000

000
Masalah I



Ruang rawat Aura yang awalnya gaduh seketika hening tepat setelah Arata mendobrak pintu tak bersalah di ruang Aura.


"Katakan padaku maksud foto ini apa Azura atau harus ku panggil AURA?" bentak Arata dengan beberapa lembar foto yang kini telah berada di atas pangkuan Aura.


Degh


"Ini."


Dengan raut wajah kaget Aura melihat dua lembar foto yang berisikan dirinya dalam wujud Aura dan juga dalam wujud Azura.


"Dari mana Arata mendapatkan ini?" batin Aura bertanya-tanya siapa gerangan yang memberikan foto sialan ini kepada kekasihnya.


"Katakan!!" bentakan Arata membuat yang lain menatap bingung juga terkejut ke arahya.


Ada apa?


"Arata aku bisa menjelaskannya," ujar Aura mencoba turun dari ranjangnya guna menghampiri Arata.


Amarah dan juga kekecewaan jelas terlihat di mata Arata,


"Kau membohongi ku. Menyamar menjadi orang lain yang berpenampilan cupu agar aku tertarik dan kau bisa menguras hartaku, iya?" ujar Arata mundur selangkah, menjauh dari Aura mengabaikan tatapan terluka yang hadir di manik safir itu.


"Arata ini tidak seperti yang kau duga," ujar Aura mencoba menggapai Arata walaupun ia harus merasakan rasa nyeri yang teramat sangat mendera kakinya.


"Tunggu dulu. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Tania sambil mencoba membantu Aura. Terbesit rasa khawatir begitu mendapati Aura sedikit meringis, menahan nyeri di pahanya.


"Tanyakan pada penipu sialan ini!" ujar Arata dengan raut wajah datar serta tatapan benci yang teramat sangat kentara di matanya. Bagaimana tidak benci ketika kau mendapat kiriman paket berisikan foto kekasihmu dan foto gadis lain yang memiliki rupa yang sama dengan lalu sebuah kertas bertuliskan "ORANG YANG SAMA" bukankah itu artinya kekasihnya itu tengah menyamar? Salah satu foto berisikan seorang gadis berambut silver dengan mata safir dengan tulisan 'Aura Alanta' sedangkan foto yang lain berisikan foto Azura Alyadra kekasihnya.


"Azura ini?" ujar Elis dengan raut wajah terkejut membuat Key dan juga Fatur mendekatinya. Ikut melihat apa yang Elis lihat.


"Aku bisa jelaskan," ujar Aura dengan raut wajah menyesal.


"Kau membohongi kami?" tanya Key sambil menodongkan kedua foro itu ke arah Aura. Apa yang ia lihat barusan tak pelak membuat dirinya terkejut, berbagai macam perasaan singgah di hatinya.


"Maaf!" ujar Aura dengan kepala yang tertunduk. Sungguh ia menyesal, bila ia tahu akan jadi begini ia lebih baik memberi tahukannya kepada teman- temannya sejak awal.


"Kenapa?" tanya Fatur dengan raut wajah kecewa dan juga sedih membuat Aura semakin dirundung rasa bersalah. Ia tak sanggup melihat wajah kecewa Fatur.


Dengan tatapan terlukanya Fatur mendekati Aura, di gapainya jemari kanan Aura dan ia bawa menuju dadanya tepat di atas jantungnya berdetak. Tidak hanya sampai di situ Fatur juga menggunakan sebelah tangannya yang kosong guna meraih pipi Aura.


Pemandangan itu sebenarnya membuat hati Arata panas, namun semua itu terkalahkan oleh rasa kecewa yang ia rasakan.


"Kenapa kau lakukan ini, Ra?" tanya Fatur lirih. Untuk pertama kali, Fatur mau memanggil namanya.


"Ak..aku..."


Tak sedikit pun Aura berani mengangkat wajahnya, ia hanya mampu menundukkan wajahny. Ia tak sanggup melihat tatapan kecewa dan terluka yang lainnya berikan, ia tak akan sanggup.


"Jawab Azura atau Aura?" bentak Arata membuat Aura terkejut bukan main. Arata membentaknya.


"Jelek jawab?" pinta Fatur dengan suara yang terdengar putus asa. Sejujurnya ia ingin marah pada Arata sebab suddah membuat Aura takut tetapi logikanya melarang.


"Fatur," guman Aura sedih sekaligus sakit ketika menatap mata Fatur. Ia dapat merasakan tangan Fatur yang gemetar ddi pipinya dan juga detak jantung Fatur yang menggila. Why?


"Maaf, aku bisa jelaskan," ujar Aura.


Fatur telah menjauh membuat Aura mau tak mau menatap yang lainnya.


"Kau mau mengelak?" tuding Elis yang langsung di hadiahi gelengan oleh Aura.


Tidak, ia tak akan berkelit. Ia akan menjelaskan semuanya, asalkan mereka mau mendengarkan penjelasannya,


"Ak...


Ceklek


Baru saja Aura akan menjawab ucapan Elis, pintu ruangannya kembai terbuka. Menampilkan Jeck yang menatap bingung semuanya. Apakah ia ketinggalan sesuatu?


Raut wajah bingung terlihat kentara dari Jeck. Kenapa semua menatap kecewwa dan juga marah pada Aura,


"Ada apa ini?" tanya Jeck mendekat ke arah Aura.


"Kau?" bentak Arata sebelum melayangkan sebuah pukulan telak pada Jeck.


Bught


Pukulan Arata tampaknya tak main-main buktinya kini Jeck terjatuh,


"Sialan. Apa yang kau lakuakan Arata?" umpat Jeck memegang rahangnya yang baru saja menjadi sasaran empuk pukulan Arata.


"Kau! Kau yang apa-span, Jeck?" bentak Arata marah, mengabaikan pekikan dari Aura, Elis,, daan juga Tania.


"Kau menusukku dari belakang?" tambah Arat sambil mencengkram kerah kemeja Jeck.


Semua yang melihatnya hanya mampu terdiam sedangkan Aura ia tampaknya belum benar-benar mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan ia tak sadar tangannya telah di lumuri darah akibat jarum infusnya yang terlepas.


"Apa maksudmu?" tanya Jeck balas membentak Arata.


Apa-apan dirinya baru saja sampai sudah di beri haadiah sebuah pukulan.


"Khhh.... kalian memang brengsek. Kalian berselingkuh di belakangku?" ucap Arata sambil menarik kerah kemeja Jeck, membuat Jeck terpaksa berdiri.


"Arata, apa maksud ucapanmu?" tanya Jeck bingung. Selingkuh? Dengan siapa ia selingkuh dan kenapa ia masih tak paham.


"Ini."


Dilepasnya kerah kemeja Jeck, lalu tanpa aba-aba Arata kembali melempar lima buah foto berisikan Jeck dan juga Aura dalam posisi yang lumayan intim di perpustakaan.


"Dari siapa kau mendapatkan ini?" geram Jeck sambil meremas foto yang ada di tangannya.


Siapa yang berani mengusik hidupnya? Pastilah ada yang melihat dirinya dan juga Aura saat mereka tengah berbicara di perpustakaan beberapa hari yang lalu.


"Kau tak perlu tau," ujar Arata dingin.


"Aku tak menyangka kalian akan melakukan hal ini kepadak," ujar Arata dengan nada mengejek serta tatapan jijik yang ia layangkan ke arah Aura dan juga Jeck. Membuat Aura merasakan sakit di hatinya, seperti ada tangan tak kasat mata yang tengah meremas hatinya. Sakit. Dan hal itu tak luput dari pandangan Jeck. Membuat ia menggeram marah.


"Arata ini tidak benar,"


Akhirnya Aura mengeluarkan suaranya yang sejak tadi hilang entah kemana. Membuat kesalahpahaman ini semakin menjadi-jadi.


"Lalu apa, aku yang salah?" bentak Arata membuat suasana semakin memanas.


Key, Elis, Tanian dan juga Fatur memiilih untuk tidak ikut campur sebab ini masalah pribadi ketiganya.


"Dimana letak kesalahanku. Kau bilang kau mencintaiku, tapi apa. Kau selingkuh?"


Kembali Arata membentak Aura,  membuat Aura tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.


"Hiks..tidak..."


Tangisan Aura membuat Jeck langsung menatap ke arahnya. Ia tahu jelas bahwa Aura kini tengah terguncang.


"Itu..tidak..hiks..benar," ujar Aura di tengah tangisannya. Bibirnya keluh hanya untuk menyatakan alasan kekacauan ini.


"Aura," panggil Jeck mencoba menenangkan Aura. Ia tak kuat bila melihat Aura kembali rapuh karna ia tahu resiko apa yang akan di tanggung setelah ini.


"Bahkan kau juga tahu kalau ****** ini menyamar," sinis Arata.


"Kalian memang keterlaluan!" ujar Tania


Dengan tatapan kecewa bercampur marah Tanian mengatakan hal jahat itu di hadapan Aura.


Bught


"Jaga ucapanmu brengsek,"


"Jeck!" panggil Aura mencoba mencegah jeck yang tampak akan kembali menghajar Arata.


Tidak, ia tak akan membiarkan ittu terjadi sekalipun apa yang Jeck ucapkan melukai hatinya.


"Lepas, Ra!" pinta Jeck mencoba melepaskan lilitan tangan Aura pada pinggangnya, hingga ia merasakan sesuatu yang basah di telapak tangannya.


Kedua mata Jeck membulat terkejut begitu mendapati noda merah di tangannya yang berasal dari Aura, itu darah Aura.


"Jangan...hiks...jangan!" racau Aura masih dengan tangan yang memeluk erat Jeck.


"Sial!" umpat Jeck melepas pelukan Aura dalam sekali sentakan. Tanpa ia memperdulikan Arata, Jeck tampak mengambil tangan Aura dan disana ia melihat tangan Aura yang telah berlumur darah. Ia pun baru menyadari bahwa wajah Aura tampak semakin memucat.


Fatur yang melihat hal itu sebenarnya merasa khawatir tapi rasa kecewa lebih mendominasi dirinya hingga melarang dirinya untuk menolong Aura. Namun bila di lihat secara teliti, tak hanya Fatur tetapi Eliis, Tania dan juga Key pun sama.


"Hhhhh.... kalian memang ********. Penghianat!" umpat Arata melihat keduanya.


Hatinya sakit, sangat sakit melihat orang yang kau cintai bersama orang lain yang merupakan sabatmu sendiri.


"Kau!!"


Darah di dalam tubuh Jeck telah memanas, siap meledak kapan saja. Kenapa Arata menjadi sangat menyebalkan?


"Apa? Dengarkan ini maka kita lihat siapa yang salah disini?" ujar Arata sambil memutar sebuah rekaman suara percakapan antara Aura dan juga Jeck di perpustakaan.


"Kalian?" ujar Elis tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Aku tidak percaya kalian melakukan hal in," ujar Key menatap mereka penuh dengan kekecewaan.


"Aku kecewa pada kalian!" ujar Fatur menatap Aura terluka.


"Hiks...tidak..." tangis Aura, entah kenapa ia hanya dapat menangis tanpa bisa membela dirinya dan juga Jeck. .


"Hentikan tangisan buayamu itu ****** ******. Kau menjijikkan!" ujar Arata membuat Aura semakin menangis di dalam hati.


"Sialan jaga ucapanmu Arata!" bentak Jeck kepada Arata.


Aura seketika terdiam. Pandangannya masihlah menerawang jauh kedepan, menatap kosong Arata. Tanpa Aura ttahu bahwa tatapannya itu berefek buruk pada hati kecil Arata.


"Kenapa bukankah ia benar ******? Jangan bilang kalau ia memang mengangkangkan kakinya untukmu?" tuding Arata tanpa bisa menghentikan ucapannya sendiri. Bukan itu yang ingin ia katakan. Namun apalah daya kalimat menyakitkan itu meluncur bebas tanpa bisa ia cegah, membuat Jeck benar-benar marah


Bugh


"Jeck cukup!" teriak Aura menghentikan Jeck yang akan kembali memukul Arata.


"Cukup. Kumohon!" ujar Aura pelan sebelum jatuh terduduk sebab kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya.


"Cih," decak Arata sambil menyeka darah di bibirnya.


Keheningan melanda ruang rawat Aura. Semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sebelum sebuah kekehan halus mengalun memecah kesunyian itu.


Kekehan itu benar-benar mengalun,, lepas tanpa bisa di cegah,


"Khhh..."


"Kau bilang aku jalangkan, Arata?" ujar Aura dengan kepala yang tertunduk. Enth ekspresi macam apa yang kini tengah terukir di wajah Aura.


Bahu itu bergetar, bukan karna menahan tangis melainkan menahan tawa yang bisa saja lepas.


"Kau bilang aku menipu kalian, tapi apa ada yang bertanya kenapa aku melakukan itu? Tidak, bukan!" ucap Aura dengan mata yang menatap kosong lagi dingin ke Arata.


Tatapan yang sarat akan luka, sejauh itukah Arata membawa Aura dalam kubangan luka tak berujung? Sejauh itukah luka yang Arata torehkan saat ini? Arata ikut menderita melihat wajah di hadapannya berada dalam kehancuran.


Senyum sinis terukir menghiasi wajah pucat Aura,


"Di permainkan, di bohoongi, di manfaatkan. Aku sudah merasakannya. Sakit, apalagi yang melakukannya adalah orang yang telah kau anggap sebagai sahabat terbaikmu."


Semua yang ada disana menatap penuh tanya ke arah Aura, kecuali Jeck yang justru menatap sedih Aura. Ia tahu, kini Aura tengah berusaha menekan luka lama yang kembali terbuka lebar, berdarah dan bernanah.


"Aura," lirih Jeck membuat Aura menatap ke arahnya.


"Aa.. biarkan aku selesai bicara, Jeck!" ujar Aura memberikan Jeck senyum manis lagi lembut milik Aura.


Tidak, bukan senyum itu yang Jeck harapkan. Senyum itu justru terlihat menyakitkan bukan menenangkan.


"Aku hanya tidak ingin merasakan itu lagi. Dan soal hubunganku dan Jeck, ia sahabat terbaiku terlepas dari semua ini. Ia yang berada di sisiku ketika aku merasa tak di anggap ada," jelas Aura dengan raut wajah yang tenang.


Setidaknya sedikit demi sedikit ia telah mengatakan alasan penyamarannya itu.


"Satu hal, yang harus kau tau Arata. Cintaku tulus untukmu!" ujar Aura dengan senyum tulus di wajahnya, membuat Fatur bertanya-tanya terbuat dari apa hati Aura sebenarnya. Kenapa ia masih bisa menampilkan senyum tulus itu?


"Kau pikir aku akan tertipu?" seru Arata menatap sinis Aura yang di balas senyum kecut oleh Aura.


Hati kecilnya berbisik untuk percaya pada Aura namun. Sayangnya logikanya melarang hal itu. Dan ia lebih percaya pada logikanya ketimbang hatinya. Ingat tak selamanya perasaan bisa benar. Tapi apakah kau yakin Arata? Akankah kau tak menyesali keputusanmu itu.


"Tidak!"


"Mulai hari ini kita putus. Dan jangan dekati aku lagi ******," ujar Arata sebelum meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Aura yang terdiam, mencobba menata hatinya yang perlahan hancur.


"Khhh... pada akhirnya aku selalu di tinggallkan," ujar Aura dengan rautt wajaah yang entahlah.


"Aura..Aura, menyedihkan sekali" guman Aura dengan senyum sinis ddi bibirnya, namun itu tak bertahan lama sebelum setitih air mata jatuh dari pipi Aura.


Elis, Tania, Key dan juga Fatur tak tahu harus bersikap bagaimana. Semuanya terasa membingungkan,


"Kami kecewa pada kalian," ujar Key berlalu pergi diikuti yang lain.


"Hiks...hiks...hiks...hiks..." pecah sudah tangisan yang Aura tahan sejak tadi.


"Aura," guman Jeck menarik Aura kedalam dekapannya.


"Kenapa? Kenapa ini terjadi Jeck?" racau Aura dengan kedua tangan yang mencengkram baju Jeck. Biarlah baju itu ternodai darah Aura, Jeck takk perduli.


"Hiks...hiks..."


Hatinya sakit sangat sakit mendengar Arata memutuskan hubungan mereka begitu saja tanpa mau mendengar penjelasan dari dirinya terlebih dahulu.


"Aku mencintainya Jeck!" ujar Aura masih dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Stttt...tenang lah, Ra."


Jeck tampak mencoba menengangkan Aura dengan memberikan elusan di punggung Aura serta dekapannya yang semakin dipererat oleh Jeck. Biarlah tuhan yang mengurus rasa sakit di hatinya nanti, sebab sekarang yang lebih penting adalah Aura.


"Hiks...hiks..."


Semakin lama isakan Aura semakin lemah, lirih dan menyayat hati. Perlahan namun pasti, kelopak mata Aura tertutup menyembunyikan kemilau safir itu.


Brughh


"Aura!!!" teriak Jeck spontan.


Tubuh pucat itu ambruk ke dalam pelukannya, terkulai tak berdaya. Membuat jantung Jeck terpompa lebih cepat, rasa khawatir dengan nakal menyelusup ke dalam hati jeck.


Ceklek


"Ad...


"Panggil dokter!" bentak Jeck kasar ketika pintu terbuka menampilkan sosok Kevin yang terkejut melihat keadaan keduanya.


Tanpa banyak bertanya Kevin segera berlari mencari dokter apapun yang bisa ia bawa untuk menolong Aura. Sepintas, pertanyaan masuk ke dalam pikirannya, apa yang membuat Aura menjadi sepertti ini?


"Aura. Kau harus bertahan," guman Jeck setelah meletakkan tubuh Aura kembali ke ranjangnya.