
Seminggu setelah Arata menghubungi Aura malam itu, keduanya tampak semakin dekat. Keduanya kerap kali di pergoki tengah berbicara maupun makan bersama dan hal itu di sadari oleh Jeck dan yang lainnya. Seperti saat ini mereka tengah berada di lapangan basket karena jadwal olah raga hari ini.
"Kau yakin mau ikut bermain, Azura?" tanya Arata kepada Aura. Pasalnya ia ragu bila Aura dapat bermain basket, ia takut Aura akan terluka.
"Kau meremehkan ku, Arata?" balas Aura dengan pipi yang ia gembungkan, pertanda ia tengah kesal saat ini. Aiss, jangan meremehkan dirinya, begini- begini ia jago bermain basket asal kalian tahu.
"Tap...
"Ayolah, Arata!" rengek Aura dengan mata yang berkaca-kaca bak anak kucing yang minta di berikan susu. Sungguh ini bukan Aura sekali.
Glekk
"Ba..baiklah," ujar Arata dengan tangan kanan memencet hidungnya. Ia takut tiba-tiba mimisan sebab tak tahan dengan godaan yang Aura lancarkan kepadanya saat ini.
"Yeee, terimakasih Arata!"
Tanpa Aura sadari kini ia tengah memeluk tubuh Arata. Astaga apa ini benar-benar Aura? Membuat semua yang melihatnya memekik kaget bahkan ada yang menggeram marah, seperti yang dilakukan oleh Jeck, Kania, Fatur dan juga seseorang yang mengamati mereka dari kantin.
"Sialan!" guman Jeck dan seseorang itu penuh emosi. Tanpa Jeck sadari Key yang berada di dekatnya mendengar apa yang baru saja ia gumankan.
"Bicth!" kini giliran Kania yang mengumpat melihat apa yang baru saja Azura-Aura lakukan.
"Kenapa rasanya sakit?'" batin Fatur memalingkan wajahnya dari Aura dan juga Arata.
"Hhhh... Apapun untukmu Sweety!"
Tawa arata mengalun indah bak alunan melodi yang menghanyutkan orang yang mendengarnya, namun ada juga yang menatap takjub serta kaget dengan apa yang baru saja mereka lihat. Seorang Arata Devano yang terkenal dinginnya hampir sama dengan Jeck malahan lebih, kini tengah tertawa karena gadis yang sama dengan yang membuat Jeck tertawa. Sebenarnya apa yang Azura-Aura lakukan? Mantra apa yang Aura gunakan untuk membuat kedua pangeran es berjalan itu tertawa?
"Itu beneran Arata kan, El?" ujar Tania dengan pandangan yang terkejut sekaligus takjub kearah Arata dan juga Aura yang kini tampak tertawa bersama tanpa mengindahkan apa yang terjadi di sekitar mereka.
"Cubit gue sekarang Key!" ujar Fatur memberikan tangannya kearah Key yang dengan senang hati menuruti apa yang di inginkan Fatur.
"Awww! Sakit ******," pekik Fatur ketika Key benar-benar mencubit lengannya.
"Jadi ini beneran, bukan mimpi?" ujar Fatur sambil mengelus tangannya yang baru saja di cubit key, tampak membiru. Secuil rasa tak rela dan juga marah singggah di hati kecil Fatur. Haruskah ia bersaing denga Arata dan juga Jeck?
Sebisa mungkin ia memasang raut wajah yang gembira walaupun di hatinya tengah meradang,
"Wah... Si jelek ngapain sampe bisa bikin entu balok es berjalan ketawa!" celetuk Fatur sambil memasang pose berpikir, namun sebelum itu ia lebih dulu menyugar rambut hitamnya membuat beberapa gadis yang ada disana menjerit manja. Menjijikkan.
"Entahlah," jawab Key dengan bahu yang ia angkat. Tampak acuh tak acuh.
°°°
"Baiklah anak-anak hari ini kita akan bermain basket. Kelas akan bapak bagi menjadi beberapa kelompok berjumblah tujuh orang. Tiga putri dan empat putra pada masing-masing kelompok!" ujar Pak Rahman sebagai guru olahraga mereka.
Semua orang sibuk mencari anggota kelompok mereka. Beberapa siswi berebut untuk mendapatkan Arata dan juga Jeck.
"Arata~ kau sekelompok denganku ya!" ujar Kania sembari bergelayut manja di lengan Arata, namun langsung di tepis kasar oleh Arata.
"Menjauh!" ucap Arata dengan raut serta nada datar nan dingin miliknya. Ia benci bila ada yang menyentuh dirinya tanpa izin darinya.
"Ayolah~ Arata!" tanpa menyerah Kania kembali menempel kepada Arata. Membuat Arata geram bukan kepalang.
"Lepas, aku sekelompok dengan Azura!" bentakaan Arata membuat beberapa siswa maupun siswi menatap kearah mereka berdua lalu menatap kearah Azura-Aura yang nampak terkejud dengan ucapan Arata barusan.
Dengan sekali sentakan lengan Arata terbebas dari lilitan kania. Tanpa membuang waktu Arata berjalan menuju Aura lalu menggenggam tangan Aura.
"Sweety, kita sekelompok tak ada bantahan!" ucap Arata dengan lembut serta tatapan mata yang memuja ke arah Aura. Membuat Jeck dan juga Kania semakin cemburu.
°°°
Pelajaran olahraga telah usai. Dengan seragam yang basah akibat keringat yang mereka dapat karena berlarian mengejar serta menggiring bola di bawah terik matahari. Hampir semua siswa penghuni kelas XI IPA GOLD menatap tak percaya kearah Azura-Aura, kenapa? Karena keahlian Aura dalam bermain basket patut di acungi jempol sebab ia beberapa kali berhasil mencetak poin ketika kelompoknya bermain tadi.
"Wah...tak ku sangka kalau kau bisa bermain basket, Jelek!" ujar Fatur dengan nada menggoda di ucapannya, jangan lupakan tangan kurang ajarnya yang dengan lancang menusuk-nusuk pipinya.
"Hn," guman Aura tanpa memandang Fatur.
"Azura kau mau ganti baju di toilet atau ruang ganti?" tanya Tania kepada Aura. Kini mereka semua telah berada di dalam kelas.
"Toilet. Aku ingin mencuci muka," jawab Aura sambil menepis tangan Fatur yang masih menusuk pipinya. Sebelum berlalu meninggalka kelas ia sempat mengedarkan pandangannya guna mencari keberadaan sese-dua orang.
Di sepanjang jalan menuju toilet puluhan pasang mata menatap kearahnya. Ada yang menatap sinis, kagum, heran bahkan mencemooh kearahnya, namun lagi-lagi Aura acuhkan. Come one hidup- hidupku kenapa juga harus memperdulikan pandangan orang lain. Bak pepatah Anjing menggonggong kapila berlalu. Biarkan saja mereka mau bilang apa anggap saja angin lalu. Coba baca buku ' Seni Untuk Bersikap Bodo Ama ' iitu akan berguna.
Kriett
Toilet kali ini tampak sepi. Membuat Aura leluasa mengganti seragamnya. Ia tampak memasuki salah satu bilik toilet guna mengganti seragamnya yang telah basah oleh keringat.
Tak butuh waktu lama Aura selesai mengganti bajunya. Ia tampak merapikan penampilannya di depan kaca dekat watsafel.
"Melelahkan," guman Aura sambil membasuh wajahnya menggunakan air yang mengalir dari watsafel. Setelah selesai mencuci wajahnya Aura berniat kembali ke kelas namun belum sempat ia membuka pintu, seseorang atau malah beberapa orang telah masuk dan mengunci pintu dari dalam.
Kerutan samar terlihat melintang di kening Aura saat ini,
"Mau apa kalian?" tanya Aura bingung.
"Ah... ****** kecil sepertimu harus di beri pelajaran karena berani menggoda Arata!" ujar Kania dengan tatapan jijik serta sinis yang ia layangkan kearah Aura.
Mendengar hal itu rasa-rsanya Aura ingin merotasikan kedua matanya. Kenapa harus Arata lagi?
"Mau kita apakan ****** ini Kania?" tanya seorang gadis berambut hitam kepada Kania.
"Bagaimana kalau kita mandikan saja dia?" usul gadis lain dengan name tag Rani kepada keduanya.
Mendengar hal itu, Aura langsung measang posisi siaga.
"Ide bagus. Ambil air!" ujar Kania menyetujui usulan Rani.
"Jangan macam-macam!" geram Aura dengaan mata yanng menatap nyala Kania.
"Sial!" batin Aura mengumpat. Kenapa ia harus berurusan dengan Kania lagi?
"Rasakan ini!" ujar gadis berambut hitam bernama Santi sebelum menyiram Aura dengan air yang ia ambil di salah satu bilik toilet menggunakan ember. Tak sempat menghindar membuat Aura harus merelakan tubuh serta seragamnya basah akibat guyuran Santi.
"Dengar ******. Jangan sekali kali kau mendekati Arata lagi!"
"Atau kau akan menyesal!" tambah Kania sambil menjambak rambut Aura, membuat Aura merintih menahan rasa sakit serta panas di kulit kepalanya.
"Le..pas!" ujar Aura mencoba melepaskan jambakan Kania.
"Lepas? Pegang ****** ini!" ujar Kania memerintahkan Santi dan juga Rani untuk memegang Aura. Keduanya langsung menuruti apa yang Kania perintahkan.
"Apa lagi?" tanya Aura memandang Kania tajam.
Senyum sinis Kania layangkan pada Aura,
"Wah... kau cukup berani rupanya," ucap Kania tersenyum, namun percayalah ia telah terbakar amarah dalam hatinya.
Plakk
"Ini untukmu yang berani duduk di samping Arata!" ujar Kania setelah melayangkan tamparan kearah Aura.
Keadaan ini membuat Aura tak bisa menghindar ataupun membalas apa yang Kania lakukan padanya.
Plakk
"Ini untuk mu yang berani-beraninya menggoda Arata!" ujar Kania lagi.
Rona merah pada pipi Aura tampak sangat kontras dengan kulit putihnya, membuat jiplakan jemari Kania tampak jelas menghiasi kedua pipi Aura.
Plakk
Kembali kania melayangkan temparan kerah Aura. Membuat kedua pipi Aura menjadi semakin merah dengan cap kedua tanya Kania, bahkan kacamatanya kini telah terjatuh dari wajahnya.
"Puas?" ujar Aura dengan kepala yang tertunduk. Kania tak dapat melihat ekspresi apa yang tengah di tampilkan oleh Aura sebab rambut silvernya menjuntai menutupi wajah Aura. Bahkan Rani dan juga Santi pun tak bisa melihatnya.
"Hah?" guman Kania bingung.
Dugh
Tanpa bisa di cegah, Aura dengan cepat telah melayangkan sebuah tendangan pada Santi dsn juga Rani membuat keduanya terhuyung ke belakang.
Brughh
Keduanya tampak membentur dinding masing-masing sisi kamar mandi.
Akhhh
"Sialan apa yang kau lakukan?" umpat Kania ketika melihat Santi dan juga Rani telah terjatuh akibat tendangan Aura. Ia lirik keduanya yang tampakk tengah merintih sakit.
"Membalas perbuatanmu!" ucap Aura dengan mata biru safir yang menatap tajam Kania. Rasa perih pada sudut bibirnya tak Aura indahkan, saat ini yang ia inginkan adalah membalas ****** kecil di hadapannya.
Kedua mata Kania tampak melebar, kedua tngannya mengepal menandakan ia tengah marah sat ini,
"Kau!!" bentak Kania kepada Aura.
Plakk
"Jangan berani-beraninya kau menaikkan intonasi suaramu padaku!" ujar Aura setelah melayangkan tamparan kearah Kania. Membuat Kania terjatuh dengan wajah yang terarah kesamping, menunjukkan seberapa kencang tamparan Aura barusan.
"Sialan!" umpat Kania marah. Dengan gesit ia kembali melayangkan tangannya guna membalas Aura namun dengan gesit pula Aura menangkap pergelanga tangan Kania.
"Kau pikir kau bisa menamparku lagi?" seringi penuh ejekan Aura berikan pada Kania, namun sejurus kemudian hanya raut wajah datar yang terlihat di wajah Aura.
Krakk
"Aarghh!!" jerit Kania ketika merasakan pergelangan tangannya di cengkram dengan kuat oleh Aura. Rasa-rasanya tangannya akan remuk atau malah sudah remuk?
Santi dan juga Rani yang melihat hal itu langsung saja keluar guna melaporkan kepada Pak Kevin apa yang tengah terjadi di toilet. Aura yang menyadari keduanya kabur hanya berdecak kesal. Padahal ia ingin bermain dengan dua cecunguk itu juga.
Hampir saja ia melangkah keluar kalau saja tidak ada tangan yang menarik rambutnya.
"Ku balas kau sialan!" teriak Kania penuh dengan kemarah. Dengan menggunakan tangan kanannya yang tidak sakit, Kania menarik kencang rambut Aura tak memperdulikan helaian rambut Aura yang rontok akibat tarikannya.
"Sialan lepaskan!" bentak Aura mendorong Kania. Dan fola jambakan itu terlepas dari rambutnya, namun tak sampai disitu kini Kania telah berdiri sambil memegang ember yang ia gunakan untuk menyiram Aura tadi dan tanpa pikir panjang ia lempar ember itu ke arah Aura.
Dugh
"Aww!!" rintih Aura ketika merasakan hantaman dari ember yang mengenai keningnya. Bau karat serta amis menyapa indra penciuman Aura membuat ia refleks memegang dahinya. Merah.
"Darah!" guman Aura sembari melihat tangannya yang berlumur darah.
"Hhhhh... rasakan itu ******!" ejek Kania dengan tawa yang kencang.
"Kau!" bentak Aura menatap nyala Kania.
Belum sempat Kania membalas bentakan Aura,p suara bantingan pintu lebih dulu menyapa indra pendengaran keduanya.
"Ada ap.. Azura!" ujar Kevin terkejut ketika melihat keadaan Aura saat ini. Bagaimana tidak kaget ketika melihat Aura dengan pakaian basah kuyub serta rambut acak-acakan dan juga darah yang membasahi sebagian wajah Aura yang memerah akibat tamparan Kania sebelumnya. Hal serupa juga terjadi oleh Arata dan juga Jeck. Mereka benar-benar terkejut melihat keadaan Aura saat ini.
"Kania apa yang kau lakukan?" bentak Arata sambil melangkah menuju kearah Aura. Dengan sigap ia menyeka darah yang mengalir di dahi Aura.
Plakk
"Je...Jeck!" gagap Kania ketika ia menerima tamparan dari Jeck.
"Ku bunuh kau ******!" umpat Jeck dengan amarah di matanya.
"Jeck cukup!" ucap Aura menghentikan apa yang akan Jeck lakukan terhadap Kania.
"Tap...
"Cukup!!" ulang Aura dengan intonasi yang ia naikkan satu oktav guna mencegah Jeck.
"Kita ke uks sekarang!" ujar Arata mengalihkan pembicaraan Aura dan juga Jeck.
"Key dan kamu, Fatur bawa Kania ke ruang bk sekarang!" perintah Kevin yang langsung dipatuhi keduanya.
"Tapi pak tangan saya!" tolak Kania dengan wajah yang di buat semenyedihkan mungkin.
"Guru bk yang akan mengurusmu nanti." ujar Kevin dingin. Mata yang biasanya berwarna hijau terang itu kini tampak menggelap, secuil kabut emosi terlihat melintas di manik hijau itu.
"Tahan, bunuh ia nanti saja. Sekarang Azura lebih penting!" batinnya meencoba mengontrol emosinya.
"Biar aku saja yang membawa Azura," ujar Arata bersiap akan menggendong Aura.
"Tidak. Aku saja," tolak jeck
"Aku."
"Aku."
"Ak...
"Minggir!!" ujar Kevin menyela Arata.
"Tap...
Belum sempat keduanya melayangkan protes, Kevin sudah lebih dulu membawa Aura ke dalam gendonganya. Bridestyl.
Kembali sepanjang jalan seluruh siswa menatap ke arah mereka dengan pandangan bingung.
"Apa yang terjadi?" tanya salah seorang siswi kepada siswi lainnya.
"Kenapa cupu itu di gendong Pak Kevin?" sahut siswi lainnya menatap tak suka ke arah Aura.
"Cih, dasar ******!" umpat beberapa siswi kearah Aura.
Jangan kira Aura tak mendengar semua yang mereka katakan. Walaupun ia bersikap acuh tetapi hatinya juga merasakan sakit ketika dihina sebegitu rendahnya oleh mereka.
"Acuhkan saja," ujar kevin semakin mengeratkan pelukannya kerah Aura, mencoba memberikan kekuatan dan juga kenyamanan.
"Hn," guman Aura sambil menyamankan posisinya di dekapan Kevin.
"Matamu indah Azura!" ujar Kevin sambil menatap ke arah mata biru safir milik Azura, ia terbua akan indahnya mata itu. Rasa sejuk dan juga tenang ia dapatkan dari mata sewarna langit biru yang cerah.
"Ingat umurmu, Kak!" ujar Aura sambil menunjuk dada Kevin. Perasaannya saja atau memang Kevin sedikit berbeda dari Kevin yang ia temui pertama kali. Pandangan matanya dan juga cara bicaranya amat berbeda.
"Apa yang salah dengan umurku? 22 tahun bukanlah umur yang jauh darimu," ujar Kevin dengan kerlingan nakal yang ia layangkan ke arah Aura, namun itu takk bertahn lama sampai tatapan penuh obsesi terpancar dari manik hijau gelap Kevin.
"Kau berusaha menggombaliku, Kak?" ujar Aura menatap sayu ke arah Kevin. Ia sadar, ia sempat melihat tatapan penuh obsesi itu.
"Kalau boleh," ujar Kevin dengan seringai di bibir tipisnya. Bahkan rasanya untuk melaakukan hal lebih pun Kevin bisa. Ini kali pertama ia mengizinkan seseorang berada dalam dekapannya dan juga mengusik pertahanannya.
"Terserah," sahut Aura acuh. Ia memilih memendamkan wajahnya di dada Kevin. Menghirup aroma min dari kemeja Kevin membuat ia sedikit rileks dan mengantuk.
"Istirahat lah!" ujar Kevin dengan senyum manis di bibirnya, membuat beberapa siswi terpekik manja. Hai, kevin termasuk pria tampan di OHS. Jadi, sudah pasti banyak siswi yang mengidolakannya termasuk para guru.
Tanpa keduanya sadari dari arah belakang mereka terpancar hawa mencekam yang berasal dari Arata dan juga Jeck. Keduanya tampak menggeram kesal lantaran Kevin dengan santainya malah menggoda bahkan menggendong Aura dalam dekapannya.
"Dedek, babang cemburu ini!" Andai keduanya tak menjaga image cool pastilah keduanya telah meneriaki apa yang batin keduanya teriakkan.