
Bel pertanda waktu istirahat telah berbunyi membuat seluruh siswa bersorak senang di dalam hati, ya di dalam hati pasalnya bila mereka bersorak melalui bibbir sudah pasti kotbah panjang akan mereka dapat dari guru yang saat itu masih berada di ruang kelas.
"Hei!" sapa Key dengan senyum cerah yang ia lemparkan kepada Aura.
Raut wajah Aura sedikit berubah ketika mendapati Key telah berdiri di sampingnya,
"Oh.. hai!" balas Aura dengan senyum tipis di bibirnya.
"Ku rasa kita sudah berkenalan tadi," ujar Key sekedar basa-basi dan Aura tahu itu.
"Hmm."
Sebuah anggukan Aura berikan sebagai balasan ucapan Key barusan, ingat ia tetap harus menghargai seseorang walaupun ia tetap harus waspada.
Seorang pemuda ttiba-tiba saja duduk di meja Aura, membuat si pemilik meja menatap heran pemuda itu,
"Apa kau mau ke kantin, Jelek?" tanya pemuda tersebut dengan senyum manis di bibirnya. Apa ia tengah tebar pesona?
"Ekhem.." dehem Aura.
"Kenapa?" tanya Fatur.
"Tidak. Bisakah kau hilangkan panggilan itu err Fatur?" ujar Aura dengan raut wajah yang sedikit entahlah tak bisa di deskripsikan.
"Kenapa? Itu panggilan sayangku untukmu!" ujar Fatur polos, benar-benar polos dan tentu saja itu membuat Aura kesal.
"Ap..
"Bisakah kau tak mengganggunya fatur?" ujar Jeck dengan senyum yang amat sangat lebar, namun sayang bukan terlihat manis melainkan ia terlihat menyeramkan.
Membuat Key, Elis, Tania dan juga Arata menatap iba pada Fatur.
"Apa yang salah dari panggilanku?" tanya Fatur dengan wajah polos.
"Astaga, Tur jelas salah lah!" timpal Elis gemas dengan tingkah Fatur yang kelewat ah sudahlah, jangan di bahas.
"Salahnya dimana coba?" kembali Fatur bertanya. Aiss... anak ini benar-benar membuat orang kesal saja.
"Ya kalik Tur kau panggil Azura jelek yang ada Azura bakal sakit hati karena kau!" jelas Tania ikut gemas dengan tingkah Fatur.
"Tap...
"Kalian nggak sadar apa kalo azura udah di tarik sama Key pergi?" sela Arata membuat Jeck serta yang lainnya tersadar bahwa sejak tadi baik Azura maupun Key tak ada yang ikut bersuara.
"Sial. Awas kau Key!" geram Jeck sebelum pergi meninggalkan kelas menuju kantin di ikuti yang lainnya termasuk Arata. Tumben kau mau pergi kekantin Ar, biasanya kau lebih memilih di kelas. Apa ada sesuatu yang menarik minatmu di kantin?
°°°
Drap Drap Drap
"Hosh~Hosh~Hosh."
Tampak seorang pemuda berambut pirang tengah mencoba menstabilka nafasnya yang ngosngosan dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan seorang gadis berambut silver keunguan yang ia genggam sejak tadi.
"Kenapa kesini?" tanya sang gadis ketika menyadari bahwa mereka tengah berada di lingkungan kantin sekolah.
"Aku lapar dan lagi mereka terlalu lama bedebat," ucap pemuda itu kembali menarik sang gadis menuju salah satu meja kosong yang ada di sudut kantin tanpa memperdulikan tatapan yang dilayangnkan kearah mereka berdua saat ini.
"Kau mau pesan apa?" tanya Key pada Aura. Tampaknya ia yang akan memesan makanan.
"Nasi goreng ekstra tomat dan jus tomat" ujar Aura kepada Key.
"Oke. Kau tunggu di sini sebentar!" ujar Key bersiap melangkah meninggalkan Aura namun sebelum itu ia kembali berbalik menghadap Aura.
"Jangan kemana-mana!" tambah Key sebelum benar-benar pergi.
Kini hanya Aura yang berada di meja itu. Hampir seluruh siswa yang ada disana terus menatap kearahnya seakan akan ia adalah benda asing dari planet lain. Memangnya ada yang aneh dengan dirinya? Hanya penampilannya yang cukup culun tetapi kenapa mereka melihatnya begitu intens?
Cukup lama Aura menunggu Key, karena bosan ia memilih memandangi sekitaran kanting hingga suara gebrakan yang berasal dari mejanya mengejutkan dirinya dan juga yang lainnya.
BRAKK
"Hei, Culun!" ujar pelaku penggebrakan meja tersebut yang tak lain adalah gadis yang ia lihat di parkiran tadi pagi.
"Ku peringatkan padamu jangan sekali kali kau dekati Jeck!"
Sebuah ancam Aura dapat dari gadis itu. Yuya Maudia. Ah, jadi Yuya namanya, jika kalian bertanya aku tahu dari mana aku melihat dari name tag yang terpasang di seragamnya.
Segera ia ubah raut wajahnya, ia harus tetap tenang.
"Kenapa?" tanya Aura.
"Kau tanya kenapa? Karena Jeck itu milikku!" jawab Yuya dengan raut wajah yang merah padam menandakan ia tengah kesal saat ini.
"Kau kira Jeck itu barang?" sahut Aura membalas ucapan Yuya. Raut wajahnga tampak datar ketika mengatakan hal itu.
"Kau...
"Tahan Yuya!" ujar gadis lainnya. Ah, kalau tidak salah dia adalah gadis yang mengatakan ia ****** di kelas tadi. Emm siapa ya namanya. Aku lupa.
"Kami peringatkan padamu, jangan sekali kali kau berani mendekati Jeck dan juga Arata karena mereka milik kami. Camkan itu!" kembali Aura mendapatkan ancaman, namun kali ini Arata pun ikut menjadi bahan ancamannya. Ah, kalau tidak salah namanya Kania. Jangan bilang kalau mereka berdua adalah fans Jeck dan juga Arata?
"Kalau aku menolak!"
Rasa-rasanya sedikit bermain-main dengan mereka bukalah hal yang dilarang. Ia butuh sedikit hiburan sebab ia tengah bosan menunggu Key yang tak kunjung kembali.
"Ini akan menyenangkan!" batin Aura menyeringai. Aiss...kau mendapatkan mainan ehh Ra?
"Maka kau akan tahu akibatnya!" ujar Yuya dengan jari telunjuk yang teracung kearahnya. Tipe-tipe anggota pembuly.
"Aku tak takut!" tantang Aura dengan raut wajah datar yang tak menunjukkan barang ekspresi takut maupun cemas sedikitpun dan tentu saja hal itu membuat Yuya dan juga Kania geram bukan kepalang.
"Kau!!!" bentak Kania dengan mata yang melotot marah.
"Apa?"
"Sialan. Rasakan ini!" bentak Yuya bersiap akan menyiramkan jus alpukat yang entah ia dapat dari mana kearah Aura.
Tak Prangg
Belum sempat jus itu mengotori seragam Aura, gelas yang menjadi wadah jus itu telah pecah akibat terlepas dari genggaman Yuya.
"Apa yang kau lakukan?" entak pelaku penepisan tangan Yuya dengan ekspresi marah yang terlihat jelas dari kedua mata serta rahang pemuda itu yang tampak mengeras.
"A...Arata..." gagap Kania begitu menyadadi kehadiran Arata di dekat mereka.
"Kutanya sekali lagi apa yang kau LAKUKAN?" bentakan Arata membuat seluruh penghuni kantin kaget dan juga ketakutan, kecuali Aura yang tampak biasa+biasa saja.
"Ar...Arata...di...dia yang memulainya!" ucap Yuya mencoba membalikkan keadaan.
Sebuah kedipan Kania dapat dari Yuya,
"Ya...ya...dia yang lebih dahulu mengganggu kami!" tambah Kania cepat.
"Apa itu benar?" tanya Arata kepada Aura yang berdiri di sampingnya.
"Tidak," jawab Aura tenang.
"Dia boh...
"Ada apa ini?" belum sempat Yuya menyelesaikan ucapannya seorang pemuda bermata coklat datang beserta dua gadis lainnya dan juga seorang pemuda di belakangnya.
"Dear, kau tak apa?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Jeck kepada aura. Ia cukup kaget ketika sampai di kantin ia telah di sambut oleh keributan yang di sebabkan oleh dua ****** menjijikkan ini, siapa lagi kalau bukan Yuya dan Kania.
"Hn," guman Aura mengelus tangan Jeck, mencoba memberitahu bahwa ia baik-baik saja lewat usapan itu.
"Apa yang kalian lakukan pada Azura hah?" kini giliran jeck yang mengintrograsi mereka dengan nada suara yang naik satu oktav dari nada suaranya ketika berbicara dengan Aura.
Matanya sempat menangkap pecahan gelas tak jauh dari posisi Aura saaat ini, sontak saja hall itu memicu kemarahan di hati Jeck.
"Ka...kami tidak melakukan apapun Jeck. Ju..justru dia yang mengganggu kami," ujar Yuy menyampaikan pembelaannya, raut wajahnya ia buat sesedih daan semeyakinkan mungkin.
"Azu...
"Bukankah kantin ini memiliki cctv tepat di sudut itu?"
Jengah dengan perdebatan yang tak berujung ini, Aura memilih menyela mereka dengan menunjuk kearah sudut kantin yang terpasang cctv. Sebenarnya ia telah melihat cctv itu sejak ia menunggu Key dan ia memanfaatkan cctv itu untuk membungkam mulut busuk dua rubah betina itu.
"Kalian bisa melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi!" tambahnya acuh tak acuh.
"Sial...
"Kenapa ramai sekali?" tanya Key yang baru saja datang dengan nampan yang terisi dua buah piring nasi goreng dan juga dua buah jus alpukat dan juga tomat.
"Kau dari mana saja sialan?" umpat Jeck amat kesal dengan Key.
"Memesan makanan. Ada apa?" jawab Key polos.
"Azu...
"Tidak papa. Pesananku?" sela Aura. Jujur saja ia sudah lapar dan tak berniat melanjutkan keributaan ini.
"Ah..ini," ujar Key sembari memberikan pesanan Aura.
"Terimakasih," ucap Aura sedikit tersenyum padaa Key, membuat pemuda itu bersemu tipis.
"Kalau urusan kalian sudah selesai cepatlah bubar. Kalian mengganggu ketenanganku!" usir Aura. Ayolah, ia butuh makan dengan keadaan yang tenang. Bila mereka masih ingin berdebat maka lanjutkan saja di lapangan basket yang kebetulan berada tak jauh dari kantin sehingga terlihat dari tempat duduknya saat ini.
"Sialan kau ******!" umpat Yuya marah. Wow, kalem atuh neng.
"Jaga mulutmu YUYA!" benat Jeck tak terima akan umpatan Yuya barusan. Ia heran kenapa medusa satu ini selalu mengganggu gadis lain, biasanya dia akan mengganggu gadis yang mencoba mendekatinya dan sekarang apa? Ia juga mengganggu Aura. Bila yang Yuya ganggu itu gadis lain ia akan diam saja tetapi lain ceritanya bila gadis itu Aura, ia tak akan diam.
"Kau membelanya?" tanya Yuya marah. Ia berfikir siapa dan seberapa penting gadis culun yang kini tengah menyantap makanannya dengan tenang itu bagi Jeck.
"Ya."
"Tapi ia memang ****** karena berani menggoda kau dan juga Arata!" ujar Kania dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun membuat semua penghuni kantin sedikit takut, ingat sedikit sebab kemarahan Jeck dan Arata sebelumnya lebih menakutkan.
"Apa maksud ucapanmu Kania?" tanya Arata bingung dengan ucapan Kania barusan. Kapan Aura menggoda dirinya? Berbicarapun hanya saat perkenalan saat itu.
"Bukankah ia ****** yang rela menggangkangkan kakinya untuk kalian?" terang Kania, tatapan jijik ia layangkan kearah Aura yang kini tampak menikmati nasi goreng ekstra tomatnya.
"Jaga ucapanmu sialan!!" bentak Key mulai kesal dengan ucapan Yuya dan Kania, tak hanya dirinya Elis, Fatur dan juga Tania pun ikut kesal.
"Azura bukan gadis seperti itu!" ucap Fatur dengan nada penuh kekesalaan. Ia tak terima Aura di rendahkan sepperti itu.
"Lalu dia gadis seperti apa? Pelac...
Takk
"Ucapkan sekali lagi tentang ku maka ku bunuh kau di sini!"
Habis sudah kesabaran Aura saat ini. Ayolah, ia hanya ingin makan dengan tenang. Kenapa dua ****** ini melah mengganggunya. Dan apa ia bilang tadi ia seorang ******. Sebenarnya yang ****** disini siapa ia atau mereka. ****** kok teriak ******? Apa tidak salah?
Dengsn dagu terangkat, Kania balas menatap tajam Aura.
"Kau pikir aku takut?" tantang Kania tampak berani namun di dalam hatinya ia cukup takut.
"Dan kau pikir aku main-main?" ujar Aura dengan tatapan tajam yang ia layangkan kearah keduanya.
Glekk
Dengan susah payah Yuya dan juga Kania menelan ludah mereka, bahkan Key pun dibuat keget dengan ucapan Aura barusan apalagi ia merasakan hawa di sekitarnya terasa mencekam.
"Pergi sebelum aku...
Prangg
... Menghancurkanmu sama seperti gelas ini!!!" ujar Aura dengan tangan yang berlumur darah akibat pecahan gelas yang menancap di telapak tangannya.
Seluruh mata yang menyaksikan bagaimana Aura memecahkan gelas itu dengan sekali genggam dibuat bergidik ngeri. Kau bayangkan saja gelas yang terbuat dari kaca pecah dengan sekali genggaman. Seberapa kuat genggaman itu?
"Sialan!" batin Yuya dan juga Kania bergidik takut. Dengan segera keduanya meninggalkan area kantin sebelum keduanya menyesal.
"Azura, tanganmu!!" pekik Elis setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Tck," decak Aura kesal ketika melihat darah mengotori tangannya. Ia benci melihat darah mengotori tubuhnya, ia tak suka bau karat dan juga amis itu.
Tap
"Ikut aku!" ujar Arata sebelum menarik Aura meninggalkan area kantin menuju ruang kesehatan.
"Ar..
"Biarkan Arata membawa Aura. Lukanya harus segera di obati Jeck," ujar Tania mencegah Jeck yang hendak menghalangi Arata, ia tahu bahwa Jeck tengah kesal namun ia tak tahu kekesalan macam apa yang tengah Jeck rasakan.
Kekesalan yang sudah menumpuk membuat Jeck mengusap kasar wajahnya,
"Sial!" umpat Jeck membuat keempat sahabatnya memandang bingung pemuda itu.
"Ku bunuh kau Yuya...Kania!" ujar Jeck dengan tangan yang terkepal membuat buku jarinya memutih.
Key menatap was-was kearah Jeck yang tengah diliputi kemarahan itu, ia merasa tak akan ada yang baik-baik saja setelah ini.
Sebuah senyum tipis terukir di bibir Fatur yang entah apa artinya, matanya terus menatap kemana Aura pergi. Sebuah debaran aneh menjalar di rongga dada Fatur, spontan salah satu tangannya menyentuh dadanya.
"Haruskah? Kenapa sekarang dan kenapa harus dia?" batin Fatur dengan tatapan sendu.
Sedangkan Tania dan juga Elis memilih menerka-nerka apa yang akan Jeck lakukan pada dua medusa it. Bila Jeck ingin membalas keduanya maka mereka akan dengan senang hati membantu, keduanya sangan ingin mencakar dan juga menghancurkan wajah angkuh Yuya dan juga Kania.
"Ah, mereka salah memilih lawan!" batin keduanya.
Keheningan melanda kantin, tak ada satupun yang berani bersuara bahkan menolehpun tidak. Mereka terlalu takut akan hawa yang menguark dari kelimanya.
Tanpa mereka semua sadari, seppasang mata tengah mengawasi semua yang terjadi sejak tadi. Ia bahkan melihat semuanya dari awal, tepat setelah Aura menapakkan kakinya di area kantin.
"Bukankah ia gadis yang menawan, Kel?" ujar pria itu dengan mata hijau yang tampak berbinar cerah. Raut wajahnya pun tampak sumringah bahkan segaris senyum tampak terukir di bibirnya.
"Ya, amat sangat menawan!" sebuah seringai tampak menggantikan senyum sumringah itu. Raut wajah yang awalnya berseri kini tampak datar dengaan rahang yang mengeras. Mata yanng awalnya hijau cerah tampak lebih pekat.
"Aku ah tidak, bukan aku tapi kita harus mendapatkannya. Ya, harus!" ujar pria itu dengan mata yang memantulkan sebuah obsesi dan ambisi.