000

000
Pilihan I



Di sebuah cafe dengan interio yang terbilang cukup indah terlihat seorang gadis berambut silver duduk menanti seseorang. Suasana yang tenang dan juga warna dinding yang di cat hijau muda dengan lukisan padang bunga mawar, tampak membius siapa pun yang datang mengunjunginya termasuk gadis itu.


Segelas Green tea tampak menemani lamunan gadis itu, bersyukur posisinya saat ini berada di pojok cafe dekat jendela sehingga membuat ia dapat melihat orang yang berlalu lalang di jalanan.


Aroma manis dan juga alunan piano membuat gadis itu benar-benar tenggelam ke dalam lamunan tak berdasar yang ia ciptakan. Mata safir itu menerawang jauh, berlabuh entah kemana. Raganya memang di sana, namun tidak dengan jiwanya.


"Hai!" seru seseorang di hadapan gadis itu, membuat lamunannya pecah begitu saja.


Sebuah senyum tipis gadis itu layangkan pada pemuda di hadapannya saat ini. Keduanya tampak masihlah bungkam, membiarkan dentingan piano mengambil alih peran suara keduanya.


"Ikutlah denganku!" ujar pemuda bermata jade itu. Raut wajahnya tampak serius, membuat gadis itu menegang sempurna. Rasanya April mop sudah lewat beberapa hari yang lalu, lantas apa maksud ucapan pemuda itu.


"Kau bercanda?" ujar gadis itu meraih cangkir di hadapannya. Gerakan tangannya terlihat anggun dan juga angkuh, dengan jemari kelingking yaang terangkat tak menyentuh pegangan gelas. Tipe gadis berpendidikan tinggi.


"Tidak," jawab pemuda itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia perlu meluruskan punggungnya yang terasa tegang. Ini pembicaraan yang sulit, tak akan mudah membawa gadis di hadapannya ini. Ia harus berusaha dengsn ekstra.


"Tidak!"


Lihat, bahkan gadis dii hadapannya kini tak mau menanyakan terlebih dulu alasan ia memintanya pergi bersama dirinya.


"Ini demi kebaikanmu!" ujar pemuda itu sambil menggenggam jemari milik gadis di hadapannya. Tangannya terasa amat besar untuk jemari mungil gadis itu. Namun keduanya menyadari sesuatu bahwa keduanya merasa nyaman dengan kehangatan dari masing-masing tangan keduanya.


"Kebaikan for what?" ujar sang gadis mencoba melepaskan genggaman itu, walaupun sedikit tak rela.


Ekspresi putus asa jelas terlihat di wajah pemuda itu, sudah ia duga gadis di hadapannya ini keras kepala,


"Tolong ikutlah!" ujar pemuda itu lirih.


Melihat ekspresi pemuda di hadapannya mau tak mau membuat gadis itu harus kembali mengalami dilema, memang sejak kejadian itu ia memutuskan akan pergi tapi tidak dengan pemuda itu di sisinya. Semua ini benar-benar di luar rencana.


"Biarkan aku berfikir dulu!" ujar gadis itu setelah cukup lama bergulat dengan pikirannya, setidaknya ia akan memikirkan terlebih dulu tawaran yang pemuda itu ajukan padanya.


Senyum cerah terbit dari bibir pemud itu,


"Baiklah, kau dapat menghubungiku bila kau sudah menentukan pilihanmu. Namun ku berharap kau mau pergi bersamaku!" ujarnya semangat. Kemana perginya wajah putus asa miliknya tadi?


"Ya!" sahut gadis itu sambil membereskan beberapa barangnya yanng ada di atas meja, tak lupa ia selipkan uang di bawah bil yang sudsh ia dapat sebelum pemuda itu datang.


Ekspresi bingung tercetak jelas di wajaah pemuda itu kala melihat gadis itu hendak berdiri meninggalkan meja,


"Kau mau kemana?" tanyanya.


"Pulang!"


"Ku antar," ujar pemuda itu bangkit dari duduknya.


"Tidak, terimakasih. Aku membawa mobiku sendiri," tolak gadis itu dengan senyum di bibirnya. Bukan maksud jual mahal atau enggan hnya saja memang ia membawa mobilnya sendiri.


"Baiklah," sahut pemuda itu dengan senyum palsu di bibirnya dan gadis itu sadar akan hal itu.


"Selamat malam!" ujar gadis itu sebelum pergi meninggalkan pemuda itu sendirian.


"Ku harap kau mau bersamaku, Ugly!" guman pemuda itu sambil menatap gadis itu, bahkan hingga mobil yang di kendarai gadis itu hilang di tengah hiruk pikuk kendaraan lain. Tak lama kemudian pemuda itu memilih pergi meninggalkan tempat itu. Ia harus menyiapkan semuanya.


°°°


Tiga hari sudah terlewati dengan damai, setelah kejadian buruk itu menimpa Aura. Tak ada lagi perlakuan buruk, hanya tatapan benci dan mencemooh yang diam-diam mereka layangkan pada Aura. Mereka tak bodoh untuk mencari masalah secara terang-terangan dengan Aura, sebab Fatur dan juga Jeck tak akan membiarkan hal itu terjadi. Sama seperti beberapa hari yang lalu, ketika salah seorang gadis yang menyukai Arata mengerjai Aura dengan melemparkan bola basket berlumur telur pada Aura yang tengah makan di kantin. Tak berselang lama siswi itu di temukan dalam keadaan mengenaskan berlumur telur busuk di lapangan dengan kedua tangan dan kaki yang di ikat di ring basket, dengan secarik kertas besar bertuliskan 'Ini hukuman bagi yang berani melukai Aura'. Ketika di tanya siapa yang melakukan semua itu, siswi itu menjawab bahwa Jeck yang melumuri dirinya dengan telur dan tak lama setelah ia di tinggal di taman belakang Fatur datang dan mengikatnya di lapangan.


"Arata," panggilan Elis membuat Arata menatap ke arah gadis itu.


"Dimana Fatur?" tanya Elis membuat Arata memandang bingung gadis itu.


"Mungkin ia masih di jalan," ujar Key kembali sibuk pada ponsel di genggamannya, sambil sesekali menggerutu dan mengumpat tak jelas.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka membuat penghuni kelas lainnya menatap ke arah pintu, melihat siapa yang datang.


"Tidak."


Dengan raut wajah datar Fatur menjawab pertanyaan Key membuat yang lain menatap bingung kerahnya. Ia tampak berbeda. Memang empat hari belakangn ini, Fatur terlihat berbeda dari biasanya. Ia tak lagi mau berkumpul bersama mereka, ia seperti menghindar dan lagi ia lebih sering bersama Aura membuat Tania dan yang lain semakin kesal pada Aura. Tak terkecuali Arata, ia kesal bukan kepalang dengan tingkah Fatur, Jeck dan Aura yang kini selalu bersama.


"Ya sudah," ujar Elis sebagai tanggapan.


°°°


Bel pulang sekolah telah berbunyi yang artinya seluruh siswa di perbolehkan untuk pergi meninggalkan sekolah. Termasuk arata dan yang lainnya.


"Bisa bicara sebentar?" ujar Aura mencegah Arata, ketika ia menyadari Arata yang hendak beranjak pergi.


"Huh... Mau apa lagi kau?" ujar Arata sinis.


"Ra," panggil Jeck kembali. Sebenarnya apa yang mau Aura lakukan lagi. Tak cukupkan perlakuan kasar Arata tadi pagi yang membuat Aura harus menaahan sakit di pinggangnya akibat Arata dorong.


"Sebentar saja Jeck," pinta Aura dengan raut wajah memohon yang membuat Jeck terpaksa mengizinkannya. Nsmun ia akan tetap di sini, di samping Aura untuk berjaga-jaga.


"Pulang saja, Ra!" ujar Fatur yang kini telah berada di sisi kiri Aura. Raut wajah bosan terlihat di wajah tampan Fatur.


"Kau membuang waktu kami," sinis Tania pada Aura. Matanya menatap kesal Aura, membuat Aura harus ekstra sabar menghadapi mereka. Ini semua demi kebaikannya.


"Untuk yang terakhir kali," kembali Aura melontarkan permohonan kepada Arata. Ya, untuk yang terakhir kalinya sebab setelah ini ia berjanji tak akan pernah memohon pada Arata.


"Cepatlah!" sentak Arata dengan tatapan jengah yang ia layangkan kearah ketiganya, tanpa tahu bahwa tatapannya berefek buruk bagi Aura.


Ada yang patah tapi bukan kayu. Ada yang retak tapi bukan kaca. Ada yang luka tapi bukan tangan. Dan ada yang sakit tapi bukan badan.


"Mau apa?" kembali Arata bertanya.


Helanan nafas meluncur dari bibir Aura,


"Aku minta maaf sudah mengecewakan kalian dan terimakasih untuk beberapa waktu ini. Ak...


"Hanya itu. Sudahlah ayo pergi!" potong Tania sambil berlalu pergi. Ia marah, ia benci, ia kesal tetapi ia juga sedih kenapa firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi.


"Huh," dengus Arata bosan mendengar kalimat yang sama dari Aura. Ia memilih melangkahkan kakinya mengikuti Tania, Elis dan juga Key yang telah pergi meninggalkan kelas.


Blamm


"Lihat!" seru Jeck begitu hanya tinggal mereka bertiga yang ada di kelas.


"Mereka tak akan mendengarkanmu, Ra!" ujar Jeck dengan nada yanng terdengar marah. Siapa yang tak akan marahh bila seseorang yang kau sayangi di perlakukan buruk?


"Sudahlah, sebaiknya kita pulang. Aku harus membereskan sesuatu," ujar Fatur dengan tangan yang asik memutar kunci mobil di jari telunjuknya.


Alis Aura dan juga Jeck terangkat, pertanda keduanya bingung akan makna dari ucapan Fatur barusan,


"Apa?" tanya Jeck.


"Kau akan tahu nanti, temui aku di cafe Rose jam 5 nanti!" ucap Fatur sambil melangkah kecil meninggalkan kelas di ikuti keduanya.


"Mau apa?" tanya Aura yang kini tengah mensejajarkan langkahnya dengan Fatur.


"Menyelesaikan sesuatu, Jelek!" jawab Fatur mengacak surai silver Aura. Mengabaikan Jeck yang mendelik marah dan Aura yang perlahan mulai kesal.


"Cih, menyebalkan!" gerutu Aura meninggalkan keduanya di belakang.


"Hhhhhh, dia manis!" ujar Fatur tertawa melihat tingkah Aura yang lagi dan lagi terlihat lucu di matanya, sama seperti saat itu.


"Hmm," guman Jeck. Ia memilih diam sebab tengah memilirkan kira-kira apa yang akan Fatur bicarakan padanya nanti.


"Sudah, ayo pulang!" ujar Fatur berlari mengejar Aura. Biarlah gadis itu marah asal ia tak tahu apa yang sudah ia lakukan selama tiga hari belakangan ini. Ya, biarlah hanya ia yang tahu karna tugas Aura hanya diam dan menunggu. Hanya itu.