
Langit telah sepenuhnya menghitam ketika Sakura sampai di rumah. Sayup-sayup dari pintu utama Sakura dengar kedua orang tuanya yang tampak membicarakan sesuatu, namun satu yang Sakura tahu benar bahwa Papanya tengah marah saat ini.
“Apa lagi yang anak itu perbuat hah?!”
Sakura sempat berjengit kaget begitu mendengar suara bernada tinggi yang Papanya gunakan. Sakura tebak masalah kali ini pasti berhubungan dengan Gaara, karna hanya Kakaknya itu yang mampu membuat Papanya marah seperti ini.
“Sayang tenang, ini mungkin hanya salah paham!” suara sang Mama tampak mengalun, mencoba menenangkan sang suami yang tengah diliputi amarah.
“Bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau Gaara saat ini sedang di tahan di kantor polisi. Katakan bagaimana aku bisa tenang Karura?!”
“Say-”
Mendengar berita itu Sakura lantas keluar dari persembunyiannya. “Kakak di kantor polisi?” sela Sakura memotong ucapan Karura. Kedua manik emeraldnya menatap kedua orang tuanya penuh keterkejutan.
“Sakura?” panggil Karura dan Raasa yang terkejut dengan kehadiran putri bungsu mereka.
“Kau sudah kembali Sayang,” ucap Karura spontan mendekati Sakura yang masih berdiri kaku.
Sakura lantas mundur selangkah begitu melihat Karura yang berjalan ke arahnya, Sakura butuh jawaban atas pertanyaannya tadi. Sadar ia tak akan mendapat jawaban dari Mamanya, Sakura lantas beralih menatap Raasa berharap Papanya itu mau memberikan jawaban. Namun nihil, Raasa justru melengos pergi meninggalkan ruangan.
“Ma, jawab Kakak kenapa ada di kantor polisi?” akhirnya Sakura memilih bertanya pada Karura.
“Kamue nggak usah mikirin itu ya, sekarang kamu mandi terus makan aja ya. Biar urusan Kakak, Mama sama Papa aja yang urus ya.” Pinta Karura pada Sakura yang jelas akan Sakura tolak.
“No, Saki mau ikut Ma,” tolak Sakura sambil menggenggam kedua tangan Karura, mencoba meluluhkan hati sang Mama.
Sakura sesegera mungkin menggeleng dengan kuat hingga rambutnya yang sebelumnya sedikit rapi, kini menjadi kusut dengan beberapa anak rambut menempel di sisi wajahnya. Hati Karura sejenak tercubit melihat bagaimana khawatirnya Sakura pada Gaara, andai saja Gaara melihat ini. Akankah putranya itu mau berubah dan mengerti.
“Kalau gitu Saki harus ikutin apa yang Mama bilang, oke?” bujuk Karura.
Sejujurnya Karura tahu dengan jelas Sakura akan menuruti apa yang ia katakan jika membawa kemarahan Raasa untuk Gaara. Hanya itu satu-satunya cara agar Sakura tak mengetahui apa dan kenapa Gaara ada di kantor polisi saat ini.
“Tapi Mama harus janji sama Saki, kalau Kak Gaara bakal pulang malam ini. Saki mohon Ma!” ucap Sakura dengan kedua mata yang mulai tertutup kristal bening. Sejak tadi hatinya telah merasa tak nyaman, apalagi mengingat apa yang Gaara ucapkan sebelum meninggalkannya di taman kota.
“Mama janji,”
Sakura lantas bergegas meninggalkan Karura dan berlari menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan Gaara berada. Sepeninggalan Sakura, Karura masih berdiri di tempatnya. Kedua matanya menyorot lelah ke arah foto keluarga mereka.
“Kali ini alasan apalagi Gaara,” gumamnya lirih.
Ibu jari dan jari telunjuk kanan Karura tampak bersemayam di pelipisnya, pusing tampak melanda ibu dari dua anak ini.
“Kau tak apa?” tanya Raasa yang entah sejak kapan berada di balik punggung Karura.
“Ya, hanya sedikit pusing.”
Kini pikiran pria yang serupa dengan Gaara ini tampak bercabang, pikirannya kalut akan tingkah putra satu-satunya yang ia miliki. Tak pernah ia bayangkan jika putranya yang dulunya pendiam dan lembut akan berubah menjadi biang onar seperti ini. Rasanya Raasa benar-benar merasa gagal menjadi ayah bagi sosok putranya.
“Kita pergi sekarang?” pertanyaan Karura tampaknya menyadarkan Raasa dari lamunannya. Hanya anggukan yang Raasa berikan sebagai jawaban.