
Sang mentari telah menyelesaikan tugasnya, kini giliran bulan lah yang menggantikan tahtanya. Malam tak ubahnya lukisanmkelam bertabur bintang yang di bingkai cantik keagungan alam semesta. Lukisan hitam penuh misteri dengan segudang rahasianya. Sunyi mencekam membelengguh jiwa yang terjaga dalam kedamaian.
Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari saat Sakura memilih menjadi salah satu penikmat kesunyian malam. Ia masih terjaga di tempat tidurnya, mencoba membayangkan sesuatu yang sejak dulu ia impikan. Dalam lamunannya Sakura mencoba menerka apa yang membuat kakaknya itu enggan mengakui keberadaan dirinya. Pikirannya memutar semua kenangan yang telah mereka lewati. Mencoba mengingat semua hal yang mungkin saja bisa menjadi kunci dari permasalahan yang berada di antara mereka. Namun sayangnya tak ada satu pun jawaban ia dapatkan.
“Sebenarnya kenapa Kakak membenciku?” gumam Sakura penuh kesedihan.
“Kenapa Kak Gaara berubah, dulu Kakak begitu menyayangiku bahkan begitu menjaga diriku." Sakura berucap dengan muram. Sungguh hatinya sakit ketika mengingat sedekat apa mereka dulu.
Sebuah foto usang tampak Sakura genggam dalam dekapannya, sebuah foto yang menjadi salah satu saksi bisu bahwa keduanya pernah tak terpisahkan.
“Saki rindu... hiks... sangat rindu pelukan Kakak... hikss!” air mata Sakura jatuh tak terkendali, hanya pada malam hari lah Sakura berani menumpahkan air matanya dengan bebas.
“Nanti kalau Saki sudah besar, Kakak akan ajarkan Saki bagaimana cara bermain basket, bermain sepeda dan Kakak akan ajak Saki jalan-jalan ke mana pun Saki mau. Kakak janji!”
Begitulah kata-kata yang selalu terngiang di kepalanya. Kata-kata yang sama, suara yang sama dengan sosok yang berbeda. Gaara, ia ingat janji itu terucap dari sosok Kakaknya yang hangat bukan yang dingin dan acuh seperti saat ini.
“Saki harus semangat, akan ada saatnya Kak Gaara kembali seperti dulu lagi!” ucap Sakura mencoba menyugesti dirinya sendiri. Miris sekali bukan?
Perlahan kantuk mulai menyerang, membuat Sakura tak kuasa menahan kedua matanya untuk terbuka lebih lama lagi. Sebelum berbaring foto yang sebelumnya ia genggang ia sisihkan terlebih dahulu ke dalam laci tempat semua foto ia dan Gaara tersimpan.
“Selamat malam Kak Gaara, mimpi indah.”
Dalam lelapnya Sakura tak sadar jika sejak tadi ada sosok lain yang mendengarkan dialoknya dari balik pintu kamar. Sosok yang kini menatap marah lantai yang ia pijak.
“Harus berapa kali peringatan itu diberikan!” ujar sosok itu penuh amarah.
***
Awan mendung kembali menghiasi langit Konoha. Musim hujan memang kini tengah memenuhi jadwalnya, setelah beberapa saat lalu kemarau menyambangi kota. Hening dan gelap. Guntur menggelegar dan petir tampak saling menyambar, benar-benar siang hari yang buruk. Namun walaupun cuaca saat ini tak bersahabat, hal itu tak sama sekali menyurutkan niat Sakura untuk menyambangi taman kota guna menemui sang Kakak.
“Akhirnya Kak Gaara mau berbicara denganku. Ah, aku jadi penasaran kira-kira apa yang akan Kak Gaara katakan yah?”
Senyum manis tak henti-hentinya hadir dalam setiap kata yang Sakura ucapkan. Ia bahagia, sangat bahagia begitu menerima pesan dari sang Kakak yang berisi ajakan pertemuan. Yah, walaupun Gaara hanya berkata ‘Datang ke taman kota pukul 2 siang.' Itu sudah cukup membuat Sakura senang bukan main.
Taman kota yang biasanya ramai dengan orang yang berlalu lalang ke sana kemari, kini terlihat lengang lantaran tak banyak orang berada di sini. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menghangatkan diri di dalam rumah dari pada berada di sini dengan hawa dingin yang menusuk. Beruntung Sakura mengenakan jaket dan juga syal untuk menghangatkan dirinya.
Cukup lama Sakura duduk di kursi taman yang ada di bawah pohon Sakura, namun Gaara belum juga datang. Merasa bosan Sakura lantas mengeluarkan buku sketsanya dan mulai melukis area taman bermain yang kosong. Dua puluh menit berlalu dan Gaara tak kunjung datang, secuil rasa cemas dan takut mulai mengerubungi hati Sakura namun berusaha ia tepis.
“Kakak pasti dateng kok,”
Walaupun sedikit ragu, namun Sakura tetap percaya bahwa Gaara akan datang ke taman ini karna Gaara sendiri yang memintanya untuk datang. Ia yakin Gaara tak akan membohonginya, itu bukanlah sifat Kakaknya.
Setengah jam berlalu, bahkan kini sketsa yang Sakura buat telah usai. Satu kata yang cocok untuk hasilnya, cantik. Taman kota yang Sakura lukis terlihat sama persisi dengan yang ada di hadapan Sakura, hanya saja Sakura menambahkan dua sosok anak kecil tengah bermain di area kotak pasir dengan sebuah istana di antara keduanya.
Dingin mulai menggerogoti tubuh Sakura, ingin beranjak pergi namun ia takut Gaara akan datang ketika ia pergi. Sesekali Sakura pandangi jam tangan yang melingkar di lengannya, sebelum beralih memandang kondisi sekitar yang mulai sepi. Kepala Sakura lantas tertunduk, seharusnya ia tak berharap banyak mengingat bagaimana Gaara saat ini. Khayalannya terlalu tinggi untuk ukuran seseorang yang tengah dibenci. Terlalu larut dalam kekecewaannya Sakura tak menyadari kehadiran Gaara yang tengah berjalan ke arah dirinya.
“Benar-benar gadis bodoh,” gumam Gaara.
Kedua kaki Gaara berhenti tepat di hadapan Sakura yang tengah menunduk. Melihat sepatu yang ia kenali Sakura lantas mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Gaara yang juga menatap dirinya.
“Syukurlah Kakak datang,” ucap Sakura penuh kelegaan, hilang sudah pikiran buruknya sebelumnya.
“Apa semua ini enggak cukup buat lu?” ucap Gaara ambigu.
Dahi Sakura berkerut, tak paham apa maksud ucapan Gaara. “Maksud Kakak?” tanya Sakura bingung. Bukannya menjawab Gaara justru menatap tajam Sakura. Celah bibir Gaara hendak terbuka sebelum terkatup lagi lantaran matanya menangkap sketsa yang Sakura buat sebelumnya.
Menyadari ke mana mata Gaara terarah, Sakura lantas mengambil sketsa yang ia buat dan menyodorkannya ke arah Gaara dengan senyum lebar di bibirnya. “Kakak lihat apa yang ku buat saat menunggumu tadi. Cantikkan?” jelas Sakura penuh keceriaan walaupun kini ada uap setiap kali ia berbicara.
Tangan kanan Gaara sontak meraih gambar yang Sakura sodorkan, membuat raut wajah Sakura berkali-kali lipat lebih merona bahagia.
Srek... Srek... Srek... Srekkkk
Kedua mata Sakura membola terkejut begitu mendapati Gaara merobek gambar yang ia buat di hadapannya.
“Apa yang Kakak lakukan?!” teriak Sakura sambil mencoba menghentikan kedua tangan Gaara yang masih mencoba merobek kertas sketsanya.
“Kakak hentikan!” teriak Sakura saat mencoba merebut sketsanya.
Tanpa aba-aba Gaara mendorong Sakura ke belakang, membuatnya terjatuh menabrak kursi yang ia duduki beberapa saat lalu.
“Akkkhhhh!” pekik Sakura ketika bahu kanannya berbenturan dengan kursi.
Bukannya menolong Gaara justru melempar sisa potongan sketsa yang ia sobek ke arah Sakura. “Selain ngerepotin dan cengeng, ternyata elu juga hobi ngadu ya. Ngomong apa aja lu sama bokap hah?!”
Sakura kontan terperangah. Tuduhan apalagi yang baru saja ia dengar ke luar dari bibir sang Kakak. Tuduhan yang menambah perih luka hatinya. “Saki enggak ada ngelapor apa-apa ke Papa, Kak.” Sakura mencoba bangkit sambil memegang bahu kananya yang terasa nyeri.
“Bullshit, buktinya bokap tadi pagi ngancem gue buat bersikap lebih baik ke elu.” Gaara berucap penuh emosi. Ada rasa sakit yang tak dapat dijelaskan terpancar dari matanya.
Kedua mata Sakura terpejam, rasa sakit yang ia rasa membuatnya tak dapat berkonsentrasi dengan apa yang Gaara ucapkan. Perlahan Sakura tatap penuh keyakinan mata Gaara. “Sakura bahkan baru ketemu Papa di meja makan tadi pagi Kak. Kakak tau sendiri Papa baru pul-”
“Terus lu mau bilang kalau gue ngada-ngada gitu? Terus lu pikir ini kenapa hah?!” bentak Gaara memotong penjelasan Sakura.
Raut wajah Sakura sontak terkejut begitu menyadari terdapat ruam di punggung tangan kanan Gaara.
“Kak...” suara Sakura lantas bergetar, seolah lupa dengan keadaan bahunya Sakura mencoba meraih tangan Gaara yang langsung Gaara tepis.
“Nggak usah sok sedih lu. Lu seneng kan liat gue di benci sama bokap. Lu seneng kan sialan!!” bentak Gaara.
Air mata Sakura jatuh, hatinya teriris ngilu. Sebanyak apa pun Gaara berkata kasar padanya, tak akan pernah ada kata terbiasa. Isakannya perlahan terdengar, tak sanggup menutupi lebih lama lagi kerapuhan yang ia sembunyikan. Demi Tuhan, ia tak pernah berbicara apa pun pada kedua orang tuanya perihal kebencian Gaara padanya. Semua rasa sakit itu ia simpan seorang diri.
“Kak... kumohon... jangan seperti ini... hiks...” bujuk Sakura dengan suara yang lemah.
Berdiri dalam diam hanya itu yang Gaara lakukan, matanya masih menatap tajam Sakura. Kedua tangannya terkepal, nafasnya memburu dan jantungnya berdenyut menyakitkan. Andai saja semuanya tak seperti ini, mereka berdua akan baik-baik saja. Tak akan ada kebencian dan air mata.
“Kalau gue enggak bisa ngelampiasin semua amarah gue ke elu, bakal gue pastiin orang lain yang bakal gantiin peran elu. Dan semua itu salah elu!” katanya sebelum pergi.
Lagi dan lagi Gaara meninggalkan Sakura dalam keadaan yang menyedihkan. Entah sampai kapan dua bersaudara ini berada dalam kondisi seperti ini.
“Andai aja waktu itu lu berani bilang kalau bukan gue yang salah, mungkin kita enggak akan gini.” Gaara bergumam sembari menatap hampa ke arah area bermain pasir di sisi kirinya.
Jadenya memancarkan rasa bersalah yang kentara, namun di sisi lain ada rasa sakit yang tak kalah besar dari rasa bersalah itu.