
Tak jauh dari lampu merah terlihat banyak orang yang menggerumbungi sebuah mobil yang menabrak pohon di dekat pembatas jalan.
Fatur yang melihat hal itu entah kenapa merasakan rasa tak enak yang semakin menjadi.
"Ada apa didepan?" tanya Fatur entah pada siapa sebab kini hanya ada dirinya di dalam mobil.
"Kecelakaan," jawab Arata pelan. Ia masih sibuk menunggu lampu yang akan berganti warna. Mereka memilih melakukan komunikasi melalui vidio room.
"Lewati saja. Aura lebih penting sekarang!" ujar Key dari mobilnya.
"Ya," jawab Arata sambil memijak pedal gas membuat mobil yang mereka melaju tepat setelah lampu berganti warna.
"Tunggu!" teriakan Fatur spontan membuat Arata memijak pedal rem sangat dalam.
Ckitt
Suara gesekan antara ban dan juga aspal terdengar nyaring membuat beberapa orang yang berada di trotoar dan juga di sekitar area kecelakaan itu menatap ke arah mobil -mobil mereka yang kini terparkir berderet.
"Sialan apa yang kau lakukan Fatur?" umpat Arata tepat setelah ia terpaksa membanting stir ke arah kiri jalan.
Ceklek
Blamm
Dengan tergesah gesah Fatur membuka pintu mobilnya dan berlari menuju ke arah kerumunan itu, mengabaikan tatapan tanya dan kemarahan teman-temannya.
"Fatur!!" teriak Key meneriaki nama Fatur sambil mengikuti arah kepergian Fatur, namun baru beberapa langkah Key terdiam dengan raut wajah terkejut dengan tubuh yang menegang.
"Mau keman anak itu?" tanya Jeck setelah ikut memberhentikan mobilnya di belakang mobil Arata.
"Bu..bukankah itu Pak Kevin dan...
Gagap Key akibat syok melihat pak Kevin dengan baju yang berlumur darah serta beberapa luka di wajanya. Lalu kedua mata Key kembali membulat ketika melihat sosok berlumur darah dalam gendongan pak Kevin.
... AURAAA!!" teriak Fatur dan juga Key membuat Jeck serta yang lainnya membulat terkejut dan segera berlari menuju ke arah pak Kevin.
"Tidak jangan sekarang Ra!" batin Arata begitu melihat Aura yang terbaring lemas dalam gendongan pak Kevin.
"Sialan!" batin Jeck frustasi dengan ke adaan Aura.
"Brengsek. Apa lagi ini?" batin Fatur.
"Jeck cepat bawa Aura ke rumah sakit!" dengan raut wajah panik Kevin menyerahkan Aura kepada Jeck. Ia tampak merintih ketika Aura telah berada di gendongan Jeck.
"Bapak?" tanya Tania khawatir akan keadaan sang wali kelasnya.
"Nanti saya menyusul," ujar Kevin sebelum kembali menuju mobil yang mereka kendarai tadi. Ada sesuatu yang harus ia ambil, tanpa ada yang tahu sebuah luka menganga ada di perutnya.
"Baik," jawab Tania sebelum melangkah menyusul Jeck yang telah membawa Aura.
"Sial!" kembali Jeck dan juga Arata mengumpat.
Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan cepat membelah jalanan kota mengacuhkan segala macam sumpah serapah yang di berikan para pengendara lain untuk mereka.
°°°
Tepat setelah mereka sampai di rumah sakit Arata bergegas menggendong Aura dan membawanya ke dalam rumah sakit.
"Dokter!!"
Bukan Arata yang baru saja berteriak melainkan Jeck. Dengan kesetanan ia memanggil dokter yang kala itu untungnya tengah berjaga.
"Tolong teman saya!"
Mohon Jeck ketika salah seorang dokter datang menghampiri mereka dengan beberapa perawat yang mendorong bangsal.
"Adek-adek harap tunggu di luar, ya!" ujar salah seorang perawat kepada mereka tepat sebelum pintu ruang UGD di tutup.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" guman Tania lirih dengan tubuh yang perlahan merosot jatuh.
"Aura hiks.." isak Elis dengan tangan yang senantiasa merangkul bahu Tania. Ia tampak mencoba menguatkan gadis itu, padahal dirinyap7n belum tentu kuat.
"Sialan!" umpat Arata sebelum meninju dinding rumah sakit yang ada di sebelahnya.
Brakk
"A..Arata!" guman Key begitu lirih sambil memperhatikan tangan Arata yang mengeluarkan sedikit darah, membuktikan seberap kuat tinjuannya barusan.
"Kenapa di saat kita hampir bersama selalu ada yang memisahkan kita? Kenapa?" ujar Arata semakin melirih di akhir ucapannya. Tanpa ada yang menyadari setitih air mata mengalir dari pelupuk mata Arata.
Tap Tap Tap
Derap langkah kaki yang terdengar tergesah gesah dan juga semakin dekat membuat semua yang ada di sana minum Jeck yang tampak memandangi Aura dari kaca pintu ruang UGD dan juga Arata yang kini menenggelamkan kepalanya diantara lututnya menatap ke arah datangnya sumber suara tersebut.
"Di mana Aura?"
Tepat setelah ia berdiri di depan Fatur, Kevin menanyakan keberadaan Aura yang langsung di jawab dengan lirikan mata Fatur.
"Dokter sedang memeriksanya," ujar Key dengan mata yang tak lepas memandang ke arah Arata.
"Bagaimana ini bisa terjadi Kevin?" dengan raut wajah khawatir bercampur marah Daniel mengatakan hal itu.
"Saat itu," jawab Kevin kembali mengingat apa yang terjadi sebelum kejadian naas itu menimpanya dan juga Aura.
Flasback on
"Kau yakin akan keputusanmu, Ra?" tanya Kevin tanpa menatap ke arah Aura ia tampak masih fokus menyetir.
"Kau masih bisa membatalkan ini semua?" lanjutnya lagi. Kali ini ia tampak melirik ke arah Aura guna melihat ekspresi macam apa yang di tampilkan oleh Aura. Namun sayangnya tak ada ekspresi apapun di wajah Aura, hanya ekspresi datar.
"Tidak," jawab Aura singkat dengan mata yang masih fokus memandang keluar jendela.
"Tap..
"Apa maksudmu?" tanya Kevin.
"Kau tau apa maksudku!" jawab Aura menatap tajam manik hijau jernih milik Kevin, pertanda bahwa kini yang berada di hadapannya adalah Kevin Aglanta.
"Kau hanya berusaha untuk lari," jelas Kevin dengan kerutan di dahinya. Tanpa ia sadari apa yang ia katakan barusan memancing emosi Aura. Selain karna dirinya mengalihkan pembicaraan ia juga menyinggung perasaan Aura.
"Lalu aku harus bagaimana? Mereka tak menginginkan keberadaanku lagi. Mereka tak mempercayaiku lagi!"
Kali ini Aura memandang ke arah Kevin ketika ia mengatakan alasan kenapa ia pergi. Ia muak, ia muang dengan dirinya yang menolak untuk mengakui kepecundangan dirinya saat ini.
"Mereka hanya belum tau," ujar Kevin dengan mata yang sesekali melirik ke arah Aura dan jalan.
"Lalu aku harus menunggu? Jangan gila. Aku muak!" ujar Aura dengan membuang muka, enggan menatap Kevin bisa-bisa mereka berdebat lebih panjang dari ini.
"Tapi kau tak bisa terus lari!" ujar Kevin mengusap kasar wajahnya. Ia hanya tak mau Aura menyesal dengan keputusan yang ia ambil.
"Lalu kau mau aku apa hah?" bentak Aura dengan mata yang sedikit berkaca kaca.
"Jangan lari!!" bentak Kevin ke arah Aura. Oke, tampaknya mereka harus berdebat lebih panjang.
"Kau mudah bicara," guman Aura dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat Kevin sedikit merasakan rasa bersalah yanh perlahan merayap di hatinya.
"Ak..
"KEVIN AWASS!!" teriak Aura begitu ia melihat seekor kucing berlalu di depan mobil mereka, membuat Kevin spontan membanting stir mobil ke kanan dengan pedal rem yang ia pijak.
Ckitt
Brukk
Bragghh
Dan kecelakaanpun tak dapat terhindarkan. Saat itu dengan kepala yang di dera sakit yang teramat sakit Kevin mencoba melihat keadaan Aura di sampingnya. Kepala yang berdarah serta beberapa serpihan kaca menancap di wajah Aura membuat darah semakin banyak mengotori wajahnya.
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Kevin berusaha mengeluarkan Aura dari mobil mereka dengan kap yang berasap.
Namun sebelum benar-benaar keluar mata yang awalnya menggelap mulai kembali terang. Setitih air mata jatuh mengalir di pipi Kevin, ya hanya Kevin.
Flasback Off
Semua yang mendengar cerita Kevin tampak terdiam sebelum Kevin kembali membuka suaranya dengan tatapan menyesal yang amat sangat jelas di mata hijau itu.
"Maafkan aku Paman. Seharusnya aku tak berdebat dengan Aura tadi," dengan kepala yang tertunduk serta posisi berlutut Kevin menyesali tindakan sembrononya saat itu, yang harus di bayar denngan keadaan Aura saat ini ditambah ia juga kehilangan sesuatu yang berharga.
"Ini salahku," gumannya lagi dengan air mata yang perlahan-lahan kembali membasahi pipinya lalu jatuh ke lantai dimana ia berpijak.
"Hiks Putriku!" tangis Jeniver dengan pandangan yang semakin mengabur.
"Putri..
Brugg
Tepat setelah bunyi benturan itu terdengar, tubuh Jeniver telah terkulai lemah di atas lantai rumah sakit dengan kepala yang berada di dekapan Tania dan juga Elis yang tak kuat menahan tubuh Jeniver.
"Sayang!" panggil Daniel spontan begitu melihat sang istri tak sadarkan diri.
"Tante!" seru Fatur, Key dan juga Jeck sedangkan Arata ia masih tak bergeming dari tempatnya bahkan ketika Kevin selesai menceritakan kejadian sebelum kecelakaan. Dan sialnya secara tak langsung penyebab mereka kecelakaan adalah masalah dirinya dan Aura.
Ceklek
Pintu UGD terbuka menampilkan seorang pria dengan jas putih khas dokter. Dengan segera Jeck dan juga Arata mendekat ke arah sang dokter berniat menanyakan keadaan Aura.
"Keluarga pasien?" ujar sang dokter dengan senyum di wajahnya.
"Saya Ayahnya, Dok!" jawab Daniel sebelum memberikan tubuh Jeniver kepada Key dan juga Fatur.
"Bisa ikut saya?" tanya sang dokter masih dengan senyum di wajahnya.
"Bisa. Kevin dan Fatur jaga Aura dan Tante!" ujar Daniel sebelum melangkah mengikuti sang dokter. Dengan wajah harap-harap cemas.
"Iya Om," jawab Fatur membuat teman-temannya menatap bingung dirinya, sejak kapan Fatur dekat dengan ayah Aura?
°°°
Tap Tap Tap
Langkah kaki kedua pria itu terdengar jelas di dalam ruang sang dokter.
"Jadi bagaimana keadaan putri saya Dok?" ujar Daniel tak sabar. Biarlah ia di katakan tak sopan, ia tak perduli.
"Putri anda mengalami benturan cukup parah sehingga mengakibatkan luka di kepalanya. Hanya itu, tetapi saya belum bisa memastikan apa yang akan putri anda alami bila ia belum sadar!"
Dengan hati-hati sang dokter menyampaikan keadaan putri dari pria di hadapannya. Ia tahu takk mudah bagi prria itu menerima keadaan putrinya.
"Jadi berapa lama putri saya akan sadar Dok?"
Dengan jantung yang berdetak kencang Daniel menunggu jawaban sang dokter akan kepastian kapan putrinya akan sadar.
"Setelah ia melewati masa kritisnya," ujar sang dokter membuat wajah lelah Daniel berubah menjadi pucat.
"Baiklah saya permisi Dok!" pamit Daniel bangkit dari duduknya diikuti oleh sang dokter.
"Kami akan berusaha semampu kami!" dengan keyakinan yang ada sang dokter mencoba memberikan harapan kepada Daniel yang tampak benar-benar terpukul dengan keadaan putrinya saat ini.
"Terimakasih Dok," ujar Daniel sebelum melangkah menuju pintu.
Ceklek
Blam
"Oh tuhan. Cobaan apa lagi ini?" guman Danie sebelum menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di depan ruangan dokter tadi. Ia tampak amat sangat kacau.