
Setelah meninggalkan atap, Aura tak lantas kembali ke kelas. Tak mungkin ia kembali dalam keadaan berantakan seperti ini, jadi ia putuskan untuk merapikan dirinya di toilet terlebih dahulu. Cukup lama ia berada disana, untungnya toilet dalam kondisi kosong.
Dengan sedikit taburan bedak dan juga pelembab bibir berwarna pink, Aura siap kembali ke kelas. Setidaknya keadaannya jauh lebih baik dari saat ia meninggalkan atap.
Bergegas ia melangkahkan kedua kakinya keluar dari toilet setelah memastikan penampilannya tampak biasa saja, tak mencurigakan seperti seseorang yang habis menangis.
Tanpa ia sadari sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari toilet ada sepasang manik hitam kelam yang menatap ke arahnya, memperhatikan setiap gerak gerik yang ia lakukan. Mengincarnya bak predator yang siap menerkam buruannya.
Langkah kaki Aura terasa sangat ringan, seringan hatinya yang merasa hawa keberadaan seseorang dari balik punggungnya. Bukan maksud dirinya berprasangka buruk, tetapi itu benar terjadi sebab ia melihat siluet seorang pemuda yang ia kenal dari pantulan kaca di sepanjang langkahnya.
"Mau apa?" batin Aura.
Berusaha bersikap acuh dan positif thingking itulah yang Aura lakukan saat ini. Mungkin saja ia baru saja dari toilet atau ruang guru, tetapi ruang guru bukannya berada pada arah yang berlawanan dengan yang pemuda itu lalui.
Terlalu larut dalam pikirannya, Aura tak menyadari bahwa pintu kelasnya telah ada di hadapannya dengan pemuda itu di belakangnya.
Kriet
Pintu di hadapannya terbuka begitu tangan lain di balik punggungnya membukanya. Membuat ia dapat merasakan nafas pemuda itu menerpa telinganya.
"Pagi, Pak Kevin!" seru pemuda itu sambil sedikit mendorong Aura masuk kedalam kelas.
Berbagai macam tatapan terarah pada keduanya, kaget, benci, kesal dan juga iba jelas mereka berikan pada Aura. Ya, Aura bukan pemuda di belakangnya.
"Bapak dengar bahwa kau tangah tak enak badan, Fatur?" ujar Kevin menatap Fatur yang kini masih berdiri di belakang Aura.
"Sedikit, tapi sudah baikan sebab ada yang merawatku!" ujar Fatur merangkul Aura, membuat keduanya mendapat tatapan kaget dari seluruh penghuni kelas.
"Cih, tak dapat Arata. Fatur pun kau goda. Bukankah kau benar-benar ******?" ujar Kania kembali berulah. Hinaannya barusan bak angin lalu di telinga Aura, sebab sebuah tangan telah lebih dulu menutup kedua telinganya. Hanya samar-samar ia dapat mendengar bahwa Kania tengah kembali melontarkan hinaannya pada dirinya.
"Kania!" seru Kevin dengan nada ancaman di dalam suaranya. Sebenarnya ia telah lelah mempringatkan gadis satu ini, entah terbuat dari apa telinganya sehingga tak satupun ucapannya yang ia dengar.
Sepercik kilatan cahaya melintas di mata Kania, sebuah ide muncul di kepalanya,
"Bahkan kini kau mengenakan jaket di tubuhmu. Kira-kira milik siapa?" seru Kania.
Ucapan Kania barusan mengalihkan fokus semua penghuni kelas yang awalnya menatap padanya kini malah menatap Aura, lebih tepatnya jaket yang tersampir di tubuh Aura. Milik siapa gerangan jaket itu? Dilihat dari modelnya bisa di pastikan itu milik laki-laki bukan perempuan.
"Buk...
"Kalau ini milikku, kau mau apa?" seru Fatur memotong ucapan Aura, mengabaikan tatapan bingung dan juga kesal Aura.
"Mau meminjamnya?" tambah Fatur menatap sinis Kania, membuat yang di tatap memerah. Bukan memerah karna malu melainkan memerah karna kesal dan juga marah. Ia merasa di rendahkan oleh Fatur.
"Kau!!" bentak Kania membuat seisi kelas menatap ngeri ke arahnya.
Decakan bosan meluncur dari Kevin membuat Aura dan Fatur melirik ke arah wali kelas mereka yang tengah memijit pangkal hidungnya.
"Do, pindah ke kursi Aura gih!" ujar Fatur mengabaikan delikan tak terima dari Jeck dan juga Arata. Raut wajahnya tetap tenang, seakan tak terusik dengan hawa membunuh keduanya.
"Ehh?"
Kaget Dodi dan beberapa siswa lainnya. Semuanya menatap keduanya, menjadikan mereka pusat perhatian mereka saat ini.
"Aura duduk di sini," ujar Fatur memperjelas maksud dari ucapannya sebelumnya.
"Fat..
"Ah, iya. Duduk, Ra! Anggap kursi sendiri!" ucap Dodi menyela protesan yang hendak Aura layangkan pada Fatur.
Dengan raut kikuk, Dodi membereskan mejanya atau malah mantan mejanya sebab sudah ada tuan lain yang akan mendudukinya.
"Nggak di balikin juga nggak papa, hhhh," ucap Dodi berusaha mencairkan suasana dengan candaannya.
Tak butuh waktu lama, Aura dan juga Fatur menduduki meja keduanya. Sedikit menghelan nafas Aura mencoba fokus pada buku di hadapannya.
Aura tak bodoh, ia tahu ada banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Dari tatapan benci, jijik, kesal bahkan bingung ia sadari. Namun ketika matanya tak sengaja melihat kaca jendela, ia dapat melihat tatapan marah dan juga kekesalan dari masing-masing manik pemuda di belakangnya. Banyak spekulasi yang muncul di kepalaanya begitu tak sengaja bertemu tatap dengan mata merah darah itu.
"Kenapa ia tampak kesal. Apa yang mengganggunya?" batin Aura bingung.
Setelah beberapa lama membiarkan mata mereka bertemu, akhirnya Aura lebih dulu memutuskan sesi tatap-menatap itu. Membuat Arata berdecak kesal.
"Sekarang kita mulai pelajarannya!" seru Kevin begitu kelas kembali kondusif. Entah kemana mood mengajarnya saat ini, semuanya terasa menguap tepat ketika Kania kembali berulah.
Dret Dret
Getaran dari saku rok Aura, membuat ia segera mengambil benda yang menjadi asal dari getaran itu. Ponsel.
+62823********
Temui aku di cafe Rose, jam 7 malam. Aku tak akan pergi sebelum kau datang!
"Siapa?" guman Aura melirik ponsel di genggamannya. Hanya ada nomor tak di kenal dan sebuah pesan yang meminta dirinya menemui si pengirim pesan.
Aura edarkan matanya menelusuri seluruh bagian kelas guna melihat apakah pengirim pesan itu berada satu ruangan dengannya. Bagian kanan tempat duduknya tak ada satupun yang menggenggam ponsel, ia gelengkan kepalanya guna mengenyahkan pikiran bahwa pengirim itu ada di dekatnya.
"Pak Kevin?" batin Aura begitu tak sengaja melihat Kevin yang tengah menatap ponsel di sebelah bukunya, tampak tengah gelisah menanti sesuatu.
Kerutan samar tercipta di kening Aura, ia lirik kembali ponselnya sebelum kembali melihat ke arah Kevin yang entah kebetulan atau apa tengah menatapnya juga dengan tatapan yang entah apa artinya. Segera Aura alihkan pandangannya guna memutuskan kontak mata dengan Kevin, namun sebuah kebetulan yang tak terduga ia dapatkan. Seorang pemuda yang amat ia kenal tengah menatapnya dengan senyum di bibirnya jangan lupakan tangannya yang menggenggam ponsel. Pemuda itu tampak sengaja melakukannya, seakan-akan ia tahu bahwa Aura tengah mencarinya.
"Dia..."
Setelah melihat pemuda itu, Aura tak dapat berkonsentrasi pada apa yang tengah di jelaskan Kevin. Pikirannya tengah melalang buana entah kemana, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari pesan itu.
"Tck! Menyebalkan!" batin Aura kesal. Tanpa ia sadari seorang pemuda tengah menatap lekat dirinya. Melihat semua tingkah laku Aura yang tampak menggemaskan di matanya. Merekam semuanya di pikirannya, menyimpannya sebaik mungkin untuk dirinya sendiri.