000

000
Bab 04. Luka Yang Semakin Lebar



Suasana ruang tamu mendadak hening, hanya suara isak tangis Karura lah yang terdengar. Baik Sakura, Raasa maupun Gaara tak satupun dari ketiganya yang mau membuka suara. Dalam isakannya Karura mengobati luka di wajah Raasa, setelah sebelumnya lebih dulu mengobati luka Sakura dan Gaara. Walau bagaimanapun juga Gaara dan Sakuralah yang paling utama akan Karura obati.


“Kenapa kalian jadi seperti ini hiks?” kata Karura sambil mengusap alkohol pada luka yang ada di wajah Raasa.


“Kalian itu ayah dan anak, bagaimana mungkin kalian nyaris membunuh satu sama lain hah?!” bentak Karura setelah melempar asal kotak P3K yang sebelumnya ia pangku ke atas meja.


“Say-“


“Diam!” bentak Karura.


Sakura yang saat itu dikuasai rasa bersalah hanya mampu tertunduk lesu, sungguh jika tau akan seperti ini tak akan ia biarkan Gaara pergi meninggalkan dirinya di taman siang tadi.


“Bagus Sakura sekarang kau justru membuat keluargamu


bertengkar. Kau memang menyusahkan!” maki Sakura pada dirinya sendiri.


Lain Sakura, lain pula Gaara. Pemuda satu itu justru memilih diam dengan mata yang tak lepas menatap Sakura yang kini tampak bergetar menahan tangis. Secuil rasa bersalah hinggap di hati Gaara setelah selintas matanya menangkap luka sobek di sudut bibir Sakura akibat tamparannya beberapa saat yang lalu.


“Sekarang Mama tanya, kamu maunya apa Gaara?” tanya Karura yang kini duduk menghadap Gaara yang duduk di single sofa di bagian kiri Karura.


Mendengar namanya di sebut Gaara lantas mengalihkan pandangannya ke arah Karura. “Apartemen.”


“Aku mau tinggal di apartemen. Sendirian.” Jawab Gaara.


“Tidak.” Tolak Raasa.


“Kenapa?” tanya Gaara mencoba sabar. Ia butuh jawaban bukan pukulan seperti beberapa saat yang lalu, meskipun semua itu ia yang memulai.


“Kau ingin berbuat onar apa lagi setelah ini? Pesta sexs bebas, narkoba atau kau mau-“


Gaara spontan bangkit, “Apa aku seburuk itu di mata Papa?” sinis Gaara.


Tuduhan Raasa barusan menggores luka lain di hati Gaara. Bagaimana mungkin ayahnya itu bisa menilai dirinya sejelek dan serendah itu. Dirinya akui bahwa ia memang sering berbuat onar, namun hal-hal yang Raasa sebutkan tadi tak pernah sedikit pun terlintas di pikirannya. Ia tak serusak itu.


“Lalu kau berharap penilaian apa dariku, jika kau sendiri berlaku seperti berandalan yang tak pernah mengecam bangku pendidikan!” ucap Raasa.


Merasa suasana yang kembali memanas, Karura lantas bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Gaara. Tanpa di duga Karura menggiring Gaara untuk duduk kembali. Awalnya semua berpikir Karura akan kembali duduk di sisi Raasa, namun Karura kini justru berlutut di depan Gaara dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menggenggam kedua tangan penuh lebam Gaara.


“Tidak bisakah kau tetap di sini, di rumah?” tanya Karura.


Jujur Gaara sebenarnya tak merasa senang dengan keputusannya ini akan tetapi jika ia terus di sini ia hanya akan menyakiti dan tersakiti. Tembok tinggi yang ia bangun nyaris saja goyah begitu mendapati tatapan penuh permohonan yang Karura layangkan padanya. Bukan hanya Karura, Sakura bahkan kini turut menatap tak rela ke arah Gaara.


“Kau boleh meminta apa pun kecuali keluar dari rumah ini,” bujuk Karura.


“Kalau aku tak boleh meninggalkan rumah, maka Sakura yang harus keluar dari rumah ini.”


Permintaan gila apa lagi ini?


“Tak tahu diuntung!” seru Raasa. Amarahnya kembali bergejolak, dalam hati Raasa membatin ‘Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran putra nakalnya ini?’ begitulah kiranya yang hatinya suarakan.


Nyaris saja Raasa hendak kembali menerjang Gaara sebelum Sakura bangkit dan menahan dirinya. Tak ingin kembali melukai putrinya itu, Raasa lantas kembali duduk.


Helan nafas Sakura terdengar berat ketika matanya tak sengaja bersitatap dengan Gaara. Keputusan besar kini ada di tangannya, mana yang harus ia pilih. Tetap berada di rumah dan Gaara akan semakin berulah, atau pergi dan keluarganya akan baik-baik saja. Dari dua pilihan itu mana yang harus ia pilih?


“Saki akan pergi.”


Baik Raasa maupun Karura jelas menolak keras keputusan Sakura. Tidak akan mereka biarkan Sakura pergi selangkah saja dari rumah ini, karna jika itu terjadi artinya mereka siap membiarkan Sakura berada dalam intaian bahaya.


“See! Mereka enggak akan pernah ngizinin elu pergi. Enggak akan pernah, why?” ada jeda dalam kalimat Gaara, “karena elu anak kesayangan mereka!” lanjut Gaara.


“CUKUP Gaara!” bentak Raasa. Matanya kini menyorot tajam Gaara, bahunya tampak bergetar seolah tubuhnya tak mampu menampung gejolak amarah yang tengah dirasa. Ia kecewa dengan pernyataan yang Gaara serukan, ia juga menyayangi putranya itu. Hanya saja ada beberapa hal yang membuatnya lebih memperhatikan Sakura dari pada Gaara.


“Sekarang kalian masuk ke kamar kalian dan tidur, besok kita akan bicara lagi!” putus Raasa pada akhirnya.


Merasa apa yang ia inginkan tak mampu dipinta, Gaara berlalu begitu saja menaiki tangga meninggalkan Raasa, Karura dan Sakura yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Kesal, kecewa, sedih dan rasa bersalah.


Selang beberapa menit Sakura akhirnya memilih menyusul Gaara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya tengah kecewa dan sedih, hatinya sedang tak baik-baik saja. Beruntung saat ini ia tak merasakan rasa sakit di dadanya seperti yang biasa ia rasakan.


Sepeninggalan Gaara dan Sakura, Raasa lantas menyandarkan punggunya ke sandaran sofa. Jemari kananya refleks memijat keningnya guna mengurangi rasa pusing yang mendera kepalanya sejak tadi. Tak ia sangka, kejadian yang ia anggap sepele mampu mempengaruhi keluarganya separah ini.


“Kenapa tak kita katakan saja semuanya pada Gaara?” cetus Karura tiba-tiba. Raut wajah lelah dan sendu terlihat jelas di wajah ibu dua anak ini.


“Dan membuat Gaara merasa bersalah, begitu?”


“Tidak, cukup aku saja yang merasakan betapa hancurnya hatiku mengetahui hal itu. Tidak dengan Gaara, ia tak akan sanggup.”


Pada akhirnya air mata tumpah dari sepasang suami istri ini, tak mereka sangka semua akan jadi seperti ini. Ternyata tak hanya mereka saja yang terluka, kedua anak mereka pun ikut terluka akibat keputusan yang mereka ambil. Namun, semua ini demi kebaikan Gaara dan juga Sakura. Ya, demi kebaikan mereka.


Sedangkan di sisi lain, tampak Gaara yang kini bersandar di pintu kamarnya seolah menanti kehadiran Sakura yang ia pastikan akan menyusul dirinya ketimbang berada di bawah lebih lama. Dan tadaa...adik manisnya itu kini telah berdiri di tangga terakhir.


“Lu tau? Gue udah muak liat muka sok peduli lu setiap hari!” tutur Gaara tanpa ekspresi sedikit pun. Namun dari nada bicaranya bisa di pastikan ia benar-benar serius dalam ucapannya.


“Gue berharap enggak pernah punya adek kaya elu. Gue benci elu Sabaku Sakura!” caci Gaara sebelum masuk ke dalam kamar.


BRAKKK...


Bantingan pintu itu menyadarkan Sakura dari keterpakuannya. Setetes air mata jatuh di pipi Sakura, hatinya berdenyut sakit. Seolah ada tangan tak kasat mata yang tengah mengoyak hatinya. Sesak datang tiba-tiba membuat kepala Sakura perlahan berdenyut menyakitkan, ia pikir rasa ini tak akan datang namun nyatanya ia hanya butuh pancingan dan pancingan itu adalah cacian dari Kakaknya.


“Stthh~ kenapa... hiks.. selalu terasa sakit... hiks... setiap Kak Gaara berkata begitu huuu...” ucap Sakura


dalam tangisnya.


Merasa semakin pusing dan sesak Sakura lantas bergegas masuk kedalam kamarnya. Dengan tertatih-tatih akhirnya Sakura dapat mencapai ranjangnya, dengan terburu-buru ia menggeledah laci lemari di sisi ranjangnya


guna mencari obat yang selalu ia minum untuk meredakan sakit di dadanya.


Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Sakura menemukan obat tersebut. Beruntung dirinya sempat menyiapkan air minum di atas lemari sesaat setelah dirinya selesai makan malam, hal ini memang biasa dirinya


lakukan untuk berjaga jaga jika dirinya terbangun karena haus. Dengan segera Sakura minum obat itu, perlahan tapi pasti kapsul berbentuk silider itu masuk ke dalam tubuhnya.


“Apa yang harusku lakukan besok?” lirih Sakura.


Perlahan efek obat mulai bekerja, rasa kantuk mulai merayu Sakura untuk terlelap. Dengan posisi miring Sakura membaringkan dirinya, sebelum terlelap ia sempat melirik foto yang tergantung tak jauh dari pintu.


“Kakak tau, Saki sangattt menyayangi Kakak,” bisik Sakura sayup sebelum kedua matanya tertutup.


Biarkan gadis cantik ini beristirahat, sebab esok ada yang harus Sakura lakukan guna mengembalikan kondisi keluarganya yang retak malam ini. Yap, harus ada yang mampu ia lakukan atau ia harus siap melihat keluarganya hancur berantakan dan dirinya kehilangan satu-satunya Kakak yang ia miliki.