
Sudah tiga hari sejak Aura dan juga Jeck berbicara di taman belakang sekolah dan sudah sejak itu juga Arata mendiami Aura. Berbagai pertanyaan muncul di fikiran Aura, apa ia melakukan kesalahan?
Seperti saat ini, Arata terus saja mengacuhkan Aura dan tetap mendrible bola basket yang ada di tangannya. Sekolah sudah nampak sepi, sebab jam pulang sudah berlalu lima belas menit yang lalu. Hanya tinggal beberapa orang saja itupun karna terpaksa.
"Arata!!" kembali Aura mencoba memanggil Arata dengan panggilan yang ke sekian kalinya, dan ia berharap kali ini Arata mau menjawab panggilannya paling tidak menoleh padanya.
"Ya," jawab Arata masih lah fokus mendrible bola basket sebelum melemparnya menuju ring dan..
Hupp
... bola itu masuk dengan mulus, tanpa cacat maupun meleset barang sedikitpun.
"Kau kenapa?" ujar Aura menanyakan pertanyaan yang sejak kemarin ia tahan. Harapannya hanya satu, Arata mau membeeritahu apa yang salah padanya.
Tak ada ekspresi berarti yang tampak di wajah Arata,
"Tidak," jawab Arata sambil berjalan menuju bola yang menggelinding ke sudut lapangan.
"Kenapa sikapmu persis seperti Jeck?"
Teriakan Aura membuat Arata menghentikan langkahnya. Pandangan yang awalnya terlihat biasa kini berubah menggelap dan menajam. Haruskah ia mendengar nama itu, pikir Arata.
"Bisakah kau tak membahas Jeck ketika bersamaku?" ujar Arata dengan nada dingin yang menusuk, membuat Aura tersentak kaget. Selama ini Arata tak pernah menggunakan nada dingin saat berbicara dengannya.
Secuil rasa takut dan juga sedih tampak menghampiri Aura.
"Kenapa?" tanya Aura pelan. Tanpa Arata sadari kini tangan Aura tengah mengepal menahan sakit. Harusnya ia sudah terbiasa dengan semua ini, hanya saja entah mengapa ini terasa sangat menyakitkan bila Arata yng melakukannya.
"Aku cemburu!" bentak Arata kasar. Ia buang bola basket yang ada di tangannya, membiarkan bola itu memantul tak beraturan.
Secuil retakan tampak menjalar di hati keduanya.
Tatapan sayu Aura berikan pada Arata, bukan maksud mengiba hanya saja ia tengah mati-matian menahan lukanya,
"Bukankah sudah ku bilang kalau aku dan Jeck hany...
"Teman?" bentak Arata memotong ucapan Aura.
Sekali lagi bentakan itu meluncur mulus dari bibir Arata. Retakan yang awalnya hanya sebesar jarum kini semakin membesar, merambat menuju inti dimana seorang gadis tengah berdiri dengan sebuah hati di tangannya.
"Diantara perempun dan laki-laki tidak ada kata teman, kalaupun ada akan ada rasa di dalamnya entah si lelaki maupun perempuannya!" ujar Arata dengan emosi yang tanpa ia sadari membuat Aura makin merasa sakit dan juga takut secara bersamaan. Sadarkah ia bahwa ia telah melukai pujaan hatinya?
Tatapan hancur jelas terlihat di manik safir redup milik Aura,
"Kau meragukanku?" ujar Aura berusaha menahan suaranya agar tak bergetar. Bukankah ia telah berjanji untuk menjadi kuat?
"Aku hanya menganggap Jeck sahabat. Tidak lebih," lanjut Aura.
Ia tidak akan menyalahkan Arata yang bersikap menyakitinya saat ini, hanya saja tidakkah Arata tahu bahwa rassa cemburunya ini melukai Aura. Rasa senang jelas ada ketika tahu kekasihmu cemburu ketika kau dekat dengan yang lain, itu artinya ia amat mencintaimu.
"Kau harus percaya Arata!" tambah Aura sambil melangkah menuju ke arah Arata.
Dengan perlahan Aura memeluk tubuh Arata dari belakang, mencoba menenangkan emosi yang tengah bercokol di hati kekasihnya itu.
"Tapi tetap saja ia menyukaimu!" bentak Arata dengan nada yang terdengar frustasi.
Katakkan padanya, laki-laki mana yang tak marah begitu melihat kekasihmu bersama pemuda lain? Tidakkah kekasihnya itu paham bahwa ia melukai hatinya? Arata hanya tak ingin kehilangan itu saja.
"Lalu kau ingin aku bagaimana?" tanya Aura sambil membalikkan tubuh Arata untuk menghadap padanya. Beruntung sekolah sudah sepi, jadilah tak ada yang melihat mereka bertengkar saat ini. Bukan karna ia merasa malu, hanya saja ia tak ingin ada gosip tak mengenakkan tentang mereka berdua.
"Jauhi Jeck!!" ujar Arata dengan sorot mata serta nada datar nan dingin miliknya. Biarkan ia egois saat ini, tak perdulu Jeck adalah sahabatnya ia tak perdulu.
"Apa?" seru Aura terkejut dengan apa yang Arata inginkan. Haruskah Arata memintanya menjauhi Jeck. Sebegitu tak percayakah Arata padanya?
"Tidak bisa," ujar Aura menolak menyanggupi permintaan Arata. Apapun akan ia lakukan kecuali mennjauhi Jeck, ia tak yakin ia bisa.
Tatapan kecewa Arata berikan pada sang kekasih,
"Kenapa?" tanya Arata sambil memandangi Aura.
"Kau juga menyukainya?" tuding Arata sambil memicingkan matanya. Menatap Aura dengan pandangan menusuk.
Retakan itu semakin menjalar mendekati posisi sang gadis, perlahan-lahan mengikis tempat pijakannya.
"Arata!" bentak Aura tak terima akan ucapan Arata barusan. Apa maksudnya mengatakan hal itu? Tidakkah ia paham dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya, ia dan Jeck hanya sebatan sahabat tanpa rasa suka. Walaupun ia tahu bahwa Jeck menaruh rasa padanya, itu merupakan kenyataan pahit yang harus Aura telan.
"Berapa kali aku harus katakan padamu? Jeck hanya sahabatku! Tidakkah kau mengerti, Arata?" ucap Aura mencengkram baju Arata. Kusutnya bajuu Arata tak Aura perdulikan, ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya. Sebeb ia tak mau sampai melampiaskan kekesalannya pada Arata, bisa saja malah membuat masalah baru.
"Kau kekasihku Arata."
Tatapan putus asa Aura berikan pada Arata, berharap pemuda itu mau mengerti. Ia hanya mencintai satu pemuda, dan dia adalah Arata Devano. Kekasih hatinya.
Bukan Arata tak sadar atau tak mau mengerti akan semua ini, hanya saja untuk sekali lagi egonya melarang dirinya luluh pada sang kekasih.
"Aku menyukaimu, bukannya Jeck!" tambah Aura sambil membelai wajah Arata. Jujur saja jika bukan karna mereka sedang bertengkar Arata akan dengan senang hati menerima belaian lembut Aura di wajahnya.
"Apa hanya karena aku kekasihmu makanya kau menyukaiku?" ujar Arata emosi. Astaga, kapan ini semua berakhir.
"Berarti bila aku bukan kekasihmu kau akan menyukai jeck? Begitu?" tambahnya sambil menyentakkan tangan Aura yang berada di wajahnya.
Gelengan frustasi Aura layangkan sebagai respon ucapan Arata barusan.
"Astaga Arata. Itu tidak benar!" ujar Aura dengan kekesalan yang semakin bertumpuk. Percayalah, bila ini tidak segera berakhir bisa di pastikan akan berdampak buruk bagi Aura. Lihat saja.
Jeritan penuh ketakutan gadis itu sorakkan, begitu menyadari tempatnya berpijak telah sepenuhnya terkurung oleh retakan yang entah berasal dari mana.
"Sudahlah. Aku ingin sendiri!" ujar Arata sambil berbalik hendak meninggalkan Aura.
"Tap...
"Cukup!" bentak Arata dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat Aura bahkan dirinya sendiri pun terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Baiklah kalau itu mau mu," ujar Aura datar. Amat sangat datar. Oh tidak apa yang kau lakuakan Arata?
Rahang Arata tampak mengeras dengan kedua tangan yang terkepal di masing-masing sisi tubuhnya. Tatapan matanya menajam seiring jembusan nafasnya.
"Aku pergi," pamit Aura melangkah meninggalkan lapangan basket yang menjadi saksi bisu pertengkaran pertama mereka.
"Sial!" teriak Arata kesal, tepat setelah ia tak lagi mendengar derap langkah Aura yang semakin menjauh darinya.
"Apa yang kulakukan?" guman Arata sambil mengacak rambut perunggunya.
Rasa cemburu itu wajah dalam sebuah hubungan, tapi jangan terlalu berlebihan sebab tak akan baik untuk hubungan itu sendiri. Terkadang rasa cemburu itu dapat memperkokoh hubungan atau malah menjadi penghancur hubungan itu sendiri. Jadi, apa yang akan menjadi buah dari kecemburuanmu, Arata?
°°°
Disebuah distrik D yang tampak lengang, namun bila kau terus berjalan masuk kedalam maka kau akan menemukan segerombolan muda-mudi dengan mobil sport mereka masing-masing. Terlihat tengah menonton sebuah pertandingan. Pertandingan macam apa yang dilakukan tengah malam?
Seorang gadis dengan kaos putih kebesaran dan juga hot pan yang melekat di tubuhnya, tampak keluar ddari salah satu mobil yang baru saja adu tanding.
"
"Berikan kunci mobilmu!" ujarnya datar.
Gemuruh riuh dari para penonton dan juga knalpot kendaraan mereka tak lagi mengganggu si gadis, ia tampak tetap tenang menanti hadiahnya.
Raut wajah masam terlihat di wajah lawan gadis itu,
"Sial!" umpat seorang pemuda sambil memberikan kunci mobil kesayangannya kepada gadis itu.
"Kau salah mencari lawan, Dud!" ujar gadis itu penuh dengan nada mengejek. Setelah mendapatkan kunci mobil itu ia segera pergi meninggalkan arena balapan. Sebelum pulang, ada satu lagi tempat yang harus ia kunjungi. Pelariannya selain arena balap.
°°°
Disisi lain distrik D tepatnya di bagian balap motor, terlihat segerombolan gadis tengah menyoraki dua buah motor yang sebentar lagi akan memasuki garis finis. Kedua motor itu tampak berlomba-lomba guna merebut posisi utama.
Ckitt
Suara gesekan antara ban motor dengan aspal jalan memecahkan kesunyian malam di distrik D.
"Kunci motormu!" ujar seorang pemuda berambut perunggu, ia mengendarai motor sport berwarna biru dengan aksen naga di bodinya.
"Sialan kau, Arata!" umpat pemuda lain yang menjadi lawannya, ia menggunakan motor sport hitam.
"Kau kalah Ley!" ejek pemuda bermotor biru yang tak lain adalah Arata. Tunggu dulu, apa yang kau lakukan disini Arata? Balapan, are you sure?
"Lain kali kau yang akan kala, Arata!" balas Ley dengan nada kesal dan juga raut wajah masam.
Lambayan tangan Arata berikan pada Ley,
"Ya. Kutunggu," ujar Arata sebelum pergi meninggalkan arena balap motor dan juga distrik D. Ia kini tengah membawa motor Ley yang telah menjadi miliknya, soal motornya yang lain maka orang suruhannya yang akan mengurusnya nanti.
°°°
"Segelas vodka, please!" pinta seorang gadis ketika ia telah menduduki salah satu kursi di depan meja bartender yang ada di bar Saga.
Kerutan samar terlihat melintanng di dahi bartender tersebut, ia tampak tak asing dengan gadis di hadapannya ini.
"Ini minumanmu, Nona," ujar sang bartender sambil menyodorkan gelas berkaki yang berisikan cairan yang biasa kita sebut Vodka.
Dengan bringas gadis itu meneguk semua cairan itu hingga tandas. Rasa panas menjalar di tenggorokannya, namun memberikan sensasi luar biasa yang tak dapat di uraikan melalui kata- kata.
"Lagi!" pintanya dengan gelas kosong yang kembali ia sodorkan pada sang bartender berwajah lumayan tampan itu. Aisss, kenapa kau selalu di kelilingi pria berwajah tampan?
"Nona kurasa kau harus berhenti!" ujar bartender itu, sebab ini sudah gelas ke tujuh yang gadis itu minum.
"Lag..hik..!" ujar gadis it dengan cegukkan. Tampaknya ia sudah mabuk, lihat saja dari wajah putihnya yang sudah memerah lalu badannya yang sedikit sempoyongan.
"Nona!" ujar bartender itu mencoba memperingatkan kembali gadis di hadapannya. Tidakkah gadis itu sadari bahwa keadaannya saat ini sangat tak menguntungkan?
"Berikan...hik...lagi...hik..."
Racau gadis itu dengan kepala yang tertunduk di meja bar. Karena tidak tega melihat keadaan gadis malang yang tampak kacau itu, terpaksa bertender itu menggeledah tas yang gadis itu bawa guna mencari ponsel gadis itu.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, dengann segera ia menghidupkan layar ponsel itu untung saja ia tak perlu memasukkan sandi. Ia cari daftar panggilan di ponsel itu.
Sebuah senyum kelegaan terpatri di bibirnya, dengan yakin ia tekan nomor yang berada di urutan paling teratas diriwayat panggilan.
"Hallo," ujar pria bartender itu dengan suara yang sedikit keras guna menghalau suara dentuman dj yang memenuhi bar.
"Azura?" panggil suara di seberang sana.
"Tuan, Nona ini mabuk di bar Saga," ujar bartender itu sambil menjaga badan gadis itu dengan hodi miliknya, tak lupa ia rangkul bahu gadis itu agar tak jatuh dan tak menjadi santapan liar para penjahat kelamin yang sejak tadi menatap nafsu ke arah mereka, padahal gadis itu hanya mengenakan kaos putih di padu hot pan. Sebenarnya dimana letak kesalahan pakaian gadis itu, okelah celana yang is kenakan sangan pende, tapi kenapa mereka menatapnya seakan akan berusaha menelanjanginya?
"Sial!" umpat pria di sebrang telpon membuat bartender itu sedikit terkejut, pasalnya selain umpatan ia juga mendengar suara benda jatuh lalu pecah. Gelas kah?
"Jaga dia hingga aku datang!" ujar pria itu dengan nada memerintah.
"Baik."
Hanya itu yang dapat bartenderi itu katakan sebagai respon perintah dari seseorang yang baru saja ia hubungi.
Kembali ia masukkan ponsel Aura kedalam tasnya, ya ia baru tahu bahwa gadis itu bernama Aura tertera di sudut kanan bawah wallpaper ponselny.
Selama lima belas menit ia berusaha menjaga Aura dari berbagai macam bahaya mulai dari yang ingin mengajak Aura making love, mencoba mencuri barang berharga Aura bahkan ada yang nekat menyentuh Aura di sana dan semua itu dihalau oleh pria bartender itu dengan segala cara. Ahhh, kurasa kau harus berterimakasih kepadanya ketika kau sudah sadar nanti Aura. Ia pria yang baik.
"Azura!" panggil seorang pemuda berambut perunggu dengan mata merah darah yang tampak menyala terang.
Awalnya pria bartenderi itu tampak bingung dengan pemuda itu, pasalnya ia memanggil gadis di rengkuhannya ini dengan nama Azura sedangkan jelas-jelas nama Aura yang tertera di ponsel itu. Namun ia tampak berfikir sejenak, mungkin itu nama panjangan atau panggilannya.
"Ah... anda pasti pemuda yang di telpon tadi. Nona sudah minum terlalu banyak Tuan!" ujar pria bartender itu mencoba menebaknya. Senyum ramah ia layangkan pada pemuda itu.
"Baiklah. Terimakasih!" ujar pemuda itu kepada pria bartender itu yang di balas dengan anggukan serta senyum manis.
"Kita pulang!" ujar pemuda itu sambil memapah Aura meninggalkan pria bartenderi itu dan juga lautan manusia yang semakin menggila.
Sebelum pemuda itu pergi ia sempat mendengar bartender itu mengatakan sesuatu padanya.
"Jaga kekasihmu Tuan, dia tampak amat frustasi!"
Kurang lebih itulah yang dapat pemuda itu tangkap di telinganya.
°°°
"Arata..hik...kau...hik...tampan!" racau Aura ketika mereka telah berada di pelataran parkiran bar Saga.
Tatapan sayu Aura berikan pada pemuda itu yang tak lain adalah Arata. Dalam penglihatannya Arata tampak sangat menawan.
"Kau...hik...masih marah...hik...padaku?"
Racau Aura dengan mimik sedih sambil membelai rahang Arata yang mengeras. Arata kau marah atau kau menahan sesuatu?
"Aku...hik...hanya mencintai...hik...mu Arata...hik!" racau Aura diselingi dengan air mata yang mengalir dipipinya. Membuat Arata terenyuh begitu melihatnya. Sejauh mana ia melukai kekasihnya ini?
"Jeck...hiks...hanya teman...hik...ku!"
Kembali Aura meracau ketika mereka telah berada di mobil Arata, sedangkan Arata hanya menatap lurus ke arah depan tanpa mau menatap ke arah Aura karena apa? Percayalah bila ia menatap ke arah Aura bisa di pastikan pertahanannya akan runtuh detik itu juga.
"Aku...hik...tak...bisa...hik...menjauhinya, ia...hik...berarti bagiku...dan...hik...dia yang menolongku...hik!" ujar Aura sambil mencengkram kemeja yang Arata gunakan. Ia tampak mencoba mengambil alih kesadarannya yang hampir terenggut sempurna oleh alkohol.
"Arata...hik...aku...hik...mencintai...hik...mu!!" ujar Aura sebelum mempertemukan bibirnya kepada bibir Arata. Hanya menempel tanpa ada lumatan maupun hisapan, benar-benar hanya menempel namun walaupun begitu Aura mencoba menyampaikan apa yang ia rasa kepada Arata. Namun semua itu tak berlangsung lama sebab Aura sudah jatuh tertidur di dalam dekapan Arata.
"Maaf, Sayang!" guman Arata sambil mengeratkan pelukannya kepada Aura dan memberikan beberapa ciuman di pucuk kepala Aura.
Malam itu, baik Aura maupun Arata menyadari satu hal bahwasannya mereka berdua saling menyayangi dan juga mencintai satu sama lain.