
Gaara tampak menghelan nafas begitu dirinya memasuki mobil yang di bawa Raasa untuk menjemputnya, sebab untuk beberapa waktu mobil yang ia kendarai akan berada dalam bengkel guna memperbaiki beberapa bagian yang rusak. Tak lama kemudian Raasa dan Karura ikut bergabung bersama Gaara di dalam mobil. Melihat kedua orang tuanya yang telah menduduki kursi depan, Gaara memilih menutup kedua matanya menggunakan lengan kananya sembari bersandar.
“Kita akan bicara begitu sampai di rumah Gaara.”
“Terserah,” jawab Gaara malas.
Awalnya Raasa hendak memperingatkan cara Gaara berbicara padanya, namun ia urungkan lantaran Karura yang langsung menyentuh bahunya dan menatapnya seolah melarang.
Gaara sendiri bukannya tak sadar jika sang ayah tengah marah, hanya saja ia mencoba abai. Luka di beberapa bagian wajah dan tubuhnya mulai berdenyut ngilu, akan lebih baik ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Itu akan terasa lebih berguna, sebelum kembali menghadapi masalah lain di rumah.
Rasanya baru sebentar Gaara memejamkan kedua matanya sebelum suara lembut Karura menyapa pendengarannya. Wanita berparas lembut itu meminta Gaara untuk keluar dari mobil lantaran kini mereka telah berada dalam garasi rumah mereka.
“Say hi untuk ceramah panjang, atau bahkan pukulan lagi.” Gaara bergumam tepat setelah ia melewati Karura yang menatap penuh luka punggung Gaara yang kini hilang di balik pintu utama.
“Kemana Gaara manisku yang dulu,” ucap Karura lirih. Sendu menguasai tatapanya, putranya yang dulu begitu penurut dan lembut, seakan musnah tertelan dunia.
Jam menunjukkan pukul sembilan ketika Sakura terbangun dari tidurnya lantaran merasakan sebuah usapan di kepalanya. Begitu membuka mata, wajah lelah Raasa lah yang pertama kali tertangkap retina matanya.
“Kak Gaara mana Pa?” tanya Sakura begitu dirinya telah mendudukkan diri di sofa yang sebelumnya ia tiduri.
Mendengar pertanyaan putri kesayangannya itu Raasa lantas menatap ke arah pintu masuk yang secara kebetulan baru saja Gaara lewati. Melihat kehadiran Gaara yang berada dalam keadaan berantakan penuh lebam, Sakura lantas segera bangun dan bergegas mendekat ke Gaara.
“Kakak kenapa bisa gini?” pertanyaan tersebut spontan meluncur dari bibir Sakura ketika ia berdiri di hadapn Gaara atau lebih tepatnya menghalangi jalan Gaara.
Gaara yang saat itu suasana hatinya sedang buruk memilih mengacuhkan pertanyaan penuh kekhawatiran yang Sakura layangkan. Sedangkan Sakura yang merasa di acuhkan memilih untuk tak menyerah.
“Kakak mau ke mana, Kakak belum jawab pertanyaan Saki!” ucap Sakura ketika Gaara hendak melewati dirinya.
Kedua tangan Sakura lantas memeluk erat pinggang Gaara, menahan Kakaknya itu untuk tetap berada di sana. Raasa yang melihat hal itu memilih untuk sejenak dia memperhatikan, ia ingin tahu apa yang akan Sakura lakukan dan apa yang akan Gaara lakukan pula. Sedangkan Karura yang baru saja masuk hendak menghampiri keduanya sebelum dirinya menangkap kode dari suami yang memerintahkannya untuk diam memperhatikan.
“Kakak enggak bener-bener ngelakuin apa yang Kakak bilang tadi siang di taman kan?” tanya Sakura penuh harap. Posisi Sakura yang tengah memeluk Gaara membuat Raasa dan Karura sedikit sulit mendengar apa yang tengah mereka ucapkan.
“Kalau iya kenapa?” tanya Gaara datar. Saat ini dirinya tak membalas maupun menolak pelukan Sakura. Ia hanya membiarkan adiknya itu memeluknya dari belakang.
“Kenapa Kakak lakuin itu?”
Empat kata barusan ternyata mampu menghancurkan kesabaran Gaara, tanpa aba-aba Gaara langsung menyentak kasar kedua tangan Sakura yang sebelumnya melilit pinggangnya. Berbalik dengan cepat Gaara lantas
“SAKURA!” teriak Raasa dan Karura yang segera mendekat ke arah Sakura.
Keduanya tampak berjongkok di sisi kanan dan kiri Sakura. Dengan hati-hati Raasa memegang wajah Sakura, mencoba memeriksa keadaan pipi putrinya itu. Dapat Raasa pastikan Gaara tak mengurangi sedikit pun tenaganya ketika menampar adiknya itu. Hal itu dapat dibuktikan dari sudut bibir Sakura yang sobek dan cap tangan berwarna merah yang masih samar terlihat di pipi kiri Sakura.
“GAARAAA!!” bentak Raasa yang segera bangkit begitu selesai melihat kondisi Sakura yang kini terisak di pelukan Karura.
Bukannya merasa takut Gaara justru terlihat berwajah datar, seolah tamparan yang baru saja ia layangkan tak pernah terjadi. Matanya justru menyorot tajam Raasa, seakan menantang sang ayah tanpa rasa takut.
Bughttt...
Satu pukulan Raasa layangkan pada wajah Gaara, membuat Gaara sedikit oleng namun tak sampai membuat dirinya tumbang. Sudut bibirnya yang awalnya sedikit sobek kini malah semakin parah, belum lagi hidungnya yang perlahan mengeluarkan darah.
Gaara yang saat itu memang sedang memendam amarah bukannya merasa bersalah justru terlihat seolah hendak membalas. Urat-urat kedua lengannya tertarik lantaran tangannya yang terkepal terlampau erat. Rahangnya terkatup erat, ada kemarahan yang terlihat jelas dalam sorot matanya
“Apa-apaan kamu hah?!” bentak Raasa. Tak ia sangka putra yang dulu ia banggakan berani bermain kasar pada adiknya, adik perempuan satu-satunya yang putranya itu miliki. Apa putranya ini sudah gila?
Sepersekian detik dari Raasa selesai berbicara. Gaara yang telah diselimuti amarah bergerak menerjang Raasa, hal itu sontak membuat Karura dan Sakura menjerit histeris.
“Sayang/Kakak!”
Pukulan demi pukulan Gaara dan Raasa layangkan satu sama lain. Sakura yang tak ingin hanya melihat lantas merengsek maju hendak memisahkan keduanya.
“Sayang jangan!” ucap Karura sembari menggenggam kedua tangan Sakura, mecegahnya untuk tak mendekati Papa dan Kakaknya yang tengah berkelahi.
“Kita enggak mungkin diam saja Ma, Sakura harus hentiin Papa dan Kakak sebelum mereka saling bunuh.”
Seolah tuli Sakura abai akan teriakan Karura, ia lantas segera mendekati Gaara guna menarik sang Kakak menjauhi Papanya. Ia bahkan mengabaikan panas di pipinya akibat tamparan Gaara.
“Kak udah pliss!” ucap Sakura masih mencoba menarik Gaara.
Namun mau apa di kata, sekalipun Sakura berusaha dengan sekuat tenaga kekuatannya tak akan cukup memisahkan dua laki-laki yang tengah diliputi amarah. Merasa usahanya sia-sia Sakura lantas memilih mengambil langkah penuh risiko. Tanpa aba-aba dirinya masuk kedalam celah di antara keduanya membuat dirinya harus merasakan pukulan keduanya.
“Sakura/Sayang!” seru ketiganya begitu melihat Sakura yang terduduk setelah menerima pukulan dari Raasa dan Gaara.