000

000
Rubah Betina



Hari ini sekolah tampak berjalan seperti biasanya begitu pula dengan Aura dan juga Arata. Keduanya tampak sudah berbaikan pagi tadi tepat setelah Aura membuka mata dan menemukan Arata tertidur di sampingnya, entah bagaimana pemuda itu bisa ada di sana. Awalnya ia bingung kenapa Arata bisa berada satu ranjang dengannya dan juga ia tampak terkejut menemukan dirinya telah terbaring di ranjangnya, berbagai pertanyaan berada di kepalanya hingga Arata bangun dan menjelaskan apa yang telah terjadi pada mereka termasuk sesi dimana bibir mereka bertemu dan hal itu sontak saja membuat Aura keget sekaligus malu secara bersamaan. First kiss keduanya. Yap, itu ciuman pertama keduanya. Dan disinilah mereka sekarang duduk di kursi keduanya dengan tangan yang saling menggenggam di atas meja membuat Key dan juga Fatur terus saja menggoda keduanya.


"Baiklah anak-anak tampaknya kita kembali mendapatkan teman baru. Saya harap kalian dapat berteman dengan baik!" ujar Bu Wati yang langsung memasuki kelas tanpa memberi aba-aba seperti pintu yang diketuk, membuat seluruh penghuni kelas terkejut termasuk Aura dan Arata.


"Kamu yang di luar bisa masuk!" ujar Bu Wati tanpa mau berlama-lama berbasa basi. Tentu saja hal itu membuat seluruh penghuni kelas, berekspresi bingung pasalnya Bu Wati amat sangat jarang bersikap to the point.


"Wah...cantik," ujar hampir seluruh siswa laki-laki kecuali Fatur yang tampak sibuk dengan sketsa di tangannya, Key yang tengah mencoret asal buku di hadapannya, Jeck yang tampak asik dengan dunianya dan juga Arata yang tampak lebih tertarik memainkan jemari sang kekasih yang ada di atas meja.  Ayolah, masih cantikan gadis yang mereka cintai. Jadi, gadia itu tak ada ap-apanya.


"Manis," celetus salah satu siswa laki-laki yang duduk di pojok depan dekat pintuu masuk.


"Sexsy!!" umpat siswa lain yang duduk di deret ketiga paling depan menatap murit baru itu tanpa berkedip. Perilakunya itu tak luput dari pengawasan Bu Wati, mebuat ia mendapat tatapan maut dari Bu Wati.


"Perkenalkan diri kamu!" ujar Bu Wati dengan raut wajah yang terlihat masam.


"Hai. Namaku Ririn pindahan dari PHS atau Pentagon Hight School," ujar gadis itu yang tak lain adalah Ririn. Tunggu sepertinya aku mengenal nama ini. Siapa ya?


"Wah..."


Tatapan kagum terlihat mengarah pada Ririn yang tengah bersikap malu-malu di depan sana.


"Nah, Ririn kamu bisa duduk di samping Kania!" ujar Bu Wati dengan senyum yang terlihat amat di paksakan.


"Kania angkat tanganmu!"


Kembali Bu Wati mengeluarkan suaranya guna meminta Kania mengangkat tangannya agar Ririn lebih mudah menemukannya.


"Sial. Bukankah itu perempuan yang membuat Aura menderita?" batin Jeck mengumpat ketika menyadari kesamaan nama dan juga rupa gadis itu dengan yang di ceritakan oleh Aura. Apa yang gadis itu lakukan disini?


"Mirip Aura," batin Ririn ketika tak sengaja memandang kerah Aura, untung saja Aura telah mengalihkan pandangannya pada Arata.


"Emm, Kania?" panggil Ririn kepada Kania.


"Ya," jawab Kania dengan kerutan di dahinya.


"Siapa gadis berkaca mata itu?" tanya Ririn sambil menunjuk ke arah Aura yang tengah mamainkan jemari pemuda di sampingnya, kekasihnya kah?


Raut wajah Kania yang awalnya biasa saja kini berubah masam begitu mendenngar pertanyaan Ririn barusan,


"Oh dia murit baru juga sepertimu namanya, Azura. Dia murit cupu dikelas kita," jelas Kania dengan nada yang terdengar tidak suka dan hal itu disadari oleh Ririn.


"Kenapa kau tampak membencinya?" tanya Ririn tanpa rasa sungkan.


"Kau lihat pemuda yang duduk di sampingnya. Dia Arata, pemuda populer yang ku suka namun sialnya merupakan kekasih si culun itu," jelas Kania dengan mata yang memandang benci ke arah Aura dan hal itu disadari oleh Jeck, Aura dan juga Arata.


"Dasar ******!" umpat Kania ketika matanya bertemu pandang dengan Aura, tanpa Kania sadari Arata dan juga Jeck mengetahui apa yang ia ucapkan.


"Bicht!" batin keduanya mengumpati Kania.


Ahh, ku rasa mulai sekarang kau harus berhati-hati Kania. Lihatlah ada dua serigala yang akan mencabik habis dirimu bila berani melukai luna mereka dan satu lagi masih ada dua pengawal yang siap sedia membunuhmu bila kau berani menyentuh  Ratu mereka.


"Aura kah?" guman Ririn amat sangat pelan, sehingga Kania yang ada di sebelahnya tak dapat mendengar gumanannya.


"Tapi Aura kan sedang menjalani perawatan. Mana mungkin ia ada disini dan lagi Aura memiliki rambut berwarna silver sedangkan azura perak dengan gradiasi pink diujungnya. Jadi itu tidak mungkin!" batin Ririn sambil memperhatikan penampilan Aura dalamm wujud Azura.