
"Mamaaa, aku nggak suka ya kalau dilarang-larang jalan sama cowok yang aku suka," teriakku dengan keras agar mama menghentikan omelannya.
"Gamal ini semua demi kebaikanmu! Cowok itu nggak baik buat kamu!" teriak mama dengan tidak kalah keras.
"Mama tahu dari mana kalau dia nggak baik?"
"Keliatan kok dari wajahnya," mama masih saja tidak mau kalah.
"Hah? Ini nih yang aku nggak suka dari mama, hanya melihat dari luarnya aja dan asal menilai." Aku memberikan ekspresi kesal. Rasanya sudah capek mengatakan ke mama kalau laki-laki itu baik dan perhatian.
"Pokoknya mama nggak suka kamu sama cowok itu!"
"Kenapa sih mama selalu ngelarang aku deket sama cowok-cowok yang aku suka?"
"Karena cowok yang kamu suka selalu saja wajahnya seperti preman," Marta melipat tangannya ke dada dan memalingkan wajahnya.
"Terserah mama deh, aku nggak peduli," aku masuk ke kamar dan kembali mengurung diri.
***
Hal ini yang sering terjadi di rumahku. Hampir setiap hari terjadi adu mulut antara aku dan mamaku. Hal kecil bisa menjadi besar dan melelahkan. Mama yang keras kepala menurunkan sifatnya ke aku, sebagai anak perempuan satu-satunya.
Oiya, perkenalkan namaku Gamalia Saputri, papa biasa memanggil aku Lia, sedangkan mama senang memanggil aku dengan panggilan Gamal. Seperti nama laki-laki emang, karena mama sengaja memberi nama itu agar bisa merasakan mempunyai anak laki-laki.
Mungkin karena dulu waktu melahirkan aku, mama mengalami keadaan yang sangat parah. Keadaan itu terjadi karena rahim mama yang cukup tipis, yang mengakibatkan rahimnya rusak dan akhirnya dia divonis dokter bahwa tidak bisa lagi melahirkan. Padahal mama ingin sekali memiliki anak cowok.
Berbeda dengan mama, papa sangat senang melihat kelahiranku. Dia selalu berusaha untuk memenuhi segala kebutuhanku. Dia bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarganya dan berusaha menyediakan apa pun yang aku butuhkan. Hanya saja karena terlalu asyik mencari uang, dia lupa bahwa anaknya juga butuh sosok dirinya.
Mungkin itulah awalnya kenapa aku tidak pernah bahagia hidup di keluarga ini. Dan sejak kelas 6 SD aku sudah mulai pacaran, karena aku suka jika ada laki-laki yang memperhatikanku, mengajakku untuk pergi ke mal, bioskop, dan tempat hiburan. Karena itu bisa menyenangkan hatiku dan membuatku melupakan keadaan rumah yang suram.
***
Ini aku, usiaku sekarang 20 tahun. Aku sedang berkuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta. Banyak laki-laki mengagumiku karena wajahku yang mempesona, katanya. Mereka juga mengatakan jika aku memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang seksi.
Dengan semuanya itu, aku bisa sangat gampang mendapatkan pacar. Putus dari satu cowok besoknya sudah dapat pacar baru, begitu seterusnya sampai-sampai aku sudah tidak ingat berapa kali gonta-ganti pacar.
Ini Pak Bakti dan Bu Marta, mereka adalah orang tuaku. Mereka berdua memang romantis jika bersama. Mama bisa menjadi seperti malaikat ketika bertemu papa, dan menggagapku seperti tidak ada. Mereka berdua lebih senang menghabiskan waktu berdua, hanya jika ingat saja baru memanggilku.
Yang terpenting adalah aku bisa bernapas lega jika ada papa di rumah karena itu artinya mama tidak akan banyak mengomeli aku.
Pak Bakti adalah seorang asisten manajer di kantornya. Manajer yang juga bossnya menyukai sistem kerja Pak Bakti yang cepat dan teliti sehingga ke mana pun Bossnya pergi Pak Bakti juga harus ikut.
Sedangkan, Bu Marta hanya seorang ibu rumah tangga yang suka menghabiskan uang suaminya. Dia sangat suka belanja online, hampir setiap minggu ada saja paket yang datang ke rumah.
***
Malam itu papa baru pulang dari kantornya. Aku yang sedang rebahan di kamar segera keluar kamar dan menghampirinya.
"Pa mana titipanku?" kataku saat papa baru saja duduk di sofa ruang tamu.
Sambil melepaskan sepatunya papa tiba-tiba terdiam.
"Jangan bilang papa lupa?"
"Titipan apa ya?" tanyanya bingung.
"Aku kan nitip dibeliin tas, masa papa lupa? Aku udah ingetin berkali-kali, kalau ke Singapura jangan lupa beliin tas Channel," kataku kesal.
"Maaf Lia, bukannya papa lupa tapi di sana nggak ada waktu buat belanja. Di sana papa banyak kerjaan dan harus selalu nemenin Boss."
"Ah papa nyari alasan aja, bilang aja lupa."
"Udah-udah, kamu ini papa baru pulang malah dimarah-marah," sela mama yang berjalan dari dapur. "Ayo pa makan dulu! Mama masakin sop sapi kesukaan papa."
"Gamal kamu mau makan nggak?" teriak mama dari dapur.
Karena perutku yang sedang lapar maka aku pun memilih untuk bergabung makan bersama mereka.
"Gamal kamu itu kalau makan jangan cemberut! Kamu harus bersyukur bisa makan malam ini. Coba bandingin sama orang-orang di luar sana?" tegur mama.
"Kenapa harus bandingin sama orang luar sana sih, mereka nggak kalah bahagia dari aku," gumamku dan ingin segera menghabiskan makananku.
Mama tersenyum sinis kepadaku. "Oh iya pa, boss papa yang udah tua itu baik-baik saja setelah pulang dari Singapura?"
"Baik-baik saja ma, walaupun udah tua dia masih kuat. Hm, oh iya kebetulan banget kita kumpul semua di sini,"
"Ada apa pa?" tanya mama penasaran.
"Besok kita sekeluarga diundang sama boss untuk makan malam di rumahnya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan."
"Aku ngga ikut."
"Kamu harus ikut Lia!" tegas papa.
"Ada apa kenapa aku harus ikut?"
"Ikut aja kenapa sih, sekalian bersilahturahmi sama orang yang menjadi sumber pendapatan keluarga kita," seru mama.
"Besok aku ada janji sama temen pa," kataku tanpa memedulikan kata mama.
"Dibatalin dulu ya janjinya. Pokoknya besok kamu harus ikut ya!"
"Paling juga janji sama si preman itu."
"Hm oke." Aku menghabiskan suapan terakhir dan masuk ke kamar. Sebelum pergi dari meja makan tidak lupa aku memberikan tatapan sinis ke mama yang selalu menyebalkan.
***
Keesokan harinya setelah pulang kuliah, mama sudah menyambut depan pintu. Aku yang saat itu pulang naik taxi santai saja karena mama pasti tidak punya alasan untuk mengomeliku.
"Gamal nanti kamu pake baju yang sudah mama siapkan di tempat tidurmu."
"Apa sih macam majikan aja mama ini, orang baru juga sampai rumah."
"Jam lima sudah harus siap dan kita akan berangkat ke rumah boss papa," kata mama sambil berlalu pergi.
Aku tidak punya pilihan lagi, setelah mandi aku pun memakai baju yang mama siapkan.
Sebuah dress span yang pendeknya selutut sudah menempel di tubuhku. Lekukan tubuhku semakin terlihat seksi setelah mamakai baju ini. Mama memang paling pintar dalam memilih baju.
Aku yang juga suka memakai baju seksi, sangat nyaman memakai baju ini. "Dengan menambah polesan make up di wajahku maka akan semakin banyak orang-orang yang mencintaiku" kataku di depan cermin.
Teeet..teeet..teeet..
.
.
.
.
.
Tunggu kelanjutannya... Thankyouu ✨✨✨
(Sumber gambar: Instagram @teresa.jia dan @monaratuliu)