
"Ah, Kak. Kayaknya aku harus pergi sebentar?" ujar Aura ketika mereka bertiga hampir sampai di depan kelas XII Ipa Gold.
"Mau kemana, Ra?" tanya Jeck dari belakang Aura. Kerutan melintang di kening Jeck dan juga Kevin begitu mendengar ucapan Aura barusan.
"Apa lagi yang berusaha ia lakukan?" batin keduanya bertanya-tanya.
"Ada yang harus aku selesaikan!" ujar Aura dengan mata yang menatap gelisah ke arah ujung lorong kelasnya yang terhubung langsung dengan taman belakang.
Aura harus cepat sebelum orang yang ingin ia kejar pergi dari sana sebab hanya di sana ia bisa mmenyelesaikan semuanya.
Haahh~
"Tapi jangan lama-lama!" ujar Kevin setelah menimbang-nimbang permintaan Aura barusan.
"Iya," ujar Aura dengan senyum ma nis di bibirnya, membuat tiga laki-laki yang melihatnya berdebar dan juga terpanah. Seharussnya Aura tak perlu tersenyum bila efeknya begini.
Segera ia langkahkan kakinya menjauh dari kelasnya, melangkah menuju ujung lorong koridor.
"Kenapa Bapak biarin Aura pergi?" ujar Jjeck protes akan keputusan Kevin barusan.
Dengusan samar meluncur dari bibir Kevin,
"Biarin dia selesaikan masalahnya," ujarnya kembali berjalan menuju pintu kelas yang tinggal beberapa langkah lagi.
"Tapi Pak!" protes Jeck mengejar langkah Kevin.
"Jangan bantah!" ujar Kevin menghentikan langkahnya, kepalanya ia tolehkan sedikit guna melirik Jeck yang berdiri di belakangnya dengan tubuh yang menegang. Membuat sudut bibir Kevin terangkat.
"Sekarang lebih baik kita masuk," lanjut Kevin begitu tak mendapat bantahan dari Jeck.
Krieet
Pintu itu terbuka, membuat yang ada di dalam kelas sontak melirik siapa gerangan yang hendak memasuki kelas.
"Kenapa tidak di bersihkan?" ujar Kevin dingin. Tatapan tajam ia layangkan pada penghuni kelas terutama Kania yang menegang di kursinya.
"Pak Kevin!!" pekik seluruh siswa begitu wali kelas mereka berada di depan pintu, tepat di depan kekacawan yang belum di singkirkan.
Perasaan takut mendominnasi hati mereka kecuali Key, Tania, dan juga Elis yang memang pada dasarnya tak ikut campur tangan, jangan lupakan Dodi yang memang tak tahu menahu akan semua ini sebab ia datang setelah kekacauan itu terjadi.
"Atau kalian semua yang mau membersihkannya?" ujar Kevin dengan seringai di bibirnya, membuat hawa mencekam menyebar ke seluruh ruangan.
Decitan itu kembali terdengar sebelum ia tatap seseorang yang amat ia benci beberapa bulan belakang ini,
"Cepet bersihkan, Kania!" ujar Kevin memerintah Kania.
Kerutan samar terlihat di kening Kania,
"Lah kok saya?" tanya Kania tak terima.
"Yang lain Pak," protesnya dengan raut wajah kesal.
Mendengar hal itu, Kevin merasa marah bukan main. Kenapa bisa gadis licik ini berada di kelas unggulan dengan ia sebagai wali kelasnya? Ah, kekuatan orang dalam. Tampaknya ia harus melaporkan ini pada sang paman, selaku ketua yayasan OHS.
"Kamu atau...
"Iya-iya, Pak!" ujar Kania cepat sebelum Kevin menyelesaikan ancamannya.
"Bagus!" ujar Kevin begitu melihat Kania yang berdiri menuju alat kebersihan berada. Seringai tipis tersemat anggun penuh keangkuhan di bibir pink alami itu, membuat Jeck yang menyadarinya tersenyum angkuh menatap rendah Kania yang mulai membersihkan kekacauan di hadapannya.
"Kau sangat cantik!" bisik Jeck membungkuk di samping tubuh Kania, membuat Kania membatu begitu menyadari arti tatapan dan juga ucapan Jeck barusan.
"Arata kemana?" tanya Kevin begitu melihat beberapa bangku yang masih kosong, kecuali Aura yang meemang ia tahu kemana perginya.
"Keluar bentar, Pak!" jawab Key menatap gelisah pintu kelas.
"Fatur?" kembali Kevin bertanya.
"Uks, Pak!" jawab Tania.
Senyum sinis terukir di bibir Kevin,
"Di pikir saya bodoh apa?" guman Kevin menatap pena yang sedang ia genggam.
"Dasar!" cibirnya sambil membuka buku materi yang ia bawa. Nanti, bila sudah waktunya maka akan ia tunjukan bagaimana menipu tanpa ketahuan.
°°°
Tap Tap Tap
Aura melangkah dengaan yakin, ia telah memantapkan hatinya untuk menemui pemuda yang ia cintai segenap hati. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Arata, biarlah ia di bilang mengemis cinta Arata ia hanya tak ingin menyesal. Hanya itu.
"Harus selesai sekarang!" ujar Aura menatap langit mendung di atas sana. Ia akan menyerahkan segala keputusan di tangan Arata, bila Arata memang menginginkan ia pergi maka ia akan pergi namun bila sebaliknya maka ia akan tinggal.
Siluet itu ia kenal betul milik siapa. Senyum merekah di bibirnya, bibirnya terbuka hendak menyerukan nama sang pujaan hati.
"Arat...
.. ta!"
Tatapan yang awalnya tampak cerah kini meredup persis seperti langin yang kian menggelap. Bibir itu terucap kaku, begitu menyadari Arata tak sendiri. Ia bersama seseorang yang telah menghianatinya.
"Ririn," sebutnya pilu.
Hatinya hancur, remuk tak berbentuk menemukan Arata berpelukan bersama Ririn di bangku yang ada di bawah pohon di taman itu. Haruskah tuhan merenggut senyumnya ketika kebahagiaan ada di depanya. Tuhan merenggut itu saat keyakinan telah ada di hatinya.
"Ternyata aku terlambat, ya?" guman Aura dengan setitih air mata di pipinya, namun bibir itu tak melengkung kebawah melainkan melengkung membentuk senyuman. Senyum pahit penuh kepedihan.
Ia harus pergi dari sini, sebelum keduanya berbalik dan melihat keadaannya yang menyedihka. Dengan langkah pelan ia pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang menjadi saksi bisu akan sesuatu yang patah, tapi bukan kayu melainkan hatinya. Hati Aura.
Sepeninggalan Aura, seorang pemuda keluar dari balik pilar yang tak jauh dari Aura berdiri tadi. Mata hitamnya menatap tajam pemandangan di depannya, tepat di punggung Arata. Jelaga hitam itu tampak menggelap, mendingin dan menajam penuh kemarahan.
"Kau yang melukainya, maka jangan harap kau mendapatkannya!" ujar pemuda itu sebelum berlalu mengikuti langkah Aura yang entah akan kemana.
°°°
Sejak lima menit yang lalu, hanya duduk termenunglah yang Aura lakukan. Angin kencang yang menerpa tubuhnya tk ia pedulikan toh ia tak merasa dingin. Entah apa yang membawanya ke atap saat ini, kakinya melangkah begitu saja.
Setetes demi setetes air mata mengalir di pipi Aura, membentuk ssungai kecil. Bahunya bergetar menahan isakannya. Pedih ia rasa saat ini. Hanya menangis saja tak cukup, berteriakpun tak ada gunanya. Hanya diam meratap pada kekosongan yang bertahta di hati, itulah yang Aura lakukan kini.
"Tampaknya kau sudah temukan penggantiku nee Arata?" ucap Auura dengan derai air mata. Ia pandangi foto dirinya dan juga Arata di ponselnya.
"Khhhh, seharusnya aku sadar diri!"
Derai tawa itu meluncur mulus dari bibir Aura. Bibir tertawa, mata menangis. Ambyar. Bagai melihat hujan di langit yang cerah, itulah perandaian keadaan Aura saat ini.
"Hhhhhh... " tawa itu masih mengalun menyayat hati pemuda yang sejak tadi menatap Aura dalam diam. Hatinya tersayat melihat Aura saat ini, kenapa bukan ia saja yang Aura cintai?
"Hiks... hisk... Sakit!" isak Aura memeluk ponsel di dadanya. Berharap dapat mengurangi rasa sakit yanng meradang di hatinya.
"Why? Why hurt?" teriaknya pilu.
Kenapa? Kenapa tuhan melakukan ini padanya? Kenapa iaa tak diizinkan untuk bahagia? Dosa apa yang ia lakukan di masa lalu, sehingga semesta mengutuknya begitu kejam.
"Arghttt!!" raungnya menghempas jauh ponsel di genggamannya. Membiarkn ponsel itu melayang jauh dan membentur dinding.
Prangg
Nafas itu tak lagi beraturan, ia pejamkan kedua matanya guna mengontrol rasa yang bergejolak di dadanya,
"Baiklah, kau yang mendorongku menjauh maka aku akan pergi!" ucap Aura bak alunan janji.
"Menyedihkan sekali dirimu, Ra!" ujar Aura bangkit dari duduknya, menatap jauh ke atas langit. Menatap gumpalan awan hitam yang mulain menjatuhkan rintih hujannya.
"Tidak keluarga, tidak sahabat bahkan kekasih. Ckck, selalu pergi!!" tambahnya dengan seringai di bibirnya.mmata itu tak lagi sama, senyum itu tak lagi sama dan hati itupun tak lagi utuh. Semua hancur, berubah menjadi kelabu.
"Sialan!!" umpat Aura berlalu meninggalkan atap.
Brakk
Suara pintu yang terbanting menandakan bahwa Aura telah pergi dari sana, tempat iang menjadi saksi retaknya hubungan keduanya. Hubungan yang entah kenapa Aura selali.
Tap Tap Tap
Derap langkah terdengar dari balik dinding pintu atap. Seseorang yang sejak tadi mengamati Aura dalam diam akhirnya menampakkan wujudnya. Pemuda bermata hitam itu tampak melaangkah mendekati ponsel Aura yaaang tergeletak dengan keadaan naas, ddi genggam ponsel itu erat.
"Bagaimana kalau aku membawamu pergi?" guman pemuda itu menatap ponsel yang tlah hancur itu. Matanya menatap kedepan, menerawang jauh.
Kuputusan telah ia buat, ia tak akan mengalah lagi. Kali ini ia akan egois, ia akan buta pada kenyataan yang akan ia hadapi. Ia tak perduli sebab yang ia pikirkan hanya satu, membawa Aura pergi sejauh mungkin dari semua masalah yang menghampirinya.