
Sudah hampir seminggu Ririn bersekolah di OHS dan sudah selama itu juga Ririn merasakan rasa penasaran yang kian mencekik setiap harinya. Penasaran akan siapa sosok Azura sebenarnya? Penasaran akan alasan yang membuat Jeck selalu menatap tajam kearahnya setiap kali ia memandang intens Azura. Apa ada yang salah?
"Dani, aku ingin data lengkap tentang Azura Alyadra besok!" ujar Ririn melalui telpon. Ia rasa ia harus mencari data tentang Azura sebab ia merasa Azura mirip seseorang terutama mata biru safir itu.
°°°
"Nona, ini data yang anda minta," ujar Dani sambil menyerahkan sebuah dokumen yang berisikan data lengkap tentang seorang gadis bernama Azura.
Senyum simpul hadir di wajah Ririn, membuat ia terlihat cantik bila tersenyum. Namun, semua itu harus musnah begitu mengingat kelakuannya.
"Kita lihat," ujar Ririn sambil membuka lembar demi lembar dokumen yang di berikan oleh Dani.
"Hmm... anak angkat keluarga Yandra. Panti asuhan? Jadi Azura anak yatim piatu?" ucap Ririn dengan senyum mengejek. Apa yang salah?
"Benar Nona. Tapi ada yang janggal ketika saya mengumpulkan data ini," ujar Dani membuat Ririn yang tengah asik membaca langsung mengalihkan atensinya kepada Dani.
"Apa?" tanya Ririn tampak penasaran dan juga memaksa. Jantunggnya berdetak kencang menanti apa yang akan Dani laporkan padanya.
"Azura sempat menghilang selama dua minggu tepat setelah hari kelulusannya di RJS tiba!"
Dengan raut wajah serius Ririn mendengarkan apa yang Dani sampaikan barusan. Sebuah informasi yang akan sangt berguna untuknya.
"Dan kau tau dia pergi kemana?" tanya Ririn dengan kerutan samar di dahinya.
"Tidak, Nona. Tidak ada satupun jejak dari Azura yang tertinggal. Hingga ia kembali muncul lalu kembali menghilang selama dua bulan sebelum ia pindah kesekolah yang sama dengan, Nona,"
Otak Ririn tampak bekerja keras guna mencerna informasi yang ia dapat barusan. Ia merasa ada yang janggal disini. Apa alasan menghilangnya Azura.
"Aneh," celetus Ririn sambil menggigit jari telunjukknya. Berpuluh-puluh kemungkinan hadir di kepalanya.
"Kenapa aku merasa janggal?" ujarnya lagi sambil menatap Dani seolah-olah meminta persetujuan Dani.
Mengerti akan maksud tatapan Nonanya itu, Dani segera memberikan pendapatnya.
"Mungkin ia ada urusan keluarga nona. Karena keluarga Yandra sempat beberapa kali pergi liburan," ujar Dani menyampaikan pemikirannya yang paling logis dan paling pertama hadir di pikirannya.
"Mungkin," ujar Ririn menyetujui ucapan Dani.
"Kau bisa pergi," ujar Ririn sebelum kembali larut dalam dokumen berisi identitas Azura.
"Baik, Nona," ujar Dani sebelum pergi meninggalkan Ririn.
"Azura dan Aura," ujar Ririn dengan senyum gamang di bibirnya.
Matanya menatap kedua foto di masing-masing dokumen yang ada di hadapannya saat ini.
"Tidak ada satupun data yang cocok kecuali mata mereka," keluh Ririn dengan tangan yang sibuk membolak balik data Aura dan juga Azura, berharap da sedikit celah yang dapat menunjukkan kecocokan yang lain .
"Haaaah~ apa mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu paranoid akan keberadaan Aura?" ujar Ririn bermonolog.
"Sial!" umpatnya ketika menyadari semua ini percuma sebab ini hanya perasaannya saja.
Tanpa ia ketahui seseorang tengah memperhatiakan gerak-geriknya sejak tadi. Sebuah seringai terukir di bibir orang itu.
"Kau seharusnya melihat siapa yang kau lawan, Ririn!" ujar orang itu dengan senyuman yang entah apa artinya.
Dengan langkah yang perlahan ia menjauhi ruanggan di mana Ririn berada. Senyumannya tak luntur bahkan hingga ia merogo saku celananya, mengambil ponselnya.
"Halo," ucap orang itu begitu seseorang yang ia hubungi mengangkat telponnya.
"Semuanya beres, ia berfikir bahwa Aura dan juga Azura adalah orang yang berbeda," ujarnya menjelaskan apa yang ia lihat.
Matanya tampak menatap tajam awan di langit biru, mengingatkannya pada seseorang. Senyum itu semakin lebar begitu bayangan senyum bahagia seorang gadis mampir di pikirannya. Setidaknya walaupun ia tak bisa berada di sisi gadis itu saat ia terluka, ia bisa melindunginya dari jauh.
"Bagus, Dani," ucap seseorang di sebrang telpon. Senyum misterius tampil di bibir pemuda bermata coklat madu itu.
"Ya," jawab si penelphon yang tak lain adalah Dani, sebelum ia memutuskan sambungan telphon.
"Apapun untuk Aura!" ujar Dani dengan mata jade yang semakin menggelap, mengerikan.
Satu fakta yang kembali terkuak, bahwasannya Dani mengenal Aura.
°°°
Jam istirahat baru saja berbunyi, Tania dan juga yang lainnya telah pergi meninggalkan kelas kecuali Aura sebab ia harus membawa kertas soal ujian tahun lalu ke gudang sekolah sesuai dengan perintah Pak Kevin, yang tadi di sampaikan oleh Kania. Sedikit ragu memang, hanya saja ini permintaan dari Kevin.
Selama di perjalanan menuju ke gudang, Aura terus saja merasakan-rasa yang tidak enak melanda hatinya, seperti akan terjadi hal buruk menimpanya. Tetapi apa?
Ceklek
Pintu gudang terbuka, tepat setelah ia membuka pintu menggunakan kunci yang telah di berikan Kania sebelumnya.
Ruang yang gelap menyambut indra penglihatan Aura ketika ia memutuskan untuk masuk ke dalam gudang. Bau debu dan juga rasa pengap membuat Aura mempercepat langkahnya guna meletakkan tumpukan kertas yang ia bawa.
Ketika hendak berbalik ia merasakan ada seseorang yang membekap mulutnya dan juga ia mendengar suara pintu di tutup serta lampu yang berada tepat di atasnya tiba-tiba hidup.
"Ambil kursi dan letakkan dia disana!"
Perintah seseorang di balik kegelapan yang tak tersentuh cahaya lampu. Suaranya yang halus membuat Aura tahu bahwasannya yang barusan itu adalah suara perempuan, dan rasanya Auura mengenal suara itu.
"Gunakan tali ini," ujar seseorang yang tengah menyeret sebuah kursi ke arah Aura saat ini. Tampaknya perempuan juga.
"Duduk!" perintah seseorang yang sejak tadi membekapnya. Lagi-lagi suara seorang perempuan, dan sialnya ia kenal suara-suara itu.
Ronta Aura mencoba melawan keduanya yang kini tengah mencoba mengikat tubuhnya menggunakan tali yang entah mereka dapat dari mana,
"Lepas!" ucapnya.
"Diam!!" bentak perempuan yang membekapnya tadi yang tak lain adalah Yuya. Mau apa dia, jangan bilang ini masalah Jeck lagi.
"Yuya lepaskan!" ronta Aura kembali membuat ia mendapatkan satu tamparan tepat di pipinya.
Matanya membulat tak percaya beggitu mengetahui Yuya berani melakukan kekerasan padanya.
"Diamlah ******!!" bentak pelaku penamparan dirinya yang ternyata adalah Kania. Ck, mau apa sebenarnya mereka?
"Jangan kasar-kasar pada Ratu kita!"
Bukan Kania maupun Yuya yang baru saja berbicara dengan nada seakan-akan mengejek Aura, melainkan seseorang di dalam kegelapan itu.
"Ayolah Rin. Ini tak akan menyenangkan apa bila kita tak mengasarinya!"
Keluh Yuya dengan tangan yang sudah merambat di atas rambut Aura.
"Akhh!!" pekik Aura ketika merasakan rambutnya di tarik kasar oleh Yuya.
"Sialan. Mau apa kalian?" bentak Aura ketika Yuya melepaskan jambakannya. Dengan tatapan marah yang ia layangkan ke arah ketiganya yang kini telah berdiri dihadapannya.
Sebuah seringai timbul di bibir Kania dan juga Yuya, membuat Aura mengerutkan keningnya bingung.
"Mau kami?" ujar Kania.
"Memberimu pelajaran karena telah berani menjalin hubungan dengan Arata dan juga Jeck,"
Dengan kasar Kania mencekik leher Aura, membuat aura susah bernafas. Mungkin bila Ririn tak segera menghentikan Kania bisa saja Aura telah kehabisan nafas saat itu juga.
"Uhukk...uhuk.."
Aura tampak terbatuk tepat setelah cekikan itu terlleppas, ruam kemerahan tampak menghiasi sekit leher jenjang milik Aura.
"Kalau aku mungkin hanya ingin bersenang-senang," ujar Yuya dengan senyum miring di bibir merah gincu miliknya. Merah? Kau menggunakan lipstik yang cukup nyentrik ehh Yuya.
"Dan jika kau bertanya mau ku apa jawabannya mudah,"
Kini giliran Ririn yang mengutarakan kemaunnya, namun bukannya melanjutkan jawabannya Ririn malah mendekatkan wajanya ke arah Aura.
"Membalas apa yang kau lakukan padaku A-U-R-A!"
Bisik Ririn tepat disamping telinganya, membuat Aura menegang antara geli bercampur terkejut. Bagaimana Ririn bisa tahu ini dirinya bukan Azura? Apa Ririn tengah menjebaknya.
"Terkejut?" kembali Ririn berbisik sambil menikmati raut terkejut yang sempat Aura tampilkan walaupun hanya berberapa detik sebelum wajah itu kembali datar.
"Hhhhh... kau pikir aku bodoh apa?" ejek Ririn dengan tawa yang mengelegar membuat Kania dan juga Yuya memandang bingung sekaligus ngeri ke arah Ririn.
"Apa ririn kesurupan?" batin keduanya bergidik ngeri membayangakn bila hal itu benar-benar terjadi.
Rasa penasaran merasup kedalam hati Kania dan juga Yuya,
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kania dengan mata yang memicing tajam ke arah keduanya.
"Jadi?" ujar Yuya menatap Ririn dan juga Kani bergantian, sekan memberikan kode apa yang akan mereka lakukan.
Sebuah ide gila tampak terbesit di pikiran Ririn begitu melihat keadaan Aura yang tampak sangat menyedihkan,
"Bagaiman kalau kita sedikit bermain?" ujar Ririn memberikan usul kepada keduanya yang langsung ditanggapi dengan senyum keji ketiganya.
"Baiklah mari bermain Azura!" ujar Kania sambil mengarahkan gunting yang entah ia dapat dari mana ke arah Aura.
"Akhhh!!!" jerit Aura memenuhi gudang yang sepi serta mencekap itu.
°°°
Sedangkan di ruang kelas XI IPA GOLD baik Jeck maupun Arata serta yang lain memandang pintu dengan raut cemas, membuat beberapa siswa yang menatap mereka bingung. Ada apa dengan pintu itu memangnya? Begitulah batin mereka yang melihat kelakuan keenam.
"Azura kemana?" tanya Tania untuk kesekian kalinya, sejak mereka berada di kantin hingga kembali ke kelas.
"Tadi kalau nggak salah dia di suruh narok kertas ulangan tahun lalu ke gudang deh sama Pak Kevin," jawab salah satu siswa yang mendengar pertanyaan Tania.
"Sudah berapa lama?" kini giliran Elis yang bertanya kepada siswa dengan name tag Dodi.
"Sekitar lima belas menit yang lalu. Tepat setelah kalian meninggalkan kelas," jawab Dodi dengan pose berfikir mencoba mengingat-ingat kapan Aura meninggalkan kelas.
"Perjalanan ke gudang bukan seperti perjalanan dari kelas kita ke parkiran, tapi kenapa Azura lama sekali?" ujar Key semakin membuat Jeck dan juga Arata khawatir dengan Azura-Aura.
"Telpon?"
"Ponselnya jelek di tinggal. Lihat!" ujar Fatur sambil mengangkat ponsel yang diduga sebagai milik Aura.
"Terus gimana?" tanya Jeck semakin khawatir. Sungguh ia benar-benar khawarir saat ini ditambah dengan keberadaan Ririn yang kebetulan satu sekolah serta kelas dengan mereka. Ia takut Ririn berbuat sesuatu kepada Aura. Tunggu apa jangan-jangan identitas Aura sudah terbongkar?
"Ah, ya. Satu lagi, tadi aku melihat Yuya, Kania dan juga Ririn menuju ke arah gudang," celetus Dodi membuat Jeck menngeraskan rahangnya.
"Sial!" umpat Jeck sebelum berlari meninggalkan kelas. Bahkan ia tak memperdulikan Pak Kevin yang tengah meneriakinya saat ini. Sebab yang terpenting untuk saat ini adalah keselamatan Aura.
Kali ini ia tak akan melepaskan tiga jallang sialan itu, tak akan.
"Keparat!" Kali ini Arata lah yang mengumpat, sebelum mengikuti apa yang dilakukan oleh Jeck membuat seluruh penghuni kelas menadang bingung kearahnya ditambah dengan Tania, Elis, Key, Fatur dan juga Pak Kevin yang ikut berlari mengikuti keduanya. Sebenarnya apa yang tengah terjadi saat ini?
°°°
"Akhh..ber..henti..sialan!" umpat Aura dengan suara yang semakin melemah sebab darah yang keluar dari tubunya sangatlah banyak. Tapi tunggu dulu. Darah? Apa yang mereka bertiga lakukan pada Aura?
Baju yang sobek pada bagian perut, beberapa helain rambut Aura yang berserak di atas lantai serta darah yang mengalir dari sudut bibir dan juga dahi Aura sudah cukup menjadi bukti bahwa ketiganya telah melakukan kekerasan pada Aura.
"Berhenti katamu? Putuskan Arata dan enyah dari sini maka aku akan berhenti!" bentak Kania dengan tangan yang menancapkan gunting yang ia pegang kepaha Aura, membuat Aura menjerit penuh lengkingan menahan sakit.
"Khhhh... bukankah sudah kami katakan? Jangan bermain-main dengan kami cupu!"
Dengan tanpa perasaan Yuya menampar Aura membuat kaca mata yang bertengger di hidung mancung Aura terhempas jauh.
Krakk
"Kali ini hanya Kania dan Yuya yang bermain dengamu, karena aku akan bermain denganmu sebenatar lagi!"
Dengan mudah Ririn menginjak kaca mata Aura, membuat kaca mata itu yang semula menyatu menjadi terpisah karena tekanan yang di berika Ririn melalui sepatunya.
"Jadi persiapkan dirimu AURA!" bisik Ririn sebelum meninggalkan Aura diikuti oleh Yuya dan juga Kania.
"Awas kau Bicht!"
Ancam Kania sebelum meninggalkanny, namun sebelum itu ia terlebih dahulu menarik seragam Aura sehingga mengakibatkan beberapa kancing seragam Aura terlepas memperlihatkan dalaman yang Aura kenakan.
"Kau benar benar ****** eh Azura," ejek Kania sebelum benar-benar menghilang di balik pintu gudang yang ia tutup.
Meninggalkan Aura seorang diri dengan keadaan yang mengenaskan. Namun bukannya menangis Aura justru terlihat memasang wajah serius.
"Dari mana Ririn mengetahui identitasku?" guman Aura bertanya-tanya setahunya Jeck dan dirinya telah memanipulasi data Azura yang telah lama meninggal. Bahkan ia dengar Danni telah mengelabui Ririn.
"Apa jangan-jangan?" dengan mata membulat Aura kembali mengingat kejadian tempo hari di perpustakaan.
Flasback on
"Ada apa, Jeck?" tanya Aura kepada Jeck setelah ia mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di perpustakaan.
"Ada yang harus kita bicarakan!" ujar Jeck yang ikut mendudukkan dirinya di hadapan Aura. Mereka duduk dengan terpisahkan oleh meja di hadapan keduanya.
"Apa? Dan kenapa harus di perpustakaan?" tanya Aura. Ya, mereka kini tengah berada di perpustakaan tepatnya di pojok perpustakaan dekat dengan jendela yang menghadap ke arah taman belakang sekolah.
"Tempat ini aman untuk kita," jawab Jeck sambil memantau keadaan sekitar mereka. Memastikan tidak ada satupun orang yang akan mendengar apa yang akan mereka bicarakan. Kenapa ucapan Jeck terdengar ambigu, oh ayolah kids jangan buat orang lain berfikir macam-macam.
"Jadi?" tanya Aura.
Raut wajah lelah dan juga cemas sekettika timbul di wajah Jeck,
"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya?" tanya Jeck setelah memastikan situasi aman.
"Kenapa kau sekarang membahas hal ini?" tanya Aura dengan raut wajah yang terlihat datar dan juga dingin.
"Aku hanya tak ingin ada yang terluka," ujar Jeck sambil memandang Aura serius. Tanpa menyadari kehadiran seseorang diantara mereka.
"Memangnya siapa yang akan terluka?" tanya Aura dengan raut wajah bingung. Membuat seseorang yang awalnya hendak pergi meninggalkan Jeck dan Aura mengurungkan niatnya ketika mendengar ucapan Aura barusan.
"Apa yang tengah mereka bicarakan?" batin orang itu sambil bersembunyi di balik rak-rak buku yang berada dekat dengan Jeck dan Aura.
"Kau, Arata dan yang lainnya," ujar Jeck membuat Aura semakin bingung.
Sebuah kemungkinan terlintas di kepala orang itu, menduga-duga apa keduanyaa menjalin hubungan di belakang Arata?
Raut wajah Aura berubah bingung,
"Apa maksudmu?" tanya Aura.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan jati dirimu sendiri, Ra? Sampai kapan? Kenapa kau tak memberitahukannya pada teman- teman?" ujar Jeck dengan intonasi suara yang naik satu oktav. Kemarahan jelas terlihat berkobaar di mata coklat itu.
"Tunggu. Aura? Maksudnya apa?" batin orang itu bingung. Ada yang tidak beres.
"Sampai aku benar-benar yakin mereka tulus padaku, Jeck!" jawab Aura tanpa mau memandang ke arah Jeck, ia tampak lebih tertarik memandang ke arah taman belakang sekolah.
"Tapi mereka tulus padamu Aura,"
Dengan tampang frustasi Jeck mencoba menjelaskan kepada Aura bahwa semuanya tulus berteman dengannya..
"Apa kau mau membuat mereka kecewa? Jangan sampai mereka mendengar kenyataan ini dari orang lain, karena mereka akan benar-benar ku
"Terimakasih, Jeck!" jawab Aura sambil menggenggam tangan Jeck yang ada dipuncak kepalanya dan tak lupa dengan senyum yang teramat manis di bibirnya.
Cekrek
"Dengan ini kau akan hancur Aura!"
Tanpa keduanya sadari sejak tadi ada seseorang yang tak seharusnya tahu apa yang mereka bicarakan mendengar obrolan keduanya.
Dengan segera orang itu pergi menjauhi keduanya. Ia tampak menyusun sebuah rencana untuk Aura setelah mendapatkan rekaman dan juga foto keduanya.
Flasback off
"Sial!"
Bersamaan dengan meluncurnya umpatan dari bibir Aura. Suara dobrakan pintu gudang membuat ia menatap ke arah pintu masuk.
Disana tampak berdiri Jeck dengan keringat yang menetes dari daghinya serta nafasnya yang memburu. Tampaknya ia berlari menuju gudang.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Jeck dengan kemarahan yang dapat Aura lihat dengan jelas di mata coklatnya. Bagaimana tidak marah ketik kau melihat orang yang kau sayang tengah berada dalam keadaan yang mengenaskan apa lagi dengan tiga kancing seragam Aura yang terlepas.
Dengan geraman tertahan Jeck melepas seragamnya lalu memasangkannya di tubuh Aura guna menutupi dada Aura yang terlihat.
Brakk
"Aura!!" teriak Arata membuat Jeck menyingkirkan tubunya setenagh toplesnya dari hadapan Aura membuat Aura dapat melihat kehadiran Arata, Kevin serta yang lainnya, yang kini tengah menatap terkejut serta khawatir ke arahnya.
"I am fine!" ujar Aura mencoba tersenyum, namun karena ujung bibirnya sobek rasa-rasanya untuk sekedar berbicara saja sakit apa lagi tersenyum. Tanpa sadar ia meringis menahan perih membuat semuanya menatap kearah paha Aura yang telah di banjiri oleh darah.
"Sialan akan kubunuh siapa pun yang telah melakukan ini kepadamu, Ra!"
Hanya itu yang dapat Aura dengar sebelum kegelapan menguasai dirinya di susul dengan teriakan dari Arata dan juga yang lainnya.