000

000
Episode 6



Aku dan Andrew sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Ketika sampai di tempat itu aku sudah mencium aroma pantai yang menggoda. Ingin rasanya segera ke pantai dan menginjakkan kaki di pasir pantai yang lembut.


Sayangnya kami sampai di Kota Bali itu saat hari sudah gelap. Kami berdua harus segera menuju villa keluarga Andrew karena Kakek sudah menunggu sejak sore tadi. Awalnya aku menyarankan untuk berangkat besok pagi saja, tapi kakek memaksa untuk berangkat sekarang juga alasannya karena dia sudah membelikan tiket pesawat.


Kami berdua pun segera menyiapkan beberapa pakaian untuk dibawa, tidak banyak pakaian yang aku bawa karena kata Andrew dia akan mengajakku berbelanja pakaian di sana. Mendengar kata belanja aku pun menjadi sangat bersemangat, serasa jiwa wanitaku tertantang.


Tadi pagi setelah menangis dalam pelukan Andrew, tiba-tiba saja handphone Andrew bergetar.


"Halo?"


"Halo cucuku, hari ini kakek tunggu kedatanganmu."


"Kedatanganku? Maksudnya gimana Kek?"


"Kamu sama Gamalia kakek tunggu di Bali, ini kakek sudah beliin tiket untuk terbang ke sini hari ini."


"Kenapa dadakan sekali, Kek?"


"Nggak apa-apa. Biar kalian bisa honeymoon di sini. Kakek sudah menyiapkan tempat spesial untuk kalian berdua."


"Tunggu aku tanyakan ke Lia-nya dulu, Kek." Andrew menutup teleponnya. "Lia bagaimana jika kita berangkat ke Bali hari ini?" tanya Andrew.


"Kamu yakin? Kenapa nggak besok aja?"


"Kakek udah terlanjur beliin kita tiket."


"Waduh, baiklah," aku buru-buru menghapus sisa-sisa air mataku. Kemudian merapikan alat-alat make up ku dan memasukkannya ke dalam pouch.


Andrew mengabari kakek bahwa kami akan berangkat hari ini.


***


Di villa, Pak Yahya sedang menyiapkan kamar spesial untuk cucunya tersayang. Dia menghiasi kamar itu dengan lampu berwarna remang-remang dan menebarkan kelopak bunga mawar di lantai agar telihat cantik dan juga menghasilkan aroma wangi mawar. Tentu saja Pak Yahya tidak sendirian dalam mendekor kamar itu, dia dibantu oleh penjaga villa mereka.



Walaupun sudah tua tapi Pak Yahya yang sangat senang melihat cucunya menikah bersemangat melakukan semuanya itu. Dia berharap Andrew dan Gamalia juga senang dengan apa yang dia siapkan.


"Halo?"


(.....)


"Apa besok kalian bisa menyusul ke sini?"


(.....)


"Untuk urusan itu bisa minta bantuan ke yang lain dulu, yang penting besok kamu dan istrimu datang ke sini."


(.....)


"Ada sesuatu yang harus kita bahas di sini."


(.....)


"Oke nanti saya belikan tiketnya."


(.....)


"Ya saya tunggu kedatangan kalian besok."


Pak Yahya menutup handphonenya. Itu orang kedua yang dia telepon setelah menelepon cucunya.


Sekarang dia hanya tinggal menunggu Andrew dan Gamalia sampai ke villa. Dia sudah menyuruh pelayannya untuk menyiapkan steak yang enak untuk menyambut kedatangan mereka. Menurut artikel yang dia baca steak dapat menambah gairah, maka dari itu dia menyiapkan makanan itu.


***


Akhirnya sampai juga di villa keluarga Andrew. Aku yang sempat tertidur di taksi cukup terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan, ternyata perjalanan dari bandara menuju villa memakan waktu hampir satu jam.


"Waw ternyata villanya nggak jauh beda dengan rumah di Jakarta, sama-sama seperti istana," gumamku kagum.


"Yuk kita masuk, sini tasnya aku bawain," ucap Andrew yang mengganggu konsentrasiku yang sedang mengagumi villa itu.


"Nih, tolong bawain," kata dengan sedikit kesal.


Aku pun mengikuti langkah Andrew dari belakang.


Banner bertuliskan:


"Selamat Datang Pengantin Baru"


Andrew dan Gamalia


"Selamat datang, semoga kalian berdua betah di sini," katanya.


"Hahaha, astaga Kakek harusnya tidak perlu repot-repot seperti ini," Andrew tidak habis pikir kakeknya akan melakukan itu.


"Tidak repot, cucuku. Sebelum ke kamar dan bersih-bersih, mending kita makan dulu. Kakek sudah menyiapkan steak untuk makan malam."


"Baiklah Kek," kami berdua menyaut bersama.


Tas-tas kami diangkat oleh bapak penjaga villa untuk dibawa ke kamar.


"Bagaimana perjalanannya? Lancar jaya?" tanya kakek kepadaku.


"Iya, Kek. Sangat lancar. Nggak kena macet di pesawat," kataku dengan polos.


"Hahaha kamu lucu sekali, mana ada macet di pesawat," kata kakek sambil terbahak-bahak diikuti dengan tawa Andrew.


"Eh maksudnya lancar aja, hehe. Kebiasaan macet di Jakarta," ungkapku malu.


"Jangan-jangan kamu sedang jetlag," kata Andrew yang masih tertawa.


"Haha sepertinya," aku hanya bisa menahan malu ku dalam-dalam.


Setelah selesai makan, Kakek mempersilakan kami berdua untuk masuk ke kamar dan beristirahat.


***


Andrew membuka pintu kamar yang ada di lantai dua, saat kami masuk kami dibuat terkejut lagi karena dekorasi kamar yang sangat cantik dengan bunga mawar di mana-mana.


"Kakek makasi surprisenya, haha," teriak Andrew.


"Ya, have fun buat kalian."


"Makasi ya Kek," ucapku mengikuti gaya Andrew.


Kami berdua pun masuk kamar. Aku segera mandi karena merasa sudah gerah setelah perjalanan jauh. Andrew pun begitu, dia menyuruhku untuk tidak berlama-lama mandinya.


"Hua akhirnya bisa tidur nyenyak," Andrew menjatuhkan badannya ke spring bed.


"Udah mau tidur sekarang?"


"Iya rasanya lelah banget di perjalanan kali ini."


"Apa karena aku jadi lebih lelah?"


"Enggak cantikku, mungkin karena ini kali pertama perjalanan malam. Sini tidur di pelukanku." Andrew membuka tangannya dan melebarkan bahunya.


Aku yang mulai merasa aman dan nyaman dalam pelukannya, dengan tanpa malu-malu lagi segera membaringkan diri di sampingnya. Aku membenamkan wajahku di bahunya yang bidang. Kami berdua yang sama-sama lelah, tanpa menunggu waktu lama segera tertidur.


***


Udara subuh yang dinginnya menusuk tubuh membangunkanku dari tidur. Selimut tidak cukup membantu menghangatkan. Aku pun memeluk Andrew dengan erat dan berharap mendapatkan kehangatan.


Andrew terbangun dari tidurnya, dia membalas pelukanku.


"Tunggu ya aku ambilin minuman anget," bisiknya.


Aku hanya mengangguk.


"Ini diminum dulu."


Aku meminum beberapa teguk, Andrew membantu menghabiskan.


Aku kembali membaringkan kepalaku ke bantal. Andrew masih duduk melihatku, tapi tidak berapa lama dia mulai membelai lembut rambutku. Dia memberikan kecupan-kecupan kecil di keningku lalu menjalar ke pipi kiri dan kananku. Dia mulai mengecup salah satu bagian terseksi dari wajahku cukup lama dan aku pun mulai menikmatinya.


Kecupannya yang semakin banyak dan lama mulai membuatku merasa aliran darahku meningkat. Semakin aku menikmatinya maka semakin kukuh juga dia menggempurku. Tubuhku sudah seutuhnya dikuasai olehnya, aku hanya bisa menikmatinya karena aku tahu aku sudah menjadi miliknya.


Sekarang barang kepunyaanku yang sangat berharga telah kurelakan untuk orang yang tepat yaitu suamiku sendiri. Selama ini aku menjaganya agar tidak dirusak oleh siapa pun, terutama oleh mantan-mantan pacarku berusaha mengambilnya.


.


.


.


.


.


Tunggu kelanjutannya... Thankyouu ✨✨✨