
Seperti malam sebelumnya, Aura kembali merenung di balkon kamarnya di temani dengan taburan bintang sebagai salah satu perhiasan yang tuhan ciptakan untuk di kagumi. Menerawang jauh menembus relung waktu. Kenangan yang ia simpan rapi kini tercecer di pikirannya, menari-nari dengan liar seolah mengejek dirinya.
Aura pandangi langit malam bertabur jutaan kerlap kelip dari pendar bintang di atas sana. Hanya kali ini, ia akan menyerah pada sebuah masalah. Hanya kali ini.
Keputusan sudah ia ambil, ia tak akan memusingkan dampak apa yang akan ia dapat begitu keputusan itu terucap di bibirnya. Butuh keberanian dan juga kemantapan yang tak sedikit ketika ia memilih pilihan ini, pilihan yang akan membebaskannya atau malah menjerumuskannya. Hanya tuhan yang tahu apa yang akan ia dapat di maasa depan.
"Halo!" sapa Aura begitu seseorang di sebrang sana mengangkat telponnya. Kedua manik virdian berwarna biru itu tak lepas memandang ribuan cahaya yang ia senangi.
"Sudah membuat keputusan?" tanya orang itu to the poin. Sebab ia tahu pasti bahwa Aura akan membahas keputusannya. Hanya itu.
"Kita pergi besok," ujar Aura dengan jemari yang mencengkram erat pagar balkon. Tak perduli buku jarinya yang memutih, saat ini yang ia butuhkan adalah pelampiasan.
"Paris," tambahnya setelah tak mendapat respon cukup lama. Sudah ia pastikan bahwa orang yang tengah ia hubungi kini pasti terkejut.
"Hah?" reflek orang itu.
"Aku butuh ketenangan, aku ingin paris!" ujar Aura. Ya, ia memang membutuhkan paris dengan segala kehangatan dan juga ketenangannya. Ia harus kembali menata mental dan juga hatinya saat ini.
"Baiklah, kita pergi pada penerbangan pertama!" ujar lawan bicara Aura. Senyum lebar tampak terukir di bibir orang itu begitu mendapati jawaban yang ia inginkan.
"Ya," sahut Aura sebelum memutuskan sambungan saat ini secara sepihak.
Kembali Aura menatap bintang-bintang di atas sana. Benarkah keputusan yang ia ambil saat ini? Akankah masalah ini selesai?
°°°
Sedangkan di sudut kamar lain, makhluk tuhan lainnya juga tengah menatap bintang yang bertaburan, berbincang dalam semu. Ia ceritakan semua keluh kesahnya, termasuk masalahnya dengan sang kekasih hati.
Dalam benaknya pemuda itu bertanya-tanya apakah ia akan melupakan sang kekasih? Akankah ia mampu melakukannya? Hanya tuhan yang tahu.
°°°
Malam memanglah memiliki sejuta rahasia di balik pesonanya yang memikat. Menyimpan setiap untaian mimpi, doa bahkan curhatan pengagumnya. Di waktu yang sama di tempat yang berbeda dua pemuda tengah terpaku menatap rembulan yang amat cantik, penguasa malam dengan bintang sebagai abdinya.
Rupa yang berbeda serta keadaan yang berbeda membuat keduanya tak sama, namun apa yang mereka pikirkan sama. Pikiran keduanya hanya berpusat pada satu hal, tentang bagaimana mereka harus menghadapi masalah yang menghampiri sang pujaan hati.
Akankah mereka menyerah pada kisah yang bahkan belum di mulai, apalagi menemukan titik akhir.
Jelaga itu menatap sayu foto di genggamannya sebelum beralih pada ponsel yang hancur di atas meja nakas di samping ranjangnya,
"When carrying away yourself makes you free from the wounds of the land, then I am willing to be wanted by everyone," gumannya menatap bintang dari balik jendela balkon. Berharap mendapat balasan yang teerdengar mustahil. Ayolah, apakah ia baru saja menitipkan sebuah rayuan pada bintang untuk di sampaikan pada sang pemilik hati.
Lain hal dengan pemilik manik caramel yang kini tengah menatap sebuah rumah minimalis di hadapannya. Ia tak berniat bertamu, hanya ingin mengawasi dari balik pekatnya malam. Memastikan gadis-nya baik-baik saja.
"I cannot guarantee that I will be happy to see you happy with him, but I will be more hurt if I keep you by my side which will make you hurt, dear!" ujarnya sebelum beranjak pergi setelah menemukan lampu pada kamar gadisnya padam. Ia hanya berharap mimpi baik selalu menemani tidur bunganya.
Tanpa pemuda itu sadari ada bayangan lain yang mengamati rumah itu, rumah gadisnya. Mata hijau pekat iru berpendar menyala terang, bersinarkan ambisi dan obsesi.
"Kita akan bersama, besok aku akan menjemputmu!" guman sosok itu dengan senyum miring terukir ringan di bibirnya sebelum ia memilih melangkah menjauhi rumah itu. Rumah yang di huni pemikat hati sisi lain dirinya.
Kembali malam menjadi saksi dari rasa cinta, obsesi dan kegundaan pengagumnya. Menyimpan semua untuk dirinya sendiri, tanpa bisa ia bagi.