakin bingung.
"Ada masalah?" tanya Jeck. Tampaknya keduanya masilah betah dengan posisi mereka saat ini.
"Terserah. Antarkan saja aku ke ruang kepala sekolah. Sekarang!" pimta Aura dengan nada yang terdengar kesal serta raut wajah datar yang entah sejak kapan Aura kuasai. Tampaknya semenjak kecelakaan itu Aura sering berbicara dengan nada dingin serta raut wajah yang datar, sedatar papan triplek.
Sepanjang koridor menuju ruang kepala sekolah hampir seluruh siswa maupun siswi yang ada disana menatap kearah Aura dan juga Jeck. Entah karena keberadaan Jeck atau malah keberadaan Aura yang belum pernah terlihat membuat mereka menatap keduanya intens.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya mereka sampai di depan ruang kepala sekolah.
"Aku akan kekelas. Ingat bila kita tak sekelas segera hubungi aku. Mengerti?" ujar Jeck kembali memerintahkan Aura untuk menghubunginya.
Tatapan bosan tampaknya kembali Jeck dapatkan dari Aura,
"Hmm."
"Baiklah. Aku kekelas dulu, sampai jumpa nanti Dear!" ucap Jeck sebelum berlari menuju kelasny, membuat Aura menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jeck barusan, namun itu tak bertahan lama sebab ia kembali mendengus ketika sadar Jeck memanggilnya dengan panggilan kesayangan pemuda itu dulu untuknya 'Dear'.
Tak menunggu lama lagi Aura segera mengetuk pintu ruang kepala sekolah yang kini menjulang di hadapannya.
Tok Tok Tok
"Masuk!" sahut suara dari dalam ruangan itu.
Mendengar hall itu, langsung saja Aura membuka pintu berbahan kaca di hadapannya.
Ceklek
"Hn, permisi!" ucap Aura ketika pintu telah terbuka.
"Ahh... kau pasti Azura, murit baru itu kan?" tanya Kepala Sekolah begitu melihat Aura.
"Ya," jawab Aura singkat. Dari raut wajahnya terlihat sekali bahwa ia tak nyaman dengaan situasi ini.
"Baiklah langsung saja. Kau akan berada di kelas XII IPA GOLD dan Kevin akan menjadi wali kelasmu," ujar Kepala Sekolah sebelum memanggil seorang pria dengan rambut pirang tak lupa dengan kacamata membingkai kedua mata berwarna gold itu.
"Baiklah. Kevin ini Azura ia akan menjadi muridmu sekarang!" terang Kepala sekolah begitu Kevin telah berdiri di hadapannya.
"Bawa ia kekelasmu sekarang!" perintah Kepala sekolah kepada Pak Kevin.
"Baiklah, mari ikut saya Azura!" ujar Pak Kevin memimpin jalan menuju kelas barunya.
Di sepanjang jalan menuju kelas hanya keheningan yang menemani keduanya hingga...
"Namamu Azura bukan?" tanya Pak Kevin menatap ke arah Aura, ia harus sedikit menundukkan kepalannya guna menatap Aura sebab perbedaan tinggi keduanya.
"Ya, nama saya Azura Alyadra, Pak!" jawab Aura datar. Bukan maksud ingin berlaku tak sopan, hanya saja ia memang tak ingin lagi bersikap lemah dan juga ramah. Ia kapok bersikap begitu.
Sebuah senyum simpul terukir indah di wajah Kevin,
"Jangan terlalu formal. Kau bisa memanggilku Kakak," ujar Pak Kevin sambil memperhatikan Aura.
"Kurasa itu tidaklah sopan," jawab Aura tanpa perlu menoleh kearah Pak Kevin. Perbedaan tinggi keduanya membuat ia enggan menoleh ke arah guru barunya ini.
"Khhh... aku masihlah terlalu muda untuk kau panggil dengan sebutan 'Bapak'. Umurku bahkan baru 22 tahun!" tawa Pak Kevin atau malah harus ku panggil Kak Kevin? Tawanya mengalun lembut di telingaku.
"Baiklah. Terserah Pa-Kakak saja," ujar Aura datar, namun bila di cermati lebih teliti lagi seberkas semburan merah jambu menghiasi pipi Aura.
Tanpa sadar Kevin di buat tersenyum setelah mendengar jawaban Aura barusan. Ada apa eh Kevin? Jangan bilang kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Aura? Tapi ayolah, jangan gila Kev. Ingat umur serta statusmu, tapi kurasa keduanya bukanlah masalah. Ingat cinta tak memandang usia dan status, tapi tetap saja Aura itu siswa mu Kev.
°°°
Sedangkan di ruang kelas XII IPA GOLD yang katanya adalah kelas unggulan, namun nyatanya itu hanya cover sampunya saja sedangkan isi di dalamnya adalah murid dengan segudang kegaduhan namun berotak encer ya, walaupun hanya beberapa.
Ruang kelas pagi ini tampak sangat berisik setelah kabar hot tentang Jeck yang diketahui terlihat berangkat bersama dengan murid baru yang berpenampilan cupu, hal itu tenntu saja menggemparkan seantero OHS untung saja tidak Sejagat Raya.
"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan Jeck hingga mereka semua terus membicarakanmu?" tanya seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru safir kepada Jeck yang duduk di sampingnya.
"Ya, kau tahu mereka amat sangat berisik!" tambah seorang pemuda berambut hitam klimis yang duduk di depan meja Jeck.
"Apa kalian tidak tahu? Kalau jeck baru saja membawa seorang gadis menggunakan mobilnya?" sahut seorang gadis berambut navy bermata lavender yang kini tengah duduk di samping meja Jeck.
"Woahh... benarkah itu Jeck?" heboh pemuda berambut pirang yang tak lain adalah Alexsander Key biasa di panggil Key, just be a Key not Monkey. Ia akan sangat marah bila ada yang memplesetkan namanya, you know whatt I mean.
"Ck... ya," guman Jeck dengan mata terpejam. Adakah yang lebih buruk dari kebisingan ini?
"Ayolah Jeck, beri tahu kami!" paksa pemuda berambut hitam klimis, siapa lagi kalau bukan si cerewet Rizky Muhammad Fatur biasa di panggil Fatur. Ingat Fatur bukan Catur, oke?
"Ya."
Begitulah seruan yang disorakkan yang lain. Pertanda menyetujui ucapan Fatur.
Kerutan samar terlihat di dahi salah seorang gadis di antara mereka,
"Siapa gadis itu? Apa ia kekasihmu atau malah saudaramu?" tanya Elis Amarta, ia gadis dengan rambut coklat yang duduk di sebelah gadis berambut navy yang tak lain adalah Tania Mayang Sari.
"Berisik!" celetus seorang pemuda berambut perunggu dengan mata merah darah. Ia bena-benar tampan membuat jiwa fans girls ku meronta-rona.
"Aiss... kau tak seru, Ar!" rengek Key kepada pemuda tadi yang kini kita ketahui bernama Arata Devano. Nama yang bagus bukan? Seimbang dengan paras yang dimilikinya.
"Dia adal...
"Selamat pagi anak anak!" sapa Pak Kevin membuat Jeck tak jadi mengatakan siapa Aura atau kini kita panggil Azura?
Seluruh siswa diibuat pontang-panting akan kedataangan pak Kevin.
"Pagi Pak!!" jawab seluruh penghuni kelas lantang kecuali Jeck, Arata dan Fatur.
Senyum simpul tampak terbit di bibir pak Kevin begitu ia melihat keantusiasan siswanya,
"Baiklah hari ini kelas kita kedatangan murid baru, bapak harap kalian bisa menerima dia dengan baik!" suara Pak Kevin menggema di setiap sudut ruang kelas.
Kelas yang awalnya sunyi seketika menjadi gaduh, terutama para pemuda diikuti umpatan pelan dari para gadis, membuat kevin sedikit bingung.
Tanpa semuanya sadari dua orang pemuda tengah tersenyum. Sebuah senyum sebagai bentuk penantian dan juga keantusiasan akan sesuatu yang dinanti.
"Anak-anak harap tenang!" ujar Pak Kevin mencoba meredam kegaduhan yang terjadi.
"Azura kamu bisa masu!" ujar Pak Kevin sambil melihat kearah luar kelas.
Tap Tap Tap
Suara derap langkah mengalihkan seluruh atensi penghuni kelas termasuk Arata dan juga Jeck. Keduanya tampak acuh dengan keeadaa kelas dssejak tadi, sebelum pak Kevin memasuki kelas.
"Azura, silahkan perkenalkan dirimu!" perintah Pak Kevin begitu Aura telah berdiri di samping tubuh tegapnya.
"Azura Alyadra. Pindahan dari Australia."
Singkat dan jelas.
Pandangan Aura tampak menyapu seluruh sudut kelas, sekan mencari sesuatu dan kurasa ia telah mendapatkan apa yang ia cari begitu melihat senyum tipis setipis kertas di bibirnya.
"Ada yang ingin bertanya?" tanya Pak Kevin memberi kesempatan pada siswa lainnya.
Sebuah tangan tampak terulur mengalihkan atensi yang lain. Melalui gestur tubuh, Kevin mempersilahkan pemilik tangan itu berbicara.
"Bukankah kau gadis cupu yang bersama Jeck tadi pagi?" ujar seorang gadis berambut coklat panjang secara tiba-tiba.
"Ya, " singkat, padat dan jelas jawab yang aura lontarkan.
"Apa kau saudaranya Jeck?" tanya gadis lainnya yang duduk di samping gadis berambut coklat panjang tadi. Apa mereka juga fansgirl Jeck?
Sebuah lirikan tajam Aura layangkan pada gadis itu sebelum ia menariik sudut bibirnya, menampilkan senyum sinis yang entah apa artinya itu.
"Bukan."
Ruang kelas seketika ricuh begitu mendengar jawaban yaang Aura lontarkan.
"Lalu kau siapanya jeck?" timpal gadis berambut merah marun.
"Ak...
"Pasti lah ia ****** yang menggoda Jeck!!" celetuk gadis berambut pink gelap dengan mimik jijik di wajahnya, jangan lupakan penekanan yang ia ucapkan pada kata '******'.
Sungguh bar-bar tingkahnya, tidakkah bibirnya itu memiliki filter?
Semua siswa maupun siswi yang mendengar ucapan Kania barusan lantas tertawa kencang, mencemooh Aura secaara halus.
Jeck yang mendengar Aura di hina tentu saja tak terima, hampir saja ia bangkit dari kursinya sebelum Key mencegah tindakannya. Geejolak amarah jelas menggemuru di hati Jeck, ingatkan ia untuk membalas gadis itu.
"Kania!!" bentak Pak Kevin begitu mendengar ucapan kotor Kania. Semuanya tentu saja terkejut dengan bentakan Kevin barusan, pasalnya Kevin dikenal sebagai guru yang lemah lembut lagi penyabar dan kini mereka melihat sendiri kemarahnya.
"Benarkan?" ujar Kania masih dengan raut yang sama tanpa memperdulikan bentakan Kevin.
"Cukup!!" bentak Pak Kevin, ia merasa harus menghentikan semua ini sebelum semuanya bertambah runyam. Kevin tampak masih berusaha mengontrol emosinya yang sempat lepas.
"Kenapa?" betin Kevin bingung. Ya, kenapa ia bisa semarah ini? Apa yang salah?
"Apa aku bisa duduk, Kak?" tanya Aura setelah cukup lama diam memperhatikan pertunjukan picisan yang baru saja ia dapa di kelas barunya ini, sungguh penyambutan yang mengesankan.
"Kakak?" batin seluruh kelas. Apa mereka baru saja mendengar Azura-Aura memanggil Pak Kevin dengan sebutan kakak? Apa jangan-jangan....
"Haaah~ Ya. Kau bisa duduk di bangku kosong di samping Arata!" ujar Pak Kevin dengan helanan nafas yang terasa lumayan berat. Ini bahkan baru permulaan Kev, kau akan terkejut bila permainan sudah berjalan.
"Ar..
"Tidak perlu Kak. Aku tahu," ujar Aura menyela ucapan kevin yang hendak meminta Arata mengangkat tangannya.
"Ah...baiklah."
Azura- Aura tampak melangkah mendekati bangku kosong yang akan ia tempati beberapa bulan kedepan. Di samping kursinya duduk seorang pemuda berambut perunggu yang hampir serupa dengan miliknya, hanya saja tanpa gradiasi ungu di ujungnya.
"Mmm... Hai!" sapa seorang gadis berambut navy yang duduk di samping meja Jeck.
"Hai!" balas Aura sedikit kaku.
"Aku Tania Mayang Sari dan ini Elis Amarta!" ujar gadis itu memperkenalkan dirinya dan teman semejanya. Tampaknya ia mencoba berteman dengan Aura.
"Oh.. salam kenal," ujar Aura menanggapi seadanya.
"Hai namaku Alexsander Key. Kau bisa memanggilku Key ataupun Sayang juga boleh!" ujar Key dengan tangan yang kini ia sodorkan kearah Aura.
Diliriknya sebentar telapak tangan yang terulur di hadapannya sebelum seulas senyum tipis terukir di bibir Aura,
"Hai, salam kenal Key!" ujar Aura menerima uluran tangan Key sampai...
Plak
"Jangan terlalu lama!" ujar Jeck dengan kasar menepis tangan Key, karena posisi duduk mereka yang adadi depan Aura memudahkan aksinya barusan.
"Sial...
"Alexsander Key bisakah kau diam?" bentak Pak Kevin di depan sana. Ah, ternyata umpatan Key barusan terdengar sampai telinga Kevin.
"Bi-bisa, Pak!" gagap Key dengan keringat dingin di keningnya. Ia tampak menerka-nerka seberapa tajam pendengaran gurunya itu, sebab posisi mereka amat lumayan jauh.
"Sialan kau Jeck!" umpat Key pelan.
"Psttt.. Jelek!" panggil Fatur dari arah depan membuat Aura menatap bingung kerahnya. Hanya perasaannya saja atau memang pemuda klimis itu tengah menatap dan memanggilnya..
Di sana Fatur tepatnya meja di depan Jeck, Fatur tampak mengangkat sebuah kertas bertuliskan namanya. Membuat Aura memandang bingung kertas itu.
"Ingat baik-baik nama ku, Jelek!" ujar Fatur dengan suara yang lumayan pelan namun masih bisa didengar oleh Azura-Aura. Hanya sebuah anggukan yang mampu Aura berikan sebab ia bingung harus merespon bagaimana. Anggukan Aura membuat Fatur mmberikan senyum manis miliknya, membuat Jeck dengan terpaksa menendang kursi Fatur yang ada di depannya. Fatur yang mendapat serangan mendadak hanya dapat memberikan pelototan kepada Jeck. Ia masihlah sayang nyawa bila berani membuat keributan di kelas Pak Kevin.
Sebenarnya sedari tadi Arata terus memperhatikan apa yang sahabat- sahabatnya lakukan, namun ia memilih untuk diam tak berkomentar. Hingga sebuah telapak tangan tersodor kearah dirinya.
"Azura Alyadra!" ucap pemilik telapak tangan itu yang tak lain adalah penghuni baru kursi kosong di sampingnya.
Entah ada angin apa, Arata menerima uluran tangan aura. Catat sekali lagi, ia menerima uluran tangan Aura. Dan ohh good... Arata tersenyum.
"Arata Devano."