
Aku pun segera masuk ke kamar mandi yang besarnya tiga kali lebih besar dari kamar mandiku di rumah. Aku memperhatikan kamar mandi itu, dari situ aku tahu jika Andrew yang terlihat rapi dan bersih di luar ternyata tidak begitu rapi di kamar mandi. Dia meletakkan pakaian-pakaian kotornya di sembarang tempat. Bahkan dalamannya dia biarkan berserakan di lantai.
Aku sebenarnya ingin cuek saja dan membiarkan pembantu yang mengambilnya, tapi karena aku sadar bahwa aku sudah menjadi istrinya maka dengan terpaksa aku pun mengangkatnya baju serta dalamannya ke tempat baju kotor.
"Hm apa ini yang akan aku lakukan setiap hari? Apakah sebagai istri aku harus selalu mengurusnya? Rasanya aku belum siap," keluhku dalam hati. Selama mandi pikiranku dipenuhi dengan rasa takut.
Setelah mandi, aku berdandan tipis agar lebih terlihat segar. Dengan menggunakan baju kaos dan hot pants kain yang nyaman aku pun bersiap turun untuk ikut sarapan bersama mertua dan tentu saja suamiku.
"Selamat pagi om tante," sapaku agak kaku.
"Pagi anak cantik, sini duduk kami sudah menunggumu untuk sarapan bersama." Ibu Rianti menyambutku dengan hangat.
"Iya tante, maaf lama turunnya." Aku pun duduk di sebelah Andrew. Andrew hanya tersenyum melihat kedatanganku.
"Tidak apa-apa, Nak. Oiya kalau bisa jangan panggil tante lagi ya, panggil Ibu aja biar samaan kayak Andrew."
"Baiklah Bu," aku mengangguk tanda setuju, aku merasa sudah diterima oleh keluarga ini. "Ngomong-ngomong Kakek kenapa nggak ikut sarapan bersama?"
"Semalam setelah acara pernikahan kalian selesai, Kakek terbang ke Bali untuk liburan katanya," giliran Pak Jerome yang menjawab pertanyaanku.
"Kakek ke Bali sama siapa aja Yah?" Andrew terkejut mendengar kata-kata dari ayahnya.
"Ayah juga kurang tahu, Kakek hanya mengatakan ingin refresing dengan jabatan sebagai Boss sebelum jabatannya diberikan ke kamu."
"Kakek ada-ada aja."
"Ayo dimakan dulu," potong Ibu Rianti sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya dan mengambilkan dua sampai tiga sendokan kuah sayur bayam. Pak Jerome terlihat sangat senang dengan sayur itu, sedangkan aku dan Andrew mengambil beberapa potong roti panggang yang sudah diolesi selai untuk dimakan.
"Andrew, Kakek sempat ngomong kalau kalian mau honeymoon di Bali bilang aja ke Kakek biar Kakek yang ngurusin semua persiapannya di sana," lanjut Ibu Rianti ketika semuanya sedang serius menyantap makanan.
"Kakek ini apa aja pengen dia urusin, gampanglah nanti Bu, kalau aku sama Lia mau honeymoon ke Bali tinggal berangkat dan pesen hotel di sana."
"Tahu sendiri Kekek mu seperti apa, kalau dia menginginkan sesuatu pasti akan diusahakan dengan sungguh-sungguh," sambung Pak Jerome.
"Oh jadi karena sifat itulah, perusahaan Kakek bisa sesukses sekarang ini," aku tidak bisa menutup mulutku untuk tidak berkomentar.
"Iya nak, Kakek itu tipe orang yang akan melakukan apa saja untuk mencapai apa yang dia inginkan. Bahkan karena saking keras usahanya dia sampai lupa jika badannya sudah tidak kuat," kata Pak Jerome.
Aku benar-benar salut kepada Kakek, karena itu tandanya segala kesuksesan yang aku lihat sekarang memang tidak menghianati proses yang dia lakukan selama ini.
"Kalau kamu tertarik pengen tanya-tanya gimana cara sukses, bisa langsung tanya ke Kakek," seru Andrew yang menimbulkan gelak tawa di meja makan pagi itu.
***
Di rumah Gamalia, Ibu Marta sedang berada di halaman belakang rumah. Seperti biasa tiap pagi dia akan menyiram tanaman-tanamannya dan jika sedang mood dia juga akan berolahraga.
Setelah melakukan aktivitasnya, dia duduk sambil merenung. Hatinya terasa hampa dan kosong. Semalam dia telah merelakan putri semata wayangnya untuk tinggal bersama Andrew cucu Pak Yahya.
"Ternyata sepi juga rumah ini tanpa keahadiran Gamal. Tidak ada lagi orang yang bisa dia omelin dan suruh-suruh." pakirnya dalam hati.
Ingin sekali rasanya mengirim pesan ke putrinya itu dan menanyakan kabar. Tapi karena masih gengsi dia pun mengurungkan niatnya.
"Mama, papa berangkat kerja dulu ya!" seru Pak Bakti.
Bu Marta segera bangkit dari tempat duduknya dan menyusul suaminya untuk memberikan salim.
"Ada apa istriku? Kenapa matamu sembab?"
"Hah, masa sih pa?" Bu Marta meraba matanya.
"Kamu sedang sedih ya ditinggal sendiri di rumah?"
"Hmm iya pa, biasanya nggak pernah merasa sesepi ini. Walaupun sering sendiri di rumah karena Gamal yang berangkat kuliah, tapi sekarang rasanya beda. Aku sedih karena merasa dia akan jarang datang ke rumah," kata ibu yang mulai sedih lagi.
"Sudah tidak apa-apa, mungkin mama hanya belum terbiasa. Toh kalau Lia di rumah kalian sering bertengkar."
"Iya juga sih pa, mungkin aku sedih karena kehilangan teman bertengkar," ucap Bu Marta yang mulai tersenyum.
"Hahaha gitu dong, kalau senyumkan jadi cantik," goda Pak Bakti yang kemudian mencium jidat istrinya lalu berangkat ke kantor.
***
"Apa kamu mau jika kita honeymoon ke Bali?"
"Sepertinya nggak bisa, aku masih harus kuliah."
"Sepertinya tidak masalah jika harus bolos beberapa hari."
Aku diam beberapa saat. Aku belum bisa menjawab pertanyaan Andrew. Sesekali aku menatap mata Andrew, tatapan matanya seperti ingin memaksaku agar mengiakan ajakan itu.
"Tapi sampai di sana apa yang akan kita lakukan?" tanyaku sambil membalas tatapan Andrew dengan serius.
"Apa pun yang kamu inginkan. Aku akan melakukan apa pun yang membuatmu bahagia."
Deg. Hatiku tiba-tiba terasa tertembak. Tembok besar yang aku timbun selama ini hancur berkeping-keping. Keyakinan bahwa hidupku tidak akan pernah bahagia hancurkan hanya dengan kalimat itu.
Aku tertegun dan sadar akan hadirnya sebuah cahaya yang selama ini aku harapkan. Perlahan aku memeluk laki-laki di depanku dan dia pun membalas pelukan itu dengan sangat lembut. Tangannya mengusap punggungku, untuk meredakan sesenggukan yang tidak bisa aku tahan lagi.
Terima kasih untuk kata yang menyembuhkanku dan hadirmu yang menciptakan harapan dalam hidupku.
.
.
.
.
.
Tunggu kelanjutannya... Thankyouu ✨✨✨