000

000
Episode 4



Andrew tersenyum simpul mendengar pertanyaanku.


"Iya tentu saja, papamu akan tetap menjadi bawahanku. Ditambah lagi aku juga akan menjadi boss di keluarga kita."


"Tidaak," pekikku tiba-tiba. Aku menatap jalanan dengan takut, pikiranku melayang ke kondisi yang sangat menakutkan. Membayangkan akan diperlakukan seenaknya oleh suami sendiri dan membayangkan betapa semakin tidak bahagianya hidupku di dunia ini.


"Haha... Aku bercanda. Kenapa kamu begitu takut? Kamu tenang saja, jika kita menikah kamu masih bisa menyelesaikan kuliahmu dan bergaul dengan siapa saja. Kamu juga tetap bisa melakukan apa pun yang menyenangkan hatimu. Aku bukan laki-laki yang memperlakukan wanita dengan seenaknya. Asal kamu memperlakukanku dengan baik maka aku juga akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi."


Kata-katanya seperti angin segar di telingaku, hampir saja aku terbawa terbang oleh kata-katanya. Aku menatap mata Andrew yang masih fokus memperhatikan jalan, "Baiklah, aku bersedia untuk menikah denganmu dua minggu lagi."


Andrew membalas tatapanku dalam beberapa detik, wajahnya lembut menenangkan. "Terima kasih Gamalia. Walaupun kita baru bertemu kemarin tapi rasanya kita sudah sangat dekat. Semoga ini pertanda baik untuk selanjutnya. Dan mengenai papamu, dia memang masih harus menjadi asistenku karena perannya sangat penting di perusahaan. Tanpa papamu, mungkin aku tidak bisa apa-apa."


"Iya sama-sama Andrew. Baiklah jika itu yang terbaik." Aku lega dan bisa menikmati suasana malam itu dengan tenang.


***


Pikiran Andrew.


Aku harus berterima kasih sama kakek yang mempertemukan aku dengan wanita cantik ini. Mungkin inilah penantian yang selama ini aku cari-cari. Rasanya sudah cukup capek mencari wanita yang pas untuk aku nikahi. Walaupun dia masih berumur 20 tahun, tapi entah mengapa hati ini selalu berkata untuk segera bahagiakan dia.


Saat di bioskop, aku tidak henti-hentinya menatap wajah Gamalia yang sedang serius menonton film. Kebetulan film yang sedang kami tonton adalah film disney yang juga mengandung sedikit adegan action. Aku melihat wajahnya yang bisa sangat emosi ketika tokoh utama terkena serangan oleh musuh, bahkan beberapa kali aku mendengar kata-kata makian keluar dari mulitnya. Hal itu cukup membuatku terkejut.


Sepanjang film berlangsung ada satu hal membuatku heran, aku tidak pernah melihat dia tersenyum. Di saat adegan manis, lucu, ataupun saat bagian akhir yang memperlihatkan tokoh utamanya yang hidup dengan bahagia dia hanya menatap dengan sinis. Apa yang sedang dia pikirkan sampai dia jadi seperti itu? pikirku.


***



Dua minggu berlalu dengan sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku berkenalan dengan Andrew. Kini dia sudah tidur di sampingku sebagai seorang suami.


Kami berdua sama-sama kelelahan setelah pesta pernikahan itu dan memilih untuk segera masuk ke dalam kamar. Bagaimana tidak lelah, selama pesta berlangsung tamu tidak henti-hentinya berdatangan dan memberi selamat. Semua tamu-tamu itu kebanyakan adalah orang penting jadi aku berusaha untuk selalu memberikan senyum walaupun senyum palsu. Senyum palsu juga butuh tenaga ternyata.


Mulai dari tokoh pemerintahan, teman-teman pengusaha kakeknya, dan beberapa artis yang diundang khusus ke pernikahan itu. Aku juga tidak lupa untuk mengundang semua teman-teman kuliahku. Saat mereka datang mereka sangat heboh dan tidak menyangka bahwa aku akan menikah dengan secepat dan semawah ini.


Mantan pacar yang baru saja aku putuskan juga datang ke pernikahanku. Walau raut wajahnya tidak bersemangat tapi dia berusaha untuk tersenyum di hadapanku. Dia juga memberikan selamat dan berharap agar suamiku menjagaku dengan baik. Aku akui bahwa laki-laki itu salah satu pacar terbaikku, walaupun mama selalu menjelek-jelekkannya karena tubuhnya yang dipenuhi tatto.


Yang menambah kelelahanku juga adalah gaun yang aku pakai. Gaun itu sangat tebal dan sangat berat, seperti sedang membawa puluhan kilo kardus yang berisi dosa-dosaku. Setelah acara selesai aku langsung meminta untuk melepaskan gaun itu. Aku juga langsung menghapus make up tebalku dan membersihkan badan. Setelah itu barulah aku naik ke tempat tidur.


Aku sempat tidur sejenak, tapi tiba-tiba aku terbangun setelah sadar kalau di sampingku ada laki-laki yang sedang tertidur pulas sampai-sampai mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya.


Walaupun aku belum begitu mencintai Andrew, tapi malam itu ingin rasanya aku memeluknya. Aku yang biasa selalu sendiri dan menyendiri di dalam kamar, meresa sangat bahagia mempunyai teman tidur.


Tubuhnya yang tegak dan sedang menghadap ke langit-langit memudahkanku untuk memeluknya. Tanganku secara perlahan mulai aku letakkan di atas perutnya agar dia tidak kaget dan kakiku aku letakkan di atas lututnya. Sangat nyaman. Ditambah lagi aroma tubuhnya yang lembut membuatku ngantuk lagi.


"Hei apa yang kamu lakukan Lia?" Terdengar suara lembut dari laki-laki itu.


"Aku nyaman dengan seperti posisi ini," jawabku tanpa mengubah posisi.


"Apa kamu sudah ingin melakukannya?"


"Melakukan apa?"


"Melakukan hubungan suami istri."


"Tapi kamu yang memelukku lebih dulu, itu artinya kamu sudah siap."


Suara Andrew semakin mendekat ke telingaku, perlahan tangannya memelukku dari belakang.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya senang karena sekarang ada yang menemaniku tidur." Aku mencoba menjauhkan tangannya dari tubuhku, tapi Andrew malah semakin mendekapku lebih erat.


"Aku juga senang bisa ditemani tidur sama wanita cantik sepertimu," rayu Andrew. "Jika kamu belum siap hari ini tidak apa-apa, kita masih punya banyak waktu. Untuk sekarang izinkan aku memelukmu seperti ini," katanya lagi.


"Terima kasih Andrew," jawabku kaku.


"Sebaiknya kita kembali tidur untuk mengganti tenaga tadi."


"Ide bagus. Selamat tidur."


Kami berdua pun tidur dengan posisi Andrew yang memelukku dari belakang. Rasanya sangat nyaman, membuat tidurku sangat nyenyak malam ini.


***


Matahari pagi menyapaku malu-malu dari jendela besar yang tertutup horden berwarna putih. Aku membuka mataku dan mencoba mencari seseorang yang sejak semalam berada di sebelahku. Ternyata Andrew sudah bangun terlebih dahulu.


Andrew keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk kimono berwarna putih. Terlihat sangat bersih.


"Kenapa tidak membangunkanku?"


"Kenapa aku harus membangunkanmu? Kamu kan bisa bangun sendiri."


"Iya juga sih, yaudah aku juga mau mandi kalau begitu."


"Mandilah, selesai mandi kita sarapan barsama di bawah," ucap Andrew.


"Sama siapa aja?"


"Sama ayah dan ibuku, kalau kamu mau kamu bisa mengajak papa mamamu buat makan bareng."


"Tidak perlu, mereka juga tidak akan datang jika aku ajak," kataku yang tiba-tiba kesal. Aku pun segera masuk ke kamar mandi.


Kenapa rasa kesalku kepada papa dan mama masih saja menghantuiku? Aku pikir jika aku tidak tinggal dengan mereka aku akan bisa melupakan mereka.


.


.


.


.


.


Tunggu kelanjutannya... Thankyouu ✨✨✨