
Papa yang sudah siap berangkat membunyikan klakson mobilnya.
"Ayo Gamal buruan, papa udah nunggu di depan," teriak mama.
"Iya bentar lagi," aku segera menyemprotkan parfum lalu sedikit berlari menuju mobil.
***
Papa berhenti di sebuah rumah yang sangat besar. Rumah itu hampir menyerupai istana yang sangat megah. Halamannya dipenuhi dengan lampu-lampu taman dan pohon bonsai yang tertata rapi. Rasanya diri ini tidak layak jika harus masuk ke tempat itu.
Aku turun dari mobil sedan tua papa dengan sedikit malu karena mobil-mobil yang sedang terparkir adalah mobil-mobil model terbaru yang pasti harganya miliaran. Dengan langkah ragu aku berusaha mengikuti langkah papa mama untuk memasuki rumah itu.
"Selamat malam Pak Yahya," kata papa sambil bersalaman dengan bossnya yang sudah terlihat sangat tua itu. "Ini istri saya Marta dan anak saya Gamalia."
"Halo Marta dan Gamal..lia?" sapa bapak tua itu dengan ramah dan mengajak bersalaman.
"Panggil saja Lia, Pak," kataku sedikit gugup.
"Oh haha baik, sebelumnya terima kasih sudah mau datang ke rumah saya," kata bapak tua itu dengan suara agak serak. "Sebaiknya langsung masuk saja dan duduk di meja makan," ajaknya.
Kami pun mengikutinya. Di meja makan, tatapanku terfokus ke laki-laki yang duduk dengan tegap di deretan ketiga sebelah kiri. Sedangkan aku harus duduk di kursi depannya. Aku hanya memberi senyum anggun kepada laki-laki itu, karena bagaimanapun aku harus tetap menjaga imageku sebagai wanita yang banyak digandrungi laki-laki.
Meja makan yang berkapasitas delapan orang saat itu hanya diisi tujuh orang. Pak Yahya duduk di tengah kemudian di sebelah kiri diisi oleh suami-istri dan anak laki-lakinya sedangkan di sebelah kanan adalah keluargaku.
"Perkenalkan ini adalah anakku Jerome dan istrinya Rianti, dan yang ujung itu adalah cucuku yang paling ganteng namanya Andrew."
Aku dan keluargaku hanya mangut-mangut dan memberi senyum ramah.
"Saya sangat senang bisa mengajak keluarga Pak Bakti ke sini. Saya dan Pak Bakti ini sudah seperti bapak dan anak, karena ke mana pun saya pergi pasti selalu ditemani. Dan saya juga salut dengan pekerjaan Pak Bakti, karena tanpa dia mungkin perusahaan ini tidak akan semaju sekarang," puji kakek tua itu.
"Hahaha bapak bisa saja," papa terlihat malu menerima pujian itu.
Aku melihat raut wajah Pak Jerome yang seperti tidak suka dengan apa yang sedang terjadi di depan matanya. Istrinya yang cantik hanya bisa membelai bahu suaminya secara perlahan.
"Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa saya mengumpulkan kalian semua di sini. Namun, sebelum saya mengatakan alasannya, saya berharap kalian semua dapat menerima keputusannya nanti."
"Belum juga ngomong udah disuruh nerima aja," kataku dalam hati.
"Pertama saya ingin mengumumkan bahwa saya akan memberikan kayu estafet perusahaan kepada cucuku Andrew untuk melanjutkan kepemimpinan."
Ruangan yang awalnya hanya terdengar suara kakek tua tiba-tiba menjadi hening. Aku menatap laki-laki yang sejak tadi berada di depanku, wajahnya yang tanpa ekspresi membuatku tersenyum gemas.
"Kenapa bukan Ayah?" tanya Andrew kepada kakeknya.
"Ayahmu sering sakit-sakitan, tidak baik jika disuruh untuk memimpin perusahaan. Kakek saja harus menunggumu mencapai umur 26 baru berani memberikan perusahaan ini."
"Iya Andrew, bener kata kakekmu ayah sering keluar masuk rumah sakit jadi tidak pantas untuk mengurus perusahaan. Umurmu dan ilmumu juga sudah pas untuk menjadi seorang pemimpin," kata Pak Jerome dengan sangat lembut kepada anaknya.
"Baiklah kalau itu keinginan kakek dan ayah mendukungnya, aku akan menerima keputusan itu dengan senang hati."
"Terima kasih cucuku," kakek tua itu diam sejenak untuk mengambil napas. "Kemudian keputusan yang kedua adalah kamu akan kakek nikahkan dengan anak Pak Bakti yang bernama Amalia."
"Gamalia, Pak," tegur papa untuk membenarkan.
Tangan yang sejak tadi aku pakai untuk menopang kepalaku tiba-tiba lemas. "Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Menikah? Aku masih 20 tahun dan masih kuliah. Dan aku juga sudah punya pacar," kata-kata dalam otakku meronta ingin keluar dari mulutku. Tapi aku menahannya.
"Jadi gini ma..." papa ingin menjelaskan tapi distop oleh Pak Yahya.
"Begini Bu Marta, sebelumnya saya sudah berdiskusi banyak dengan Pak Bakti. Saya ingin sekali membalas segala kebaikan Pak Bakti selama ini. Saya tahu selama ini Pak Bakti rela meninggalkan istri dan anaknya demi mengurus semua pekerjaan di perusahaan, maka dari itu saya ingin keluarga kita memiliki hubungan. Dengan menikahkan cucu saya dengan anak Anda maka hubungan kekeluargaan kita bisa terhubung dengan baik."
"Bagaimana Nak?" tiba-tiba saja mama bertanya dengan sangat lembut kepadaku.
Aku menatap satu per satu wajah orang-orang yang ada di ruangan itu. Dan tatapanku berhenti di wajah laki-laki depanku. Dia tersenyum, seperti tidak ingin menolak keputusan kakeknya itu.
Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi laki-laki itu sangat menawan tapi di sisi lain aku belum mengenalnya.
"Apakah aku diberi waktu untuk berpikir beberapa hari?" tanyaku polos.
"Sebenarnya apa pun keputusanmu, kamu harus tetap menikah dengannya."
Jawaban kakek tua itu cukup menguncang jiwaku.
"Kalau Andrew sendiri saya tahu dia sudah siap untuk menikah, hanya saja dia orangnya terlalu pemilih sehingga sampai sekarang belum juga memiliki pacar yang serius untuk dibawa ke pelaminan," lanjutnya lagi.
"Tapi saya belum siap," kataku sedikit tegas.
"Bagaimana jika berikan kami waktu untuk saling mengenal dulu, Kek," ucap laki-laki di depanku.
Akhirnya dia bersuara juga.
"Baiklah jika begitu, kekek beri waktu tiga hari untuk kalian saling mengenal. Kerena kamu harus menikah dulu sama Gamalia, baru kakek akan angkat kamu sebagai pemimpin perusahaan."
Aku dan laki-laki itu saling menatap pasrah mendengar parnyataan itu.
Makanan pun mulai ditata di atas meja oleh para pelayan. Kami semua mulai makan dengan hening, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar berdenting.
***
Ini adalah Andrew, laki-laki yang akan menjadi boss baru di perusahaan di mana papa bekerja dan akan menjadi suamiku (?). Umurnya masih 26 tahun, cukup muda untuk menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan besar. Tapi menurut perbincangan yang aku dengar malam itu, dia memang sejak kecil sudah diarahkan untuk belajar menjadi seorang pemimpin.
Aku suka melihat tatapan dan senyumannya. Menurut pandanganku saat pertama kali melihatnya, dia adalah laki-laki baik dan lembut. Aku yakin mama pasti akan menyukai laki-laki ini, karena jika dibandingkan dengan laki-laki yang sering berpacaran denganku akan sangat jauh berbeda.
Apakah dengan aku menikah dengannya, aku bisa bahagia?
.
.
.
.
.
Tunggu kelanjutannya... Thankyouu ✨✨✨
(Sumber gambar: Instagram @juniorrobertss)