
"Dad, aku ingin meminta sesuatu pada mu," ujar Aura dengan raut wajah serius membuat Daniel, Jeniver serta Kevin menatap Aura dengan pandangan bingung. Ya, kini Aura telah kembali ke rumahnya lagi, kediaman Alanta.
"Apa sayang?" dengan lembut Jeniver menanyakan keinginan putrinya. Ia akan mengabulkan segala permintaan Aura asalkan putrinya ini tak akan pergilagi darinya.
"Aku akan pindah ke paris besok,"
Dengan tanpa basa-basi Aura langsung menyampaikan apa yang ia inginkan. Seharusnya ia sudah ad di sana tapi kehadiran seseorang mengacaukan rencananya.
"Kenapa tiba-tiba?" bingung Daniel. Bukan masalah keuangan tetapi masalahnya ia masihlah rindu pada putrinya ini, lantas kenapa Aura justru ingin pergi secepat itu?
"Ya, kenapa tiba-tiba sayang? Kau baru saja pulang?" tambah Jeniver memandang bingung Aura. Padahal baru saja beberap jam yang lalu putrinya ini tiba di rumah setelah hampir berbulan-bulan pergi meninggalkan mereka.
"Ya atau aku akan pergi tanpa kalian bisa menemukannku lagi!"
Dengan raut wajah datar aura memberikan mereka pilihan yang tentu saja akan di jawab 'Iya'. Katakanlah ia tidak sopan dan kurang ngajar, hanya saja ia masih tidak bisa menerima semua ini. Ia belum bisa menerima perubahan yang terjadi pada rumah dann keluarganya.
"Aura," guman Jeniver dengan mata yang menatap sayu Aura. Mati-matian Aura beerusaha tak terpengaruh dengan tatapan itu. Jika boleh jujur, jika Jeniver mau mempertahankan raut wajah sedihnya sedikit lagi maka Aura akan membatalkan rencananya itu, namun sayangnya itu tak terjadi.
"Tapi dengan satu syarat!" ujar Daniel membuat Aura yang semula ingin beranjak pergi terpaksa kembali mendudukkan bokongnya ke tempat duduk. Menanti secara was-was syarat apa yang sekiranya ayahnya itu ajukan.
"Apa?" dengan satu alis terangkat Aura menanyakan apa syarat yang di ajukan sang ayah. Berbagai macam doa ia lafalkan dalam hati, berharap bukan sesuatu yangg menyusahkan bahkan menyebalkan baginya.
"Kevin akan pergi bersamamu!" ujar Daniel membuat Kevin yang tengah meminum jus apelnya tersedak akibat terkejut, sedangkan Aura tetap memasang raut datar andalannya.
"Terserah," acuh Aura berlalu meninggalkan ruang makan guna mempersiapkan segala keperluannya untuk besok.
"Kenapa kau mengizinkannya?" ujar Jeniver setelah memastikan Aura benar-benar meninggalkan area sekitar ruang makan.
"Lebih baik kita mengizinkannnya dari pada ia pergi lagi. Bersyukur kevin menemukannya!"
Dengan raut yang sedikt semrawut alias kacau Daniel mengatakannya. Sebenarnya ia juga sedikit takut dengan sang istri yang saat ini terus saja memandangi dirinya dengan mata yang melotot.
"Haah~ Semoga ia baik-baik saja setelah ini,"
Dngan helan nafas yang terdengar berat Jeniver setengah ikhlas dengan keputusan putri serta suaminya. Mau bagaimana lagi?
Sedangkan Kevin hanya mampu diam menerima apa yang di putuskan oleh sang paman dari pada ia kualat? Lebih baik ia menurut saja, toh ini akan menguntungkan bagi dirinya dan Kelvin atau lebih tepatnya Kelvin.
°°°
Sedangkan di bagian Aura, ia tampak tengah menyusun barang-barangnya yang lain ke dalam koper yang lebih besar dari yang ia bawa tadi.
"Ya, setidaknya aku bisa pergi dari sini!" gumannya dengan tangan yang tetap menyusun rapi buku-buku kesayangannya. Ia lebih memilih membawa semua buku kesayangannya ketimbang baju, sebab ia bisa membeli keperluannya ketika sampai di paris nanti.
"Aiss, kenapa aku tak tahu kalau Kevin adalah sepupuku?" guman Aura setengah kesal begitu mengingat kejadian sebelum ia berakhir di rumahnya ini.
Flasback on
Hari ini sudah Aura putuskan bahwa ia akan pergi bersama dia tak perduli resiko yang harus ia ambil akibat keputusannya ini. Biarlah ia kembali lari dari masalah yaang selalu datang tanpa henti. Tidak lupa ia selipkan secarik kertas di atas meja riasnya.
Dengan langkah yang ringan dan yakin Aura meninggalkan ruangan yang sempat ia tinggali sebagai kamar. Ia tatap semua yang ada di rumah itu sebelum menuju pintu dan menutupnya.
"Kau mau kemana?" tanya sebuah suara di balik punggung Aura, membuat Aura menjatuhkan kunci rumahnya akibat terkejut.
"Kak Kevin?" dengan mata yang membulat Aura menyebutkan pelaku yang membuat ia kaget barusan.
Hanya kebisuan yang Aura dapatkan sebelum bibir itu terbuka melafalkan beberapa kalimat.
"Ku tanya kau mau kemana?" ujar Kevin mengulang kembali pertanyaannya dengan mata yang melirik ke arah koper di genggaman Aura.
"Itu bukan urusanmu Kak," acuh Aura sembari melanjutkan kegiatannya yang tertunda akibat kedatangan Kevin, apa lagi kalau bukan mengunci pintu rumahnya.
"Itu menjadi urusanku karena kau adalah tanggung jawabku!"
Dengan paksa Kevin menarik lengan Aura, membuat Aura terpaksa berhadapan dengan Kevin. Benaknya bertanya-tanya apa yang dilakukan Kevin di rumahnya? Apa jangan-jangan rencananya dan orang itu telah diketahui Kevin?
"Maksudmu?" tanya Aura tak mengerti akan apa yang Kevin bicarakan. Tanggung jawab? Sebagai wali kelas maksudnya?
"Ayahmu dan Ibumu mempercayakan dirimu padaku!" jelas Kevin membuat kedua mata sebiru laut kaspian itu membulat terkejut. Apa ia baru saja mendengar Kevin menyebut ayah dan ibu? Apa yang ia maksud adalah ayaah dan ibu Azura? Kalau iya, matilah dirinya.
"Tu..tunggu Ayah?" gagap Aura dengan raut wajah linglung. Ayah? Maksudnya keluarga Yandra atau..
"Ya, Daniel Alanta."
Raut wajah terkejut tak lagi dapat Aura tutupi saat nama itu meluncur bebas di bibir Kevin.
"Shit!!!" umpat Aura.
Bagaimana mungkin Kevin mengetahui ayahnya? Apa ini hanya prank? Kalau iya dimana kameranya?
"Ba..bagaimana..
"Kau lupa padaku? Sepupumu?"
Dengan alis yang terangkat Kevin menunjukkan sebuah foto yang berisikan dua potret anak kecil berambut hijau dan juga silver yang amat Aura tahu siapa gadis berambut silver itu. Itu dirinya ketika ia berusia enam tahun. Dan jangan bilang kalau bocah laki-laki berambut hijau itu Kevin?
"Tu..tunggu!"
Aura tampak memejamkan kedua matanya sejenak. Berfikir kalau ini semua hanya mimpi. Ah, apa karna terlalu bersemangat untuk pergi ia sampai membawanya kedalam mimpi?
"Kau sepupuku?" ulang Aura sambil menatap mata Kevin, mencoba mencari kebohongan di manik hijau yang entah kenapa kini tampak lebih gelap dari beberapa saat yang lalu.
"Ya."
Tepat setelah kevin menjawab pertanyaan Aura dengan raut yakin, di sanalah bibir Aura serasa terkunci tak mampu berkata apapun. Bolehkah ia berharap bahwa semua ini lelucon di bulan april yang sayangnya sudah lewat beberapa bulan yang lalu sebab ini sudah bulan september?
Raut wajah dingin Kevin pasang saat ini,
"Sudah sebaiknya kau kembali ke kediaman Alanta sekarang Aura!" ujar Kevin merebut paksa koper Aura dari genggaman sang pemilik.
"Tap..
"Tidakkah kau kasihan kepada Ayahmu? Dia memintaku untuk membawamu pulang!" bentak Kevin membuat Aura sedikit syok dan Kevin menyadari hal itu.
"Tolonglah, mereka merindukanmu!" ujar Kevin dengan senyum yang sedikit ia sunggingkan di wajah kakunya. Ada apa dengan Kevin, ia tampak bukan seperti Kevin. Atau memang dirinya bukan Kevin?
Bujukan Kevin membuat Aura bimbang. Ia memang ingin pergi tapi bukan kembali ke keluarganya melainkan tempat yang lain. Tanpa keluarga dan juga tanpa Arata, hanya bersama dengan satu orang.
"Haah~ Ya aku akan pulang,"
Akhirnya dengan raut wajah terpaksa Aura menyetujui ajakan Kevin. Saat ini ia tengah cemas sekaligus marah. Cemas karna takut hal buruk terjadi pada orang yang ia tunggu dan juga marah sebab orang itu tak kunjung datang menjemputnya.
"Bagus. Ikut aku sekarang nee adik sepupu,"
Dengan seringai menggoda Kevin mengulurkan tangannya yang tak memegang koper sebagai pegangan Aura.
"Cih... Menjengkelkan!"
Walaupun dengan raut jengkel serta tatapan sinis, toh Aura tetap menyambut uluran tangan Kevin.
"Hhhhhhh," derai tawa Kevin di pagi itu menjadi alunan pengiring perjalanan keduanya menuju kediaman Alanta, tanpa mengindahkan sepasang obsidian yang sejak tadi menatap keduanya.
"Ck, kenapa selalu ada yang menghalangiku?" gerutunya dengan kaki kanan yang ia gunakan untuk menendang ban mobil miliknya yang terparkir tak jauh dari rumah Aura.
Ah, tampaknya seseorang yang kau tunggu itu telah datang sejak tadi, hanya saja ia kalah cepat dengaan Kevin.
Flasback Off
"Benar-benar menjengkelkan!"
Senggut Aura jengkel ketika ia selesai kembali mengingat kejadian dimana Kevin dengan seenaknya saja membawa ia kembali lagi ke kediaman Alanta, padahal saat itu ia tengah menunggu seseorang.
Tetapi ia tak menyesali keputusannya untuk menerima ajakan Kevin sebab dengan ini ia bisa kembali berkumpul dengan keluarganya yang amat ia rindukan walau harus terhalang oleh egonya dan karena ini juga ia bisa pergi jauh dari Arata dan juga yang lain. Walaupun ia harus pergi lagi, ia masihlah ingat dengan janjinya pada seseorang.
"Ah, sebelum pergi ku rasa sebaiknya aku meminta Kevin untuk mengambil beberapa mobilku yang ada di apartemen dan di rumah Jeck untuk di bawa ke sini!" ujar Aura begitu ia mengingat sederet mobil-mobil hasil balapannya itu.
"Aku tak mau mobil-mobil yang susah payah ku dapat terbengkalai tak ada yang mengurus," dengan bergegas Aura keluar dari kamarnya guna mencari keberadaan Kevin.
Tap Tap Tap
"Kevin!" panggil Aura ketika ia tiba di ruang makan, nsun bukan keberadaan Kevin yang ia dapat melainkan Jeniver yang tengah membereskan mejs makan dibantu beberapa maid.
"Ada apa sayang?" tanya Jeniver kepada sang putri yang tengah gusar mencari sesuatu.
"Mom, dimana Kevin?" tanya Aura dengan mata yang mengedari ruang makan serta dapur guna mencari keberadaan Kevin, mengabaikan Jeniver yang kini beralih meracik sebuah minuman.
"Di ruang santai Sayang. Sepertinya ia sedang menonton bersama Daddy," jelas Jeniver masih sibuk dengan minuman yang ia buat.
"Aa, aku kesana dulu Mom," ujar Aura hendak melangkah meninggalkan ruang makan.
"Ehh, tunggu dulu Sayang. Sekalian bawakan mereka minuman, ya!" cegah Jeniver sembari memberikan nampan berisikan secangkir kopi dan juga jus jeruk kepada Aura.
"Hn," guman Aura sebelum berlalu pergi dengan tangan yang memegang masing-masing sisi dari nampan.
"Haaah~ sejak kapan ia menjadi dingin?" gerutu Jeniver akan sifat Aura yang suka sekali berguman dengan dua huruf konsonan yang entah apa artinya itu.
Dengan bahu yang terangkat, Jeniver memilih melanjutkan kegiatannya di dapur sebelum menuju ke ruang santai guna berkumpul dengan suami, anak serta keponakannya.
Lain Jeniver, lain pula Aura. Ia kini tengah berjalan menuju ruang santai tempat Kevin berada. Sepanjang jalan, ia terus berfikir akan sesuatu yang terasa janggal. Sesuatu tentang Kevin.
"Kevin ambilkan mobiku yang ada di apartemen dan juga di rumah Jeck!" ujar Aura ketika ia telah sampai di ruang santai sambil menatap minuman yang ia bawa diatas meja yang ada di hadapan Daniel.
"Hah?"
"Sekarang!!" titah Aura dengan raut wajah tak terima akan penolakan, memaksa Kevin menyetujuinya.
"Semuanya?" tanya Kevin dengar raut wajah harap-harap cemas, sebab mobil yang Aura miliki bukan cuma satu melainkan Lima.
"Ya," jawab Aura santai, ia memilih duduk di sofa single yang berhadapan dengan Kevin.
"Bagaimana caranya?" tanya Kevin dengan raut bingung. Ayolah, apakah ia harus bolak balik guna mengambil mobil-mobil itu? Hei, mereka tak cuma ada di satu tempat tetapi dua. Jangan gila.
"Gunakan otakmu Kevin," jengah Aura dengan kedua bola mata yang ia rotasikan. Ayolah, ia seorang guru apa otaksa sudah geser atau malah tertinggal di halam rumahnya.
"Tap...
"Sudahlah aku mau ke kamar," potong Aura mulai bosan dengan keluhan yang Kevin layangkan kepadanya. Kalau Kevin mau berfikir ia tinggal memerintahkan orang untuk membantunya bukan?
"Nanti sore mobil-mobil itu harus sudah ada di garasi!" tambah Aura sebelum ia memilih bangkit dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang kebetulan berada disamping kamar Kevin.
"Hoy Ra!!" teriak Kevin tanpa memperdulikan delikan marah dari Daniel.
"Aisss, anak itu!" guman Kevin dengan raut wajah yang kesal. Bukankah Aura sudah berlaku tak sopan pada kakak sepupunya ini?
"Dari mana ia mendapatkan mobil?" tanya Daniel dengan raut bingung.
"Setahuku ia hanya ku belikan dua. Dan itu semua ada di garasi!" lanjut Daniel dengan mata yang memandang ke lemari kaca tempat ia biasa meletakkan kunci kendaraan mereka.
Sebuah senyum simpul Kevin tarik,
"Dia ikut balapan paman dan selalu menang jadilah ia selalu mendapatkan mobil atau uang bahkan apartemen sebagai taruhannya!" jelas Kevin sembari mengenakan jaketnya. Tampaknya ia harus bergegas sebelum Aura mengamuk kepadanya.
"Astaga anak itu," desah Daniel heran akan kelakuan putrinya yang terhitung amat berandalan itu.
"Sudah ya Paman. Aku harus mengambil mobil-mobil itu sebelum ia mengamuk padaku," pamit kevin kepada Daniel.
"Ya. Hati-hati."
"Cepat kembalisebelum makan siang!" pesan Daniel kepada Kevin yang sudah beranjak meninggalkan ruang santai.
"Ya, Paman," sahut Kevin dengan cara berteriak.
"Ckckck anak itu," dengan gelengan Daniel menanggapi kelakuan Kevin barusan.
Sedetik kemudian, Daniel tampak melamun dengan mata yaang menerawang ke arah gelas yang Auraa berikan padanya. Ingatannya kembali pada seorang pemuda yang mengaku sebagai teman Aura ketika mendatangi dirinya di perusahaan.
Daniel ingat semuanya, bagaimana pemuda itu menatapnya, bertanya padanya bahkan ketika pemuda itu tersenyum padanya. Satu hal yang ia tahu, bahwa pemuda itu telah jatuh hati pada putrinya.
"Apa kau akan menjaganya bila aku menyetujui keinginan Aura?" guman Daniel.
Siapa? Siapa sebenarnya pemuda yang Aura tunggu? Apakah pemuda yang sama dengan yang menemui Daniel?