
Disinilah mereka saat ini, di sebuah ruang rawat dengan kelas VVIV yang ada di Rumah Sakit Pustaka.
Di ranjang itu, Aura tampak terbaring dengan selang infus serta selang darah yang terpasang pada masing-masing lengan Aura. Baik, Arata maupun yang lainnya bahkan Kevin tampak enggan meninggalkan Aura sendirian.
Dokter yang menangani Aura baru saja keluar ruangan beberapa menit yang lalu. Ia bilang kondisi Aura akan membaik bila tiga kantong darah dengan golongan A resus negatif itu habis.
"Siapa yang melakukan ini?" ujar Kevin membuka suara paling pertama setelah mereka berada dalam keheningan untuk beberapa waktu.
Manik hijaunya yang biasanya terlihat cerah kini tampak menggelap, menjerat siapapun yang meelihatnya kedasar lubang yang gelap nan pekat.
"Aku tak tahu," jawab Jeck sambil memandang ke arah Aura dengan pandangan yang sulit di artikan.
Ia tatap wajah pucat Aura dengan lekat, harusnya ia tak membiarkan Aura sendiria kala itu. Key, Fatur dan juga Kevin jelas melihat tatapan kecewa dan juga sedih di mata Jeck. Ketiganya tampak berfikir hubungan jenis apa yang keduanya jalani.
"Kania," celetus Tania dengan mata yang tertutup membuat yang lain menatap ke arahnya.
"Yuya," tambah Elis sambil memandang cincin yang tak sengaja ia temukan di lantai dekat kursi Aura di ikat.
"Dan Ririn," tambah Fatur dengan sorot mata yang dingin serta tangan dan juga rahang yang mengeras. Ia marah? Jelas. Siapa yang tak marah begitu mendapati orang yang kau sayang kini tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Semua yang ada di sana sontak terdiam begitu mendengar tiga nama yang dengan lancarnya di lafaskan oleh ketiganya.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Kevin dengan alis yang bertautan pertanda ia tak mengerti maksud ketiganya. Apa hubungannya tiga siswi itu dengan Aura.
"Aku menemukan ini di dekat Azura tadi," ujar Elis sambil menunjukkan sebuah cincin dengan ukiran Yuya disana. Membuat Jeck menggeram bak hewan buas.
"Sialan!" umpat Jeck sambil merampas cincin itu dan menggenggamnya erat. Berharap ia dapat menghancurkan cincin itu sama seperti yang akan ia lakukan kepada gadis licik pemilik cincin itu.
"Akan ku balas kau ****** kecil!" batin Jeck sambil memandang cincin itu dengan seringai lebar di wajahnya, yang anehnya hanya di sadari oleh Kevin seorang sedangkan yang lainnya tidak.
"Apa yang tengah Jeck rencanakan?" batin Kevin bertanya-tanya. Mungkin ia bisa menanyakannya nanti, dan bila apa yang ada dipikiranny sama dengan yang akan Jeck lakukan maka dengan senang hati ia akan membantu. Salahkan mereka yang mengusik sisi lain dari dirinya.
"Kania dan Ririn bukankah mereka tak berada di kelas tepat ketika Aura juga tak berada disana?" tanya atau malah pernyataan Key membuat Arata dan juga Jeck menggeram marah.
Rahang yang mengeras, tangan yang terkepal serta tatapan dingin tampak terlihat dari Fatur. Kepribadiannya yang konyol kini tampak musnah entah kemana di gantikan dengan sosok bengis berwajah dingin.
Geraman tertahan terdengar meluncur bebas dari Fatur,
"Jangan lupakan bahwa Dodi melihat keeduanya dan juga Ririn pergi ke gudang bersamaan dengan Aura," ujar Fatur datar.
"Jadi ini ulah mereka?" tanya Kevin memandangi mereka satu persatu. Andai saja ia tak sedang menjaga identitasnya, maka sudah sejak tadi ia menunjukkan siapa yang tengah mereka lawan.
"Tapi, apa alasan Ririn melakukan hal ini?" seru Elis menyampaikan pendapatnya. Mana mungkin ririn berani membully Aura dengan posisinya yang merupakan anak baru dan juga apa yang membuatnya melakukan hal itu? Apa keduanya saling mengenal.
"Iya juga sih," tambah Tania, mana mungkin seseorang melakukan sesuatu tanpa alasn. Tetapi apa?
Semunya tampak berpikir apa alasan di balik perbuatan Ririn. Namun adakah yang menyadari bahwa Jeck tahu apa yang menjadi alasan Ririn berbuat neekat pada Aura. Hanya satu alasan, Ririn tahu bahwa Azura adalah Aura. Tetapi bagaimana ia bisa tahu?
"Kalo Yuya dan Kania kan memang pernah melakukan hal ini ke Azura," ujar Elis kembali mengingat kejadian di kantin ketika hari pertama Aura sekolah dan juga di wc siswi waktu itu.
Decakan penuh kekesalan lolos dari bibir Arata, ia diam bukan berarti tak perduli hanya saja ia tengah berpikir apa yang akan ia lakukan pada mereka bertiga. Tatapannya tak lepas dari Aura, di pandanginya memar yang tertingal di tubuh Aura membuat emosinya kembali memuncak.
"Jadi mereka bertiga?" kembli Kevin bertanya dengan pertanyaan yang sama, tetapi sadarkah mereka ada nada neh di suara Kevin.
"Mereka harus membayar mahal untuk ini, Kel!" sorak sebuah suara di kepala Kevin. Mendengar hal itu, mata hijau itu tak lagi memandang ramah ke arah Aura. Ada kobaran tak kasat mata disana.
"Ya, kau benar, Kevin!" balas batin Kevin?
Ada yang aneh disini, Kevin atau Kelvin? Mana yanng benar.
"Rasanya iya deh, Pak," jawab Tania dan juga Elis. Keduanya tampak setuju dengan pelaku sementara, siapa lagi kalau bikan Yuya, Kania, dan juga Ririn.
"Saya akan mengurus mereka," putus Kevin ditanggapi anggukan Elis, Tania, Fatur dan juga Key sedangkan Jeck dan Arata tampak larut dalam pikiran mereka masing-masing. Satu dengan rencana pembalasannya dan satu lagi dengan rencana penyiksaanya. Terkutuklah orang yang membuat masalah dengan keduanya.
"Jangan, Pak. Biar saya saja!" cegah Jeck membuat Kevin memandang bingung ke arahnya. Tatapan aneh dan juga kesal pun dilayangkan yang lainnya pada Jeck.
"Tap...
"Saya mohon, Pak!" mohon Jeck memotong ucapan Kevin.
"Yasudah. Sekarang kalian pulang dulu. Saya mau hubungin orang tua Azura," ujar Kevin membuat Arata dan yang lainnya menegang seketika, dan Kevin menyadari hal itu membuat ia meloloskan satu dengusan.
"Bodoh!" batin Kevin dengan mata hijau yang menatap keenamnya lucu. Mencemooh kebodohan mereka di dalam hati.
Degh
Rasa-rasanya jantung Jeck berhenti berdetak sekian detik. Bagaimana Kevin mau menghubungi orang tua Aura?
"Saya di sini aja, Pak!" cegah Jeck menghentikan niat Kevin yang telah menggenggam ponselnya.
"Saya juga," tambah Arata dan yang lainnya, membuat suasana yang tadinya hening menjadi sedikit berisik.
Satu helanan nafas berhasil lolos dari Kevin, ini tak akan mudah. Pikirnya.
"Pulang. Besok kesini lagi!" ujar Kevin. Memberikan usulan bernadakan penolakkan dari keinginan mereka.
"Tap...
Ada rasa tak nyaman begitu menyadari ada yang berbeda dari guru mereka yang satu ini. Sejak mereka menemukan Aura dalam keadaan yang mengenaskan, mata hijau Kevin tak lagi sejernih dan setenang biasanya melainkan gelap dengan pendar aneh yang membuat mereka enggan berlama-lama menatap mata itu.
"Ya," jawab mereka serempak kecuali Jeck dan Arata yang tampak diam dengan pandangan yang tak lepas dari Aura. Hey, Aura tak akan menghilang apa lagi ditambah dengan keadaannya saat ini.
Elis dan juga Tania tampak melangkah mendekat ke arah ranjang yang kini Aura tiduri, membuat Arata dan juga Jeck harus menyingkir memberi keduaanya ruang.
"Azura kita balik dulu ya," pamit Tania dan juga Elis memberikan ciuman di pipi Aura. Keduanya segera mundur, memberikan yang lainnya ruang untuk berpamitan.
"Jelek, cepet sembuh. Aku merindukanmu," celetus Fatur sambil membungkukkan badannya guna memberikan ciuman kepada Aura, namun belum sampai bibirnya menyentuh dahi Aura seseorang telah lebih dahulu memukul kepalanya.
Bletak
"Adaww," ringis Fatur sambil melempar delikan kepada pelaku penjitakan yang tak lain adalah Key.
"Minggir!" ujar key sambil mendorong Fatur menjauh. Membuat fatur mengumpati Key dengan segala nama penghuni kebun binatang.
Tidakkah sahabatnya ini tahu, bahwa ia tengah khaawatir dan juga sssih melphat pujaan hatinya. Biarlah ia di pandang aneh, tapi ia bener-benar khawatir pada Aura bahkan melebihi kekhawatirnya akan ancaman rumah sakit dan liang kubur dari Jeck dan juga Arata.
"Cepet sembuh, Ra!" ujar Key sebelum menyingkir membiarkan Arata berpamitan pada Aura. Ia dapat melihat tatapan sayu dan juga rapuh milik Arata.
"Sayang aku pulang dulu. Besok aku akan menemuimu lagi disini. Cepet sembuh. I love you!" bisik Arata tepat di samping telinga Aura sebelum ia kecup pelipis dan juga dahi Aura dengan waktu yang cukup lama.
"Sakit!" batin Jeck tanpa sadar mencengkram seragam di bagian dadanya dan hal itu tak luput dari pandangan Kevin maupun Key.
"Haah~ Ku harap mereka tak akan saling membunuh," batin Key sambil memandang keduanya dengan pandangan yang sulit di artikan, tahukan dirimu Key bahwa tak hanya Jeck yang harus kau khawatirkan?
"Ku rasa aku harus lebih menjaganya lagi setelah ini," batin Kevin ketika menatap ke arah Jeck dan juga Arata lalu ia tak sengaja melihat tatapan Fatur. Benar- benar hal yang tak terduga. Sumpah serapah pun tak dapat Kevin elak lagi, kenapa banyak sekali yang harus ia jadikan Rival?
"Ra, cepet sembuh. Kau harus bangun, ingat janjimu!"
Kini tiba giliran Jeck membisikkan apa yang ingin ia sampaikan dengan harapan Aura mendengar apa yang ia katakan. Setelah selesai mereka berenam segera pergi meninggalkan ruang rawat Aura, menyisahkan Kevin yang kini tengah berjalan mendekati ranjang Aura.
TAP
"Aku menemukanmu!" guman Kevin ketika ia berada di samping ranjang Aura.
Di tatapnya secara lekat wajah pucat nan damai milik Aura,
"Halo," ujar Kevin ketika sambungan telponnya diangkat pada dering ketiga.
"Ada apa kevin?" tanya seseorang di sebrang sana. Tampaknya ia seorang wanita melihat dari suara yang mengalun merdu dari ponsel Kevin.
"Ini aku, Kelvin!" sahut Kevin dengan mata hijau gelapnya yang terus memandangi Aura.
Terdengar nada gugup dari suara wanita di sebrang sana ketika ia mengulang nama yang di sebutkan Kev-Kelvin barusan.
"Tante aku menemukannya," ujar Kelvin sambil mengelus wajah pucat Aura. Di belainya dengan lembut seakan-akan ia dapat menggores wajah itu bila ia membelainya terlalu kasar.
"Apa?" tampanya seseorang yang Kelvin panggil tante tadi, kini tengah terkejut. Suara benturan benda keras terdengar sampai telinga Kelvin.
"Bagaimana keadaannya?" kembali wanita itu bertanya dengan nada antusias bercampur khawatir dan rindu.
"Buruk. Ia menyamar dan akibatnya ia di bully," jelas Kevin tanpa menutupi apapun. Sebuah rencana tersusun rapi di pikirannya.
"Apa? Oh, tidak putriku!!"
Kaget wanita itu. Bisa kupastikan kini ia tengah memegang dadanya atau tengah menopang tubunya pada apa pun yang bisa ia pegang. Tatapi satu pertanyaan terlintas begitu saja, siapa wanita yang tengah Kelvin hubungi.
"Tapi, Tante tenang saja aku akan menjaganya. Beruntung aku cepat mengetahuinya!" ujar Kevin mencoba mengurangi rasa khawatir yang melanda wanita yang ia panggil tante itu.
"Tolong jaga dia untuk Tante Kelvin!" pinta wanita itu dengan suara yang benar- benar memelas.
Senyum simpul timbul di bibir Kelvin, tanpa dimintapun ia akan menjaga gadis di hadapannya ini. Namun senyuum itu seketika lenyab begitu menyadari status yang keduanya sandang, bukan status murit dan juga guru bahkan status ini lebih tinggi dari itu dan lebih erat.
"Tentu saja, Tante!" jawab Kelvi yakin, namun entah kenapa raut wajahnya tampak kaku. Apa karna sebuah kenyataan yang ia dapat?
"Baiklah Tante tutup telponnya," pamit wanita itu.
"Ya, Tante," jawab Kelvin sebelum memutuskan sambungan telpon barusan.
Rahang Kelvin tampak menngeras, tatapannya tak lagi bersahabat. Cukup lama ia bergelut dengan lamunannya hingga membuatnya tak sadar akan pergerakan ddari Aura.
"Engghh," suara lenguhan Aura barusan mengalihka perhatian Kelvin dari lamunanya.
"Ak..aku dimana?" ujar Aura dengan suara serak. Masih dengan mata yang ia kerjapkan guna menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina matanya.
"Kau di rumah sakit sekarang." jawab Kelvin membuat Aura mengalihkan pandangannya dari langit-langit rumah sakit kearah Kelvin.
"Apa yang kau rasa sekarang nee.....
....AURA?" tanya Kelvin sambil menyebutkan nama asli Aura, membuat Aura yang mendengarnya terkejut bukan main.