000

000
Pergi I



Pagi ini OHS tampak masih lah sepi sebab baru beberapa siswa yang datang termasuk Tania, Elis, Fatur, Key, Jeck, dan juga Arata.


Mereka tampak tengah membicarakan sesuatu di dekat mobil Arata. Ya, mereka saat ini berada di parkiran OHS yang tampak lengang.


"Kita harus temuin Aura sekarang!" usul Tania dengan raut wajah serius. Menurutnya mereka harus menemui Aura seecepatnya untuk meluruskan semuanya dan tentu saja untuk minta maaf.


"Ke rumahnya?" tanya Elis yang di jawab anggukan oleh Tania. Kerutan samar tampak di kening Elis, ia tengah memikirkan sesuatu saat ini.


"Percuma, Aura nggak ada di sana!" celetus Arata membuat Tania dan juga Elis memandang pemuda itu penuh tanya. Terbesit di pikiran mereka bahwa Arata telah lebih dulu menyambangi rumah Aura tepat setelah kejadian di kelas waktu itu.


"Apa maksudmu Arata?" tanya Tania.


"Semalam kami sudah pergi ke rumahnya tapi tetangganya bilang Aura telah pindah kemarin pagi bersama seorang pria," jelas Arata dengan raut wajah semrawut menandakan seberapa frustasi dirinya. Ia ingat saat seorang ibu-ibu menghampiri dirinya dan Key yang saat ituu tengah mengetuk pintuu rumah Aura, ia bilang bahwa Aura telah pindah.


"Kau tau kemana ia pergi Jeck?" tanya Key sambil menyenggok lengan Jeck yang sibuk dengan ponselnya. Hanya satu kandidat yang dapat mereka curigai tahu akan kepergian Aura. Tali apakah mereka yakin? Tidakkan mereka sadar bahwa kemarin salah satu dari mereka tak hadir? Dan sadarkah mereka bahwa kini ada yang menatap benci dan marah ke arah mereka semua?


"Tidak," jawab Jeck tanpa mengalihkan pandangannya dari ponse di genggamannya. Ia tampaknya tengah membalas pesan seseorang.


Rahang Arat sontak mengeras melihat tingkah Jeck yang acuh,


"Jangan bohong!" bentak Arata menghentikan gerakan jari Jeck.


"Apa untungnya kalau aku berbohong?"


Dengan wajah datar Jeck menatap Arata dengan pandangan menantang. Mengadu seberapa kuat pandangan keduanya.


"Bukankah kau menyukai Aura? Bisa saja kau mencoba menyembunyikannya agar aku tak dapat menemuaknnya. Kau takut ia kembali padaku kan?"


"Aku tak sepicik itu Arata," sinis Jeck. Ia cukup merasa terhina akan ucapan Arata barusan. Kalaupun ia tahu akan kepergian Aura, sudah pasti ia akan mencegah hal itu sebab Aura telah terikat janji padanya.


Mengingat tentang janji membuat kepalan tangan Jeck mengerat. Berbagai pertanyaan hinggap di kepala Jeck. Why?


"Kau!!" bentak Arata lagi. Dengan langakh cepat ia maju ke arah Jeck namun hal itu segera di tahan oleh Fatur yang menyadari gerakan Arata.


"Cukup!!" seru Fatur dengan raut wajah datar. Sudah cukup. Masalahnya dengan gadis yang ia cintai saja yang membebaninya, jangan kemarahannya pada Arata dan yang lainnya juga itu membebani.


"Kita kerumahnya sekarang!" lanjutnya sambil menenteng tas di bahunya. Bukan. Ia sebenarnya bukan ingin mengajak mereka, baginya tak semudah itu mereka mendapat maaf dari Aura setelah melukainya. Ia hanya ingin menanyakan apakah Aura masih ingat rencana mereka?


"Sekarang?" tanya Key dengan tampang bodohnya. Apakah masalah ini sangat mengganggu dirinya hingga membuat daya pikirnya menurun?


"Ya," jawab Fatur sebelum melengos pergi dengan tangan yang menyeret Jeck ikut bersamanya. Kini yang dapat ia percaya hanyalah Jeck, tidak yang lain.


"Bagaimana dengan sekolah?" tanya Tania mencoba menyamai langkah kakinya dengan langkah kaki Fatur.


"Hari ini Pak Kevin nggak akan ngajar. Katanya dia pindah!" jelas Fatur membuat Key menampilkan wajah bingung.


"Dari mana Fatur tahu beriita itu?" batin Key. Sedikit ketidak nyamanan mengusik Key. Berfikir kali ini apa yang akan mereka lalui? Raut wajah datar serta pancaran aura yang berasal dari Fatur teraasa berbeda. Ia tahu ada yang telah terjadi pada Fatur. But, What and Why?


"Serius?" kaget Elis pasalnya tak ada kabar yaang berhembus tentang hal ini.


"Ya,"


"Yasudah ayo ke rumah Aura!" ujar Arata hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Tapi alamatanya dimana?" tanya Tania. Tepat setelah menyelesaikan pertanyaannya, Arata serta yang lainnya kecuali Fatur dan Jeck sontak menghentikan langkah mereka. Benar mereka tak tahu rumah Aura yang mereka tahu adalah rumah Azura.


"Jeck!" seru mereka kepada jeck membuat Jeck bedecak. Tidakkah mereka bodoh, kalau ia tahu di mana rumah Aura sudah jelas ia tak akan ada di sini. Kalaupun ia tahu, ia tak akan memberitahu mereka, mudah sekali mereka mendapatkan maaf.


"Tch."


"Aku tahu!" seru Fatur sebelum masuk ke dalam mobil miliknya mengabaikan tatapan kaget Jeck, Arata, Tania dan Elis kecuali Key yang justtru tampak berfikir. Sedikit demi sedikit kumpulan puzzel itu terkumpul.


"Apa yang kau sembunyikan Fatur?" batin Key menatap mobiL Fatur tanpa tahu bahwa seseorang yang kini ia tatap tengah menatap balik dirinya melalui kaca mobil yang tampak gelap di mata Key.


"Tengah memikirkan ku?" guman Fatur begitu menangkap basah Key yang menatapnya. Degan keras Fatur membunyikan klason membuat mereka segera menuju mobil masing-masing.


°°°


"Kau yakin Sayang?" kembali Jeniver mengulang pertanyan yang sama sejak mereka selesai makan dan hingga mereka hendak mengantar kepergian Aura. Berharap sang putri mau meembatalkan keinginannya itu.


"Ya."


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik!" ujar Jeniver sambil memeluk Aura seerat eratnya. Ibu mana yangg tak akan rela berpisah dengan anaknya setelah melakukan kesalahan yang melukai hati putrinya itu.


"Ya."


"Kevin! Paman serankan Aura kepadamu ya!" pesan Daniel dengan memberikan beberapa tepukan di bahu Kevin. Ia tahu keponakannya satu ini dapat di andalkan dan lagi ia tahu sosoknya yang lain akan lebih menjaga Aura sebab ia tahu ada rasa yang telah tumbuh di dalam haati keduanya.


"Ya, akan ku jaga Aura, Paman!" dengan senyum lebar Kevin menyanggupinya. Tenang saja ia akan menjaga Aura, ia tak akan membiarkan Aura terluka sebab bila hal itu terjadi Kelvin bisa saja membunuhnya.


"Daa~"


Dengan tangan yang melambai Daniel dan juga Jeniver mengiringi kepergian sang putri. Berharap keduanya baik-baik saja tanpa mereka. Paris dan Indonesia adalah negara yang berjauhan.


"Daa~" balas Aura sebelum masuk ke dalam mobil.


Blamm


Pintu itu tertutup, menelan Aura di dalamnya. Melarang Jeniver dan Daniel mencegah kepergian putrinya itu.


Brumm


"Sudahlah Sayang! Aura akan baik- baik saja," ujar Daniel begitu mobil yang membawa Aura dan juga Kevin sudah tak terlihat lagi. Ia tahu istrinya itu masih tak rela melepas putrinya itu.


"Tapi aku takut ia kenapa-kenapa Sayang!" ujar Jeniver mengutarakan kecemasannya.


"Sudah. Ingat ada Kevin yang menjaganya!" ujar Daniel merangkul Jeniver.


"Ya."


"Ay..


Niat keduanya terurungkan ketika mendengar deru suara mobil dan tepat setelah keduanya membalikkan badan beberapa mobil sport tampak berhenti di pelataran rumah mereka.


Ckittt


Gesekan antara ban mobil dan lantai itu terdengar, membuktikan kualitas keduanya yang perlu di acungi jempol.


Blamm


"Permisi!" ujar salah satu pemuda beriris coklat yang tak lain adalah Jeck kepada Jeniver dan Daniel tanpa msngindahkan kehairan Arata dan yang lainnya.


"Ya," jawab Daniel dengan kerutan di dahinya.


"Siapa mereka?" batin Daniel memandangi mereka satu persatu. Seingatnya ia tak pernah melihat mereka di sekitar perumahan ini.


"Maaf, sebelumnya apa ini rumah Aura Alanta?" tanya Jeck ingin memastikan.


"Ya. Kami orang tuanya," jawab Jeniver dengan senyum lembut di bibirnya.


"Kalian siapa ya?" tanya Jeniver masih dengan senyum manis di bibirnya. Ah, mereka jadi tahu dari mana senyum manis Aura berasal.


"Kami teman Aura Om Tante!" jawab Elis dengan sedikit kegugupan.


"Ahh~ mau apa?" tanya Daniel dengan suara dingin serta tatapan datar. Membuat Jeniver refleks menyikut perut sang suami.


"Sayang!" ujar Jeniver mempringati Daniel.


"Kami ingin bertemu dengan Aura. Apa Auranya ada Om Tante?" tanya Arata membuat Daniel memandang ke arahnya dengan pandangan yang tajam. Ia ingat pemuda ini yang menjadi alasan pemuda bermata hitam waktu itu mendatanginya.


"Aur..


"Tidak ada!" sela Daniel sebelum Jeniver menjawab pertanyaan Arata.


"Ada perlu apa kalian dengan anak saya?" masih dengan nada datarnya Daniel melontarkan pertanyaan kepada mereka.


"Ka..kami ingin minta maaf, Om!" ujar Key membuat Daniel dan jug jeniver menatap mereka penuh kebingunga. Dari wajahnya saja sudah terluhat bahwa Daniel adalah tipe orang yang keras.


"Maaf?" ulang Jeniver dengan pikiran yang kini tengah di penuhi dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan buruk. Apalagi yang dialami putrinya? Jangan bilang ini alasan kepergian Aura.


"Mereka melukai hati Aura!" celetus sebuah suara dari punggung Arata dan yang lainnya, membuat semuanya menoleh ke arah pemilik suara itu termasuk Daniel yang mengerutkan keningnya. Bukaankah itu pemuda yang beberapa hari lalu mendatanginya?


"Apa?" kaget Jeniver dengan tangan yang memegang dadanya. Jantungnya. Apa jangtungnya masih berada di tempatnya saat ini?


"Ya tuhan!" guman Jeniver dengan jantung yang berdetak cepat. Hatinya sakit, sangat sakit. Kenapa putrinya itu terus saja dilukai?


"Kami benar benar minta maaf Om Tante. Kami salah paham!" ucap Tania dengan pandangan menyesal serta putus asa mungkin.


"Cih."


"Pergilah!" usir daniel tanpa mau menatap wajah mereka. Jadi ini alasan sebenarnya kenapa pemuda itu menemuinya dan alasan kepergian Aura. Kenapa selalu orang luar? Why?


"Sayang!" panggil Jeniver kembali mempringatkan tingkah laku sang suami yang tampak sudah kelewatan di matanya, tanpa mau menatap dari sudut pandang sang suami.


"Apa? Mereka melukai putriku. Aku tak mau kejadian Ririn kembali terulang, walaupun itu sudah terjadi!" bentak Daniel sebelum berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang ada di teras rumah.


"Pergilah!" sekali lagi Daniel memerintahkan mereka tepat ketika ia berada di depan pintu rumah.


Blamm


"Maafkan suami, Tante!" ringis Jeniver begitu Daniel sudah tak berada di sekitar mereka.


"Seharusnya kami yang minta maaf, Tante," dengan gelengan kepala Tania mengatakannya. Kenapa wanita di hadapannya ini yang justru minta maaf?


"Aura sedang dalam perjalanan menuju ke bandara," ujar Jeniver membuat semua yang ada disana membolakan matanya kaget.


"Ba..bandara?" ulang Arata dan juga Jeck dengan ekspresi yang entahlah tak bisa di gambarkan.


"Iya."


"A..Aura akan pergi?" tanya Jeck dengan wajah pucat pasih. Entah kenapa kata pergi seolah menjadi racun baginya. Apa ia akan ditinggal lagi? But why?


"Kemana?" kini giliran Fatur yang bertanya, raut wajah tampak datar sedatar kaca kediaman Alanta. Berharap apa yang menjadi tujuan Aura sama seperti rencana keduanya.


"Paris," jawab Jeniver tanpa sadar memicu senyum penuh kelegaan tampil di bibir Fatur, membuat Key lagi dan lagi di buat penasaran.


"Ka..kami harus menyusulnya Tante!" dengan wajah panik Elis mengatakannya membuat Jeck dan Arata segera menuju mobil mereka masing-masing lain halnya dengan Fatur yang kini tampak lebih santai.


"Permisi Tante. Sekali lagi kami minta maaf!" Pamit Tania sebelum menyusul Jeck.


"Iya. Hati-hati!" ujar Jeniver menatap kepergian mereka semua dengan tatapan kecewa dan juga harap-harap cemas. Namun ada satu hal yg kini mengganggunya, hanya perasaannya saja atau memang suaminya dan pemuda bermata hitam tadi saling kenal?


"Kenapa perasanku tak enak?" batin Jeniver memegang dadanya dengan raut wajah pucat pasih. Angin dingin yang tiba-tiba menerpanya terasa sangat tak nyaman.


Sedangkan Arata dan juga Jeck kini tengah mengendarai mobil mereka dengan kecepatan di atas rata-rata membuat yang lainnya terus merapa doa, agar selamat.


"Tunggu aku Ra!" batin Arata menambah laju mobilnya.


"Jangan pergi Ra. Kau sudah janji akan di sisiku kan?" batin Jeck frustasi. Tidak, ia tak mau di tinggal lagi. Cukup sudah Azura saja yang pergi meninggalkannya jangan Aura juga.


"Rasanya kau pergi sekarang pun tak apa, sebab cepat atau lambat aku akan menyusulmu!" batin Fatur sembari menggenggam sebuah ponsel yang telah hancur di dalam genggamannya. Sebuah seringai ia ukir begitu menyadari kebodohan yang Arata perbuat. Menyia-nyiakn Aura adalah kesalahaan terburuk Arata dan ia tak akan melakukannya.