
Pikiran Andrew.
Siapa wanita ini? Kenapa dia sangat PD menggunakan baju itu? Apa dia sengaja memakai baju itu untuk menggodaku?
Selama ini aku sering melihat wanita-wanita yang memakai baju seperti itu di club-club hiburan malam. Dan kebanyakan dari mereka terkenal dengan perilakunya yang nakal dan suka tebar pesona kepada laki-laki kaya. Apakah wanita ini juga sama seperti itu?
Karena aku penasaran, aku mencoba mencuri-curi pandang ke wanita di depanku itu. Dan tanpa sengaja mataku dan matanya berpapasan. Aku pikir dia akan mencoba menggodaku dengan senyum nakal, ternyata malah sebaliknya dia hanya memberikan senyuman kecut. Entah mengapa senyuman kecut itu, membuatku semakin penasaran.
Saat kakek berkata bahwa wanita yang bernama Gamalia ini akan menjadi istriku, aku sempat tidak bisa berkata-kata karena saking terkejutnya. Baru saja aku dibuat terkejut karena diangkat sebagai direktur di perusahaan, sekarang dikejutkan lagi dengan pengumuman bahwa aku akan dinikahi dengan wanita yang tidak aku kenal.
Wajah wanita itu ternyata lebih terkejut lagi. Aku mencoba menenangkan diriku dan berusaha mengeluarkan pendapat agar diberi waktu untuk saling mengenal terlebih dulu. Untung saja kakek menyetujuinya walaupun hanya diberi waktu tiga hari. Aku dan wanita itu hanya bisa pasrah karena perintah kakek sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
***
Setelah menghabiskan makananku aku meminta izin untuk pergi ke toilet dan aku diantar oleh salah satu pelayannya. Tidak henti-hentinya aku dibuat kagum oleh rumah itu. Dekorasi yang indah, furnitur yang mewah, dan ruangan yang cukup banyak membuatku ingin mengelilingi setiap sudut rumah itu. Namun, ada satu tempat yang sangat menyita perhatianku ketika menuju toilet. "Setelah dari toilet aku harus ke situ," pikirku.
Ketika keluar dari toilet, ternyata pelayan yang mengantarku sudah tidak ada. Aku pun berjalan sendiri menuju tempat itu.
"Wah indah banget pemandangan dari sini," seruku dengan terpukau. "Tempatnya juga sangat nyaman." Aku pun duduk sambil menatap langit yang sedang dihiasi beberapa bintang.
"Hai sedang apa di sini?"
Aku melihat ke arah suara itu, ternyata itu adalah Andrew. Aku mencoba menjawab dengan tenang. "Hanya sedang melihat langit, Kak." Karena bingung memanggilnya dengan sebutan apa, aku pun memanggilnya dengan panggilan Kak.
"Jangan panggil Kak, panggil Andrew aja. Kalau kamu harus aku panggil dengan sebutan apa?" kata Andrew yang mencoba duduk di sebelahku.
"Baiklah Andrew, kamu bisa panggil aku Lia, tapi jika kamu mau kamu juga bisa panggil aku dengan panggilan Gamal," ucapku sambil tertawa kecil, aku merasa salah tingkah di depannya.
Andrew mengajakku berjabat tangan, aku pun menyambutnya dengan baik. Tangannya yang hangat membuatku tenang.
"Bagaimana bisa aku memanggilmu Gamal? itu seperti nama laki-laki," tanyanya bingung.
"Haha... Aku sudah terbiasa dipanggil seperti itu oleh mamaku."
"Hahaha,"
Andrew hanya tertawa lalu dia terdiam. Lima menit kami lewati dengan diam. Andrew seperti mencari-cari pertanyaan untuk ditanyakan ke aku, sedangkan aku menunggu pertanyaannya sambil menatap langit sedang indah-indahnya.
"Lia apakah kamu sudah siap untuk menikah denganku?"
"Umurku baru 20 tahun dan menurutku itu adalah umur yang sangat muda untuk menikah. Bagaimana denganmu? Umurmu sudah 26 tahun, apakah kamu sudah siap untuk menikah?" tanyaku balik.
"Jika ditanya sudah siap untuk menikah atau belum, tentu saja aku siap. Sejak umur 23 tahun aku sudah ingin menikah, hanya saja aku belum menemukan wanita yang tepat."
"Wanita yang tepat seperti apa yang ingin kamu nikahi?"
"Aku juga tidak tahu. Hanya saja setiap kali dekat seorang wanita aku selalu merasa ada yang kurang dari diri mereka."
"Ohh, dan pastinya kamu tidak akan menemukan wanita itu, kerena aku yakin semua wanita pasti punya kekurangan," sahutku sok bijak.
"Iya, makanya sampai sekarang aku belum menikah."
Angin malam semakin dingin, Andrew mengajakku untuk masuk ke ruang keluarga di mana keluargaku dan keluarganya sedang duduk bersama. Mereka menatap kami berdua dengen curiga. Aku melihat tatapan mama yang berbeda dari tatapan yang biasa dia berikan ketika pacar-pacarku yang dulu mengantarku pulang.
Malam itu, Andrew memutuskan untuk mengantarku pulang setelah Kakeknya memberi isyarat dengan memberikan kunci mobilnya. Sehingga Papa dan Mama pulang berdua dan aku harus naik mobil bareng Andrew.
Selama perjalanan aku merasa sangat nyaman. Andrew mulai mengajakku untuk berbincang-bincang singkat dan ringan. Dia juga mengajakku untuk pergi dengannya esok hari, dan aku mengiakannya.
***
Sampai di rumah Papa dan Mama ternyata sudah masuk kamar. Aku pun mengunci pintu rumah dan masuk ke kamarku. Aku pikir Papa dan Mama akan menungguku, ternyata mereka benar-benar tidak peduli denganku.
***
Pukul setengah 6 sore, sebuah mobil mewah terparkir dengan rapi di depan rumahku. Andrew sudah datang menjemputku. Aku menyuruhnya untuk masuk dulu ke dalam rumah.
"Mama tolong temani Andrew di ruang tamu," teriakku memanggil mama yang sedang menyiram tanaman-tanamannya di halaman belakang.
"Maaf ya aku tinggal sebentar, soalnya aku belum selesai make up."
"Iya aku tunggu," ucap Andrew.
Aku pun kembali menuju kamar untuk melanjutkan make up ku.
Setelah selesai aku pergi bersama Andrew menuju ke bioskop. Andrew memesan tiket gold, yang ternyata tempatnya sangat berbeda dengan bioskop yang biasa aku datangi bersama pacar-pacarku yang dulu. Bioskop ini hanya memiliki beberapa tempat duduk dan tempat duduknya didesain untuk pasangan.
"Kenapa nontonnya di tempat seperti ini?" tanyaku kepada Andrew.
"Biar lebih nyaman."
"Tapi nggak seru kalau yang nonton hanya beberapa orang," keluhku.
"Seru kok, coba dulu sekali," katanya menenangkanku.
1,5 jam film itu berlangsung, aku merasa waktunya berputar sangat cepat. Ternyata benar kata Andrew nonton di bioskop seperti ini lebih nyaman dibanding dengan bioskop biasanya.
***
"Lia apakah aku boleh mengatakan sesuatu?"
"Ya tentu saja."
"Tapi kamu jangan kaget ya."
"Iya, iya, santai..." jawabku tanpa pikir panjang.
"Kalau kita menikah dua minggu depan bagaimana?" tanya Andrew yang sedang mengemudikan mobilnya dengan santai. Kami berdua sedang mengelilingi kota untuk menghabiskan waktu setelah nonton dan makan.
"Haaah? Ini serius?" Aku tidak bisa mengendalikan ekspresi kagetku.
"Iya, kamu tahu sendiri Kakekku sudah memaksaku untuk segera menikahimu."
"Kenapa sangat cepat? Kita aja belum menyiapkan apa-apa."
"Kamu tenang aja, semua persiapan pernikahan bisa diselesaikan dengan sangat cepat," katanya dengan santai.
"Tapi jika aku menikah denganmu, maka kamu akan diangkat jadi pemimpin di perusahaanmu. Dan itu artinya kamu akan jadi boss papaku?"
Aku sedang menerka-nerka apa yang akan terjadi jika aku menikah dengan boss papaku sendiri.
.
.
.
.
.
Tunggu kelanjutannya... Thankyouu ✨✨✨