000

000
Debaran



"Tahan sedikit. Ini akan sedikit sakit!" ucap Arata sembari memoleskan kapas yang telah diberikan obat merah ke telapak tangan Aura. Sedangkan Aura, ia hanya mampu meringis merasakan rasa perih yang perlahan terasa semakin sakit dari luka yang ada di telapak tangannya.


"Untung saja tak terlalu dalam," ujar Arata dengan tangan yang cekatan membalut luka Aura menggunakan perban.


"Selesai!" ujar Arata setelah selesai membersihkan dan juga menutup luka di telapak tangan Aura.


"Terimakasih," ujar Aura dengan senyum manis serta tatapan yang lebih hangat dari sebelumnya. Membuat Arata terpanah melihat kecantikan Aura.


Perunggu dan Silver


Merah Darah dan Biru Safir


Arata dan Azura-Aura


Tanpa sadar mata keduanya saling memandang takjub, terpesona dengan pesona yang dimiliki oleh makhluk dihadapan mereka.


Deg Deg Deg


"Jantungku!" batin Arata ketika merasakan jantungnya berdetak dengan tak normal. Seingatnya ia tak memiliki riwayat penyakit apapun yang berhubungan dengan jantung.


"Ada apa dengan jantungku?" batin Aura bingung ketika merasakan jatungnya berdetak kencang dan juga rasa-rasanya ada ribuan kupu-kupu yang terbang menggelitik perutnya.


"Mmm."


Kegelisahan tampak jelas di mata Arata saat ini,


"Azura!" panggil Arata dengan kegugupan yang ia tutupi dengan wajah datarnya.


"Ya."


"Kau dan jeck bersaudara?" tanya Arata yang saat ini tengah duduk di kursi yang berada di samping ranjang tempat Aura duduk saat ini.


"Tidak," jawab Aura dengan kebingungan yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kenapa semua orang selalu bertanya pertanyaan yang sama?" batin Aura.


"Mantan?" kembali Arata bertanya.


"Pacaran saja tidak pernah lantas bagaimana Jeck bisa menjadi mantanku?" ucap Aura diakhiri dengan kekehan manis yang lagi-lagi membuat Arata terpesona.


Debaran itu kembali hadir, terasa amat sangat menyenangkan dan Arata suka itu.


Sebuah senyum tipis Arata ukir di bibirnya, entah kenapa ia merasa amat senang begitu mendengar jawaban Aura,


"Jadi kau dan Jeck...


"Just friend," potong Aura.


"Ada apa?" tanya Aura sedikit heran dengan pertanyaan-pertanyaan yang Arata berikan padanya.


"Tidak. Hanya saja aku....


"Hn?" guman Aura menunggu ucapan Arata yang ia jeda, membuat Aura tanpa sadar penasaran akan apa yang akan Arata ucapkan.


"Aku rasa aku menyuk...


Brakkk


Belum sempat Arata mengungkapkan apa yang hendak ia katakan. Suara dobrakan pintu memaksa ia menjeda kembali apa yang ingin ia ucapkan.


"Dear, are you oke?" ujar pelaku pendobrakan yang tak lain adalah Jeck.


"Ya."


"Syukurlah. Apa Arata yang mengobatimu?" Ujar Jeck ketika melihat tangan aura yang trlah terbungkus rapi dengan perban.


"Ya."


"Thanks Ar," ujar Jeck kepada Arata.


"Hn," guman Arata dengan raut wajah datar. Sebenarnya ia kesal dengan kemuncupan Jeck yang tib-tiba. Membuat ia tak bisa menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada Aura.


"Syukur deh kalau kau tak apa-apa, Jelek!" ucap Fatur dengan senyum polosnya. Ayolah, ini sangat tidak adil bagaimana caranya seseorang bisa marah paada wajaah polos itu? Cih, berkah tuhan yang menguntungkan.


"Ck," decak Aura dan juga Arata bersamaan membuat Key memandang keduanya dengan pandangan yang menilai.


Raut wajah jengah dan bosan tercetak jeelaas di wajah Tania saat ini,


"Jangan mulai, Tur!" ucap Tania mempringatkan Fatur. Lagi.


Raut wajah kesal dan juga tak terima jelas saja timbul di wajah Fatur begitu mendengar ucapan Tania,


"Apa? Aku tak melakukan apapun?" bela Fatur.


"Astaga!" keluh Elis jengah dengan tingkah Fatur yang sejak kedatang Aura tampak menjadi semakin gila.


"Sudahlah," lerai Aura, ia tak ingin ada keributan lagi sebab ia benci keributan walaupun ia tahu keributan itu bagian dari dunia ini. Ceh, puitis sekali.


"Sebaiknya kita kekelas," ujar Arata memberi usulan. Entah kenapa moodnya seketika memburuk.


"Ya, sebentar lagi bel akan berbunyi," tambah Key yang sejak tadi diam. Namun keterdiamanya itu membuat ia tahu satu hal, Arata tertarik pada Aura. Itu memang terdengar bagus tetapi tidak ketika pancaran mata posesiv yang Jeck berikan pada Aura terlihat, itu akan berubah menjadi buruk.


°°°


OHS kini tampak lengang sebab hampir seluruh siswanya telah pulang sejak lima belas menit yang lalu kecuali Aura serta yang lainnya. Mereka masih berada di kelas, entah apa yang tengah mereka lakukan.


"Azura!" panggil Arata ketika melihat Aura akan beranjak pergi.


"Ya?" sahut Aura menatap bingung Arata.


Dengan sedikit kegugupan Arata mencoba menatap Aura,


"Nomor ponselmu," ucap Arata sembari menyodorkan ponselnya kearah Aura.


"Hah?" bingung Aura.


"Ku rasa aku memerlukan nomor ponselmu untuk memastikan kau akan baik-baik saja dengan tangan mu itu," jelas Arata dengan sedikit rona merah menghiasi pipinya.


"Baik...


"Untuk apa kau meminta nomor ponsel Azura, Arata?" sela Jeck dengan tatapan yang tampak tak suka.


"Bukankah sudah ku katakan tadi?" jawab Arata dengan tampang serta nada yang amat berbeda ketika berbicara dengan Aura tadi. Ia tampak lebih dingin ketika menjawab ucapan Jeck. Kau kenapa Arata?


"Ck...sudahlah jangan bertengkar!" ujar Aura sebelum keduanya benar-benar bertengkar.


"Hn," guman Arata sambil melempar pandangannya kearah lain.


Aura tampak meraih ponsel yang ada di genggaman Arata, membuat pemilik ponsel itu menatap terpaku ke arah Aura.


"Ini," ujar Aura mengembalikan ponsel Arata setelah ia selesai mencatat nomor ponselnya.


"Terimakasih. Aku akan menghubungimu nanti," ucap Arata membuat yang lain menatap cengoh dirinya. Ayolah, seorang Arata Devano mengucapkan kata terimakasih? Apa dunia akan kiamat? Mereka harap tidak, sebab mereka belum siap mati.


"Ya."


"Aku duluan," pamit Arata kepada Aura, hanya pada Aura.


Setelaj mengatakan hal itu, Arata bergegas menuju mobilnya. Senyuman di bibirnya tak hilang bahkan hingga ia meninggalkan pelataran parkir OHS.


"Apa benar itu Arata?" tanya Tania tepat setelah mobil yang Arata kendarai meninggalkan mereka.


"Ku rasa bukan," jawab Elis masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Jangan bilang kalau ia kesambet  demit?" celetuk Fatur tiba-tiba. Ia tampak memasang wajah ketakutan. Ayolah, apakah masih zaman kerasukan Demit?


"Husst~ jangan bercanda sembarangan, Tur!" ucap Key mempringatkan Fatur. Ayolah, ia jadi takut sekatang.


Kerutan samar terlihat di kening Aura begitu mendapati keempatnya tengah berbisik menbicarakan Demit.


"Apa kalian tidak pulang?" tanya Aura dengan kedua mata yang ia kedipkan, tanpa tahu bahwa apa yang baru saja ia lakukan berdampak buruk bagi jantung kelimanya.


"Manis," batin Key denggan rona yaang menjalar hingga telinga.


"Bolehkan aku mendapatkannya?" batin Jeck dan juga Fatur menatap dalam Aura.


"Mine!!" guman seseorang di balik kegelapan. Mata hijau lumutnya tampak memandang penuh minat ke arah Auraa yang tengah kebingungan itu.


"Ah...ya kami akan pulang," ucap Elis sedikit gugup dengan rona merah di pipinya, pasalnya ia baru saja sadar bahwasannya ia tertangkap basah mengagumi Aura.


"Sampai jumpa besok Azura!" ujar Key sebelum pergi meninggalkan yang lainnya. Tampaknya ia memilih pergi jauh dari Aura sebelum ia melakukan hal bodoh, seperti meeminta nomor Aura mungkin.


"Sampai jumpa, Jelek. Jangan merindukan diriku ya!" ujar Fatur dengan kedipan mata yang ia layangkan untuk Aura jangan lupakan tangannya yang dengan laancangnya mencubit pipi Aura, sebelum ia berlari menghindar dari Jeck yang tampak tak terima.


"Cih," decak Jeck dan orang itu.


"Hati-hati Azura ada yang sedang terbakar!" ujar Tania membuat Aura memandang gadis lavender itu bingung.


"Apa maks...


"Pulang!" belum sempat Aura bertanya apa maksud ucapan Tania barusan, Jeck sudah lebih dulu menarik tangannya. Menyeret paksa dirinya menuju mobil Jeck.


"Hei... Jeck pelan-pelan!" protes Aura kepada Jeck yang berjalan terlalu cepat.


"Aisss," kesal Aura sebab Jeck tak mendengarkan protesannya. Akhirnya ia mmilih untuk dia saja.


°°°


Sejak tadi hanya keheningan yang mengisi suasana yang ada di mobil Jeck. Kini keduanya tengah berada dalam perjalanan menuju ke rumah Aura. Sebenarnya Aura bingung dengan tingkah Jeck yang mendadak jadi diam.


"Ekhem!!" dehem Aura yang hanya di tanggapi lirikan mata oleh Jeck.


Kedutan samar terllihat di pelipis Aura,


"What wrong?" tanya Aura menghadap kearah Jeck.


"No," Singkat, padat dan tak jelas. Bolehkah Aura memukul kepala Jeck sekarang? Tapii bila ia melakuukan hal itu, bisa saja mereka menabrak pembatas jalan akibat ulah bodohnya.


"Katakan! Ada apa?" tanya Aura dengan nada memaksa.


Ckittt


Dengan sepontan Jeck menginjak rem dengan begitu dalam, untungnya mereka tengah berada di jalan yang lumayan sepi sehingga apa yang baru saja Jeck lakukan tidak membahayakan keduanya maupun orang lain.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Aura ketika Jeck mengerem mendadak. Bersyukur ia tak lupa memasang seatbelt atau bisa ia pastikan keningnya sudah memar akibat ulah gila Jeck.


"Cih. Kenapa kau memberikan nomormu pada Arata?" ujar Jeck dengan raut kesan bercampur marah, terlihat jelas dari rahang ppemuda itu dan jangan lupakan cengkraman pada stir mobil yang mengencang.


Tatapan tak percaya Aura layangkan pada Jeck,


"Apa yang salah. Just be a number!" ujar Aura heran dengan ucapan Jeck. Apa yang salah? Hanya nomorkan?


"Salah!" jawab Jeck menatap nyala Aura.


"Apa alasannya?" tanya Aura sembari mencoba menahan amarahnya. Ia tatap wajah Jeck, tepat pada matanya.


"Aku tak suka," balas Jeck memandang Aura tajam. Ini ada apa sebenarnya?


"Hanya itu?" ujar Aura mulai kesal. Ia pejamkan mataanya sejenak, ia kontrol pernapasanany sebelum kembali membuka matanya dan menatap Jeck.


"Kau aneh!" ujar Aura sebelum membuka pintu mobil Jeck, ketika ia tak mendapat jawaban apapun dari Jeck.


Brakk


"Sial!" umpat Jeck ketika sadar Aura keluar dari mobil.


Tak butuh hitungan menit, Jeck telah berlari mengejar Aura yang terus menjauh dari pandangannya. Haruskah ia menyalahkan emosinya atau malah dirinya?


"Aura!" panggil Jeck berusaha mengejar Aura.


"Hey!" panggil Jeck namun tak diindahkan oleh Aura, bahkan kini Aura tengah menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat.


"Aura!!" teriak Jeck dengan kencangnya, membuat beberapa orang yang tengah berlalu lalang menatap bingun dan juga aneh pada dirinya. Masa bodoh dengan semua panndangan itu yang terpenting saat ini adalah ia harus bisa mengejar Aura.


"Ck...sial!" umpat Jeck ketika melihat taksi yang membawa Aura telah melaju menjauh dari posisinya saat ini.


"Bodoh!" ujar seseorang di dalam mobil yang terletak tak jauh dari posisi Jeck saat ini. Sebuah seringai penuh ejekan ia layangkan sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Mata hijau gelapnya menatap tajam jalanan di hadapannya.


°°°


Drttt..Drttt


From:082371******


Hai, ini aku arata.


Begitulah isi sebuah pesan yang ia terima dari aplikasi WA miliknya. Ketika ia akan membalas pesan tersebut, sebuah panggilan masuk membuat ia mengurungkan niatnya.


"Ya, hallo," ujar Aura.


"Hai," ucap seseorang di sebrang sana.


"Hai."


"Ada apa?" tanya Aura sedikit canggung, pasalnya ia jarang melakukan via telpon dengan lawan jenis, kalaupun adaa hanya sesekali dan juga rasanya berbeda.


"Emm... tidak hanya ingin menanyakan kabarmu saja," Ahh...mari kita lihat keadaan Arata sekarang. Lihatlah pipinya yang bersemu menahan malu itu. Imutnya.


"Ah, aku baik-baik saja," jawab Aura sedikit berdebar. Entahla ia bingung dengan kerja jantungnya saat ini, setiap bersama atau mendengar suara Arata pastilah jantungnya berdetar tak normal.


"Syukurlah."


Aura di buat sedikit bingung akan ucapan Arata barusan, kenapa Arata terdengar amat lega begitu mendengar jawabannya? Apakah Arata tengah mengkhawatirkan dirinya. Semburan merah jambu terlihat menghiasi pipi Aura begitu ia memikirkan kemungkinan itu, jantungnya pun berdetak kencang.


"Kau sedang apa?" tanya Aura dengan nada yang sedikit gugup bila didengar secara jelas. Mati-matian ia menjaga suaranya agar tak tergagap.


"Menatap bintang dari balkon," jawab Arata. Ya, ia kini tengah menikmati belaiam lembut angin malam yang dingin dengan taburan bintang di langit sebagai penghiasnya. Menenangkan dan juga menakjubkan.


"Kau suka bintang?" tanya Aura dengan suara yang terdengar antusias, membuat kekehan merdu mengalun dari sebrang sana. Semburan merah muda kembali menghiasi wajah Aura begitu ia sadar akan tinngkahnya barusan.


"Ya," jawab Arata sambil menatap kearah langit. Membayangkan bagaimana ekspresi Aura sekarang. Hei, Arata apa yang terjadi denganmu? Dimabuk kasmara eh?


"Mereka tampak menakjubkan," tambahnya masih dengan menatap kearah langit, namun bukan bintang yang ia lihat melainkan bayangan wajah tersenyum milik Aura. Jadi yang kau maksud menakjubkan itu bintang atau Ekhem... Aura eh?


"Ya, kau benar," ujar Aura menyetujui ucapan Arata. Ya, baginya bintang adalah salah satu dari sekian banyak ciptaan tuhan yang ia kagumi.


"Malam ini cukup banyak bintang," ujar Aura ketika ia telah sampai di balkon kamarnya. Memang malam ini bintang cukuplah banyak menghiasi langit malam yang kelam itu, membuatnya tampak mengagumkan. Ia bahkan dapat melihat rasi bintang libra dan juga sagitarius di laangit itu.


"Hmm," guman Arata.


"Apa kau juga sedang melihat mereka?" tanya Arata kepada Aura .


"Ya," jawab Aura.


"Ah... sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu lebih lama lagi, tapi kurasa kau harus istirahat. Sudah malam!" ujar Arata sedikit gugup. Sejujurnya ia tak rela bila harus memutuskan panggilan ini, ia masih inggin mendengar suara Aura. Bak sudah menjadi canduu.


"Ahh... baiklah," jawab Aura dengan sedikit kekecewaan di suaranya. Rasa tak rela tiba-tiba merayap di hatinya.


"Selamat malam Aura!" ujar Arata mengalun lembut, pertanda perpisahan keduanya malam ini.


"Selamat malam Arata," balas Aura dengan senyum lembut di bibirnya.


"Nice dream," tambah Aura dengan jantung yang semakin menggila.


"Too," begitu pula dengan Arata, jantungnya berdetak kencang begitu mendapat ucapan dari Auraa, bak mendapat hadiah phoenix.


"Astaga sebenarnya jantungku kenapa? Debaran apa ini?" batin keduanya sama- sama memegang dada mereka sembari menatap taburan bintang di atas langit yang sama.


Akankah ini menjadi awal dari perjalanan kasmara Aura atau malah sebaliknya?