000

000
Rencana II



"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya seorang pemuda bermata coklat kepada seorang gadis bermata safir yang kini duduk di sampingnya.


"Entahlah," guman gadis itu tanpa menoleh kearah pemuda di sampingnya. Ia tampak sibuk memandang keluar jendela mobil. Entah apa yang ia lihat, tapi tampakanya sangat menarik ketimbang dirinya yang tampan ini.


Pemuda itu tampak memasang raut wajah masam akibat di cueki oleh gadis di sebelahnya,


"Hhahh~ baiklah. Sekarang kita akan ke rumah yang telah ku belikan untukmu!" ujar pemuda itu dengan helanan nafas yang tampak terasa berat. Rasa-rasanya ada sesuatu yang membuatnya tertekan.


"Terimakasih Jeck," ujar gadis itu dengan senyum tipis diwajah ayunya. Ia tahu bahwa sejak tadi Jeck berusaha menarik perhatiannya, namun sayangnya ia memilih acuh.


"Ya. Apapun untukmu, Ra!" balas Jeck kepada gadis yang ternyata adalah Aura. Ya, gadis itu adalah Aura lebih tepatnya Aura Alanta. Kalian pastilah bertanya-tanya bagaimana bisa Aura bersama dengan Jeck bukankah ia tengah menjalani pengobatan?


Flasback on


"Bisakah saya meminta tolong kepada dokter?"


"Ya. Tentu saja bisa Nona. Selama saya dapat melakukannya," ujar Dokter tersebut sedikit merasa aneh dengan ucapan Aura dan entah kenapa ia memiliki firasat yang kurang enak saat itu.


"Berdua!" ucap Aura dengan mata yang melirik kearah suster yang sejak tadi mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mengkode secara gamblang.


"Ah...baiklah. Suter tolong tinggalkan kami sebentar!" begitulah kurang lebih pinta sang Dokter yang langsung dilaksanakan oleh suster itu tanpa banyak bertanya, ia tahu amat sangat tahu bahwa apa yang akan keduanya bahas sangatlah penting.


"Jadi?" ujar Dokter ketika ruangan telah sunyi sebab hanya ada mereka berdua di dalamnya.


"Jangan katakan bahwa aku telah sadar. Katakan bahwa keadaan ku semakin parah hingga membutuhkan penanganan yag lebih lanjut dan katakan bahwa mereka tak boleh menemuiku."


Bolehkah Dokter itu mengumpat sekarang? Apa maksud permintaan pasiennya satu ini?


"Kenapa?" tanyanya mencoba terlihat tenang.


"Bisakah dokter melakukan itu?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Dokter tersebut, Aura malah memberikan pertanyaan baru kepada sang Dokter yang sudah pasti haruslah di jawab.


"Nona. Saya tidak bisa...itu melanggar kode etik saya sebagai dokter!" jelas Dokter itu menolak apa yang diinginkan Aura. Bukan hanya karna profesinya sebagai Dokter melainkan juga karna ia tidak ingin melihat kesedihan dari orang tua Aura.


"Non...


"Turuti atau ku hancurkan karirmu serta keluargamu. Aku tak pernah main-main dengan ucapanku Dokter!" ancaman Aura barusan mampu membuat Dokter itu terkejut.


"Nona tidak bisa melakukan hal itu!" geram Dokter itu dengan suara yang ia naikkan satu oktav.


Segaris senyum miring Aura berikan pada sanng Dokter,


"Benarkah? Kau lupa siapa aku?" masih dengan seringai yang sama lebarnya, Aura mengucapkannya seakan-akan memberikan isyarat melalui seringainya 'Bahkan membunuhmu pun aku sanggup'.


Melihat hal itu, rasa takut dan juga bersalaah mulai menjalar menuju rongga dadanya membuatnya kesulitan bernafas sehingga seberkaas embun menyelubungi matanya,


"Baiklah," pasrah sang Dokter.


"Maafkan hamba ya tuhan!" batin Dokter tersebut dengan raut wajah menyesal, sedangkan Aura ia tampak memasang senyum kepuasan akan apa yang baru saja ia dengar.


Beginilah jadinya bila kau hidup dibawah naungan orang yang memiliki kekuasaan lebih, bahkan sumpah yang dahulunya penah terucap terlupakan bak tak pernah terucap. Mirik sekali.


Flasback off


Jeck masih ingat betul ketika Aura menghubunginya dan memintanya untuk mencarikannya sebuah rumah serta menjemput dirinya di rumah sakit Medical.


"Jadi?" ujar Jeck ketika mereka telah sampai di rumah yang ia beli. Rumah itu tampak sangat asri dengan halaman hijau yang luas di depan dan juga di samping kanannya, sesuai dengan selera Aura.


"Apa?" ujar Aura dengan nada ketus yang membuat Jeck menghelan nafas guna menahan emosi yang sampai ke ubun-ubun karna ucapan Aura barusan. Ayolah, apa kecelakaaan membuat Sura seketika menjadi bodoh? Jangan bercanda.


Sebuahh pelototan maut dari Jeck, Aura dapatkan,


"Au...


Setelah itu Aura menceritakan apa yang terjadi padanya beberapa minggu yang lalu serta apa maksud dan tujuannya meminta tolong kepada Jeck. Jeck yang mendengar seluruh cerita Aura hanya mampu mengepalkan kedua tangannya dengan gemeletuk gigi yang menandakan bahwa ia tengah amat marah saat itu.


Tanpa perlu Aura bertanya tentu saja ia mau membantu Aura. Ingat ia akan selalu memenuhi semua permintaan Aura. Apapun itu, termasuk nyawanya. Kenapa? Karena Aura berharga. Simple bukan?


"Baiklah. Mulai sekarang kau akan menyamar menjadi Azura Alyadra. Bagaimana kau setuju?"


Perkataan Jeck barusan membuat Aura melirik Jeck bingung. Azura? Siapa?


"Siapa Azura Alyadra?" tanya Aura dengan kerutan samar di dahinya.


Raut wajah Jeck tampak berubah mengeras ketika Aura selesai melontarkan pertanyaan tersebut pada Jeck,


"Dia.. mantan kekasihku yang telah lama meninggal," jawab Jeck dengan senyum manis di bibirnya. Benarkah ia tengah tersenyum, atau itu hanya senyum palsu?


Raut wajah bingung Aura langsung terganti menjadi sendu, ia rasa dirinya telah salah menannyakan siapa Azura pada Jeck,


"Jeck. Maaf!" ujarnya menyesal.


"It's oke Ra."


Suasana di dalam mobil itu terasa sedikit canggung, tak satupun dari keduanya yang terlihat akan memulai pembicaraan atau pergi meninggalkan mobil itu.


"Baiklah. Kurasa bukan hal yang buruk. Jadi apa yang harus ku warnai terlebih dahulu. Tak mungkin ia memiliki rupa yang sama denganku." tanya Aura kepada Jeck. Kurasa menggalihkan pembicaraan adalah hal yang tepat untuk saat ini.


"Kita tidak bisa kesalon karna pastinya kau akan mudah di kenali. Dan aku tak mau mengambil resiko jika kau mengenakan wig yang bisa lepas kapan saja, jadi kita akan mewarnai rambutmu di sini. Kau harus merubah warna rambutmu menjadi ungu. Dan soal mata mungkin kau tak perlu menggunakan soflen karna Azura juga memiliki mata biru walaupun bukan safir," jelas Jeck cukup panjang. Setidaknya itu lebih baik dari pada ia yang diam saja.


Sebuah senyum tipis timbul dii bibir ranum Aura, ia lega setidaknya untuk saat ini,


"Baiklah."


"Oh ya satu lagi. Lusa kau akan mulai bersekolah di sekolahku, OHS. Dan untuk masalah mobil...."


Jeck tampak menggantungkan kata-katanya. Melirrik ke arah Aura, seolah-olah meminta pendapat.


Seolah mengerti apa yang Jeck mau, Auura segera melanjutkan ucapan Jeck,


"Kau harus mengambil mobilku yang ada diaparteme!" ujar Aura memberi usulan. Tapi ia tak bisa mengambilnya sekarang, ia tak mau ada yang mencurigainya.


"Tunggu dulu. Apartemenmu yang mana? Ingat kau punya dua apartemen!" tanya Jeck bingung. Ayolah, Aura memiliki dua apartemen, ia tak mau mengambil resiko dengan salah memasuki apartemen. Bukannya membawa mobil yang ada dirinya yang di bawa ke hadapan Tuan Besar Alanta, bisa habis dirinya nanti.


"Tentu saja yang hanya kau ketahui Jeck. Apartemen yang ku beli sendiri tanpa orang tua ku ketahui," jelas Aura. Ya, memang ia membeli sebuah apartemen dari uangnya sendiri, lagi pula apartemen itu hanya ia dan jeck yang tahu sebab di sanalah ia meletakkan seluruh mobil hasil balapan serta beberapa senjata kesayangannya. Pastilah kalian bertanya-tanya kenapa aku tak pindah kesana saja? Jawabannya simpel, bila aku pindah kesana otomatis aku akan mudah ditemukan sebab apartemen itu terletak di daerah kalangan elit. You know lah CCTV di sana yang menjadi masalahnya.


"Oke. Sebaiknya kita mulai mengecat rambutmu agar kita bisa membeli keperluanmu!" ujar Jeck bergegas turun dari mobil. Ia tampak berjalan menuju bagasi guna mengambil cat rambut yang sengaja ia beli saat menuju kemari.


"Baiklah," sahut Aura yang ikut keluar dari mobil. Di tentengnya paper bag berisikan beberapa keperluannya yang untungnya saaat ituu ada di lemari ruang rawatnya. Ternyata dewi fortuna ada di pihaknya saat ini, dan semoga akan sepwrti itu untuk seterusnya. Semoga.


"Jeck!" panggil Aura menginstrupsikan kegiatan mengangkut barang yang Jeck lakukan.


"Ya?" sahut Jeck memandang bingung Aura. Apa ada yang salah? Pikirnya.


"Terimakasih!" ujar Aura dengan senyum yang amat sangat manis. Tanpa sadar senyum itu membuat jantung Jeck berdetak dua kali lebih cepat.


Mencoba mengontrol ekspresinya, Jeck memberanikan diri mendekat ke aarah Aura dengan sebuah dus kecil di tangannya,


"Untuk?" tanya Jeck setelah iaa berdiri di hadappan Aura.


"Semuanya," jawab Aura tersenyum tipis.


"Aku akan melakukan apa pun untuk mu, Ra. Karena aku amat sangat menyayangimu!" jawaban Jeck barusan membuat Aura sedikit terteguh. Selama ini tak ada yang peduli dan sayang padanya, namun kini dengan gamblang pemuda di hadapannya menyatakan hal itu.


"Ya, aku tau!" guman Aura pelan. Amat sangat pelan hingga hanya dirinyalah seorang yang dapat mendengar apa yang ia ucapkan, walaupun Jeck tengah berjalan di hadapannya.


Bolehkah ia berharap bahwa keputusan yang ia ambil saat ini sudahlah benar? Bolehkah ia berharap ia akan bahagia? Bolehkah? Bolehkah ia egois untuk kali ini saja? Bolehkah?