
Rumah, apa itu rumah? Apakah bangunan kokoh yang dikelilingi pagar tinggi atau justru sebagai tempat untuk pulang, namun sayangnya bagi Gaara rumah adalah neraka yang penuh akan drama dan juga pengasingan. Tak ada lagi canda dan tawa yang mengalun dari bibirnya ketika ia berada di rumah, hanya ada kebencian dan amarah. Setiap kali ia berada di rumah hatinya selalu saja merasa kesal dan marah, seolah-olah orang yang ada di dalam rumah itu memperlakukan dirinya dengan buruk walau pada kenyataanya tak satupun dari mereka memperlakukannya dengan buruk. Bukan.. hanya Gaara seorang yang merasakan perasaan itu, bukan yang lainnya.
“Kak Gaara udah pulang?” tanya sebuah suara halus dari balik punggung Gaara ketika Gaara meletakkan sepatunya di atas rak.
“Lu punya mata kan?" sinis Gaara, "udah liat gue di sini kan, ya jelas udah pulang lah!” lanjut Gaara dengan ketus.
Mendengus sebal. “Tolol banget sih jadi orang,” tambahnya sebelum berlalu melewati sang gadis yang kini menatap sendu punggung Gaara.
“Sebegitu bencinya kah kau padaku kak? Sebenarnya apa yang sudah ku lakukan hingga Kakak terus saja membenci dan enggan memberiku kasih sayang?” gadis itu berucap dengan nafas yang mulai tersengal, manik hijaunya mulai berkaca-kaca dan siap tumpah. Hatinya begitu terluka ketika lagi dan lagi ia mendengar kata-kata kasar keluar dari bibir kakaknya itu.
Mendengar hal itu Gaara lantas terdiam di antara anak tangga yang tengah ia pijak, kedua tangannya tampak terkepal erat. Nafasnya perlahan memburu seolah ada pergolakan hebat di dalam hati dan juga pikirannya. Sebuah kebencian terpampang nyata di kedua manik jade miliknya, sebuah kebencian yang terpendam lama yang tengah menunggu saat-saat dimana ia akan ditumpahkan.
“Lu nanya kenapa?” bentak Gaara setelah berbalik menghadap ke arah gadis yang tak lain adalah adiknya. Matanya menyorot tajam sang gadis.
“Lu begok apa gimana hah! Lu pikir aja sendiri gimana bokap sama nyokap memperlakukan elu sama gue selama ini!”
“Ck, lu tuh cuman bisanya nangis doang. Lu tuh nyusahin orang tau nggak sih!” cela Gaara tanpa memperdulikan linangan air mata yang perlahan turun membasahi pipi pucat sang adik.
“Gue nyesel punya adek kayak elu... Sakura!” caci Gaara sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Tak ada niatan di hatinya untuk berbalik dan melihat apa yang terjadi pada sang adik. Ia acuh meskipun tahu ia telah melukai adiknya itu.
"Kakak, kenapa." gumam Sakura lirih.
Gadis berambut merah muda itu membeku lantaran kembali mendengar kalimat yang selalu terngiang dalam mimpi buruknya. Dengan mata yang terbelalak, Sakura perlahan menyentuh dadanya yang entah kenapa mulai terasa sesak membuatnya perlahan kesulitan bernafas.
"I-ini sungguh menyakitkan Kak. Tolong... tolong hilangkan rasa sakit ini Kak... kumohon!" senggalnya sembari memukul pelan dadanya. Air mata perlahan mengalir di pipinya, rasa sesak yang ia rasa semakin buruk lantaran dirinya yang terisak dala tangisnya. Namun hal itu tak berselang lama sebab tubuh mungilnya telah ambruk ke lantai dengan diiringi alunan teriakan dari arah pintu utama.
“SAKURA!”
Disisa kesadarannya Sakura sempat mengucapkan sesuatu sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya, “Kak Gaara.”