000

000
Rencana I



Sudah lebih dari seminggu Aura tak kunjung bangun dari komanya. Kondisinya masihlah sama dengan hari-hari sebelumnya, namun syukurnya ia telah melewati masa- masa kritis.


Baik Daniel maupun Jeniver tak satupun dari mereka yang tak akan menemani sang putri setiap harinya, terkadang keduanya bergantian menjaga Aura. Tak terkecuali hari ini.


Daniel yang masih tampak gagah dengan pakaian kantor yang melekat di tubuhnya kini tengah duduk di samping ranjang Aura. Menemani putri kesayangannya.


"Dear...bangun lah!" ujar Daniel menatap sendu ke arah Aura. Batinnya menjerit perih begitu menatap wajah pucat putrinya.


"Apa kau tak bosan hmm?" ujarnya lagi. Ia tak akan pernah bosan mengajak bicara Aura, ia mencoba mengikuti saran dari dokter untuk selalu mengajak Aura berinteraksi siapa tahu dapat membantu pemulihan Aura.


"Apa disana sangat indah sampai kau enggan membuka matamu?" gumannya. Ia elus pipi tirus Aura, wajah yang ia ingat pernah ia tampar.


Tatapan putus asa selalu terlihat ketika Daniel bersama dengan Aura,


"Daddy. Daddy minta maaf dear!"


"Maafkan daddy!" ulang Daniel dengan suara yang lirih.


Hanya tiga hal itu yang akan selalu terucap ketika daniel datang menjenguk Aura. Maaf dan kata-kata apa Aura tak bosan tertidur atau malah ia akan menanyakan apakah dunia disana lebih indah dari dunia nyata.


Hanya terus berharap yang bisa Daniel lakukan, bahkan bila ia diizinkan menggantikan posisi Aura saat ini pun ia rela.


°°°


Hari ini genap sepuluh hari aura terbaring lemah di ranjang rumah sakit pasca kecelakaan hebat yang ia alami. Hari ini baik Daniel maupun Jeniver tampaknya tak bisa datang menjaga Aura karena keperluan pekerjaan mereka. Lagi.


Ruang VVIP itu tampak sepi dan juga sunyi, hanya suara alat monitor jantung yang terdengar. Semuanya tampak biasa saja hingga...


Salah satu jari tangan kanan Aura yang dipasang jarum infus menunjukkan pergerakan halus. Perlahan tapi pasti kedua kelopak mata yang sejak dua minggu lalu tertutup kini terbuka, menampilkan manik safir bening yang mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.


Ceklek


Tap Tap Tap


"Ah...Nona sudah sadar?" ujar seorang Suster dengan raut serta nada suaranya yang penuh akan keterkejutan.


"Sebentar...saya panggil Dokter!" pamit Suster itu sebelum bergegas memanggil dokter yang menangani Aura.


Tak berselang lama suster itu kembali bersama seorang pria paruh baya dengan jas putih di tubuhnya. Kurasa ia seorang dokter melihat dari jas dan juga stetoskop yang terkalung di lehernnya.


"Nona anda sudah sadar?" ujar Dokter ketika sudah sampai di samping Aura.


"Apa yang anda rasakan?" tanya Dokter sambil menyiapkan stetoskopnya.


Sebuah erangan halus keluar dari bibir Aura,


"Pusing dan...nyeri," jawab Aura dengan suara yang parau, persis seperti seseorang yang baru saja bangun tidur.Ya, tidur yang lumayan lama.


Mendengar hal itu dokter meminta suster mencatat keluhan Aura barusan.


"Baiklah saya akan memeriksa keadaan anda dulu!" ujar Dokter seolah meminta iziin kepada Aura.


Di mulai dari pemeriksaa pada korne mata, rongga mulut hingga detak jantung dan nadi Aaura lalui dengan keheningan.


"Syukurlah, keadaan anda mulai berangsur membaik. Dan ini suatu mukjizat sebab Nona telah sadar dari koma dengan cepat," ujar sang Dokter itu dengan senyum di bibirnya. Ia senang pasiennya telah sadar.


"Koma? Berapa hari?" tanya Aura bingung, sebab yang terakhir ia ingat adalah saat-saat dimana ia yang mabuk lalu pulang dan bertengkar oleh Daddy, membuat ia diusir dari rumah lalu ketika ia pergi ia melihat tiga buah mobil hitam mengikutinya dan ia ingat ia sempat melihat cahaya terang dari samping kanannya lalu yang terakhir adalah suara benturan benda yang amat kencang dan mobilnya yang terguling, hanya itu sebelum kegelapan menguasai dirinya.


"Ya, akibat dari kecelakaan yang Nona alami membuat beberapa syaraf dan juga sistem di dalam tubuh Nona terganggu, membuat Nona harus mengalami koma!" jelas sang Dokter.


"Dan Nona sudah 9 hari tak sadarkan diri," tambah Dokter itu membuat Aura sedikit terkejut. Selama itukah ia koma? Lalu apa saja yang telah terjadi pasca dia koma?


"Baiklah saya akan menghubungi keluarga Nona terlebih dahulu!" ujar Dokter ketika ia akan beranjak pergi bersama suster yang memanggilnya tadi.


"Tunggu!!" ujar Aura spontan, membuat dokter itu menghentikan langkahnya.


Setitih keraguan hinggap di manik safir Aura,


"Bisakah saya meminta tolong kepada Dokter?" pinta Aura dengan kedua tangan menggenggam selimut yang ia kenakan dengan erat, membuat dokter yang tak sengaja melihatnya mengernyitkan dahinya bingung.


"Ada apa dengan pasiennya ini?" batin Dokter kebingungan.


°°°


Tap Tap Tap


Suara derap langkah terdengar dari luar pintu ruangan Dokter yang menangani Aura, membuat pemilik ruangan mengerutkan dahinya antara bingung dan juga penasaran siapa gerangan yang membuat keributan di lorong ruangannya? Apa mereka tak tahu tata tertib di rumaah sakit? Pikirnya.


Brakk


"Dok!!Bagaimana keadaan putri saya?" tanpa sopan santun Daniel mendobrak ruang kerja Dokter yang menangani putrinya diikuti sang istri di belakangnya. Keadaannya keduanya tampak sedikit kacau, mungkin karena keduanya beerlari menuju ke ruangnya.


"Ah, jadi mereka pemilik derap langkah itu," batin Dokter meringis. Ck, secara tidak langsung ia yang membuat keduanya melanggar tata tertib rumah sakit. Bila kepala rumah sajit tahu, matilah ia.


Dengan sedikit deheman ia menetralisir raut wajahnya,


"Putri anda harus mendapat penangan lebih lanjut Tuan. Ternyata benturan yang dialami Nona berakibat fatal," ujar Dokter itu dengan raut wajah yang benar-benar serius.


"Maafkan ia tuhan!" batin seseorang.


Raut wajah Daniel yang semula khawatir berubah menjadi kesal. Rahangnya mengeras pertanda ia tengah diliputi amarah,


"Apa maksudmu?" bentak Daniel.


"Nona harus kami pindahkan ke ruangan khusus dan tidak ada yang boleh mengunjungi Nona hingga keadaannya benar-benar stabil!" jelas Dokter itu dengan helanan nafas diakhir ucapannya. Ini benar-benar keputusan yang berat, semoga ia tak menyesali keputusannya ini.


"Hiks...hiks...putriku...hiks!!" tumpah sudah tangisan Jeniver setelah mendengar keadaan putrinya yang semakin memburuk.


Brukk


"Sayang!!" teriak Daniel ketika melihat tubuh sang istri ambruk. Ya karena tak kuat lagi Jeniver jatuh pingsan.


Ruang itu seketika menjadi gaduh akibat pingsannya Nyonya Alanta.


°°°


Di sinilah Daniel dan juga Jeniver berada. Di ruang rawat Aura sebelum putri mereka harus di pindahkan keruangan khusus.


Raut wajah bersaalah dan juga sedih tercetak jelas di wajah yang tak lagi bisa dikatakan muda,


"Maaf, maafkan Mommy dan Daddy sayang!" ujar Jeniver menggenggam erat tangan kiri Aura. Ia tak siap dan tak akan pernah siap bila harus berjauhan dari putrinya in.


"Maaf....Daddy... Daddy sangat menyayangimu. Maaf!" kini giliran Daniel yang meminta maaf dengan menggenggam tangan kanan Aura, begitu erat hingga rasanya tak akan ada yang bisa melepaskaannya.


Setetes air mata jatuh mengenai punggung tangan Aura,


"Cepatkah pulih sayang. Mommy janji akan selalu bersamamu. Mommy janji!" ujar Jeniver dengan pipi yang dilinaangi air mata namun bibirnya ia paksakan tersenyum.


"Ya daddy janji akan menemanimu lagi seperti dulu sayan. Daddy janji akan pulang lebih awal, janji akan membantumu mengerjakan tugas dan setiap weekend kita akanliburan kemanapun kau mau. Janji!!" tambah Daniel menatap pilu ke arah Aura.


"Jadi kami mohon bangunlah!" guman keduanya bersamaan.


Ceklek


"Maaf Tuan. Nona harus segera dipindahkan!" ujar suster mempringatkan keduanya. Ya, sudah waktunya meereka berpisah. Semoga dengan ini putri mereka akan segeera membaik dan kembali pada mereka.


Raaut wajah tak rela tergambar di wajah Jeniver,


"Tap...


"Ya. Tapi bolehkah kami menciumnya dulu?" potong Daniel sebelum Jeniver sempat mengajukan protes.


Tatapan iba suster itu layangkan pada suami istri ini,


"Silahkan Tuan."


Cup


"Sekali lagi maafkan Daddy, Dear!" bisik Daniel setelah mencium kening Aura lama. Rasanya ingin ia bersikap egois, namun ia tak mungkin melakukan itu semua ini demi kebaikan putrinya juga.


Cup


"Mommy menyayangimu sayang," bisik Jeniver dengan setitih air mata yang tumpah mengenai pipi Aura. Ia tak sanggup, benar-benar tak sanggup.


Setelah itu mereka hanya dapat memandangi kepergian putri mereka dengan pandangan yang sedih, marah, kecewa dan juga menyesal. Mungkin.


"Maaf!" batin seseorang.


°°°


Sudah dua minggu berita tentang Aura yang mengalami kecelakaan tersebar di sekolah dan hal itu tentu saja menggemparkan seluruh siswa PHS, apa lagi ditambah dengan dikeluarkannya Ririn yang notaben adalah sahabat Aura tiga hari yang lalu.


Flasback on


Pagi itu Ririn tengah duduk santai di kursinya menunggu guru yang akan mengajar datang, sampai seorang siswa mendatanginya dan mengatakan bahwa ia di panggil kepala sekolah.


Ceklek


Dengan raut wajah bingung, Ririn menghadap kepala sekolah,


"Maaf Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Ririn kepada kepala sekolah.


"Ya, kamu bisa dudu!" ucap Kepala Sekolah kepada Ririn.


"Langsung saja. Kamu akan Bapak keluarkan dari sekolah."


Bak tersengat listrik, Ririn syok mendengar penuturan pria paruh baya yang tengah duduk di hadapannya saat ini.


"Apa?" tanya Ririn dengan raut wajah tak percaya. Kekehan halus meluncur bebas dari Ririn.


Masih denngan raut wajah tak percaya Ririn mena,


"Salah saya apa Pak? Rasa-rasanya saya tak melanggap apapun!" ujar Ririn mencoba membela dirinya, sebab ia memang tak merasa melakukan kesalahan. 


"Ap..


"Salah kamu adalah kamu memanfaatkan seluruh kebaikan putri saya!!"


Bukan kepala sekolah yang menjawab pertanyaan Ririn barusan, melainkan Daniel. Ya, Daniel tiba teppat ssat Ririn melontarkan pertanyaan barusan.


"O..om..Daniel!!" gagap Ririn terkejut akan kehadiran Daniel.


"Ma...maksud...Om...apa?" tanya Ririn gugup. Entah kenapa ia sedikit merasa takut saat ini.


"Sial. Bagaimana ia bisa tahu?" batin Ririn bertanya-tanya.


Tak lama kemudian sebuah seringai tipis Daniel berikan pada Ririn, seolah memberi tahukan bahwa apa yang tengah ia likirkan benar adanya,


"Jangan bilang kalau..." batin ririn menduga-duga dari mana Daniel tahu akan kelakuannya selama ini.


"Matilah aku..." batin Ririn ketika melihat raut wajah Daniel yang telah berrubah menjadi datar.


"Kamu pikir saya tidak tahu akan kelakuanmu selama ini? Karna kamu putri saya mengalami kecelakaan!"


Suara datar Daniel mengalun bak melodi kematian untuk Ririn. Dingin, mencekam dan juga mengintimidasi. Setengah mati ia berusaha menahan tubuhnya agar tak jatuh.


"Apa? Saya tidak melakukan apa pun, Om!" ujar Ririn berusaha mengelak dari tuduhan yang Daniel layangkan untukk dirinya.


"Apa kamu lupa kapan aura kecelakaan. Tepat dihari ia membelikan tas Gucci sialan itu kepadamu!" ujar Daniel tanpa bisa mengendalikan amarahnya, bahkan ia sampai di buat mengumpat.


"A...Apa?"


Kaget? Tentu saja, bagaimana mungkin kecelakaan yang Aura alami menjadi kesalahannya? Bahkan ia tak bersama Aura saat kejaadian sial itu terjadi. Lantas di mana letak kesalahanya?


"Mulai sekarang tak akan ada satu sekolahpun yang mau menerimamu. Camkan itu!!" ujar Daniel sebelum pergi meninggalkan ruang kepala sekolah.


"Pak...saya bisa jelaskan."


"Tidak bisa Ririn buktinya sudah jelas. Seharusnya kamu berterima kasih kepada orang tua Aura sebab mereka tidak menjebloskanmu kepenjara!" ujar kepala sekolah menasehati Ririn.


Tanpa banyak bicara ririn pergi meninggalka ruang kepala sekolah dengan kekesalan yang menggunung.


"Sialan kau, Ra. Lihat saja apa yanga akan aku lakukan untuk membalas semua perbuatan mu padaku!!" guman Ririn dengan kedua tangan yang mengepal. Itu sumpah dan janjinya saat itu.


Flasback off


Berita tentang Ririn yang dikeluarkan akibat memanfaatkan Aura sudah tersebar luas di sana. Hampir seluruh siswa mengumpati bahkan mencaci maki Ririn sebab kelakuannya yang tak tahu malu. Ya..bagaimana tak tahu malu bila Aura sudah dengan baiknya kepada dirinya namun apa yang ia lakukan? Memanfaatkan Aura. Bukankah ia sangatlah jahat?