000

000
Selesai I



Di sebuah cafe yang cukup sepi, terlihat dua orang pemuda tengah berbincang membicarakan hal yang nampaknya sangat serius. Keduanya duduk dengan berlatarkan matahari yang tampak akan kembali ke peraduannya.


"Aku akan membantumu mencari bukti," dengan raut wajah serius pemuda berambut hitam klimis itu mengucapkan hal itu.


"Baiklah," ujar pemuda bermata coklat dengan bertopang dagu.


"Tapi ku harap Aura tak akan tahu rencana ini!" pinta pemuda klimis itu de gan raut wajah serius, membuat pemuda lainnya penasaran.


"Kenapa?" dengan alis yang menyatu pemuda bermata coklat itu bertanya pada pemuda di hadapannya, yang kini tengah meminum capuchino miliknya.


Dengan bahu yang terangkat pemuda itu melontarkan jawabannya,


"Aku tak mau ia sampai terbebani."


"Aaa... aku paham," angguk pemuda bermata coklat itu sambil menikmari green tea miliknya.


"Jeck!" panggil pemuda itu membuat Jeck memandang bingung kearahnya.


"Hn," guman Jeck. Ya, pemuda bermata coklat itu adalah Jeck.


"Apa kau menyukai Aura?"


Pertanyaan pemuda itu barusan membuat tubuh Jeck menegang, walau hanya untuk beberapa detik saja dan hal itu tak luput dari pandangan pemuda klimis itu.


"Tidak," jawab Jeck dengan mata yang memandang ke arah ponselnya yang mati.


"Tapi aku mencintainya!" ujarnya ketika salah satu tangannya meraih ponsel itu dan menghidupkannya sehingga terpampang jelas foto seorang gadis berambut silver dengan mata biru safir yang tengah bermain air di pantai dengan bibir yang tampak menyunggingkan senyum yang lebar. Membuat jeck tanpa sadar ikut menyunggingnya senyuman di bibinya.


"Kau...


"Dia dekat namun sulit untuk ku gapai. Kau tau aku selalu mencoba menjadi yang terbaik untuknya tapi malah si brengsek itu yang mendapatkannya!"


Dengan sepercik emosi di mata coklat itu, Jeck menggenggam erat ponsel di genggamannya seakan-akan ia dapat meremukkan benda pipih itu.


"Jeck!" setelah cukup lama terdiam lagi lagi pemuda klimis itu menyebutkan nama Jeck.


"Ya."


"Seandainya Aura kembali kepada Arata, apa yang akan kau lakukan?"


Mata hitam itu tampak mengamati perubahan ekspresi yang di tampilkan jeck setelah ia menyelesaikan ucapnnya. Menganalisis emosi apaa yang tengah menguasai Jeck saat ini.


"Mungkin ini terdengar klise tapi aku akan merelakannya. Jika ia bahagia aku akan berusaha untuk bahagia walaupun itu tak semudah ucapannya. Tetapi jika Aura tak bahagia maka akan ku lakukan apa pun caranya untuk mendapatkannya kembali dan membahagiakannya!" dengan rahang yang mengeras serta mata coklat yang semakin menggelap jeck menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Haah~ Ternyata kau memang mencintainya ya Jeck!"


Dengan helanan nafas yang terdengar lebih berat pemuda itu mengatakannya dengan mata yang memandang capuchino miliknya yang mendingin, sama seperti hatinya yang tiba-tiba mendingin.


"Sangat."


Dengan kesungguhan Jeck menjawab pertanyaan itu.


"Baiklah, ini bukti yang sudah ku dapatkan. Eits, jangan menyelaku. Dengarkan dulu hingga aku selesai, oke!" ujar pemuda klimis itu begitu melihat gelagat Jeck yang hendak menyela ucapannya.


"Baik," jawab Jeck.


Sebuah senyum simpul terbit di bibir pemuda klimis itu,


"Ini rekaman di lorong dekat gudang, aku belum mendapatkan cctv di dalam gudang. Kau bisa mencarinya. Lalu ini ada sedikit rekaman tetang masalah Ririn dan juga Aura, ini bisa menjadi bukti kuat untuk membalas Riri!" jelasnya sambil memberikan beberapa flasdis dan juga sebuah recorder ke pada Jeck.


Kerut samar terlihat di kening Jeck,


"Dari mana kau mendapatkan semua ini?" tanya Jeck bingung.


"Itu rahasia, yang jelas separuh bukti sudah ada. Aku tak bisa ke sekolah besok, aku ada urusan jadi ku serahkan semuanya padamu, Jeck!" ujar pemuda itu bersiap meninggalkan kursi yang ia duduki tadi.


"Kau mau kemana?" tanya Jeck.


"Sudah dulu ya, aku ada urusan!" jawab pemuda itu berlalu meninggalkan Jeck dengan segudang pertanyaan di kepalanya.


"Hoy, Fatur!" teriak Jeck tanpa memperdulikan pegawai cafe yang menatap ke arahnya.


"By!" teriak pemuda itu yang tak lain adalah Fatur dari pintu cafe.


"Mau kemana anak itu?" guman Jeck bingung. Entah kenapa ia memiliki firasat yang tak enak untuk yang satu ini, tapi apa?


°°°


Ke esokan paginya OHS di gemparkan dengan sebuah kejadian yang berlangsung di kelas XII IPA GOLD. Pagi yang tenang berubah menjadi kacau tepat setelah Jeck datang dengan menyeret Yuya ke dalam kelasnya.


Brugh


"Akhh!" rintih Yuya ketika lututnya bertemu dengan lantai dengan amat keras akibat dorongan kasar dari Jeck tepat setelah ia menendang pintu kelas membuat seisi kelas di buat kaget dengan tingkahnya barusan.


"Jeck apa yang kau lakukan, hah?" dengan raut terkejut bercampur marah Elis membentak Jeck.


"Katakan!!" tanpa memperdulikan bentakan Elis, Jeck malah balas membentak Yuya yang kini bergetar menahan segala tangisan dan juga ketakutannya.


"Ak...Aku...


"Sialan katakan!!" kesal Jeck sebab Yuya tak kunjung mengatakan apa yang ingin ia dengar.


"Jeck ada apa ini?" tanya Key bingung dengan tingkah serta tindakan Jeck yang aneh pagi ini.


"Ri..ririn yang...menghasutku untuk me..membully Azura!"


Akhirnya apa yang ingin Jeck dengar terucap melalui bibir Yuya. Seringai puas jelas timbul di bibirnya, tapi itu hanya sebentar sebab semuanya belumlah selesai.


"A..Apa maksudmu Yuya?" gagap Ririn dengan keringat yang mengalir di pelipisnya. Suampah serapah telah ia lontarkan di dalam hati, dan semua itu jelas untuk Yuya.


"Sialan!! Jangan pura-pura lupa. Kau yang memberiku usulan untuk menyingkirkan Azura agar ia tak mengganggu jeck lagi. Dan," Yuya memmberi jeda pada ucapannya, "Bukankah kau juga ikut Kania?" ujar Yuya kembali melanjutkan ucapannya yang sempat ia jeda.


Sontak saja semua yang ada disana memandang ke arah Ririn dan juga Kania dengan pandangan yang beragam, ada yang terkejut, heran, penasaran bahkan marah.


"Bahkan kau yang paling semangat menganiaya Azura kemarin?"


Dengan wajah yang memerah Yuya mengatakan hal itu. Membuat Jeck memandang Kania penuh kemarahan, walaupun ia sudah melihat dan mengetahui kenyataan itu tapi tetap saja ia merasa amat marah pada tiga iblis ini.


"Sialan!!" umpat Kania mencoba menyerang Yuya.


"Kau!!"


Dengan sekali tarikan Kania kini berada dalam cengkraman Jeck. Amarah jelas tengah menguasai Jeck saat ini, tak lagi ia pandang Kania sebagai perempuan sebab ia telah berani melukai gadisnya, gadis yang ia jaga mati-matian.


"Ti..tidak!! Ia berbohong," gagap Kania mencoba menyangkal. Ia tak boleh ketahuan sebab bisa ia pastikan ia akan hancur.


"Begitu kah?"


Bukan Jeck yang baru saja membuka suara melainkan seoraang pemuda yang baru saja datang dengan sebuah leptop di tangannya.


"Dani!" ujar Ririn memandang Dani dengan pandangan bingung dan juga terkejut.


"Ahh...sebaiknya kita tonton beberapa vidio terlebih dahulu!" ujar Dani sebelum memutar sebuah vidio yang tampak di gabungkan.


Di vidio itu terlihat jelas ketika Aura yang saat itu tengah membawa tumpukan kertas menuju gudang tanpa ia sadari bahwa dirinya tengah di ikuti oleh Kania, Yuya dan juga Ririn. Lalu vidio berganti suasana yang tampak seperti di dalam gudang melihat dari keadaannya yang gelap, di sana terlihat bagaimana Yuya, Kania dan juga Ririn menyiksa Aura yang terikat di kursi.


"Kalian!!"


Dengan emosi Arata membentak ketiganya tepat setelah ia melihat vidio barusan. Vidio yang berisikan bagaimana mereka menyiksa Aura, menyiksa kekasihnya.


"Arata ini tak seperti yang kau kira," dengan wajah pias Kania mencoba membuat Arata percaya padanya. Ia tak mengira bahwa akan ada bukti dari kejahatan mereka, apalagi sebuah rekaman cctv.


"Lalu seperti apa?" ujar Dani dengan mata yang memandang datar Kania dan juga Ririn.


"Dan kurasa kau harua mendengarkan ini juga Arata!" kembali Dani berucap sambil memutar sebuah rekaman suara dari ponselnya. Rekaman itu berisikan suara Aura yang menceritakan alasan kenapa ia membohongi mereka.


"Ap..apa?" dengan wajah syok yang terlihat kentara tania mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Tak ia pertanyakan siapa pemuda yang kini tengah memberikan mereka bukti.


"Ja..jadi Aura?" gagap Elis dengan pandangan yang tak percaya dan juga kaget.


"Kalian sudah dengar bukan?" ujar Jeck dengan nada dingin serta tatapan datar yang ia layangkan ke arah mereka. Mengabaikan siiswa lain yaang kini tengah menonton mereka, biarkan saja. Biaar semua orang tahu bahwa Aura lebih baik dari mereka semua.


"Dimana Aura?" tanya Arata entah kepada siapa sebab ia tengah menunduk saat ini. Bahunya tampak bergetar antara menahan tangis dan juga kemarahan, tapi tangisan macam apa yang kau keluarkan Arata? Penyesalan atau kesedihan?


"Mau apa kau?" sinis Dani dengan pandangan mencemooh yang ia laayangkan pada Arata. Ia heran kenapa bisa Aura jatuh cinta pada pemuda yang bahkan sangat mudah di kelabui?


"Menemui Aura dan minta maaf!" jawab Arata dengan raut penyesalan yang terlihat jelas di wajahnya, apa lagi di mata merah miliknya. Ceh, bukankah penyesalan selalu ada di akhir?


"Tak semudah itu sialan!" bentak Jeck menolak permintaan Arata.


Apa Arata tengah bergurau? Semudah itu ia meminta maaf, setelah semua perlakuan buruknya pada Aura?


Dengusan kasar meluncur di bibir Arata,


"Lalu kenapa kau menunjukkan semua ini hah?" bentak Arata terbawa emosi.


"Hanya untuk membersihkan nama Aura,"


Bkan Jeck yang menjawab pertanyaan itu melainkan Dani yang kini tengan membereskan laptop miliknya.


"Dan tugas kami telah selesai," tambahnya lagi tanpa mau menatap ke arah teman-teman Aura.


"Belum."


Jeck tiba-tiba saja menyela ucapan Dani membuat pemuda itu memandang bingung  ke arah Jeck. Apa ada lagi?


"Hah? Apa lagi Jeck," tanya Dani bingung membuat yang lain ikut penasaran sekaligus waspaada akan apa yang terjadi selanjutnya.


"Andra!!" panggil Jeck kepada seorang pria bersteylan rapi yang ternyata sejak tadi telah berada di luar kelas menunggu aba-aba dari Jeck selaku tuannya.


"Ya, Tuan muda?"


"Bawa dua wanita ini kepenjara!"


Dengan nada dingin Jeck memerintahkan Andra untuk membawa Kania dan juga Yuya, membuat keduanya membulatkan mata terkejut. Apa mereka tak salah dengar, penjara? Bahkan seluruh siswa yang melihatnyapun ikut terkejut termasuk Arata dan yang lainnya minus Dani yang tampak biasa saja sebab ia juga ssudahh meenyiapkan kejutan untuk mantan majikannya itu.


"T..tidak Jeck!" ronta Kania ketika Andra menyeretnya.


"Kau tak bisa melakukan ini Jeck!" kali ini giliran Yuya yang meneriakinya.


"Aku bisa!" ujar Jeck datar. Tatapan matanya tak menyiratkaan apapun selain kemarahan yang masih belum padam. Ini belum seberapa dengan apa yang mereka perbuat pada Aura.


"Urus mereka."


"Baik Tuan," ujar Andra kembali menyeret Kania dan juga Yuya menuju kantor polisi sesuai dengan perintah tuan mudanya.


Untuk beberapa saat mereka masih mampu menddngar suara teriakan Yuya dan juga Kania yang memaki Jeck.


"Ahh... Sekarang giliranmu Ri-ri-n!" ujar Dani dengan seringai yang lebar membuat Ririn serta siswa lain yang ada di kelas menahan nafas, takut.


"Kau.. bagaimana mungkin kau menghianati ku Dani!" seru Ririn menatap nyala ke erah Dani yang justru tampak tak terpengaruh sama sekali dengan tatapan itu.


Alis Dani tampak terangkat sebelah, membuat ia tampak terlihat sangat menawan,


"Menghianatimu?" ulang Dani menyugar rambutnya ke belakang, memberi efek samping pada para gadis yang melihatnya kecuali Tania dan juga Elis yang sibuk mencerna semua yang terjadi di depan mereka.


"Aku tak melakukan itu!" ujar Dani santai, dengan wajah polos Dani duduk di meja guru tempat ia meletakkan laptop sebelumnya.


Wajah Ririn merah padam, hidungnya kembang kempis dengan mata yang menatap tajam Dani,


"Lantas ini apa hah?" bentaknya.


"Berapa kau di bayar oleh ****** sialan itu?" bentak Ririn menunjuk ke arah Dani, membuat pemuda itu mengerutkan keningnya. Bayar? Siapa. Dirinya? Ayolah, Aura adalah sahabat seperbalapannya. Lagi pula ia melakukan semua ini murni atas kehendaknya sendiri.


"Kau yang ******, sialan!" bentak Dani tak lagi dapat menjaga kestabilan emosinya, mengabaikan Jeck yang hendak merengsek maju membereskan mulut busuk rubah di hadapannya ini.


Satu helanan nafas meluncur sebagai tanda bahwa Dani tengah berusaha mengontrol emosinya yang siap tumpah,


"Hah~kau harus tahu sejak awal kau tak memiliki pelindung sedangkan Aura ia memilikinya lebih dari satu!" jelas Dani menunjukkan foto dirinya, Jeck dan juga Aura yang tengah duduk di atas kap mobil Aura dengan latar aarena balap di malam hari.


Foto itu jelas saja membuat Arata dan yang lainnya tercengang, berfikir siapa sebenarnya Aura?


"Hhhhhh, sialan!" kekehan itu meluncur bak pertanda bahwa Ririn tengah frustasi bukan main.


"Apa mau kalian?" ujar Ririn dengan mata yang bergerak gelisah.


"Sebelum itu ada yang ingin ku tanyakan," ujar Jeck menatap serius mata Ririn, membuat yang di tatap merasa tak nyaman.


"Kenapa kau melakukan ini pada Aura?" tanya Jeck menatap Ririn tajam seakan-akan ia dapat membunuh Ririn melalui tatapannya.


"Karena dia sempurna. Dia memiliki apa yang tidak ku miliki. Dan karena dia perusahaan orang tuaku nyaris bangkrut dan karena dia juga aku harus home schooling selama beberapa minggu karena tidak ada yang mau menerimak,"


Dengan emosi Ririn mengatakan alasan kenapa ia melakukan hal ini kepada Aura. Alasan yang membuat ia harus bermain kotor bahkan melakukan hal kriminal.


Rahang Arata, Key dan juga Jec tampak mengeras. Gigi ketiganya terdengar bergemeletuk, seakan-akan hendak menghancurkan gigi-gigi mereka.


"Lalu begitu ada sekolah yang menerimaku aku menemukan ia yang katanya tengah menjalani perawatan tapi apa? Dia disini menikmati hidupnya sedangkan aku mengalami kesulitan karena ayahnya? Sialan!!!" tambah Ririn dengan api kemarahan yang bergejolak di manik matanya.


"Karena iri kau melakukan ini?" celetuk Dani yang memang sudah mengetahui alasan di balik perlakuan Ririn melalui rekaman suara percakapan antara dua orang laki-laki, yang ia dapat dari teman Jeck yang saat ini tengah memiliki urusan keluarga. Harusnya bukan hanya dirinya dan juga Jeck tapi ada satu lagi pemuda yang telah membantu keduanya.


"Ya."


"Kau gila!!" umpat Dani sambil menendang kursi yang ada dihadapannya. Mengabaikan tatapan ngeri dan juga terkejut siswa lain yang mulai membubarkan diri, takut menjadi sasaran kegaduhan di ruangan itu.


Brakk


"Ya, aku memang gila!" teriak Ririn bak orang gila yang kesetanan, miris.


Sebuah seringai timbul di bibir Dani, membuat yang melihatnya bertanya-tanya untuk apa seringai itu,


"Paman!" teriak Dani memanggil seseorang yang tampak mengenakan steylan dokter.


"Ya. Kau membutuhkan sesuatu?" tanya pria paruh baya itu kepada Dani. Entah kenapa pagi-pagi sekali keponakannya ini menelphon dirinya, meminta agar ia datang ke sekolah temannya dengan dalil bahwa ada siswa yang mengalami gangguan kejiwaan.


"Bisakah paman membawanya ke RSJ sekarang? Bukankah paman telah mendengar serta melihat semuanya?" pinta Dani kepada sang paman yang kebetulan adalah dokter kejiwaan.


"A..apa?" gagap Ririn tak percaya akan apa yang ia dengar. Kesialan apa lagi yang menimpanya.


"Tentu saja paman bisa. Akan paman lakukan apa pun untuk keponakan paman dan Aura!" ujar pria itu sambil mengelus kepala Dani. Lihat, bahkan seorang dokterpun mengenal Aura. Jadi sekarang siapapun tahu bahwa Aura bukanlah orang sembarangan.


"Sialan!!! Mau apa kalian?" bentak Ririn begitu melihat dua orang pria berpakaian perawat menuju ke arahnya.


"Bawa dia!" perintah pria paruh baya yang di panggil paman oleh Dani.


"Lepas...sialan ku bilang lepas!" ronta Ririn begitu tangannya di pegangi oleh perwat itu.


"Akhhh!!" jerit Ririn ketika salah satu dari perawat itu menyuntikkan sebuah cairan di lehernya.


"Akan ku balas kalian!!" jerit Ririn sebelum kesadarannya hilang akibat obat bius yang di suntikkan ketubuhnya.


"Kau tak akan bisa karena ku pastikan kau akan membusuk di tempat terkutuk itu Ririn!" guman  Jeck memandang kepergian Ririn dalam diam.


Dua masalah selesai tinggal satu lagi masalah yang harus mereka selesaikan demi Aura.